
...💖💖💖💖...
"Aku pasti akan menghukum mu, tapi tidak untuk saat ini, tunggu sampai kau pulih, baru aku akan membobol mahkota mu itu." Pram menarik alisnya ke atas, apa anak ini ingin aku menyentuhnya ya? Menanti betapa kuatnya otong.
Malam pun merangkak semakin larut, setelah mengganti gips pada kaki Naira, meminum obat untuk asma, kini waktunya untuk Naira dan pak Pram untuk pergi tidur.
Aku ingin bertanya pada Pram, tapi bibir ku masih kelu, belum lagi nafas ku yang masih tersengal sengal.
Ku pun tidur dengan posisi duduk menyandarkan punggung pada kepala ranjang, bagi ku ini adalah posisi ternyaman saat di landa asma.
Pak Pram masih mengerjakan pekerjaan kantor meski di atas tempat tidur, tapi matanya sesekali memperhatikan ku, entah apa yang pak Pram rasakan pada ku, tapi perhatiannya membuat ku luluh biar pun hanya seujung kuku.
Pak Pram duduk di atas kasur dengan kaki bersila dan di hadapannya terdapat laptop, "Apa kau nyaman dengan tidur seperti itu?" Tanya pak Pram dengan khawatirnya.
"I- ya."
Ku perhatikan setiap sudut kamar, kamar yang sudah di dekor dengan sedemikian rupa, hanya untuk malam pertama yang tertunda, bukan tertunda juga.. kan memang pernikahan ini di landasi atas keterpaksaan.
Mata ku pun terpejam dengan sendirinya. Di saat pak Pram menoleh, ia sudah mendapati diri ku yang terlelap.
"Huh... gagal lagi aku tuh merasakan malam pertama dengan mu... kapan aku bisa mendapatkannya Naira! Cepat sembuh dan aku akan memuaskan mu di ranjang." Monolog pak Pram sendiri saat mengelus pipi Naira dengan penuh kasih sayang.
Pak Pram pun menyimpan laptopnya di atas meja.
Kini pak Pram menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang, merasakan tersiksanya Naira yang saat ini merasakan kambuhnya penyakit asmanya.
Setelah mencari tahu apa itu asma stres, pak Pram pun jadi sedikit banyak tau akan penyakit yang di rasanya aneh namun di idap oleh Naira.
__ADS_1
Ke esokannya Naira tengah melakukan sholat subuh di walk in closed dengan bertayamum.
Dengan mata yang terpejam, pak Pram meraba tempat tidur bagian ku, "Anak itu ---" Pak Pram langsung membuka ke dua matanya yang masih sepet seperti lem, lalu ia duduk.
Mata yang tadinya seperti di lem, kini menjadi tegar karena dia kaget dengan tidak adanya Naira di atas tempat tidurnya.
Kali ini otak pak Pram berfikir dengan jernih, ia tidak ingin malu untuk ke dua kalinya, maka ia putuskan untuk mencari keberadaan Naira dari dalam kamar.
Pram membuka pintu bathroom namun tidak ia temui keberadaan Naira.
Pak Pram membuka pintu walk in closed, ia mendapati diri ku yang tengah sholat subuh dengan duduk di kursi.
Pak Pram menutup kembali pintu walk in closed, kapan terakhir kali aku melakukannya ya? Harusnya aku malu pada bocah itu, aku yang sudah dewasa tapi tidak mendirikan sholat 5 waktu.
Pak Pram memilih masuk ke dalam bathroom lalu mengguyur tubuh kekarnya dengan air dari shower.
Ceklek.
Tanpa aku sadari ternyata pak Pram sudah berdiri di depan ku, tangannya yang dingin habis mandi menyentuh pipi ku membuat ku tersentak kaget.
"Astaghfirullah... pak Pram!" Seru ku dengan masih tersengal namun tidak separah kemaren.
"Kau terlalu serius menatap ku, aku tau kan menantikan ku kan? Katakan saja terus terang, Nai!." Seru pak Pram.
"Astaghfirullah kaka, ge'er banget sih jadi orang!" Seru ku.
Pak Pram mencengkram pipi ku, "Wow, ternyata diri mu sudah mulai membaik ya!" Seru pak Pram yang lantas mendaratkan kecupan di kening ku.
__ADS_1
Cup.
"Cepat pulih seperti sedia kala, maka akan ku berikan kau hadiah." Ujar pak Pram yang lantas meninggalkan ku dan masuk ke dalam walk in closed.
Ku sentuh bekas kecupan pak Pram yang ada di kening ku, "Astaga apa yang aku rasakan ini? Apa ini nyata?"
Ku rasakan delgupan kencang dari dalam dada ku.
"Apa yang sedang kau fikirkan?" Tanya pak Pram saat ke luar dari walk in closed dengan setelan jas berwarna hitam.
Lagi lagi dan lagi aku di buat melongo dengan apa yang ada di hadapan ku.
Tampilan pak Pram keren amat ya, menggoda iman ku. Kulitnya yang putih, tinggi, tubuh yang kekar, kaya, tapi sayangnya ia galak, tapi itu tertutupi dengan wajahnya, aku suka kamu pak Pram. What? A- apa tadi gw bilang? Gw suka sama itu orang? Gi- la ini gw.
Berkali kali aku gelengkan kepala saat aku sadar dari lamunan ku.
Hap.
Pak Pram membawa ku dalam gendongannya.
"Kita sarapan dulu, ya!" Seru pak Pram.
Bersambung....
...💖💖💖💖💖...
Salam manis author gabut.
__ADS_1
Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen 😁
Makasih banyak udah mau baca