
...💖💖💖...
"Ahahahhaa sabar ka... belum ada satu hari, biarkan kaka ipar istirahat sejenak. Setidaknya sampai kaka ipar sembuh dan luka jahitan di punggungnya mengering." cerocos Takeshi.
Tak.
"Awhh."
Pram menjitak kepala Takeshi dengan keras.
"Tidak usah menceramahi ku! Aku sudah tau itu!" gerutu Pram.
"Sudah tahu tapi bibir mu masih bawel ka, kau itu tidak jauh berbeda dengan anak kecil yang ke hilangan mainannya... langsung menangis tanpa henti ahahaha." ledek Takeshi dengan tergelak.
"Cih itu kau, bukan aku!" sungut Pram.
"Iya iya."
...🌷🌷🌷...
Sampai di rumah sakit.
Pram langsung menghampiri Naira, mendaratkan bobot tubuhnya di tepian ranjang rawat. Tangannya terulur mengelusss pipi Naira.
Damai sekali tidur mu, apa kau tidak merindukan ku? Cepat lah buka mata mu! Aku sudah sangat merindukan mu!
Zang yang duduk di sofa panjang, langsung di usir Takeshi dengan menendang satu kakinya Zang, "Menyingkir lah, aku butuh istirahat!"
"Cih kau ini ka! Pasti habis bercocok tanam kau ya!" tebak Zang yang kini berdiri dengan menatap jengkel Takeshi.
"Suut! Jangan banyak bicara!" Takeshi langsung merebahkan tubuhnya di sofa, dengan ke dua kaki yang ia naikkan di atas sofa dengan menyilang. Kepala di atas lengan sofa.
"Kalian, pulang lah! Sudah ada aku yang akan menemaninya!" seru Pram yang mengarah pada Zang dan Toda.
"Kalo ada apa apa, jangan ragu untuk menghubungi kami, ka!" Toda langsung beranjak dari duduknya.
"Oh iya, tadi wanita mu terus meracau. Memanggil nama mu ka! Jaga lah dia, dia sangat menyayangi mu!" ucap Zang dengan cuwek langsung ke luar dari ruang rawat Naira.
"Apa kaka mau tetap tinggal di sini?" tanya Toda pada Takeshi.
"Ehem malam ini aku tidak akan datang ke bar. Jadi bar biar kau dan Zang yang urus." oceh Takeshi dengan ke dua mata yang terpejam.
"Oke! Aku duluan ka!" pamit Toda dengan berlalu ke luar dari ruang rawat.
"Takeshi!" Pram menyerukan nama Takeshi.
"Hem!"
"Aku ingatkan pada mu sekali lagi, jangan biarkan wanita itu ke luar barang selangkah pun dari tempat mu!" Pram beranjak dari duduknya, melangkah menghampiri Takeshi.
"Iya ka, kau tenang saja. Aku sudah mengurus orang ku, untuk mengawasi Nona Hanami dua puluh empat jam. Jadi kaka tenang saja." ucap Takeshi dengan santai.
Pram mendudukkan dirinya di sofa single, menyandarkan punggung nya dan kepala pada sofa, "Kau yakin? Kita harus berhati hati pada wanita itu! Jika kau sampai lengah, aku yang akan menghabisinya saat itu juga!" ancam Pram, sejujurnya perasaan ku tidak tenang... dengan meloloskan Harumi begitu saja!
"Hemmm."
__ADS_1
"Aku sedang bicara dengan mu, Takeshi!" sungut Pram dengan tatapan tajam mengarah pada Takeshi, sialll... cepat sekali dia tertidur!
Hingga beberapa jam kemudian, waktu yang Pram tunggu akhirnya tiba.
Tepat dengan datangnya dokter Akira dan seorang suster untuk mengecek kondisi Naira, Naira mengerjapkan ke dua matanya.
"Uhhhh." rintih Naira saat menggerakkan sedikit bahunya.
"Selamat pagi Nona Naira!" sapa dokter Akira yang kini berdiri di sisi kiri Naira.
Sedangkan suster langsung mengganti cairan infus dan kantong darah, yang masih tergantung di tiang. Dengan cairan infus dan kantong darah yang baru.
Naira tersenyum, "Pagi dok, di mana ka Pram... dok?" tanya Naira yang langsung bisa menebak jika orang yang menyapanya adalah dokter.
"Wah Nona ini hebat juga ya, selain hebat, cantik, anda juga pintar. Cukup tahu jika saya ini seorang dokter. Suami anda sedang di kamar kecil." ucap dokter.
"Sayang, kau sudah sadar?" Pram yang baru saja ke luar dari kamar kecil, langsung menyerobot ke beradaan dokter, hingga tubuh sang dokter bergeser ke sebelahnya.
Takeshi dan suster yang melihat nya hanya geleng geleng kepala.
"Astaga ka Pram, dokter itu!" gumam Takeshi.
"Anda tidak apa apa, dokter?" tanya suster dengan khawatir.
"Saya tidak apa apa, sus!" seru dokter dengan santai, sambil menyunggingkan senyumnya.
Pram langsung menggenggammm jemari Naira, Pram membungkuk kan tubuhnya, hingga dapat melihat wajah Naira dengan bibir yang pucat.
"Istri saya baik baik saja kan, dok?" tanya Pram dengan tangan lainnya membelai kepala Naira.
"Istri Tuan baik baik saja. Untuk sementara ini, Nona harus terbiasa seperti ini ya! Jangan banyak bergerak, dan Tuan. Jangan buat guncangan pada ranjang rawat, itu bisa membuat pasien mual dengan guncangan yang di hasilkan." terang sang dokter.
"Saya tidak membuat guncangan, dok!" sungut Pram dengan beranjak berdiri di hadapan dokter.
"Jika Nona ingin buang air kecil, jangan di tahan ya! Karena sudah terpasang alat kateter, jadi Nona tidak perlu ke kamar kecil, tidak perlu beranjak dari ranjang rawat." ujar dokter.
Kateter urine adalah selang kecil yang biasanya di masukkan ke lubang saluran kemih, untuk mengeluarkan urine atau mengosongkan kandung kemih.
"Kapan kira kira alat itu akan di lepas, dok?" tanya Pram.
"Kita lihat kondisi dari Nona ya, Tuan. Jika ada yang ingin di tanyakan atau butuh sesuatu, Tuan bisa tekan tombol darurat yang ada di atas kepala ranjang." ujar sang dokter sebelum meninggalkan ruang rawat.
Takeshi langsung menghampiri ranjang rawat Naira.
"Apa kau ingin minum, sayang?" tanya Pram dengan lembut.
Pram menarik sebuah kursi yang ada di dekat ranjang rawat, menjadi lebih dekat lagi ke ranjang rawat Naira.
"Tidak ka, apa kaka sudah sarapan? Pasti kaka tidak tidur dengan baik!" oceh Naira dengan suaranya yang terdengar masih lemah.
"Nanti aku akan sarapan, kita bisa sarapan bersama. Aku mana bisa tidur dengan baik, melihat mu bekum sadar." ucap Pram.
"Hai kaka ipar! Akhirnya kau sadar juga." oceh Takeshi yang kini berdiri di samping Pram.
Naira mengerutkan keningnya, mendengar seorang pria yang baru ia lihat. Memanggilnya dengan kata 'kaka ipar' membuatnya menatap Takeshi, dengan tatapan yang penuh dengan tanda tanya.
__ADS_1
Pram menyadari tatapan yang di berikan Naira pada Takeshi. Pram langsung menyuruh Takeshi, untuk mencondongkan tubuhnya dengan gerakan tangannya.
Takeshi mengerutkan keningnya, "Apa lagi sih ka?" namun ia tetap menuruti isyarat yang di berikan Pram, ia mencondongkan tubuh nya.
Tak.
Pram langsung menjitak kepala Takeshi dengan kepalan tangan nya, membuat Takeshi langsung mengaduh ke sakitan, dengan tangannya yang mengelusss kepalanya yang di jitak Pram.
"Awwwhhh."
"Dasar bodoh! Kau membuat istri ku berfikir keras, bertanya tanya... siapa makhluk aneh yang baru saja menyapanya!" sungut Pram dengan jengkel.
"Astaga ka, jika aku ini makhluk aneh, lalu apa bedanya dengan mu ka? Kau jauh lebih aneh dari ku!" sungut Takeshi yang kini berdiri dengan tegak. Menatap lantai rumah sakit yang berwarna putih.
"Dasar kau ini! Selalu saja melawan ku!" gerutu Pram.
Takeshi menatap Naira, "Cih kaka ipar, jika kaka ipar sudah lelah menghadapi ka Pram... aku rela menggantikan ka Pram untuk mu!" celoteh Takeshi.
"Apa?" cicit Naira.
"Dasar kau, bocah sialannn... anak durhaka!" maki Pram.
"Kaaaa! Apa di antara kalian tidak ada yang ingin menjelaskan kita di mana? Sudah berapa lama aku tidak sadar?" cicit Naira.
"Tuh ka! Kita dari tadi terus berdebat. Coba sekarang kaka perhatikan itu kaka ipar!" omel Takeshi dengan menepuk nepuk bahu Pram.
Tanpa banyak berkata, Takeshi langsung memilih kembali ke tempat semula, berjalan menjauh dari ranjang rawat. Membiarkan Pram mencurahkan rasa rindunya pada Naira. Merebahkan tubuhnya di sofa panjang.
Aku tidak salah lihat, kaka ipar sama dengan wanita itu. Aku jadi ingin menemui wanita itu. Akan aku tanyakan, apa dia memiliki saudara perempuan atau tidak. Mungkin saja kan kaka ipar dan wanita itu masih ada ikatan hahay.
Pram menatap tajam Takeshi, "Dasar pria aneh! Masih saja memikirkan hal yang tidak penting." gerutu Pram.
"Kaaa, aku ingin minum." pinta Naira, saat tenggorokan nya terasa kering kerontang.
Pram langsung memiringkan tubuhnya, dan meraih botol minum mineral yang ada di atas nakas dekat ranjang rawat. Membuka tutup botolnya dan memasukkan sedotan yang tersedia ke dalamnya, Pram menempelkan ujung sedotan pada mulut Naira, membiarkan wanitanya menyeruput minumannya.
"Sudah?" tanya Pram dengan lembut, saat Naira menjauhkan bibirnya dari ujung sedotan.
Naira hanya mengangguk kecil.
"Apa ada lagi yang kau butuhkan?" tanya Pram.
Naira menggelengkan kepalanya, "Kaka kapan sarapan?"
"Ia sebentar lagi. Apa yang kau rasakan? Apa masih sakit?" tanya Pram.
"Sedikit. Siapa pria itu ka? Kenapa dia memanggil ku dengan kaka ipar? Kaka punya adik di Jepang? Kaka tidak pernah cerita itu pada ku!" ujar Naira dengan panjang lebar.
"Setelah kau sembuh dan ke luar dari rumah sakit, suatu saat pasti aku akan menceritakan nya pada mu. Kau istirahat saja. Jangan banyak bergerak." cicit Pram dengan tegas.
"Kaaaa, aku bukan anak kecil. Aku sudah istirahat beberapa jam belakangan ini kan! Ayo jawab pertanyaan ku tadi." cecar Naira.
......................
...💖 Bersambung 💖...
__ADS_1
Terima kasih sebelumnya, yuk komen apah biar tambah tambah masukan buat author nya ðŸ¤ðŸ¤