
...πππ...
Pram membuang wajahnya dari Naira, "Dia bukan lagi ayah ku! Tau apa kau soal ayah?" Jika saja ayah percaya pada ku, mendiang ibu pasti tidak akan seperti ini, wanita ular itu tidak akan mungkin bisa menggantikan posisi mendiang ibu.
"Tapi ka ----"
Pram mengangkat tangan kanannya meminta Naira untuk tidak berbicara lagi.
"Diam! Aku tidak ingin mendengar mu membela pria tua itu, kita tidak usah membahas nama itu lagi!" Seru Pram dingin, dengan tangan kirinya yang mengepal.
Naira meraih tangan kanan Pram dan menggenggamnya, membawa tangan itu ke dalam pangkuannya.
Naira menatap wajah Pram yang tampak kesal, aku tidak tahu apa yang sudah kamu lalu ka, tapi aku janji tidak akan meninggalkan mu seorang diri lagi, ada aku di sini yang akan menemani mu.
Haikal melirik ke belakang lewat kaca spion mobil, entah sampai kapan bos Pram bisa tahan saat mendengar nama ayahnya di sebut, baru kali ini bos Pram... ku lihat tidak mengamuk seperti singa, mungkin karena Nona yang menyebut nama Tuan besar Aji.
Mobil berhenti di gerbang sekolah, Naira meraih tangan kanan Pram dan mencium punggung tangan kanannya, "Jangan ngambek lagi, jelek tau orang yang biasa marah marah, ternyata nyalinya cuma segitu kalo ngebahas ayahnya sendiri." Ketus Naira yang sengaja memancing Pram untuk tidak diam.
Cup.
Pram mengecuppp kening Naira, "Belajar lah yang rajin, jaga mata mu dari bocah tengik!" Seru Pram.
"Ihs, orang ngomong apa di jawabnya apa!" Sungut Naira, "Udah lah aku keluar aja!"
Pintu mobil pun di buka oleh Haikal yang sudah menunggu di luar.
"Makasih, bang!" Seru Naira saat kakinya sudah melangkah di luar mobil.
"Sama sama, Nona!" Haikal membungkuk hormat dan menutup pintu mobil kembali.
"Hati hati singa ngamuk!" Ucap Naira asal.
Haikal hanya tersenyum kecil mendengar ocehan asal Nona Muda-nya, jelas Tuan Pram akan mengamuk, para penyerang akan mendapatkan apa yang seharusnya mereka dapat, karena sudah berani menyentuh mu Nona.
"Hayo, Nai!" Seru Serli yang kini menghampiri Naira.
"Aiiih paman kulkas tetap aja makin dingin kaya kulkas." Ujar Novi yang melirik Haikal, itu kantong mata kaga nahann di lietnya, ketawan ini paman kulkas kurang tidur. Emang berat banget kali ya kerjaannya!
"Tidak usah banyak bicara, bocah plangton!" Gerutu Haikal, "Saya duluan Nona!" Haikal pamit pada Naira dan memasuki mobil.
"Aiiih bocah plangton, panggilan sayang ya bang!" Ejek Novi dengan kerlingan mata pada Haikal dengan sudut bibirnya yang di tarik ke atas.
"Apa lo kata!" Seru Elsa dan Serli bersamaan dengan mengerutkan keningnya pada Novi.
__ADS_1
Dengan jailnya Naira menutup wajah Serli dan Elsa dengan telapak tangannya dengan tergelak, "Ahahhaha, biasa aja kali muka kalian!"
"Ihs lo, Nai!" Serli menyingkirkan tangan Naira dari wajahnya begitu pun dengan Elsa yang menyingkirkan tangan Naira dari wajahnya.
Mobil yang membawa Pram melaju meninggalkan Naira dan teman temannya, di ikuti mobil yang di bawa Dega di belakangnya.
"Daaaah bocah plangton!" Dega melambaikan tangan kanannya pada Novi saat mobil yang ia kemudikan melewati Novi.
"Dasarrrr paman lenjeh, bacot lo ember kaya ember bekas, kaleng rombeng!" Cacian ke luar dari mulut Novi yang kesal saat Dega ikut mengatainya bocah plangton.
Naira menatap Serli dengan mengerutkan keningnya, "Novi kenapa?" Tanya Naira.
Serli mengerdikkan bahunya, "Ke sambet kali! Bang Haikal yang ngatain lo aja lo godain, lah bang Dega yang asik bacot lo semprot... kaga beres ini bocah!" Gerutu Serli
"Selera lo aneh ih!" Sengut Naira.
Novi berbisik pada Naira, "Kaya lo kaga aneh aja, Nai hahahha, kejemmm boooo, pak Pram gitu! Hahahaha." Novi tergelak.
"Ihs kampreeet lo!" Sungut Naira yang kini mencubit pinggang Novi.
"Awh, sakit... tapi manja hahah." Ledek Novi.
Serli geleng geleng kepala, "Dasar lo aneh!" Sungut Serli.
Saat ke empat gadis SMA ini sudah memasuki gerbang, dari belakang ada Ratna yang membunyikan klakson mobil.
Tiiiiiin, tiiiiiiin.
"Jalan pake mata, woy! " Oceh Ratna dengan menyembulkan kepalanya lewat kaca mobil.
"Sintinggg!" Oceh Novi
"Alah mobil punya orang tua aja belagu." Ujar Serli.
"Mobil fasilitas perusahaan cuy, bukan mobil orang tuanya." Ledek Novi.
"Stttttt, yang lempeng, diem bae... gak usah ikut ngeladenin yang sintinggg!" Seru Naira yang membuat ke 3 temannya yang mendengar malah terkekeh geli.
π Di tempat lainπ
Di markas.
Pram memasuki ruang yang akan menjadi ruang eksekusi untuk orang orang yang sudah berani menyerang istrinya.
__ADS_1
Pram berjalan di depan dengan kemeja hitam dan setelan jas hitamnya membuatnya terkesan sangarr di tambah alis ya yang tebal, tatapan matanya yang tajam, siap menghabisiii lawannya.
Sedangkan Haikal, Dega dan yang lain berjalan di belakang Pram, mengikuti langkah bosnya yang lebar.
Pria yang berbadan tegap yang sedang berdiri di depan pintu membungkukkan badannya saat Pram sudah berdiri di depannya.
"Selamat datang, bos."
Pram memberi perintah dengan tegas, "Buka pintunya!"
Pria itu pun membuka pintunya.
Dega menyenggol lengan Haikal dengan sikunya, "Bakal ada pertunjukan nih!" Seru Dega dengan suara yang pelan.
Haikal diam tidak menanggapi Dega. Baginya Pram tidak menghukumnya saja sudah suatau keajaiban, maka kali ini Haikal akan melakukan apa pun yang akan di perintahkan Pram dengan benar tidak mau ada kata kecolongan lagi pada Nona Muda-nya.
Pram berdiri di depan orang orang yang kemarin berani menyerang mobil yang di kemudikan Haikal.
"Tolong lepaskan kami, Tuan! Kami janji tidak akan mengulanginya lagi!" Seru seorang dari mereka.
Mereka semua duduk dengan keadaan tangan dan kaki mereka terikat, hanya bedanya mulut mereka tidak lagi di lakban, mata mereka tidak lagi tertutup.
"Benar Tuan, tolong beri kami kesempatan... kaki janji akan mengabdi pada Tuan. Apa yang Tuan perintahkan akan kami lakukan." Ujar pria lainnya.
Pram memberi perintah lewat matanya pada Haikal untuk membawa pria yang sudah dengan berani menarik tangan Naira menyeretnya ke luar dari mobil.
Haikal membawa pria yang kini sudah babak belur untuk di bawanya ke hadapan Pram.
"Habis kau!" Gumam Dega dengan menyeringai pada pria yang kini berdiri di depan Pram.
Pram menyeringai, berani menyentuh wanita ku, sama saja mencari matiii!
Dengan ke dua tangan yang mengatup, pria itu berkata, "Tolong Tuan, ampuni sa- saya, sa- saya hanya di perintah."
"Untuk apa pria tua itu menyuruh mu?" Tanya Pram dingin.
"Sa- saya hanya di perintahkan untuk membawa gadis yang ada di foto untuk di bawa pada Tuan besar tanpa melukainya sedikit pun, Tuan." Dengan tubuh bergetar, peluh bercucuran pria itu tergagap untuk menyampaikan apa yang sudah di perintahkan padanya.
Bugh.
...πππππ...
Salam manis author gabut
__ADS_1
Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen π