
...💖💖💖...
Bugh.
Haikal menendang salah satu kaki anak buahnya, "Dari mana saja kalian?" Tanyanya dingin dengan tangannya menggenggam tangan Novi.
"Maaf bos, tadi ada kendala di belakang. Saat kami mengikuti mobil bos, ada mobil pickup yang melintas. Entah sengaja atau tidak, mereka menjatuhkan semua galon kosong yang ada di mobilnya." Ujarnya panjang lebar, menjelaskan apa yang membuat mereka datang terlambat.
Beberapa pria lainnya hanya menunduk takut, dengan tatapan yang di tunjukan Haikal pada mereka.
"Sudah sudah, yang penting kan sekarang kita ini tidak apa apa!" Seru Naira.
"Apa kita lanjut ke kedei, Nona?" Tanya Dega.
"Lanjut aja deh, bang. Sekalian nanti kita obatin luka bang Dega di kedei." Ucap Naira.
Novi menoleh ke mobil yang kaca pintu bagian belakangnya telah pecah, "Apa iya kita mau ke kedei dengan mobil itu?" Tanyanya dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Dega membuang nafasnya dengan kasar, "Aiiihhhhs yang benar aja bang... pacar mu itu!" Dega menggeleng gelengkan kepalanya.
Pria yang tadi kakinya di tendang Haikal pun menyerahkan kunci mobil pada Haikal.
"Kita pake mobil lain." Ucap Haikal.
"Langsung bawa mobil itu ke bengkel!" Dega menunjuk jari telunjuk kanannya pada mobil yang tadi mereka tumpangi.
"Siap bos!" Ucap ya dengan patuh.
Kini Naira, Novi, Haikal dan Dega menaiki mobil lain, mobil yang berukuran kecil dengan warna hitam. Serta satu mobil lainnya yang mengikuti arah mobil yang di tumpangi Naira melaju.
"Apa itu sakit, bang?" Tanya Naira dengan keningnya yang mengkerut menatap Dega yang duduk di kursi depan.
"Ini hanya luka kecil Nona, tidak usah khawatir. Tapi ngomong ngomong, Nona tidak apa apa kan?" Dega memiringkan tubuhnya melihat kondisi Nona Muda-nya.
"Aku tidak apa apa, bang. Kira kira tadi itu siapa lagi ya bang? Ko mereka nyerang kita?" Tanya Naira.
"Entah lah, kami tidak berhasil menanyakannya, mereka keburu kabur." Ucap Dega dengan wajah kesal yang kembali pada posisi duduknya yang semula dengan punggung yang bersandar.
"Kayanya mereka lebih pinter dari penjahat sebelumnya, paman pacar!" Cicit Novi dengan menyandar pada sandaran kursi.
Haikal yang mendengarnya di buat tersendak dengan salivanya sendiri, "Uhuk uhuk uhuk."
Prak prak prak prak.
Dengan spontan Dega menepuk nepuk punggung Haikal dengan tangannya lumayan keras.
Haikal menepis tangan Dega, "Sialannn lo!" Sungut Haikal.
__ADS_1
"Ada juga gw bang, ngapa lo pake keselek? Terhura di panggil paman pacar ama bocah plangton?" Ledek Dega.
"Kampret lo, ngomong sekali lagi, gw turunin lo!" Ancam Haikal dengan melirikkan matanya yang tajam pada Novi lewat kaca spion mobil.
Naira tertawa terpingkal pingkal.
"Hahahaha kalian ini, ada ada aja. Makanya bang Dega cepetan cari pacar. Biar gak ngiri di panggil paman pacar!" Ledek Naira dengan memegang perutnya menahan sakit karena tertawa.
"Astaga Nona, jangan ikut ikutan!" Haikal menggelengkan kepalanya dengan kelakuan Nona Muda-nya yang kini ikut ikut meledeknya.
"Oh iya Nai, lo bener gak apa apa kan?" Novi menatap Naira dengan khawatir.
"Gak ko, gw gak apa apa. Lo liet kan! Aman!" Naira memperlihatkan ke dua tangan dan kakinya serta wajahnya yang baik baik saja tanpa luka.
Grap.
Ke dua mata Novi yang jeli tertuju pada pergelangan tangan Naira. Novi dengan sigap menarik lengan Naira.
"Ini Nai, pergelangan tangan lo memar! Gila itu cowok tadi narik tangan lo kenceng juga ya!" Celetuk Novi dengan keningnya yang mengkerut.
Ciiiiit.
Haikal menginjak pedal rem dengan bunyi pada ban mobil yang ia kemudikan.
Bugh.
"Awhhh apa lagi si paman pacar?" Dengus Novi.
Haikal meminta Dega untuk melihat pergelangan tangan Nona Muda-nya dengan gerakan kepala. Semua akan bertambah kacau, jika sampai Pram tahu. Apa lagi Naira hampir berhasil di culik, bahkan kini pergelangan tangannya menyisakan luka.
Naira mengerutkan keningnya menatap Haikal dan Dega secara bergantian. Sedikit banyaknya Naira mulai mengerti dengan gerakan yang di lakukan Dega, Haikal serta Pram saat sedang memberikan perintah hanya dengan gerakan kepala, tangan, serta lirikan mata.
"Ada apaan lagi sih, bang?" Tanya Naira.
Haikal kembali melajukan mobilnya kembali.
"Maaf Nona, biar saya lihat!" Dega meraih tangan Naira dan melihat pergelangan tangannya.
"Bener bang! Mau gak mau, bos Pram harus tahu ini, kalo gak... bisa mati kita bang!" Oceh Dega dengan wajahnya yang kini tampak cemas.
Dengan polosnya Novi bertanya, "Emang kenapa, ko bisa sampe mati? Kan Naira gak apa apa!"
Naira menarik tangan kirinya dari Dega, meniup niupkan pergelangan tangannya yang memar.
"Tau nih, terlalu di dramatisir banget si jadi cowok!" Ucap Naira dengan santai.
"Maaf Nona, Nona kan tau sendiri bagai mana bos Pram." Ucap Haikal.
__ADS_1
"Ya udah kita mampir ke apotek aja dulu, beli krim buat memar. Nanti sekalian di obatin di kedei. Toh cuma kaya gini aja, nanti juga balik lagi kaya semula." Ujar Naira.
Dega menatap haikal, "Gimana, bang?"
"Telpon dokter Samuel aja, minta orang buat ambil obat krim itu dari rumah sakit." Ucap Haikal yang tidak mau ambil resiko untuk Nona Mudanya.
"Tumben otak lo lagi lempeng, bang!" Ejek Dega.
Dega langsung menghubungi dokter Samuel. Mengatakan seperti yang di minta Haikal.
"Halo dokter, sehat dok?" Tanya Dega saat sambungannya di jawab oleh dokter Samuel.
[ "Sialannn kau ini! Memang aku sakit apa? Kau yang menghubungi ku, jangan jangan kau yang sakit!" ]
"Ahahaha dokter bisa aja, tapi sayangnya tebakan dokter kali ini meleset."
Haikal mengingatkan tujuan Dega menelpon dokter Samuel, dengan berdehem serta lirikan matanya yang tajam.
Haikal berdehem dengan keras, "Ehem ehem."
Sementara Naira menggeleng gelengkan kepalanya, dasar bang Dega, kocak abis. Dokter di ajak bercanda. Kalo ka Pram mah, boro boro. Udah muka lempeng, datar, serius mulu bawaannya.
Novi tertawa dengan menutupi mulutnya. Tatapan matanya mengarah pada Dega dan Haikal secara bergantian.
Ya ampun baru tahu gw kalo paman Dega ternyata bisa ngelawak juga. Beda ama paman pacar gw, bawaannya serius, tapi bagen pembawaannya serius, paman pacar gak kaku kaku amat kok kalo sama gw mah. Makin lope lope deh ama paman pacar.
"Emmm begini dokter Samuel, tolong berikan resep obat untuk luka memar ya! Berikan krim yang paling ampuh. Mengembalikan warna kulit seperti sedia kala tanpa meninggalkan bekas luka. Bisa kan dokter?"
[ "Pram babak belur? ]
"Bukan bos Pram, tapi ini emm anu... Nona ---"
[ "Apa? Apa yang terjadi dengan kaka ipar? Apa Pram menyakitinya lagi? Kurang ajar memang itu Pram! Awas kau Pram! Akan ku rebut kaka ipar dari mu!" ] Cecar dokter Samuel dengan berapi api, membayangkan wajah Naira yang memar di pukuli Pram.
Samuel langsung memutuskan sambungan teleponnya.
Dega menepuk keningnya, "Gawat!"
"Ada apa? Apa dokter Samuel akan mengirim sendiri obatnya?" Tanya Haikal.
...💮💮💮💮💮...
......................
...💖 Bersambung 💖...
Terima kasih sebelumnya, yuk komen yuk, tambah tambah masukan buat author.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalin jejak like oke! 😊