Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Api permusuhan


__ADS_3

...💖💖💖...


Dari belakang Naira, suara yang sangat ia rindukan terdengar di indra pendengaran Naira, "Naira! Apa yang kau lakukan?"


Pram hanya menyunggingkan senyumnya meski sedikit dengan wajah datarnya.


Naira mengerutkan keningnya, menatap Pram dengan tanda tanya, "Apa aku tidak salah dengar, itu suara mama kan ka?"


Pram mengerdikkan bahunya, lalu menurunkan Naira dari gendongan nya.


"Astaga sayang, masih berapa lama lagi... kami harus menunggu mu di sini?" oceh suara pria paruh baya, dengan mata yang memicing.


Naira membalikkan tubuhnya dengan perasaan yang senang tidak terkira.


"Mama, papa, Dito?" Naira langsung berlari ke arah orang tuanya yang sedang duduk di ayunan taman. Sedangkan Dito dengan santainya sedang menyirami taman yang ukurannya tidak lah beser.


"Aku kangen kalian!" seru Naira yang memeluk ke dua orang tuanya, dan mencium ke dua tangan orang tuanya secara bergantian.


Pram melangkah dengan tangan kirinya di masukkan ke dalam saku celananya, menghampiri orang tua Naira, yang tidak lain adalah mertuanya.


"Kaka, aku baru tahu lo... ternyata di tempat seperti ini ada rumah sebagus ini!" terang Dito yang kini menghampiri kakanya.


Dengan canggungnya Pram berseru, dengan suaranya yang dingin, datar, wajah tanpa ekspresi.


"Maaf, sudah membuat kalian menunggu lama!" Pram berdiri di samping pria paruh baya, salah satu pria yang selamat setelah di bawa orangnya Pram.


Atmaja mengepalkan tangannya, menatap Pram dengan penuh ke bencian sekaligus menguatkan hatinya sendiri, sabar Atmaja, kau tidak tahu apa yang sudah di lakukan pria kejammm ini pada putri mu, jangan sampai kau bertindak gegabah dan mengancam nyawa putri mu, tenang Atmaja.


"Bukan Tuan yang harusnya meminta maaf, ada juga saya... mungkin selama ini putri saya sudah banyak merepotkan Tuan. Saya mohon maaf atas namanya, Tuan! Semoga Tuan berkenan memberikan maaf untuk putri saya ini!" sindir Atmaja.


"Papah, ngomong apa sih! Maaf nak Pram, kami hanya membawa kan ini!" Heni menyerahkan buah tangan yang langsung di ambil oleh Naira.


"Waah apa ini mama yang buat? Pasti rasanya sangat enak!" Naira menghirup aroma wangi dari bungkusan, yang ada di tangannya.


"Bisa kita langsung duduk di sana saja! Kurang etis rasanya jika bicara dalam kebadaan seperti ini!" Pram mengarahkan yang lainnya untuk berjalan ke arah gazebo yang ada di sudut taman.



"Ayo mah!" Naira menggandeng Heni berjalan lebih dulu menuju gazebo.


"Bagai mana kabar kaka? Pria itu tidak menyakiti kaka kan?" tanya Dito yang berada di sisi kiri Naira, sedangkan Heni ada di sisi kanan Naira.

__ADS_1


Naira meletakkan jari telunjuk kanannya di depan bibirnya, "Sttttt kamu ngomong apa sih? Ka Pram itu baik ko, sangat pengertian." terang Naira.


"Jangan menilai seseorang dari wajah, wajah boleh seram... tapi hati seseorang itu, belum tentu kan akan seseram wajahnya!" seru Heni.


Atmaja tampak memberi jarak dirinya dengan Pram, aku masih belum bisa menerima mu sebagai pendamping putri ku, jika saatnya sudah tepat, aku akan membebas kan putri ku dari cengkramannn mu, Pramana Sudiro.


Pram menyeringai, apa sesulit ini, untuk pria tua ini menerima ku sebagai menantunya? Tapi itu tidak akan aku biarkan menjadi penghalang untuk ku bisa bersama dengan Naira. Sampai kapan pun, tidak akan ada yang bisa memisah kan aku dengan Naira.


Naira, Heni dan Dito mendudukan diri mereka di gazebo dengan menaruh buah tangan yang heni bawa di hadapan mereka.


Atmaja dan Pram, sama sama ingin duduk di sisi Naira, membuat bahu ke duanya saling berbenturan.


"Aku ingin duduk dekat dengan putri ku!" seru Atmaja yang tidak ingin mengalah.


"Oh ya! Aku ingin duduk di sisi istri ku! Apa kau bisa menghentikan ku?" Pram menyeringai.


Haikal yang entah muncul dari mana, langsung berdiri di belakang Pram, "Apa ada masalah bos?" tanyanya setelah membungkuk hormat.


Atmaja mengepalkan tangannya, sialll... ini wilayah ke kuasaannya, aku tidak bisa berbuat apa apa di sini!


Naira menengahi ke duanya, Heni membuka dan mengeluarkan buah tangan yang ia bawa dengan di bantu Dito. Haikal menunggu perintah yang akan di berikan Pram.


"Tolong ambilkan minum aja, bang! Kita piknik dadakan aja! Kayanya bagus cuacanya ini!" seru Naira dengan menarikkk tangan Pram untuk duduk di sisi kanannya, sementara Atmaja duduk di depan Naira lebih ke kiri.


"Lakukan apa yang di katakan Naira! Kau lupa, perkataannya sama dengan perintah dari ku?" oceh Pram, namun pandangannya menusukkk pada Atmaja.


Atmaja memicingkan matanya pada Pram, giginya menggeretuk, api permusuhan kian berkobar pada dadanya untuk Pram, yang tidak lain adalah menantunya


Apa apaan pria kejammm ini? Ingin menunjukkan seberapa hebatnya ia di depan ku? Huh, putri ku jauh lebih hebat dari mu, pria pecundang! Laki laki yang tidak bisa menghadapi masalahnya sendiri, tidak pantas untuk putri ku!


"Ada lagi Nona, yang bisa saya ambilkan?" tanya Haikal.


"Piso sama piring, boleh juga tuh bang Haikal. Tolong ya!" ucap Naira lagi dengan menyunggingkan senyum manisnya.


Haikal membungkuk sebelum akhirnya meninggalkan mereka semua di gazebo taman, Haikal melirikkan pandangannya, pada pengawal bayangan yang tidak berada jauh dari taman.


Dengan kode mata dan gerakan kepala, Haikal memberikan perintah untuk tetap mengawasi Tuannya. Pengaw bayangan mengangguk patuh.


Pram menarik Naira ke sisinya, dengan rangkulan tangan kirinya di bahu Naira, membuat tubuh Naira condong ke kanan dan badannya berada di paha Pram.


"Kan sudah aku kata kan, senyum mu hanya untuk ku, sayang!" seru Pram dingin dengan meyentuh dagu Naira, dan mengecuppp bibir Naira sekilas.

__ADS_1


Dengan menggelengkan kepalanya, Dito berseru, "Gila bener, Tuan Pram ini posesif juga ya sama ka Nai!"


Heni menyunggingkan senyumnya, melihat cara Pram memperlakukan Naira, pria ini pasti sangat mencintai putri ku!


Sedangkan Atmaja yang melihat nya di buat geram, tangannya mengepal, "Apa apa ini! Kau sadar tidak, apa yang sudah kau lakukan pada putri ku! Itu namanya pelecehan! Aku bisa saja menyeret mu lewat jalur hukum!" ucap Atmaja dengan datar.


Heni yang melihatnya langsung mengelusss lengan suaminya, "Jangan seperti itu pah! Kau lupa Naira dan nak Pram itu sudah menikah?" Heni mengingatkan kembali hubungan Naira dan Pram.


Naira mendudukan dirinya dengan tegak, dengan lebih mendekat pada Pram, menjelaskan pada Atmaja.


"Eh bukan begitu maksud ka Pram, pah! Ka Pram ini suami yang sangat bertanggung jawab ko! Ini tidak seperti yang papah bayangkan!" seru Naira.


Pram menyeringai mendengar Naira, ibu mertuanya (Heni) dan adik iparnya (Dito) berada di pihaknya, membuat Atmaja semakin tersudut dengan posisinya apa lagi tidak ada dari mereka yang memihak pada Atmaja.


Pram menatap tajam pada Atmaja, kau sendiri yang memperkeruh ke adaan, Atmaja! Harusnya kau bersyukur masih bisa melihat matahari terbit hingga saat ini!


Atmaja yang di tatap tajam oleh Pram, membuat nyalinya seketika menciut. Atmaja mengalihkan pandangannya pada rumput hijau yang ada di hadapannya, dengan bibir yang terus menggerutu, meluapkan ke kesalannya.


"Tetap saja aku tidak suka, mau dia ini suaminya atau apa nya kah itu untuk Naira! Naira ku masah sekolah! Masih butuh mengenyam pendidikan. Bukannya belajar untuk menjadi seorang istri, untuk melayani suaminya!"


Pram mengepalkan ke dua tangan nya, jika saja tidak ada Naira di sini, sudah ku habisi kau pria tua!


Naira menatap Atmaja sekilas, papa cari masalah deh!


Kini Naira mengalihkan pandangan nya pada Pram, keningnya mengkerut, tanpa di minta Naira mengulurkan tangannya dan langsung menggenggammm jemari Pram, lalu Naira menggeleng kan kepalanya dengan senyum pada Pram seolah berkata, 'Jangan ka!'


Pram berkata dengan dingin, tangan kiri Pram merekat di pinggang Naira dengan posesifnya, "Kau tenang saja sayang, selama ada kau... pria tua itu akan aman, tapi aku tidak bisa menjamin, jika tidak ada diri mu di hadapan ku!"


"Kaaaaaa!" Naira berseru dengan manja lalu mengecuppp pipi Pram, dan berbisik di telinga Pram, "Biar bagai mana pun, itu papah ku! Papah mertua mu ka!"


Naira menarik kembali tubuhnya, saat melihat Haikal yang berjalan ke arah mereka.


"Itu bang Haikal dateng! Kita bisa lanjut kan acara piknik dadakan nya?"


...💮💮💮💮💮...


......................


...💖 Bersambung 💖...


Terima kasih sebelumnya, yuk komen yuk, tambah tambah masukan buat author.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalin jejak like oke! 😊


__ADS_2