
...💖💖💖...
Dreeet dreeet dreeet.
Pram menyeringai saat tahu siapa yang mengubunginya.
Pak Dedi langsung ke luar, menunggu Pram dengan berdiri di depan pintu ruang kerja Pram.
Pram menjawab panggilan teleponnya.
[ "Bagai mana bos, apa sudah membuahkan hasil?" ] Tanya Dava lewat sambungan teleponnya.
"Belum sepenuhnya berhasil, kau harus pastikan, tidak ada lagi pemberitaan buruk yang mengarah pada ku! Jangan sampai menyisah kan satu berita pun!" Ucap Pram dengan suaranya yang dingin.
[ "Itu bisa di atur, bos! Tapi bayarannn ku... gimana bos?" ]
"Apa yang kau inginkan?" Tanya Pram.
[ "Kalo aku bilang menginginkan istri mu, gimana bos? Kaka ipar gitu, bos." ]
"Cari mati kau, heh!"
[ "Tidak bos, aku hanya bergurau. Jangan di ambil hati lah, bos. Bos mah jadi orang kaku banget, hidup jangan di bawa serius bos, cepet tua lo!" ] Dava terkekeh.
"Sialan kau! Anak buah kurang ajarrr!"
Pram memutus sambungan teleponnya. Menenggak kembali minuman yang dapat memabukkan itu, tapi Pram yang kuat minum, tidak akan berpengaruh jika hanya minum sedikit.
Ceklek.
Naira yang bosan di kamar seorang diri pun, ke luar dari kamar dengan mengenakan piyamanya.
Naira mengerutkan keningnya, melihat pak Dedi yang berdiri di depan pintu ruang kerja Pram.
Apa yang sedang pak Dedi lakukan? Apa ka Pram ada di dalam? Tapi sedang apa?
__ADS_1
Naira melangkah menghampiri pak Dedi, "Pak Dedi, sedang apa di sini?" Tanya Naira, saat sudah berdiri di depan pak Dedi.
"Hanya berjaga jaga, Nona. Apa Nona butuh sesuatu?" Tanya pak Dedi.
Naira menatap heran pada pintu ruang kerja Pram, kenapa sampai harus di jaga? Memang ada apa dengan ka Pram di dalam sana?
"Boleh aku masuk, pak?"
"Nona ingin masuk ke dalam?" Bagai mana ini, apa tidak apa jika aku biarkan Nona masuk ke dalam?
"Boleh kan? Boleh lah, aku kan istrinya ka Pram!"
Naira langsung mengulurkan tangan kanannya, untuk membuka pintu ruang kerja Pram.
Ceklek.
Tap tap tap.
"Aku kan sudah menyuruh mu ke luar, Dedi!" Bentak Pram tanpa menoleh siapa yang memasuki ruang kerjanya.
"Kembali lah ke kamar!" Ucap Pram datar dengan matanya yang memerah.
Naira melangkah dan berdiri di depan Pram, "Mata kaka kenapa merah? Kaka minum?" Naira mencium aroma yang tidak biasa dari hembusan nafas Pram.
"Tidak, kembali lah. Nanti aku akan menyusul mu!" Pram meraih gelas yang ada di atas meja hendak menenggaknya kembali.
Naira menajamkan matanya, itu pasti yang membuat ka Pram mabuk.
Sreek.
Bibir gelas yang hampir menyentuh bibir Pram, di rebut dengan tangan kanan Naira. Bukannya di buang atau di taruh ke meja, Naira menenggak cairan berwarna merah yang ada di dalam gelas sampai tandas tanpa sisa.
Pram membola, "Apa yang kau lakukan hah! Dasarrr bodohhh!"
__ADS_1
Pram terkejut dengan apa yang Naira lakukan, jelas saja itu minuman yang memiliki kadar alkohol tinggi, bagi yang tidak kuat meminumnya pasti akan mabuk.
Naira menggelengkan kepala nya, pandangan nya seketika kabur, membuatnya meracau dan tidak bisa mengendalikan dirinya.
Jemari Naira menyentuh wajah Pram, berkata dengan suaranya yang terdengar manja dan nakalll.
"Heh dasarrr rubahhh mesummm! Rubahhh nakalll! Apa yang kau lakukan di sini hah?" Naira mendudukan dirinya di pangkuan Pram.
"Dasarrr bodohhh, sekarang lihat akibatnya! Tidak kuat minum, tapi kau malah menghabiskan minuman yang ada di dalam gelas dalam sekali tenggak." Pram menarik gemas hidung Naira.
"Eeeeh jangan sentuh hidung ku, tampan! Apa kau tahu siapa pemilik rumah besar ini? Orang yang sangat kejammm, pria itu bisa saja menghabisi mu saat ia tahu kau menyentuh ku! Ahahahha!"
Naira merentangkan ke dua tangannya, lalu menggerak gerakkan ke dua tangannya tanpa arah. Membuat Pram merekatkan ke dua tangannya di pinggang Naira, menjaga ke seimbangan Naira agar tidak terjatuh.
Pram menajamkan matanya saat Naira mengatakan dirinya kejamm.
"Kata siapa pria itu kejammm?" Tanya Pram yang lantas memanggul tubuh Naira di atas bahunya.
"Tentu saja kata ku, kau tidak dengar tadi aku yang mengatakan nya heh!" Racau Naira.
"Heh pria tua! Cepat turunkan aku! Awas kau ya! Berani membawa ku pergi! Akan aku habisiii kau!" Naira memukulll mukulll kan ke dua tangannya pada punggung Pram.
Ceklek.
Pak Dedi yang melihat kondisi Nona Muda-nya, sudah langsung bisa menebak nya tanpa banyak bertanya lagi.
"Tuan, maaf... saya tidak bisa mencegah Nona!" Ujar pak Dedi dengan menunduk kan kepalanya, pak Dedi langsung meninggalkan bosnya, setelah mendapat tatapan menyeramkan dari Pram.
...💮💮💮💮💮...
......................
...💖 Bersambung 💖...
Terima kasih sebelumnya, yuk komen yuk, tambah tambah masukan buat author.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalin jejak like oke! 😊