
...💖💖💖...
"Ada lah, tapi sayang nih. Gw gak bisa ngelamar kerja di kedei start." Oceh Daren.
Juni mengerutkan keningnya, "Ko bisa?"
"Iya bisa lah. Ngomong ngomong, lo ada rencana buat lanjut kuliah ga, Jun?" Tanya Daren.
"Gw lanjut ngelamar anak orang dulu deh, abis itu gw mau buka usaha sambil jalan kerja juga. Baru deh gw ngumpulin duit buat kuliah." Terang Juni.
Daren mengerutkan keningnya, "Gw gak salah dengar nih, Jun? Lo mau ngelamar anak orang? Lo udah tahu Elisa di mana?" Daren mengira wanita yang akan di lamar Juni adalah Elisa.
Bugh.
Juni memukul lengan Daren.
"Kampretttt lo, ya bukan lah. Mana gw tau Elisa di mana, yang pasti gw bukan mau ngelamar itu anak." Sungut Juni.
"Gak jelas lo, Jun! Sama kaya muka lo, gak jelas! Ledek Daren.
"Pe'a lo, Daren!" Sungut Juni.
...☘️ Ke esokan hari nya☘️...
Pagi pagi sekali Pram sudah berada di dapur, bertempur dengan panci kecil dengan beras yang ia masak menjadi bubur.
Aroma sedap memenuhi dapur, membuat siapa saja yang menghirupnya, akan merasakan lapar yang tidak tertahankan.
Pak Dedi, koki dan asisten koki hanya berdiri dari ke jauhan. Dengan matanya yang fokus pada sang majikan, yang tengah memasak bubur spesial untuk sang istri yang sedang di landa sakit.
Sementara untuk para maid, menatap takjub dengan ke terampilan Pram dalam memasak. Sudah seperti koki bintang 5. Sungguh pemandangan yang langka, saat melihat orang nomor 1 di Hotel Start bintang 5, berada di dapur.
"Sudah jadi, setelah memakan bubur ini, Naira pasti akan cepat sembuh." Gumam Pram, menatapa mangkuk berisi bubur yang sudah d plating olehnya.
Pram membawanya dengan nampan, yang kini berisikan mangkuk dan segelas air putih.
"Biar saya yang bawakan, Tuan!" Ucap pak Dedi yang melihat Pram membawa nampan di tangannya.
Pram menyerahkannya pada Dedi, "Ini, bawa dengan hati hati. Jika sampai jatuh! Ku pecat kau!" Ucap Pram dengan datar, yang langsung melengos meninggalkan pak Dedi.
"Dasar bos gendeng, di pikir aku ini anak kecil apa, yang akan menjatuhkan nampan ini!" Gerutu pak Dedi.
__ADS_1
Koki menghampiri pak Dedi, lalu berujar, "Sudah sana, bawakan saja! Nanti Tuan ke lamaan menunggu, kena murka lebih parah lagi, kau ini!"
Ceklek.
Pintu kamar terbuka, nampak Naira yang sedang duduk bersandar pada kepala ranjang. Dengan tangannya terfokus pada layar hape-nya.
"Apa aku bakal di izinkan ka Pram, untuk ikut perpisahan sekolah ya? Bingung kan tuh jadinya, kalo mama sama papa mah pasti ngasih izin aja." Gumam Naira yang tidak menyadari, jika Pram tengah memasuki kamar.
Pram mendaratkan bobot tubuhnya di tepian kasur, mengusappp pucuk kepala Naira dengan sayang.
"Sejak kapan ka Pram ada di sini?" Tanya Naira, yang lantas menyimpan kembali hapenya di atas nakas.
"Baru saja, ada apa dengan hape mu, hem?" Pram meraih hape Naira yang ada di nakas, melihat chat yang masuk di hape istrinya itu.
Naira menatap wajah Pram, "Emmm itu, boleh kan aku ikut acara perpisahan? Itu wajib di hadiri murid kelas 3." Cicit Naira.
Pram menatap mata Naira dengan tajam, "Ada murid laki lakinya kan?
Acaranya di mana? Ada acara apa saja di sana? Selama berapa hari? Beberapa lama? Lalu aku, kau tinggalkan di sini seorang diri?" Pram mencecar Naira dengan berbagai pertanyaan.
"Ihs kaka bawel banget dah, terus aku harus jawab pertanyaan mu yang mana dulu ka?" Rengek Naira.
Pram melemparrr hape Naira di atas kasur.
Bugh.
"Biar saja, itu hape kan aku yang belikan. Mau aku buang, aku lemaparrr, aku apa kan saja, itu hak ku!" Pram menangkup wajah Naira dengan ke dua tangannya.
"Tapi kan kaka sudah berikan hape itu pada ku! Aku punya ke wajiban untuk menjaga hape pemberian mu itu ka!" Terang Naira yang membuat Pram tertegun.
Pram mengerutkan keningnya, "Apa kau akan menjaga setiap barang yang di berikan pada, mu? Hem!" Pram menyilangkan ke dua tangannya di depan dadanya.
"Tentu saja, jadi..."
Naira menjeda perkataannya, lalu menggeser tubuhnya dan bersandar pada lengan Pram, berkata lembut dengan wajah yang mengadah, menatap sepasang mata tajam Pram.
"Aku boleh kan ikut perpisahan? Aku sudah membayarnya, ka! Ini moment pelepasan ku, juga dengan teman teman yang lain. Sekali dalam seumur hidup ku ka, boleh ya?"
"Kau sudah membayarnya? Tanpa memberi tahu ku sebelumnya?" Omel Pram dengan matanya yang membola.
"Gimana aku mau kasih tau, ka Pram... itu acara sudah di rencana kan, jauh sebelum aku mengenal mu, ka! Wajar dong kalo aku baru ngasih tau ka Pram sekarang!" Sungut Naira dengan ketus, membaringkan kembali tubuhnya di atas kasur.
__ADS_1
Pram membuang nafasnya dengan kasar. Jika aku tidak mengizinkan nya, aku benar benar suami yang kejammm, tidak pengertian untuk nya.
"Bagai mana jika aku tidak mengizinkan mu untuk pergi, sayang?" Tanya Pram dengan menatap dalam mata bulat Naira.
"Dengan atau tanpa izin dari kaka, aku akan tetap pergi!" Naira memiringkan tubuhnya dari Pram dengan menarik selimutnya, menutupi tubuhnya sampai kepala dengan selimut.
"Baik lah, aku akan mengizinkan mu pergi, tapi ada syaratnya!" Pram menarik selimut, yang menutupi kepala Naira, nampak wajah Naira dengan bibir yang mengerucut.
"Apa?"
Pram mencondongkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya dengan wajah Naira yang kini bersemu. Degup jantung Naira terdengar bak gendang yang sedang bertalu talu.
Deg deg deg deg.
Naira menahan tubuh Pram, dengan ke dua tangannya di dada Pram.
"Kaaaa, aku kan masih sakit!" Ucap Naira dengan manja, sepaket dengan lirikan matanya yang nakal.
"Memang aku akan apa, hem?" Hembusan nafas Pram menyapu di wajah Naira.
Membuat Naira memejamkan ke dua matanya. Menghirup aroma mint yang keluar dari bibir Pram.
Pram mendaratkan bibirnya di bibir Naira, melumattt bibir itu dengan lembut, dengan ke dua mata yang menatap mata Naira yang terpejam. Dengan tangannya, Pram menyingkirkan selimut yang menutupi tubuh Naira.
Pram menaikkan satu kaki ke atas ranjang dan satunya lagi, membuat tubuh Naira yang ada di bawahnya, kini terkungkung dengan tubuhnya yang atletis.
Di saat tangan Pram bergerak liar untuk menarik celana Naira, pintu di buka dari luar.
Ceklek.
"Eh maaf Tuan, sa- saya tidak lihat apa apa, nanti saya akan masuk lagi!" Ucap pak Dedi dengan wajah pias, satu tangannya menopang nampan yang ia bawa.
Bugh.
...💮💮💮💮💮...
......................
...💖 Bersambung 💖...
Terima kasih sebelumnya, yuk komen yuk, tambah tambah masukan buat author.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalin jejak like oke! 😊