
...💖💖💖...
"Jika berhubungan dengan mu, aku akan dengan senang hati melakukannya." Pram menarik sudut bibirnya ke atas.
Tangan ku menepis wajah ka Pram, "Udah datar, datar aja kali ini bibir, sok senyum... senyum kaka nyebelin bin nyeselin!" Seru ku datar.
Krek.
Oh berani ya memalingkan wajah ku di saat aku ingin menatapnya, oke... terima ini Nai!
Dengan gerakan cepat Pram menahan jemari Naira dengan bibirnya.
Wajah ku memerah, entah malu entah apa ini, yang pasti kenapa juga ka Pram begini pada ku? Apa gak takut jari ku kotor? Seenaknya aja dia menahan jemari ku dengan bibirnya! Coba tahan aku dengan cinta mu ka, hahaha apa iya ka Pram sekarang cinta sama aku?
"Ka! Ga lucu ih... lepas gak!" Ku tarik jemari ku yang di tahan bibir ka Pram.
Tangan ku yg satunya ikut menahan wajah ka Pram biar bibirnya mau terbuka.
Pram menatap wajah ayu Naira yang berusaha untuk melepaskan jemarinya dari bibir Pram.
Oh anak ini tidak menyerah juga ya? Tidak memohon pada ku untuk di lepaskan jemarinya. Jemari mu manis seperti bibir mu Nai, ah tidak hanya itu saja, semua yang ada pada tubuh mu sangat lah manis di mata ku.
"Iiih ka, lepas!" Bukannya di lepas, justru ka Pram semakin kencang menahan jemari ku dengan kepalanya yang menggeleng.
Mata ku memicing menatap ka Pram, Ah elah, mau ngajak bercanda ya! Oke, gw jabanin lu ka!
Pram melangkah menuju sofa, di atas meja sudah terhidang beberapa makanan lezat dengan jumlah yang tidak sedikit.
Aroma masakan yang tersaji menusuk hidung Naira, mengalihkan perhatiannya untuk melepaskan jemarinya dari bibir Pram.
Pram berdiri mematung di depan meja, menatap Naira yang kini menatap ke arah makanan yang tersaji di atas meja.
Kruk kruk kruk.
Perut Naira berbunyi.
Dengan wajah kikuk, "Hihihi, aku lapar ka!" Seru ku pada ka Pram.
Pram melepaskan jemari istri nakalnya, "Baik kah, kita makan dulu!" Pram mendudukkan Naira di sofa.
Tidak banyak kata yang terucap, Naira hanya fokus pada makan sambil sesekali mulutnya mengoceh.
__ADS_1
"Apa ini gak salah ka? Makanan sebanyak ini untuk kita berdua aja gitu?" Tanya ku sambil mengunyah spaghetti bolognese.
"Apa pun itu, akan aku berikan jika kau mau!" Seru ka Pram.
"Gombal banget sih."
Ka Pram malah mendekatkan wajahnya ke arah ku dengan mulut yang terbuka.
Satu alis ku mainkan naik turun, "Kaka mau apa?" Tanya ku dengan polos.
Pram menarik sudut bibirnya ke atas, dasarrr anak kecil... seperti ini saja tidak mengerti maksud ku?
"Suapi aku!" Seru ka Pram datar.
Ku tatap jengah, "Gak salah ka? Udah gede minta di suapin, malu sama umur apa ka!" Ejek ku.
Oh berani mengejek ku ya! Mau suapi aku, atau ku lahap kau lagi?
Mata ku membola, ih gila ini mah... ka Pram kenapa jadi demen banget itu sih malah lagi makan, gak malu apa bilang terus terang kaya gitu!
"Oooh atau kau memang menunggu untuk aku melahap mu lagi ya?" Pram menatap Naira dengan intens.
"Ihs!" Aku mendengus sebel namun tangan ku tetap menyuapi spaghetti bolognese ke mulut ka Pram.
Setelah makan siang, ka Pram membawa ku ke ruang rawat yang ada di lantai bawah.
Saat ke luar dari lift.
"Selamat siang Tuan, Nona!" Seru pak Dedi dengan mata menatap leher Naira yang putih namun ada beberapa bagian yang berwarna keunguan yang menarik perhatian mata pak Dedi. Sepertinya benar dugaan ku, semoga saja benih Tuan Pram akan segera tumbuh dalam rahim Nona Naira.
"Suruh Amarta ke ruang rawat!" Perintah ka Pram dengan datar.
"Siap, Tuan."
Pram melangkah ke ruang rawat sedangkan pak Dedi mencari keberadaan Amarta.
"Aku kan bisa jalan sendiri ka!" Ke dua tangan ku melingkar di leher ka Pram.
"Selama kaki mu masih di gips dan selama ada aku di sisi mu, kau tidak perlu berjalan dengan tongkat penyanggah itu!" Seru ka Pram.
"Heeem, hanya kaki kiri ku yang di gips... masih bisa jalan dengan bantuan tongkat penyanggah, kenapa juga harus di gendong?" Tanya ku cuwek.
__ADS_1
"Karena mulai detik ini, aku yang akan menjadi kaki mu untuk berjalan, mata untuk mu melihat!" Ka Pram mengatakannya dengan wajah datar.
Aku tertegun untuk sesaat menatap wajah datar ka Pram, ini ka Pram lagi ngerayu, gombal apa gimana ya? Mukanya datar amat, gak ada romantisnya sama sekali ka, lempeng aja gitu kaya jalan tol yang gak ada polisi tidurnya.
Pram membaringkan tubuh ku di atas ranjang rawat dengan hati hati.
Pram berdiri di samping ku, "Untuk apa ka Pram jadi mata? Di saat aku sendiri masih bisa melihat!"
Ka Pram mencondongkan tubuhnya ke arah ku, menautkan keninya dengan kening ku, hingga wajah kami tanpa jarak, "Agar aku bisa memastikan, istri nakal ku ini tidak melirik pada bocah tengik itu... atau kalo perlu ku larang saja kau ke luar rumah! Cukup duduk manis di rumah dan menghabiskan uang ku lewat belanja online!" Seru ka Pram.
Ku dorong bahu ka Pram dengan ke dua tangan ku, hingga punggungnya membentur meja yang ada di belakang tubuhnya.
Sreek.
Bugh.
"Awh!" Ka Pram meringis, pura pura ke sakitan, bocah nakal ini!
"Makanya ka, jadi orang jangan kebanyakan ngibul, aku gak suka tuh berdiam diri di rumah... aku ini pecicilan, enak aja nyuruh aku diem di rumah, nehi ya!" Ku palingkan wajah ke arah yang lain, males juga menatap rubah mesummm yang mulai banyak ngatur.
Pram melangkah maju dengan tangan kanan terulur menarik dagu ku.
Dasarrr bocah nakal, jika wanita lain akan dengan senang hati diam di rumah dan menghabiskan uang, tapi tidak dengannya! Semakin menarik bocah nakal ini!
Ku tajamkan mata, awas aja kalo maen sosor sosor lagi! Hehehehe capit ku ini akan siap mendarat di bokong mu ka Pram! Rubah mesummm!
Tangan ku sudah bersiap mengambil posisi di samping tubuh ka Pram, dengan jari telunjuk dan jempol yang sudah terbuka ingin mencapit daging tak bertulang ka Pram.
Mata mu sangat indah di pandang Nai, hidung mu mancung tanpa celah, bibir mu yang mungil bak candu untuk ku, jangan salah kan aku jika aku tidak bisa mengendalikan diri ku untuk tidak menerkam mu Nai!
Pram memejamkan mata dan bibirnya menempel dengan bibir Naira, semakin ia benamkan bibirnya pada bibir ranum istri kecilnya.
Benerkan dugaan ku, maaf ya ka!
Cep.
Ceklek.
Bersambung....
...💖💖💖💖💖...
__ADS_1
Salam manis author gabut
Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen 😁