
...💖💖💖...
"Bagai mana dengan hotel ku di Indonesia dan negara lainnya, tidak ada masalah kan?"
[ "Untuk cabang hotel yang lain, bos tidak perlu khawatir. Biar pun ada masalah, aku sudah menyelesaikan nya!" ] sungut Dev dengan perasaan jengkel.
"Anak pintar, belajar dari mana kau menghadapi permasalahan dalam hotel ku?"
[ "Itu pujian atau sindiran untuk ku bos? Selama ini bos kemana saja, baru menyadari otak ku yang pintar ini!" ]
"Cih kau ini Dev! Anggap itu pujian untuk mu! Setelah aku kembali, ambil lah cuti selama 3 hari untuk mu dan Sesil. Pergi lah kalian untuk menghabiskan waktu bersama."
[ "Memang kapan bos akan kembali? Bos saja belum menyuruh ku untuk mengurus penerbangan ke Indonesia." ]
Pram mengerutkan keningnya, "Kau ini sedang meremehkan ku, Dev? Kau pikir aku tidak bisa mengurus ke pulangan ku sendiri tanpa mu?"
[ "Aku tidak meremehkan mu, bos. Bagai mana dengan Nona, bos? Apa Nona Muda sudah tidak apa apa?" ]
"Keadaan nya sudah jauh lebih membaik. Ngomong ngomong Dev, apa sudah ada tanda tanda jika Sesil sedang hamil anak ke dua kalian?" celetuk Pram.
[ "Uhuk uhuk uhuk, kita sedang tidak membahas istri ku, bos! Aku harap setelah bos kembali dari Jepang... bos membawakan kabar baik untuk kami yang ada di Indonesia." ] sindir Dev dengan ketus.
Pram tergelak menanggapi ocehan Dev yang ketus padanya.
"Ahahaha bisa saja kau Dev, tidak usah tegang begitu! Memang kabar baik apa yang kalian harap dari ku?"
[ "Seperti bos terlalu lama di Jepang, hingga otak bos rada koslet! Cara bicara mu juga tidak sedingin biasanya bos, apa benar tebakan saya ini bos." ]
Pram kembali tergelak dengan memberi tantamgan pada Dev.
"Kau menebak apa, Dev? Jika tebakan mu salah. Aku batal kan izin cuti mu selama 3 hari. Sebagai gantinya, kau harus lembur selama 3 hari, ahahaha adil kan!"
[ "Sudah lah, tidak akan habis jika saya terus meladeni bos dengan hati yang sedang senang. Lebih baik... saya melanjutkan pekerjaan saya, pekerjaan yang sudah bos tinggalkan selama berhari hari, dasar bos sedang!" ] Dev langsung memutuskan sambungan teleponnya.
Pram menatap layar hapenya, mengerutkan keningnya, "Sialannn, anak buah durhaka! Berani memutuskan sambungan telepon ku! Minta di potong ini orang! Lihat saja, jika aku sudah kembali!" gerutu Pram dengan menyimpan hapenya ke dalam saku celananya.
__ADS_1
Tanpa ia sadari, Pram yang terlalu fokus berbicara di telpon, sudah melewati beberapa ruang rawat. Pram memutar tubuhnya kembali, berjalan ke arah yang seharusnya.
Tanpa sengaja, indra pendengaran nya menangkap suara jeritan seorang wanita paruh baya, dari salah satu kamar yang akan ia lewati, dengan pintu yang sedikit terbuka.
"Aaaaaaaaaakhh kembalikan putri ku! Dia putri ku! Mana putri ku! Putri ku mana!" teriaknya dengan lirih dan suara yang mengiba, air matanya terus membanjiri pipinya.
Pram mengerutkan keningnya, ia melihat wanita paruh baya itu, sedang di tangani seorang dokter dan 2 orang perawat.
Pram mengerutkan keningnya, apa yang terjadi dengan wanita itu? Di mana keluarganya?
Dreet dreet dreet dreet.
Hape yang ada di dalam saku celana Pram bergetar. Ia merogoh nya dan mengeluarkan nya.
Pram mengerutkan keningnya, ada apa Toda menghubungi ku? Apa terjadi sesuatu dengan Naira?
Pram menjawab panggilan telepon nya sambil terus melangkah, menuju ruang rawat Naira tanpa memperdulikan lagi apa yang sudah ia lihat barusan.
"Ada apa Toda, apa terjadi sesuatu dengan istri ku? Dia baik baik saja kan?" cecar Pram dengan khawatir.
[ "Ini aku, ka! Akan terjadi sesuatu dengan ku, jika ka Pram tidak segera kembali!" ]
"Iya sayang, maaf ya! Ini aku sudah di depan ruang rawat mu! Jangan ngambek lagi!" ucap Pram dengan lembut, setengah merayu Naira.
Ceklek.
Pintu ruang rawat Naira terbuka, nampak Pram yang muncul di balik pintu.
"Kaka dari mana saja? Habis menemui wanita Jepang kah?" tuduh Naira dengan mengerucut kan bibirnya, saat sepasang mata indahnya melihat Pram.
"Aku habis menemui dokter Akira." Pram mendudukkan dirinya di tepian ranjang rawat Naira, mengelusss pipi sang istri yang nampak mengembul. Kerjaanya makan dan tidur, membuat bobot tubuh Naira sedikit naik.
"Bukan menemui wanita Jepang?" tanya Naira kembali dengan tuduhannya.
"Untuk apa aku menemui wanita Jepang, jika aku memiliki mu?" Pram mendaratkan kecupan di bibir mungil Naira yang tampak menggoda.
__ADS_1
"Awas aja, jika aku lihat kaka dengan wanita lain. Hanya berdua, aku pasti kan kaka tidak akan melihat ku lagi!" gerutu Naira.
Pram menoleh ke arah Toda yang duduk di sofa, seolah sedang bertanya lewat tatapan mata yang Pram berikan pada Toda.
'Apa yang terjadi dengan kaka ipar mu?'
Toda mengerdikkan bahunya, seolah menjawab pertanyaan Pram, 'Aku tidak tahu.'
Pram menangkup wajah Naira, menatap Naira tanpa berjarak, dengan kening yang saling bertaut.
"Apa yang sedang kau khawatir kan hem? Jangan pernah mengancam ku, atau berfikir untuk bisa menjauh dari ku! Kau lupa jika suami mu ini siapa?" ucap Pram dengan penuh penekanan.
Bukannya takut mendengar ucapan Pram, Naira justru mengalungkan ke dua tangannya pada leher Pram, Naira menautkan hidung ke duanya.
"Apa kaka juga lupa, sedang berhadapan dengan siapa? Aku, satu satunya wanita yang bisa membuat singa buas, menjadi kucing anggora! Rubahhh mesummm, rubahhh payah, rubahhh pemarah, rubahhh nakalll, semuanya ada pada diri mu. Bagai mana bisa aku jauh dari mu, ka!" ucap Naira dengan mendayu dayu, membuat Pram yang mendengar nya seolah sedang di goda oleh sang istri.
"Dasar kau bocah nakal! Sudah berani merayu ku? Apa kau masih menginginkan ku menusukkan mu dengan senjata ku hem?" ucap Pram di telinga Naira.
Naira mengerutkan keningnya, "Enak aja!" Naira mendorong Pram, hingga menjauh darinya, "Punya laki gak bisa di goda dikit!" gerutu Naira.
"Owhhh jadi kau sedang menggoda ku? Kau dengar itu Toda! Kaka ipar mu sedang berusaha menggoda ku! Cihhh tidak perlu kau goda, aku memang sudah tergoda oleh mu, sayang!" ujar Pram yang membawa Naira ke dalam pelukannya, menghujani kepala Naira dengan kecupan.
Toda yang melihatnya geleng geleng kepala, "Aku pikir kalian akan bertengkar, aku sudah siapa padahal udah mengabadikan momen kalian yang sedang bertengkar hebat." ledek Toda dengan menatap ke duanya.
"Kau salah jika berfikir kami akan bertengkar hebat, Toda. Pertengkaran kami tidak akan bertahan lama." ucap Pram dengan percaya dirinya.
"Oh ya? Apa benar begitu kaka ipar?" tanya Toda meminta jawaban dari Naira.
"Entah lah, aku tidak ingat apa kami pernah bertengkar hebat atau tidak. Yang aku ingat ka Pram selalu memarahi ku, berkata dengan ketus, tidak ada lembut lembutnya sama sekali. Bahkan terkesan mengancam ku!" ujar Naira.
Pram mengerutkan keningnya, berkata dengan penuh penekanan, "Apa seburuk itu... penilaian mu pada ku, sayang?"
......................
...💖 Bersambung 💖...
__ADS_1
Terima kasih sebelumnya, yuk komen apah biar tambah tambah masukan buat author nya ðŸ¤ðŸ¤