Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Suami pencemburu


__ADS_3

...๐Ÿ’–๐Ÿ’–๐Ÿ’–...


"Peje itu apa Nona?" Tanya Haikal dengan polosnya.


Bugh.


Novi menubrukkan tubuhnya pada Haikal yang sedang memunggungi nya.


Novi memiringkan wajahnya, untuk melihat Naira yang berdiri di depan Haikal.


"Kalian lagi ngomongin gw ya? Ngaku deh, mata gw berkeduttt mulu nih." Oceh Novi dengan percaya dirinya.


Dengan jahilnya, tangan Naira menutupi wajah Novi sambil berseru, "Ge'er banget lo jadi bocah. Gw lagi minta peje nih ama bang Haikal! Lo juga, belom kasih gw peje!"


Novi menyingkirkan tangan Naira dari wajahnya, "Kampretttt lo! Kaga ada peje! Ada juga lo sini, yang jadi donatur buat gw liburan bareng paman pacar, iya gak?" Novi mengadahkan wajahnya ke atas, melihat wajah Haikal yang kian bersinar di mata Novi.


"Bisa kau menyingkir dari tubuh ku!" Seru Haikal yang merasa risih, saat Novi memeluknya dari belakang apa lagi di depan umum.


"Upssss hehehe sorry paman pacar, bablas ini tangan. Pengennya meluk yang besar bae, hehehe." Novi menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Naira mengerutkan keningnya, "Apaan yang besar?"


Pram yang sudah kesal di buat menunggu pun, akhirnya menurun kan kaca mobil dan berucap dengan dingin pada Haikal.


"Kau masih betah di luar? Ingin aku kirim ke pedalaman? Hah!" Ucap Pram.


"Tidak bos." Haikal langsung masuk ke dalam mobil.


Pram menatap tajam Naira, "Jaga mata mu dari anak laki laki!" Ujar Pram yang lantas menaikkan kaca mobil, mendudukan dirinya dengan bersandar.


"Ihsss dasar suami pencemburu." Naira mengerucutkan bibirnya yang lantas memeluk lengan Novi untuk masuk ke dalam lingkungan sekolah.


"Lo udah liet Serli belom, Nai?" Tanya Novi.


"Belom, udah di dalam kelas kali itu anak." Ucap Naira.


"Lo beneran Nai, habis di kasih hasil ujian kelulusan, bakal ke Bandung buat liburan?" Novi menoleh Naira, menunggu Naira untuk menjawabnya.


"Rencana gw sih gitu, tapi gak tau deh itu ka Pram. Bakal punya rencana apa buat gw."


"Lo mau lanjut di kampus mana Nai?" Tanya Novi saat ke duanya kini melewati lapangan sekolah.


"Belum tau juga, gw belum punya rencana ke arah itu. Yang ada di otak gw cuma ngembangin kedei, pulang kampung ke Bandung. Udah itu doang, lo mau lanjut kuliah di mana, Nov?" Kini Naira yang bertanya.


"Gw kaga lanjut kuliah, gw mau cari duit aja yang banyak, kalo udah ngumpul. Gw juga pengen buka usaha buat ibu, biar ibu bisa diem di rumah aja gitu, nikmatinnn masa tuanya ngumpul ama anak cucu hehehe." Novi terkekeh dengan impiannya.


Naira menghentikan langkah kakinya, yang membuat Novi juga ikut berhenti, karena lengannya masih di peluk tangan Naira.

__ADS_1


Novi mengakat kepalanya, "Ngapa lo berenti? Noh kelas kita masih di atas."


Novi menunjuk jari telunjuknya ke arah atas, yang merupakan lantai dua bangunan sekolah mereka.


Naira mengerutkan keningnya, dengan memperlihatkan pada Novi, jari telunjuk kanan dan jari telunjuk kirinya yang saling ia adu.


"Anak cucu? Lo sama bang Haikal, udah itu?" Pikirannya sudah melalang buana, berfikir jika Novi tengah hamil anak Haikal.


Prak.


Novi menggeprak lengan Naira dengan berseru, langkah kakinya melangkah melanjutkan perjalanan menuju kelas.


"Pe'a lo, ya kaga lah. Nanti maksud gw, Nai. Nanti kalo gw udah nikah sama paman Haikal, pasti kan gw punya anak tuh dari paman pacar. Keluarga gw bakal bahagia dan lengkap banget." Novi mengatakan nya dengan mata yang berbinar.


Naira mengikuti langkah kaki Novi, "Gila, pikiran lo sesimpel itu ya!" Lo gak tau aja pekerjaan yang di jalanin bang Haikal, bakal nyita waktunya di luar dari pada buat keluarganya sendiri.


Di dalam kelas ternyata Serli belum datang, Naira dan Novi duduk di tempatnya masing masing.


Naira melihat kursi yang di duduki Elisa dulu, "Gimana ke adaan Elisa sekarang ya, Nov?"


"Entah lah, itu anak ngilang gitu aja. Mungkin itu anak lagi di luar negeri hiling hiling." Jawab Novi sekenanya.


"Ape lo kata? Kenal bahasa dari mana lo hiling hiling?" Ledek Naira.


"Au dari mana."


"Terakhir yang gw tau dia lagi di jalan, tapi itu udah beberapa hari yang lalu, kalo sekarang nomor hape nya malah udah gak bisa di hubungin." Terang Juni dengan mendudukan dirinya di kursi yang biasa ia duduki.


"Lo gak tanya dia mau ke mana gitu? Apa pergi sama siapa?" Tanya Naira lagi.


"Elisa gak ngasih tau gw, dia mau ke mana. Pergi ke mana juga dia gak ngasih tau.' Terang Juni.


"Aneh itu anak. Kan selama ini itu Elisa deket bener sama lo, Jun!" Oceh Novi.


"Iya, malah kita pikir lo itu udah jadian sama Elisa." Ujar Naira.


"Gak lah. Gw cuma temenan doang sama dia, dia bukan tipe gw." Juni melirikkan matanya saat melihat Serli yang kini masuk ke dalam kelas, Juni juga tersenyum saat melihat Serli.


Novi yang melihat Juni tersenyum pun, melihat ke arah mana Juni tengah tersenyum.


"Wiiih gw tau nih tipe cewek lo sekarang!" Ledek Novi.


Serli mendudukan dirinya di kursi, "Kalian lagi ngomongin apa sih? Serius banget!"


"Gw lagi interogasi Juni, kali aja dia tau Elisa di mana... ternyata kaga." Terang Naira, dengan memiringkan duduknya menatap Serli yang tampak pucat dan lesu, tampak tidak seperti biasanya.


"Owh." Serli hanya beroh ria.

__ADS_1


"Lo sakit, Ser?" Naira menempelkan punggung tangan kanannya, ke kening Serli yang ternyata benar panas, suhu tubuh Serli tidak seperti biasanya.


"Gak ko, gw cuma demam dikit aja!" Kilah Serli.


Juni beranjak dari duduknya, dengan tangan yang membawa jaket miliknya.


Novi membatin, kalo Juni kasih pinjem jaketnya buat Serli, tebakan gw bener nih!


Naira membatin, perasaan gw ngapa jadi gak enak gini ya?


...๐Ÿ‚Pram๐Ÿ‚...


Pram terus menatap tajam Haikal sepanjang perjalanan. Hingga membuat Haikal angkat bicara, karena merasa tidak nyaman, dengan tatapan Pram yang di tujukan untuk nya.


"Maaf bos, apa saya melakukan kesalahan? Sampai bos menatap saya seperti itu?" Tanya Haikal pada akhirnya.


"Berani juga kau bertanya pada ku, Haikal!" Ucap Pram dengan ketus.


"Jangan bilang, bos sedang cemburu pada saya! Saya benar, tidak ada perasaan pada Nona Muda bos. Saya hanya mengagumi ke mandirian dan ke tangguhan Nona." Ujar Haikal.


Pram mendengus, "Tidak ada wanita mana pun yang bisa menandinginya, Haikal! Ingat itu, tidak juga dengan bocah plangton mu itu!"


"Iya bos, tidak ada yang menandingi dan menyamain Nona." Ucap Haikal dengan matanya yang berkali kali melirik kaca spion mobil samping.


"Ada apa, Haikal?" Tanya Pram yang mendapati Haikal melirik kaca spion mobil, tidak fokus dengan jalan yang ada di depan.


"Sepertinya mobil kita di ikuti, bos." Terang Haikal.


"Mobil yang di belakang?" Tanya Pram datar.


"Iya, bos."


"Kau fokus saja pada jalan Haikal! Ingat... jangan terpancing hingga membuat lawan yang sebenarnya, ke luar memunculkan batang hidungnya." Terang Pram, kali ini siapa lagi yang mengincar ku? Bodoh jika ia terang terangan menyerang ku!


Haikal membanting stir ke kanan, saat ada pemotor yang muncul dari arah berlawanan, lalu ia mengarah kan kembali ke jalurnya.


Brak.


...๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ...


......................


...๐Ÿ’– Bersambung ๐Ÿ’–...


Terima kasih sebelumnya, yuk komen yuk, tambah tambah masukan buat author.


Jangan lupa tinggalin jejak like oke! ๐Ÿ˜Š

__ADS_1


__ADS_2