Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Mentalnya tidak setangguh putrinya


__ADS_3

...💖💖💖...


"Ini aku Atmaja, kau pasti tau kan! Siapa orang yang mengantar kayu ke gudang ku malam ini?" tanya Atmaja dengan berapi api, saat panggilan telepon yang ia lakukan di jawab oleh seseorang di sebrang sana.


[ "Mana saya tau pak, kan bapak sendiri yang lebih mengenal orang orang bapak." ]


Atmaja mengerutkan keningnya,


"Apa maksud mu, aku lebih mengenal orang orang ku?"


[ "Begini pak, bapak sendiri yang sudah mengirim orang ke sini untuk membawa mobil itu, bahkan orang itu juga memperlihatkan id card ketenaga kerjaan di gudang bapak." ]


"Apa? Kamu jangan bercanda dengan ku ya! Aku sedang berbicara dengan serius dengan mu!"


[ "Justru bapak yang jangan bermain main dengan saya! Kita ini sudah bekerja sama dengan lama pak! Masa bapak masih belum juga mengetahui bagai mana kinerja saya!" ]


Atmaja diam seribu bahasa, tangannya semakin menggenggammm kencang gagang telpon, giginya menggeretuk, rahangnya mengeras, kurang ajarrr orang itu.


"Gimana, pah? Apa katanya?" tanya Heni yang lantas merebut gagang telepon dan menaruh gagang telepon itu di tempatnya.


Dring dring dring.


Telpon berdering kembali.


Atmaja menjawab telponnya, setelah Heni memberikan gagang teleponnya pada Atmaja.


Atmaja tampak serius mendengar kan apa yang di bicara kan lawan bicaranya, ia tidak mengeluarkan sepatah kata pun.


"Sayang!" Pram memanggil Naira, memintanya mendekat padanya.


Naira mendekati Pram, Pram langsung menarik pinggang Naira, membuatnya jatuh di atas pangkuannya.


Sreek.


Bugh.


"Kaka! Kurang tepat ihs waktunya... gak liet tuh papa lagi tegang gitu mukanya!" Naira berkata dengan pelan pada Pram, sambil matanya melirik pada Atmaja.


"Justru aku ingin lihat, apa papah mertua ku itu... bisa menyelesaikan masalahnya atau tidak!" Pram menyandarkan dagunya di bahu Naira, ke dua tangan Pram yang kekar melingkar di perut Naira.


Naira mengerutkan keningnya, "Emang kaka punya solusinya?" tangan kanan Naira terulur menyentuhhh pipi Pram.


Bukannya menjawab, Pram justru balik memberikan pertanyaan pada Naira, "Menurut mu?" Aku pasti membunyai solusi dari setiap masalah yang aku buat!


Dito memperhatikan wajah Pram dalam diam, mengikuti pandangan Pram yang tidak lepas dari papa nya. Bahkan sesekali Dito menangkap senyum menyeringai Pram.


Atmaja semakin terduduk lemas, setelah menyerahkan gagang telepon pada istrinya.

__ADS_1


"Ada apa pah? Apa kata pak Aziz? Kenapa papa jadi diam begini?" cecar Heni dengan mengguncang lengan suaminya.


"Pak Aziz mengatakan, baru saja ia di kabari oleh pihak kepolisian jika ada 1 korban meninggal karena tertiban badan truk yang tergulang, sedangkan 1 korban lagi kritis." ucap Atmaja.


"Apa papa mau ke sana sekarang? Melihat ke lokasi kejadian?" tanya Heni.


Atmaja menggaruk kepalanya dengan frustasi, "Papa bingung mah! Bagai mana jika polisi menanyakan pada papa, pasti papa yang akan di persalahkan!"


Naira yang melihat orang tuanya bingung pun, langsung beranjak dari pangkuan Pram, tangannya terulur menyentuh bahu Atmaja.


"Jika polisi bertanya pada papa, katakan saja apa yang papa ke tahui... untuk korban meninggal dan kritis pasti akan mendapat santunan kan? Papa harus bertanggung jawab, itu kan truk kayu milik perusahaan papa. Terlepas dari siapa yang mengemudikan nya. Ini nyawa orang pah, nama baik papa juga menjadi taruhannya." terang Naira.


Atmaja mengepalkan tangannya, keputusan teguh pada perkataan nya, "Itu sama saja dengan papa yang menanggung rugi Nai! Pokonya papa harus mencari tahu, siapa yang mengemudikan truk itu! Dia lah orang yang harus bertanggung jawab... menanggung ke rugian perusahaan papa!"


Naira geleng geleng kepala dengan ke putusan papanya, "Di mana hati nurani papa? Rasa kemanusiaan papa? Itu nyawa orang lo! Gimana kalo aku atau Dito yang menjadi korban, apa papa juga akan perhitungan, masih memikirkan untung dan rugi?"


Heni yang sejak tadi diam, menatap menantunya, "Pram, bisa kau antarkan mama dan Naira ke rumah sakit?" tanya Heni.


"Bisa saja, tapi kan aku tidak bawa mobil mama mertua!" seru Pram.


"Ada mobil di depan, kita pakai saja mobil papa mu ini!" Heni menatap dengan kesal Atmaja, ia langsung beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah kamarnya.


"Kalian mau apa ke rumah sakit? Jawab aku, mah!" Atmaja beranjak dari duduknya, menyusul Heni dari belakang.


Naira menghampiri Pram, "Maaf ya ka, kaka jadi melihat ini semua." ujar Naira dengan kepala yang tertunduk.


"Kejadian seperti ini di luar kendali mu, sayang! Jangan menyalahkan diri mu!" Pram berdiri di depan Naira, membawanya dalam dekapannya, Pram mengelusss punggung Naira.


Naira terisak, bulir bening mulai membasahi pipinya, "Kenapa papa ku jadi berubah seperti ini ya ka hiks!" Naira melingkarkan tangan nya pada perut Pram


"Apa aku boleh ikut serta, ka?" tanya Dito.


"Tidak perlu, kau tinggal lah di rumah saja, temani papa ku!" seru Pram dengan datar.


"Lalu ka Nai dan mama, siapa yang akan menjaganya? Aku kan anak laki laki satu satunya di rumah ini, aku harus menjaga dan melindungi keluarga ku, ka!" terang Dito dengan wajah memelas pada Pram.


"Kau serahkan saja semuanya pada ku. Aku ini kaka ipar mu kan?" ucap Pram dingin, dengan tatapan yang hangat ia tunjukkan pada Dito.


Dito seolah tersihir dengan tatapan Pram, langsung mengangguk patuh tanpa berkata lagi.


"Kau tunggu lah di rumah, temani papa mu, jika kau sudah mengantuk... kau tidur lah!" titah Pram.


Pram melihat Atmaja yang masih mengekori Heni.


"Ayo kita berangkat nak, Pram!" Heni menyerahkan kunci mobil pada Pram.


"Biarkan aku ikut dengan kalian!" seru Atmaja.

__ADS_1


"Tidak perlu pah! Yang ada nanti kau mengacau, bukannya membuat adem situasi korban di rumah sakit, justru membuat tegang keadaan!" terang Heni.


Pram menggenggammm pergelangan tangan Naira, membawanya masuk ke dalam mobil. Membiarkan ke dua wanita yang beda generasi itu duduk di kursi belakang, sedangkan ia sendiri duduk di belakang kemudi.


Pram mulai menginjak pedal gas, melajukan mobil keluarga Naira perlahan meninggalkan pelataran rumah.


"Dah papa mertua!" Pram menyeringai, melambaikan tangan nya lewat jendela mobil, pada Atmaja yang berdiri di luar mobil.


"Sialan kau!" gerutu Atmaja dengan tangan mengepalll, tatapan tajam pada Pram, tidak mungkin kan, jika ini berhubungan dengan Pramana Sudiro lagi? Jika benar ada hubungannya dengan Pram, untuk apa lagi Pram melakukan ini semua pada ku!


🌸🌸🌸


"Jadi ke mana tujuan kita saat ini mah?" tanya Pram pada ibu mertuanya, dengan melirikkan pandangannya lewat kaca spion mobil.


"Kita langsung ke rumah sakit, biar mama coba hubungi pak Aziz dulu. Apa dia berada di rumah sakit atau masih di gudang." ucap Heni.


Heni menghubungi Aziz, lewat hapenya.


"Halo pak Aziz... bagai mana dengan korban? Sudah di larikan ke rumah sakit kan?" tanya Heni saat telponnya di jawab oleh pak Aziz.


[ "Ia sudah Nyonya, ke dua korban sudah di larikan ke rumah sakit. Ini saya sedang menuju lokasi kecelakaan, untuk melihat seberapa besar ke rusakan pada truk dan kayu, saya juga membawa mobil truk pengganti untuk memindahkan muatan kayu." ] terang Aziz.


"Tolong beri kabar ya pak Aziz, ini saya dan Naira juga sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit. Kami ingin melihat bagai mana kondisi korban."


Naira menggenggammm jemari Heni, "Semua akan baik baik aja, mah!" Naira menyandarkan kepala nya pada lengan Heni.


"Mama takut sayang, jika ini akan membawa papa mu pada jeruji besi. Karena kelalaian dari pihak pemilik perusahaan, menyebabkan terjadinya kecelakaan, belum lagi jika di ketahui ada ke lebihan muatan." terang Heni yang sudah berfikir jauh ke arah itu.


"Mudah mudahan aja itu gak akan terjadi mah!" ucap Naira.


Pram yang fokus pada jalan, hanya bisa mendengarkan obrolan ke duanya, bagai mana jika aku menginginkan, apa yang di katakan mama mu itu benar sayang, aku ingin lihat. Papa mertua berada di dalam penjara, apa dia akan mengemis pada ku, meminta ku untuk mengeluarkan nya dari penjara!


Ke tiganya ke luar dari dalam mobil, saat Pram sudah memarkir kan mobil di parkiran rumah sakit. Mereka berjalan di koridor rumah sakit, menuju ruang tindakan. Setelah menanyakan pada bagai mana administrasi akan korban kecelakaan.


Heni melihat seorang wanita paruh baya tengah duduk di kursi tunggu, dengan baju yang berlumuran darah, entah itu darah siapa.


Sedangkan di sana juga terdapat beberapa para petugas kepolisian yang berjaga.


"Maaf bu! Apa hubungan anda dengan korban kecelakaan?" tanya salah seorang petugas polisi pria, yang menghalangi langkah Heni.


Heni yang belum siap dengan keadaan, hanya bisa terbata bata dengan pemikirannya yang melalang buana, siapa wanita yang ada di hadapan ku ini? Siapa korban yang selamat? Apa mungkin sanak keluarganya?


"Sa- saya..."


...💮💮💮💮💮...


......................

__ADS_1


...💖 Bersambung 💖...


Terima kasih sebelumnya, yuk komen apah biar tambah tambah masukan buat author nya 🤭🤭✌️


__ADS_2