Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Bukan pelarian


__ADS_3

...💖💖💖...


Sambil menghabiskan makanan nya, mereka bertiga membahas kembali bagai mana serunya pertandingan bola basket tadi.


Pluk.


Juni menepuk bahu Serli, saat dirinya sudah berada di belakang Serli.


"Gw boleh gabung sama kalian kan?" Tanya Juni dengan mentap Naira, Novi dan Serli.


"Ck... gaya lo pake basa basi, tinggal duduk juga!" Seru Novi.


Juni mendudukan dirinya di sebelah Serli, dengan tangannya yang ia lambaikan ke ibu kantin.


"Batagor ya bu, pedes!" Ucap Juni yang lantas membuka tutup botol minum yang ia bawa.


"Beres, bos!" Jawab ibu kantin yang langsung menyiapkan apa yang di pesan Juni.


"Lo kenapa ke sini, Jun?" Tanya Novi sambil menyuapkan makanan nya.


"Laper dan pengen deket sama Serli lah." Celetuk Juni dengan jujur.


Ucapan Juni yang jujur, membuat Serli tersendak dengan makanan nya.


"Uhuk uhuk uhuk."


Juni memberikan botol minum yang ada di tangannya pada Serli, satu tangannya ia tepuk tepuk punggung Serli.


"Makanya kalo makan itu pelan pelan dong, Ser!" Ujar Juni.


"Apa sih Jun! Jangan lenjeh deh." Ucap Serli dengan sini


"Ini batagor pedasnya ya, den!" Ucap si ibu kantin dengan menaruh piring yang berisi batagor di atas meja, depan Juni.


"Makasih, bu!" Jawab Juni, dan ibu kantin langsung kembali ke stand dagangannya.


Juni menyantap batagornya dengan sesekali melirik ke arah Serli, makin resep bae gw ama lo Ser!


Tanpa permisi lagi, Juni mengecek suhu tubuh Serli, lewat tangannya yang ia tempelkan di kening Serli. Membuat Serli membola dengan tangan yang menepis tangan Juni.


"Apa apaan, si lo? Gak sopan tau, maen pegang pegang aja lo!" Omel Serli.


"Gw cuma pengen cek suhu tubuh, lo Ser! Ternyata udah gak kaya tadi demamnya. Berkat gw ya?" Tebak Juni dengan menyantap batagornya.


"Gila, pede abis lo!" Dengus Serli.


Novi dan Naira terkekeh di buatnya.


"Bakal ada yang mengakhiri masa jomblonya nih di penghujung putih abu!" Ledek Novi, "Nyusul kisah gw gitu yang udah duluan sama paman ayang." Ujar Novi lagi.


"Bacot lo, Nov!" Sungut Serli, dengan matanya yang melotot pada Novi.


"Apa sih Ser! Udah deh, Jun! Cepet tembak ini temen gw! Biar malam minggu gak jadi malam panjang, dewekan di pojok kamar, karena gak ada yang apel." Ujar Novi lagi.


Serli mengepalkan ke dua tangannya di depan dadanya, merasa gemas dengan tingkah Novi yang terus bicara ngaur.


"Uuuuhhhh nih anak bener benar minta di jejelin sambel!" Dengus Serli.

__ADS_1


"Bener itu apa yang di ucapin Novi. Jadi lo mau kan, buat jadi pacar gw, Ser?" Tanya Juni.


Serli membola dengan apa yang di ucapkan Juni.


"Yah elah lo Jun, ora ada romantis romantisannya pisan sih! Masa lo nembak sohib gw ora ada kembang apa coklat!" Sungut Novi.


Prak.


Naira menggeprak lengan Novi, "Bawel lo! Lagi lo jadian, bang Haikal bawain lo bunga sama coklat kaga?" Sungut Naira.


"Hehehehe, paman ayang bawain semua yang gw minta dong.' Ujar Novi.


"Lo yang minta, apa lo yang maksaaa?" Ledek Naira.


Novi tergelak, "Hahahhah, ya dua duanya bener itu, Nai!"


"Wuuu dasar, Novi!" Serli menyoraki Novi.


Plak.


Naira menggeprak lengan Novi lagi, "Pe'a lo!"


"Jadi gimana Ser? Gw di terima kan jadi pacar lo? Jadi calon imam lo juga gw gak keberatan Ser." Ujar Juni.


"Preketew udah terima, Ser!" Ujar Naira.


"Iya, terima bae udah." Ujar Novi.


"Enak bae maen terima terima aja, jangan jangan lo nembak gw, karena pelarian si Elsa yang menghilang. Terus di saat Elsa udah muncul lagi, gw bakal di lupain gitu aja? Dih sorry layaw, gw bukan pelarian cinta lo, Jun!" Ucap Serli yang lantas beranjak dari duduknya.


Namun saat Serli akan melangkah, tangannya di cekal oleh Juni.


"Lo itu bukan pelarian buat cinta gw, tapi selama ini gw minder sama status sosial lo. Tapi saat ini kan gw udah ada kerjaan, gw juga lagi nabung, dengan tabungan itu gw bisa buka usaha, buat masa depan kita nantinya." Terang Juni yang kini berdiri di hadapan Serli.


"Uuuhhhh soswiiit banget." Ucap Naira dengan mata yang berbinar, gila banget pemikiran Juni ampe ke sono sono.


"Wiiih pemikiran yang luar biasa." Ucap Novi.


"Gw butuh waktu, gak bisa gw semudah itu percaya sama lo, apa lagi lo selama ini deket banget sama Elisa." Serli melepasss kan tangannya yang dicekal Juni, dengan tangan lainnya.


"Ok, gw bakal kasih lo waktu buat jawab pertanyaan gw." Ucap Juni yang tidak ingin terlalu memaksaaa Serli.


Naira dan Novi yang sudah selesai dengan makannya pun beranjak, dengan Naira yang menaruh uang di atas meja, sebagai pembayaran apa yang mereka makan.


"Daah, jangan lupa kejer cinta lo!" Seru Novi saat melewati Juni.


"Buktiin perkataan lo ke Serli!" Oceh Naira saat melewati Juni.


Jam menunjukkan pukul setengah 1 siang.


Naira di temani Novi masih berdiri di depan gerbang, karena Naira tidak mendapati mobil yang tadi pagi mengantarkannya ke sekolah.


"Paman ayang gak jawab telpon dari gw!" Sungut Novi.


"Sama, telpon dari gw juga gak di jawab." Naira menyimpan kembali hapenya ke dalam saku roknya.


"Gimana kalo kita naek taksi aja?" Ajak Novi, "Lo ke kedei kan?" Tanya Novi.

__ADS_1


"Sebenarnya sih gw pengen ke kantor ka Pram." Naira celingukan mencari sosok Haikal dan mobil, yang mungkin saja itu Haikal entah berharap Dega yang menjemput nya.


Ciiiiit.


Motor sport berhenti di depan Naira dan Novi.


"Siapa sih ini cowo? Berenti pake di depan gw segala, kaya gak ada jalan yang kosong bae!" Gumam Naira.


"Lo kenal Nai?" Novi menyenggol lengan Naira.


Naira mengerdikkan bahunya, "Gak kenal gw!"


Si pengendara motor membuka kaca helm nya.


Naira membola, "Bang Haikal? Tumben pake motor?"


Novi ternganga, "Astaga paman ayang, jemput Naira... apa jemput ayang embeb? Tapi keren banget sih liet paman ayang naek motor, gagah beh." Ujar Novi.


"Emmmh iya Nona, biar bisa lebih cepat sampai."Haikal menyerahkan helm pada Nona Muda-nya. Naira pun menerima helm dan mengenakan nya di kepalanya.


Haikal membatin, dasarrrr bocah plangton, bisa saja kalo bicara.


"Maaf saya datang terlambat Nona!" Untung aja pengawal bayangan memberi tahu jika Nona pulang lebih awal.


"Terus Novi gimana?" Tanya Naira.


"Kamu naik taksi saja, biar lebih aman." Ucap Haikal dengan mengelusss kepala Novi.


"Taksi!" Seru Haikal saat melihat taksi yang mengarah ke arahnya.


Raut wajah kecewa tampak di wajah Novi, yang pacarnya siapa, yang di jemput siapa, tapi gak apa deh, buat keselamatan Naira juga kan.


"Ok lah kalo gitu, udah gih sana naik Nai!" Ucap Novi dengan tangan membuka pintu mobil taksi nya.


Haikal turun sebentar dari motor nya dan menyerahkan uang pada supir taksi, "Antar ke tempat tujuan dengan selamat ya, pak!" Seru Haikal.


"Beres!" Ucap supir taksi.


Setelah Novi pergi dengan mobil taksi yang di tumpanginya, kini Naira yang berlalu dari gerbang sekolah, dengan menaiki motor sport yang di kendarai Haikal.


"Kita langsung kembali atau ke kedei, Nona?" Tanya Haikal.


"Gak ke duanya, bang."


Haikal mengerutkan keningnya, "Nona mau ke mana? Apa sudah izin sama Tuan?"


"Aku gak perlu izin buat datang ke hotel suami sendiri kan!" Seru Naira.


Ciiiiiit.


...💮💮💮💮💮...


......................


...💖 Bersambung 💖...


Terima kasih sebelumnya, yuk komen yuk, tambah tambah masukan buat author.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalin jejak like oke! 😊


__ADS_2