
...💖💖💖...
"Pram mengerutkan keningnya, mau apa Haikal menghubungi ku?" Gumam Pram yang masih bisa di dengar Dev di balik kemudi.
"Kenapa tidak di jawab saja, pak!" Seru Dev.
Pram pun menjawab panggilan teleponnya, dengan duduk bersandar pada sandaran kursi mobil, dengan kaki kanan di angkat ke atas dan bertumpu pada kaki kirinya.
"Ada apa, Haikal?" Tanya Pram dengan suara dinginnya.
[ "Apa bos sedang sibuk?" ] Haikal memastikan dulu keadaan bos-nya.
Pram mengerutkan keningnya, pasti ada yang tidak beres... tapi masalah apa? "Ada yang ingin kau sampaikan?"
[ "Tuan Aji sudah mulai bergerak, bos!" ] Seru Haikal dari sebrang sana.
"Owh, siapa sasaran tua bangkaaa itu?" Pram tampak acuh untuk menanggapinya.
Haikal membuang nafasnya dengan berat sebelum menjawab pertanyaan Pram.
Helaan nafas Haikal, dapat di denger dengan jelas di telinga Pram, yang justru membuat Pram semakin bertanya tanya meski hanya dalam hati kecilnya
Ada apa dengan anak ini? Tidak seperti biasanya jika harus ada yang ingin dia sampaikan.
[ "Maaf sebelumnya bos... Sasaran Tuan Aji adalah Nona Muda, bos." Suara Haikal bergetar, jangan sampai bos marah setidaknya jangan sampai melenyapkan ku.
Dev menghentikan laju mobilnya di saat mereka sudah sampai pada wilayah yang di tuju. Mesin mobil sudah di matikan oleh Dev, hanya tinggal menunggu Tuan-nya menyudahi sambungan teleponnya.
"Owh, Nona Muda." Pram menjawab dengan tidak fokus hingga terkesan meremehkan di telinga Haikal.
Dev melirik Pram dari kaca spion mobil, ada apa dengan Nona Muda?
Indra penglihatan Pram terpaku dengan pemandangan di luar, "Sangat menakjubkan."
[ "Hah? Apanya yang menakjubkan bos?" ] Tanya Haikal yang mengira Pram masih berbicara dengannya di telpon.
Pram menajamkan matanya dan beranjak dari duduk bersandarnya, "Bodoh, siapa juga yang sedang berbicara dengan mu... ini, pemandangan di luar sangat menakjubkan... kau mengerti!" Pram mengomel dengan hape yang yang ia letakkan di depan wajahnya.
[ "Maaf bos, saya pikir karena Tuan Aji menjadi kan Nona Muda Naira sebagai sasarannya, jadi bos merasa terpukau jadi bilang menakjubkan." ] Haikal memperjelas lagi alasan di balik ia menghubungi bos-nya Pram.
Respon Pram kali ini berbeda. Jika di saat tidak fokus ia bisa tampak acuh. Tapi di saat otak dan hatinya konek pada Naira, ia akan menunjukkan sisi kejammm nya pada siapa saja yang berani menyentuh istri kecilnya itu.
Pram naik pitam mendengar Aji menjadikan Naira sebagai sasarannya.
Wajah Pram meneganggg, dengan rahang pipinya yang mengeras.
__ADS_1
"Apa Naira terluka?" Tanya Pram dengan sorot mata yang berapi api, awas saja jika kalian berani menyentuh istri ku.
Dalam diam, Dev menajamkan telinganya mendengarkan Pram yang sedang bicara dengan Haikal.
Batin Dev, ada apa dengan Nona Naira?
[ "Nona sempat di tarik paksa ke luar dari dalam mobil oleh orang suruhan Tuan Aji, tapi ---" ]
"Bodohhhh kalian, menjaga satu wanita saja tidak becussss!" Pram mengumpat dengan nada tinggi.
Bugh.
Pram melempar hapenya ke arah belakang kursi yang sedang di duduki Dev.
Pram tidak memberikan kesempatan Haikal untuk menceritakan kronologinya dengan jelas, bayangan akan Naira yang menangis, menjerit di sakiti oleh orang suruhan Aji sudah membuat pikiran Pram kacau, setelah mengumpat Haikal.
Dev kaget di buatnya, apa aku tidak salah dengar?
Dev memutar duduknya hingga ke arah Pram yang duduk di kursi belakang, "Ada apa dengan Nona Muda, pak?" Tanya Dev dengan kening mengkerut.
"Urus ke pulangan ku sekarang juga, Dev!" Seru Pram dengan tangan yang mengepal.
"Bapak mau kembali sekarang juga ke Indonesia? Lalu kerja sama dengan Nona Harumi, bagai mana pak?" Tanya Dev.
"Naira jauh lebih penting dari Harumi, kau selesaikan sisa pekerjaan ini."
Dev mendapatkan tatapan tajam dari mata Pram seolah dengan matanya Pram berkata, banyak bicara, ku habisiiii kau!
"I- iya baik lah jika pak Pram inginnya seperti itu, biar saya urus untuk ke pulangan bapak."
Pram menyandarkan kembali punggung dan kepalanya pada sandaran kursi mobil.
Dev diam di balik kemudi.
Pram di buat heran dengan Dev yang belum juga melajukan mobilnya.
Pram mengurut batang hidungnya dengan tangan kanannya, "Kau tunggu apa lagi, Dev?" Tanya Pram dengan ke dua mata yang terpejam, hanya ada wajah Naira. tunggu aku akan kembali untuk mu.
"Apa kita tidak akan turun lebih dulu dari mobil untuk melihat lokasi, pak? Kita sudah sampai di lokasi yang kita tuju!" Seru Dev tanpa ragu.
Bugh.
Pram menendang satu kakinya ke kursi yang Dev duduki, "Kau menguji kesabaran ku, Dev!" Seru Pram dengan penuh penekanan.
"Maaf, pak... saya pikir bapak akan turun dari mobil dan melihat lokasi."
__ADS_1
"Jalan dev!" Bentak Pram.
Di bandara Dev langsung memesan tiket untuk penerbangan Tokyo - Indonesia beruntungnya cuaca sangat mendukung hingga tidak sulit bagi Dev untuk mendapatkan tiket pesawat yang akan di gunakan Pram.
Pukul setengah 9 waktu Jepang, Pram akan melakukan penerbangan.
🍂 Di tempat lain 🍂
Kedei start.
Daren duduk seorang diri di meja yang berada di sudut ruang.
Matanya nyalang mencari sosok Naira yang belum juga ia lihat.
Ke mana Naira ya? Harusnya ia sudah sampai di sini dari tadi kan!
Daren mengeluarkan bingkisan kecil dari saku jaket yang ia kenakan, apa aku serahkan besok saja di sekolah ya?
Juni ke luar dari kitchen menuju toilet dan saat ke luar dari toilet, ia menghampiri Ayu yang sedang duduk di belakang mesin kasir seorang diri.
Juni berdiri di samping meja kasir dengan ke dua tangan yang bertumpu pada meja.
"Ehem, ka... bu bos sama 2 kurcaci ko belum juga kelihatan ya!" Seru Juni yang menanyakan keberadaan Naira si pemilik kedei, kurcaci untuk Elsa dan Novi.
"Mereka bertiga gak masuk hari ini." Terang Ayu.
"Hah? Gak masuk, mereka bertiga ka?" Juni terperangah mendapati ketiganya tidak masuk kerja hari ini, kalo Naira yang gak masuk kerja sih wajar secara Naira bosnya, tapi ini Novi dan Elsa ikut ikutan.
"Iya mereka bertiga, kenapa? Lo juga mau ikut gak masuk kerja?" Tanya Ayu dengan menatap tajam Juni.
Juni mengerucutkan bibirnya, "Ihs cuma nanya juga, "Novi kenapa gak masuk kerja ka?"
"Tadi sih Nai cuma bilang izin aja buat Elsa sama Novi, gak kasih tau alesannya." Ujar ayu.
"Gitu ya!" Mata Juni melihat ke depan tempat di mana kursi dan meja untuk para pengunjung kedei.
"Itu kan Daren, mau apa itu bocahhh ke sini ya?" Gimana Juni.
"Udah sana balik kerja!" Seru Ayu.
"Bentar ka!" Juni melangkah ke meja yang di mana ada Daren duduk seorang diri.
Brak.
...💖💖💖💖💖...
__ADS_1
Salam manis author gabut
Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen 😁