
...๐๐๐...
Dari ujung anak tangga, seseorang yang suaranya sangat di takuti Dani. Melayangkan pertanyaan, membuat Naira, Haikal dan Dani menoleh ke asal suara.
"Ada apa ini?" Tanyanya dengan dingin.
Dani berdiri, dengan berpegang pada meja yang ada di belakang tubuhnya, mati gw, kenapa bisa ada pak Pram di sini?
Naira langsung berhambur memeluk tubuh Pram, bersikap seolah tidak terjadi apa apa.
"Gak ada apa apa ko ka! Itu si om salah ngenalin orang!" Tangan Naira bergerak liar di dada Pram, dengan lirikan matanya meminta Dani untuk meninggalkan lokasi.
Pram menatap tajam pria yang di maksud Naira, "Salah mengenali orang?"
Haikal hanya geleng geleng kepala, melihat Nona Muda-nya. Yang malah melepaskannn pria yang tadi bersikap tidak sopan padanya.
Haikal mengepalkan tangannya menatap kesal Dani, salah satu staf hotel.
Astaga Nona Muda, semudah itu membiarkan pria ini lolos, sudah jelas jelas orang ini mengganggu Nona. Sayang, Nona menghalangi ku untuk menghajar orang ini!
Dengan wajah pias, kaki gemetar, Dani membatin. Gw selamat, Nona ini gak laporin perbuatan gw ke pak Pram. Kalo pak Pram tau, gimana nasib gw selanjutnya.
"I- iya, sa- saya salah mengenali orang pak, ma- maaf pak. Sa- saya pergi balik kerja dulu!" Dani bersiap mengambil langkah seribu, dari orang nomor 1 yang paling berpengaruh di hotel start.
Pram menyeringai, jadi orang ini sudah berani menggangu istri ku! Enak saja, kau tidak akan aku biarkan lolos dengan mudah!
Naira yang mengetahui Pram menaruh curiga pun, menyentuh pipi Pram dengan tangan kanan nya, membuat Pram menatap padanya.
"Sayang, udah selesai kerjanya? Temenin aku dong jalan jalan keliling hotel!" Ucap Naira dengan manja.
Sambil mengarahkan Pram untuk menuruni anak tangga, dengan tangan kiri Naira yang melingkar di belakang pinggul Pram.
Pram melangkah menuruni anak tangga mengikuti arahan Naira, tapi bibirnya langsung berseru dengan suaranya yang berat, seiring dengan gerakan tangan kirinya mengudara, jemari yang terbuka lalu meremasss.
"Haikal!"
Dani membuang nafas nya lega, saat wanita yang tadi di godanya membawa Pram menjauh dari nya.
Haikal menyeringai menatap Dani, "Lo gak akan pernah bisa lolos sekarang!" Seru Haikal.
Dani berusaha melangkah untuk kabur, meski harus melewati Pram.
Tapi sebelum ia berhasil melewati Pram dan Naira, Haikal lebih dulu menghalau langkah Dani. Menghalangi pria berumur itu untuk meloloskan diri.
Dani melangkah ke kanan, Haikal pun melangkah di depannya, menghalangi langkah Dani. Dani ke kiri, Haikal pun kembali menghalangi langkah nya Dani. Haikal menghalanginya dengan tangan yang merentang, bibir menyeringai, menatap remeh Dani.
Dani yang melihat pemilik hotel sudah lumayan jauh pun berusaha melawan, melayangkan tangan kanannya hendak memukul Haikal.
Haikal yang sudah bisa membaca gerakan Dani pun langsung menarikkk pergelangan kanan Dani dan mematahkannya.
Sreek tak.
Krek.
"Akkkkhhh tidak." Teriak Dani, saat pergelangan tangan kanannya di patahkan Haikal.
Haikal mendorong lengan kanan Dani ke leher Dani sendiri, tangan kanan Dani di kunci ke belakang punggung Dani.
"Ampuni aku, pak. A- aku tidak akan mengulanginya lagi! Ampuuun." Dani menoleh ke belakang, meminta ampun pada Haikal, pria yang berhasil melumpuhkan nya.
"Telat, nikmati hari mu yang hanya dalam hitungan menit!" Ucap Haikal dengan tersenyum puasss melihat Dani. Rupanya kelas cere, tidak bisa bela diri!
Haikal mendorong tubuh Dani, memaksaaa nya untuk terus berjalan. Ke luar dari restoran. Semua mata karyawan dan beberapa pengunjung yang melihatnya, di buat tidak habis fikir, bahkan dari mereka bertanya tanya.
"Ada apa itu?"
__ADS_1
"Alah paling buat masalah."
"Siapa lagi yang di ganggunya?"
"Sukurin, kena batunya tuh!"
Naira yang curiga langsung menoleh ke belakang.
Naira tercengang dan menghenti kan langkah kakinya, saat melihat Haikal tengah mendorong tubuh Dani.
"Astaga, ka Pram!"
"Kenapa kau melindungi penjahat, sayang?" Tanya Pram dengan mengangkat dagu Naira, hingga menatap ke dua mata Pram.
"Bu- bukan melindungi nya ka. Kalo kaka tau, pasti kaka tidak akan membiarkan nya lolos, lalu bagai mana dengan keluarganya yang ada di rumah? Pasti menghawatirkan nya kan!" Naira menggenggammm pergelangan tangan Pram.
"Apa kau tidak menghawatirkan ku? Hem!" Ujar Pram dengan dingin.
Dani berseru saat tubuhnya yang di dorong Haikal, melewati Pram dan Naira, "Tolong Nona, maaf kan aku! pak Pram... tolong maaf kan aku!"
"Kaka!"
"Tidak ada jaminan... dirinya untuk tidak mengulangi perbuatannya kembali pada wanita lain, sayang!" Ucap Pram yang kini menggenggammm jemari Naira, melangkah mengikuti kakinya melangkah.
Iya juga sih, kalo aku membebaskan nya begitu aja, tanpa memberinya pelajaran. Apa om tadi, tidak akan melakukan hal yang sama pada wanita lain?
Pram bernafas lega, mendengar batin Naira, yang mengerti dengan keputusan nya.
"Kaka tidak akan membunuhnya kan?" Taya Naira dengan penuh selidik.
Pram menyeringai, "Tidak." Hanya saja, ini akan menjadi hari terakhir... pria itu melihat matahari terbit.
"Syukur lah kalo kaka tidak membunuhnya. Aku takut kalo ka Pram sampai membunuhnya." Ujar Naira yang tidak mengerti kata tidak bagi Pram.
Pram tidak akan mungkin melepaskannn siapa pun yang sudah menggangu Naira. Hanya saja, Pram tidak akan melakukan nya di hadapan Naira. Pram tidak ingin memberikan kesan kejammm pada Naira.
"Ka Pram, mau membawa ku ke mana?" Tanya Naira, pada hal tadi aku belum bertemu dengan ka Aisah.
Pram mengerutkan keningnya, "Siapa itu Aisah? Mau apa kau bertemu dengan wanita itu?"
"Salah satu karyawan restoran yang ada di hotel kaka ini. Ya aku pengen ketemu aja ka, kan kalo aku bisa ketemu ka Aisah, apa yang aku makan, pasti akan di pilihkan makanan apa saja yang menjadi menu favorit di hotel ini ka!" Ujar Naira.
"Begitu ya!"
Naira menganggukkan kepalanya.
Pram merogoh saku kemejanya, mengeluarkan hape miliknya. Dan mulai memberikan perintah pada kepala staf restoran, lewat pesan yang ia kirim padanya.
"Cari karyawan mu yang bernama Aisah, perintahkan untuk ke ruangan ku! Kabari jika sudah menemukan orang itu!"
Pram kembali menyimpan hapenya.
Ting.
Pintu lift terbuka.
Pram membawa Naira ke lantai 6, mall yang di hotel itu.
Scurity yang ada di depan pintu masuk mall, menundukkan kepala nya hormat, saat melihat Pram hendak memasuki mall.
"Selamat datang, Tuan!" Ucap salah satu scurity.
Naira tersenyum pada scurity yang menyapa Pram, sedangkan Pram mengacuhkannya.
Naira mengerucutkan bibirnya, "Kebiasaan ihs, kalo di sapa sama anak buah. Kaka mah gak pernah nyaut."
__ADS_1
"Biar saja, mereka hanya bawahan ku!" Ucap Pram.
"Apa ada yang kau inginkan? Pilih lah apa yang kau mahu!" Ucap Pram saat mereka berdua hendak melewati toko pakaian.
"Kaka mau bayarin ya?" Naira memainkan alisnya naik turun.
"Iya."
"Emmm kita lihat lihat aja dulu deh ka." Ujar Naira yang belum tertarik pada apa yang di lihatnya.
Pram membawa Naira memasuki salah satu toko tas branded.
Karyawan toko yang melihatnya langsung memberi hormat, salah satu di antaranya melangkah mendekti Pram dan Naira.
"Wanita itu paling suka perhiasan, tas branded, pakaian branded, kosmetik, tapi kenapa aku belum melihat mu. Membelanjakan uang yang aku berikan pada mu, sayang?" Tanya Pram.
"Oh itu, rencananya uang dari kaka itu. Mau aku gunakan untuk buka kedei yang baru." Ujar Naira.
"Selamat datang, Tuan. Apa ada yang bisa saya bantu?" Ujar Ulfa dengan ramah, yang kini berdiri di depan Pram.
"Mengganggu saja! Tinggalkan kami berdua." Ujar Pram dengan dingin, tangan kanannya ia kibas kibaskan.
"Maaf ya Nona, biar aku dan ka Pram lihat lihat dulu ya! Jika aku butuh batuan, pasti aku akan memanggil mu!" Ujar Naira dengan lembut.
"Baik Nona." Ulfa membiarkan Pram dan Naira meluhat lihat, astaga wanita itu sudah cantik, baik lagi. Berbeda dengan beberapa model yang dulu pernah di bawa pak Pram, pasti akan bersikap judes, tidak sopan pada karyawan.
Pram tersenyum tipis mendengar batin karyawan toko tas, aku tidak salah menikahi mu, sayang!
Pram mengambil tas hitam kecil dari pajangan, "Ini bagus kan?" Cocok dengan mu! Bisa kau pakai saat hang out dengan teman mu!" Ujar Pram.
"Boleh lah." Ujar Naira.
"Kalo ini, apa kau suka?" Pram memperlihat kan tas besar dengan warna biru cerah.
Naira menggelengkan kepalanya, "Aku tidak suka itu!"
Pram menaruh kembali tas yang ada di tangannya pada tempatnya.
"Ini bagus, sayang! Kau pasti suka!" Pram memperlihat akan high heels berwarna hitam dengan ujung yang mengerucut.
Naira menggelengkan kepalanya. Lalu mengambil sepasang sepatu flat berwarna hitam dan menunjukkan nya pada Pram.
"Ok " Ucap Pram.
Pram memilihkan beberapa tas, sepatu, dress untuk Naira, dengan Ulfa yang kini berdiri di belakang ke duanya. Dengan tangan Ulfa yang membawa barang belanjaan Naira.
...๐ Haikal๐...
Sepanjang jalan, Dani terus memohon pada Haikal, untuk di lepaskannn.
"Tolong Tuan, lepaskannn aku! Aku mohon. Aku tidak akan mengulanginya lagi!" Ujar Dani yang terus memohon.
Pram memukul tengkuk Dani dengan keras, saat ke duanya berada di alam lift.
Bugh.
Dani tidak sadarkan diri dengan seketika. Haikal membawa Dani dengan memanggulnya di bahu. Lalu memasukkan tubuh Dani ke dalam bagasi mobil.
Haikal membawa Dani ke markas, seperti biasa. Jika sudah sampai di markas, siapa pun orangnya, pasti akan langsung masuk ruang eksekusi.
...๐ฎ๐ฎ๐ฎ๐ฎ๐ฎ...
......................
...๐ Bersambung ๐...
__ADS_1
Terima kasih sebelumnya, yuk komen yuk, tambah tambah masukan buat author.
Jangan lupa tinggalin jejak like oke! ๐