
...💖💖💖...
"Ka Pram ngigo ya?" Tanya Naira dengan polosnya, berfikir jika Pram hanya mengigau.
Bugh.
"Akkkhhh." Pekik Naira.
Tangan Pram menyerettt Naira, hingga tubuh Naira kini berada di atas tubuhnya.
Bugh.
Naira memukulll Pram dengan tangan lainnya di lengan Pram, "Kaka jahat! Udah bangun pake nipu aku!" Ucap Naira dengan mengerucutkan bibirnya.
Pram membuka ke dua matanya, menatap Naira dengan tatapan yang nakal. Dengan senyum yang juga nakal. Ke dua tangan Pram menyingkap piyama yang di kenakan Naira.
"Kaaa, jangan ih! Aku mau berangkat sekolah tau!" Naira menolak Pram dengan berusaha beranjak dari atas tubuh Pram.
Bugh.
Pram menahan tubuh Naira, dengan menggulingkan Naira yang kini berada di bawah kungkungan nya.
"Kau harus tanggung jawab sayang, menidurkan kembali yang sudah kau bangunkan!" Ujar Pram dengan suaranya yang baru bangun tidur, nafasnya menghembus di leher Naira.
Naira menggerak gerakkan kepala nya, merasakan desir hangat, membuat bulu bulu halus di tubuhnya meremanggg.
Naira terus berucap, dengan suaranya yang mendesahhh dan mengeranggg. Karena bibir Pram terus menyusuri dengan ciumannn di leher Naira, satu tangan Pram dengan lincah membuka kancing piyama Naira.
"Kaaaa, nanti kita bisa telat, aku telat sekolah. Ka Pram telat ke kantor. Nanti aku kena hukum loh ka dari guru!"
"Tidak akan ada yang berani menghukum mu, sayang!" Ujar Pram dengan mengecappp salah satu puncak gunung kembar Naira.
"Kaaaa semalam kan sudah, masa sekarang lagi!" Oceh Naira dengan suaranya yang mendesahhh, membuat Pram semakin menggila ingin menjamahhh kembali istri kecilnya.
"Itu kan semalam, berbeda dengan pagi ini!" Pram beranjak dengan menanggal kan apa yang melekat pada tubuh nya.
Naira menyeringai, ke sempatan emas nih.
Naira beranjak turun dari tempat tidur, memanfaatkan waktu saat Pram tengah sibuk dengan pakaian.
Baru mau melangkah, tangan kekar Pram lebih dulu menangkapnya dan menjatuhkan tubuh ke duanya di atas kasur.
"Ihsss cepet banget sih buka pakaian nya!" Gerutu Naira dengan ke dua tangannya yang kini di kunci Pram di atas kepalanya dengan satu tangan Pram yang besar.
"Kau sendiri yang membantu ku melepasss atasan ku, aku hanya melepasss bawahan ku saja!" Pram menyeringai dengan melorottt kan bawahan Naira.
"Iya juga ya, tadi aku sendiri yang membuka kancing piyama kaka, dasarrr bodoh. Kenapa juga tadi aku buka. Aaaaa sama aja aku yang mancing ya ka?"
"Anak pintar!" Pram membebarkan perkataan Naira.
Ia menghujammm miliknya yang sudah menegang ke dalam goanya Naira dengan perlahan.
__ADS_1
"Auhhhh."
"Nikmati lah sayang, kau jadi santapan ku pagi ini!" Gumam Pram dengan bibirnya yang mengecappp memilinnn puncak si kembar secara bergantian, dengan terus pinggulnyaaa yang memacuuu cepat miliknya di bawah sana.
Peluh kembali membasahi tubuh ke duanya, dengan Naira yang meremasss rambut Pram, mencakar punggung Pram di saat ke duanya mencapai puncak surga dunia.
Pintu kamar Pram di ketuk dari luar oleh Dedi.
Tok tok tok tok tok.
"Maaf Tuan, saya mengganggu. Tapi di bawah ada Tuan Muda Daren yang menunggu Tuan.
"Daren ka?" Tanya Naira saat nama Daren di sebut.
"Biar kan saja, aku masih ingin bermain dengan mu!" Oceh Pram yang kini membalikkan tubuh Naira, ia menghujammm miliknya kembali dengan Naira yang berada di bawahnya, dengan membelakanginya.
"Ahhhhhhh kaaa, emmmm uuuhhhh." Naira terus mengeranggg dengan meremasss sprai.
"Enak kan Nai?" Tanya Pram dengan membiarkan miliknya memuntahkan larva hangat memenuhi milik Naira.
Naira merasakan, hangatnya cairan yang Pram muntahkan di bawah sana dengan milik Pram yang berkedut.
"Udah tau enak, pake nanya!" Mau membantah tidak enak rasanya mustahil bagi Naira, karena bagai mana pun ia menikmatiii setiap permainan yang Pram lakukan padanya.
Pram menggendong tubuh Naira yang lelah ke dalam kamar mandi. Berjalan dengan tubuh yang oplasss.
Ke duanya mandi bersama tanpa ada kegiatan lainnya, hanya fokus dengan mandi. Pram kembali menggendong tubuh Naira menuju walk in closed.
Pram memakai pakaian kantor yang di pilihkan Naira. Sedangkan Naira memakai seragam sekolahnya.
"Bismilah aja lah ka, kalo nilainya masih kurang dari standar paling di remedial." Ucap Naira dengan mengeringkan rambutnya dengan hair dryer.
"Tidak ada rencana lain kan, setelah jam sekolah usai?" Tanya Pram lagi dengan mengenakan jasnya yang berwarna hitam.
Naira tampak berfikir dengan lama, "Emmmhhh, tergantung."
Pram mengerutkan keningnya, "Apanya yang tergantung?"
"Tergantung kalo Serli gak ngajakin ngemall, aku langsung pulang kalo ga main ke kedei bantuin yang lain." Oceh Naira lagi.
Pram membantu, Naira mengering kan rambutnya yang masih tampak basahhh, dengan merebut hair dryer dari tangan Naira.
"Emang kaka bisa?" Naira menatap Pram dari cermin dengan tatapan yang meremehkan.
"Jika aku bisa melakukan nya, kau harus beri aku hadiah." Pram mengarahkan hair dryer ke rambut Naira, matanya menatap Naira dari pantulan cermin dengan menyeringai.
Naira mengerucutkan bibirnya, "Dasarrr rubahhh pamrih, mana bisa gitu! Ka Pram itu udah punya segalanya! Emang apa lagi yang mau di minta?"
Pram menyimpan hair dryer di atas meja, tidak lupan mencabut colokannya.
"Aku minta ini saja sebagai hadih paling berharga dari mu!" Pram memeluk Naira dari belakang, dengan tangannya yang terulur mengelusss perut Naira yang rata.
__ADS_1
Naira menggeprak tangan Pram dan menginjak satu kaki Pram.
Plak.
Bugh.
Naira berjalan mendahului Pram, "Itu mulu yang di minta, kaga bosen apa ka?" Kalo waktunya di kasih juga, gw pasti bakal hamil. Sabar orang mah!
Pram mengejar Naira dengan senyum yang mengembang meski Naira tidak melihatnya, aku akan mencoba bersabar, hingga waktu nya tiba.
Naira menyantel kan tasnya di bahu.
Hap.
Pram langsung menggendong tubuh Naira yang ringan baginya, membawanya ke luar dari kamar menuju lift.
"Sudah tidak usah ngambek!" Oceh Pram saat mendapati Naira, yang terus mengerucutkan bibirnya. Semenjak ke luar dari kamar hingga kini ke duanya berada dalam lift.
"Aku sebel sama ka Pram! Bawel naaaa'uju billah. Kaya bocah ka Pram tuh! Ora ngerti apa ya, hamil butuh proses! Bukan kaya orang niuppp balon bisa langsung ngelembung gede." Cerocos Naira bak kereta ekspres, melaju dengan cepat.
Pram membuang nafasnya dengan kasar, "Iya iya iya, aku akan sabar sampai waktunya di kasih hingga kau hamil, oke!"
Ting.
Pintu lift terbuka, pak Dedi langsung menunduk hormat pada ke duanya.
"Selamat pagi Tuan, Nona!" Ucap pak Dedi.
Naira menjawab pak Dedi dengan ketus, "Hem, pagi!"
Pak Dedi mengerutkan keningnya, mengekor Pram yang masih menggendong Naira menuju ruang makan.
Pak Dedi membatin, ada apa dengan Nona? Tidak biasanya cemberut gitu!
"Kali ini aku benar akan bersabar, menunggu sampai saatnya tiba! Gitu kan?" Pram berusaha membujuk Naira agar tidak lagi ngambek padanya.
"Gak percaya aku, paling nanti nagih lagi, pengen aku cepet hamil. Gitu kan?" Oceh Naira.
Pak Dedi membatin, astaga Tuan, pasti Nona akan cepat hamil, kalian kan masih pasangan baru. Nona juga usianya masih muda.
"Tidak usah ikut campur, Dedi!" Gertak Pram.
"Tidak Tuan!" Pak Dedi menarik kursi untuk Naira duduki.
"Tua bangka itu tidak memberi mu makan?" Tanya Pram saat mendapati orang lain yang juga ada di ruang makan.
...💮💮💮💮💮...
......................
...💖 Bersambung 💖...
__ADS_1
Terima kasih sebelumnya, yuk komen yuk, tambah tambah masukan buat author.
Jangan lupa tinggalin jejak like oke! 😊