
...🌷🌷🌷...
Ku mundurkan kepala ku, aku tahu nih arah ka Pram mau kemana kalo udah kaya gini!
Pram menempelkan keningnya pada kening Naira, di saat akan melabuhkan bibirnya pada bibir ranum Naira.
Tok tok tok tok
Bukan Pram namanya jika ia langsung menghiraukan ketukan pintu, Pram mengabaikan orang yang mengetuk pintu.
Yang ada di matanya hanya ingin merasakan lagi manisnya bibir ranum Naira yang menggodanya.
"Ka, itu ada yang ngetok pintu!" Cicit ku.
"Biar saja, toh orang itu sudah tidak mengetuk lagi kan!"
"Tapi emmph ----"
Aku sudah tidak bisa berkata lagi saat ka Pram menyambar bibir ku dan menyesapppp bibir bawah ku lalu lidahnya menerobosss masuk ke dalam mulut ku.
Tubuh ka Pram semakin condong ke arah ku, tangan yang ia gunakan untuk memegang dagu ku pun ia lepas dan beralih meremasss salah satu si kembar yang ada pada tubuh ku.
Mata ku membola, kurang asemm nih ka Pram, di kata si kembar ku apa kali maen remesss bae!
Tok tok tok tok.
"Pram! Ke luar kamu! Ayah tau kau ada di dalam!" Suara Aji dari luar pintu rawat.
Pram melepaskan pagutannyaaa, kini tangannya menangkup ke dua pipi Naira, "Tunggu di sini, apa pun yang terjadi... ingat jangan percaya dengan apa yang kau dengar, tapi cukup percaya dengan apa yang aku katakan pada mu! Kau mengerti!" Pram mengatakannya dengan wajah yang serius.
Ada apa dengan ka Pram? Ini sudah yang ke dua kalinya ka Pram mengatakan hal seperti itu pada ku, emmmm.
Cup.
Cup.
__ADS_1
Cup.
Pram mengecup sekilas bibir mungil Naira.
"Diam mu, aku anggap kau mengerti!" Seru Pram yang lantas bangkit dari tempat duduknya.
Pram berjalan ke arah pintu, bocah nakal ini penuh kejutan, aku tidak bisa lengah menghadapinya, jika aku lengah sekali saja, bisa kacau semua rencana ku.
Tangan Pram membuka pintu dan tidak membiarkan Aji melihat ke arah ruang rawat, ia langsung mengunci pintunya dan tanpa sepengetahuan Aji, Pram memasukkan kunci pintu kamar rawat ke dalam saku celananya.
Pram mentap dengan sinis Aji.
Mata Aji menatap tajam ke arah pintu rawat, "Siapa yang ada di dalam, Pram?" Tanya Aji dengan penasaran.
"Bukan urusan mu!" Seru Pram dingin.
Aku harus tahu siapa yang berada di dalam kamar ini! Aji melangkah mendekati pintu, tangan kanannya memegang hendle pintu mencoba untuk membuka pintunya
Sedangkan Pram yang melihatnya hanya diam di tempat, dengan sudut bibirnya yang di tarik ke atas, cara mu tidak akan berhasil Aji!
Aji tidak bisa membuka pintunya.
"Kau kesulitan?" Tanya Pram dengan sinis.
Aji melangkah mendekati Pram, putra tunggalnya yang sudah ia sia sia kan karena termakan hasutan Widia, namun karena rasa cintanya yang terlalu dalam pada wanita ular yang bernama Widia membuatnya tutup mata akan kesalahan Widia yang sudah dengan jelas dan teganya membuat nyawa Prita melayang.
"Kenapa kau menyembunyikannya dari ku, Pram! Aku ini masih ayah mu, orang tua kandung mu!" Aji menghampiri Pram, tangan kanannya menepuk lengan Pram.
Pram menepis tangan kanan Aji dengan kasar, "Jika ingin bicara... bukan di sini tempatnya!" Pram melangkah ke ruang tamu yang ada di kediamannya.
Aji mengikutinya dan duduk di sofa lainnya, menatap dalam putranya yang kini sudah dewasa.
"Apa yang ingin kau bicarakan!" Seru Pram dingin dengan sorot mata kebencian mengarah pada Aji, harusnya ku hancurkan kau sejak lama.
"Begini cara mu bicara pada ayah mu Pram! Aku yang sudah menyekolahkan mu hingga ke luar negeri, hingga kau sukses seperti ini." Aji mulai mengungkit dari mana Pram bisa bersekolah sampai ke luar negeri.
__ADS_1
"Lantas kau juga yang membuat ku masuk pesantren dan tanpa sekali pun kau melihat ke adaan ku? Apa begitu cara mu mendidik putra mu?" Tanya Pram.
"Aku sudah menyuruh Widia untuk melihat keadaan mu Pram, apa itu masih belum cukup? Ku berikan uang saku dalam jumlah yang tidak sedikit hanya untuk menenuhi permintaan mu Pram, apa itu juga masih kurang untuk mu? Kau sendiri kan yang meminta pada Widia untuk sekolah ke luar negeri!" Seru Aji panjang lebar.
Tatapan Pram mengejek Aji, wanita ular itu, pandai sekali bersandiwara.
"Asal kau tahu Aji Sudiro, selama aku di pesantren tidak sekali pun wanita ular mu menjenguk keadaan ku! Sekolah ke luar negeri hanya salah satu alasannya untuk membuat ku jauh dari mu! Ku rasa kau terlalu naif jika masih terus percaya pada wanita mu itu! Memang ya, sekali sampah tetap lah sampah, mau ia tinggal di istana pun tetap lah sampah! Seru Pram.
"Jaga bicara mu, Pram!" Aji tidak terima jika Widia di samakan dengan wanita sampah. Bagi Aji, Widia adalah sosok malaikat yang membawanya dari lubang kesedihan setelah di tinggal mati Prita.
"Suatu saat, kau akan menyesal karena sudah percaya dengan wanita ular mu itu, Aji Sudiro!" Oceh Pram dengan tangan menunjuk ke pintu, "Aku rasa kau tidak lupa arah pintu ke luarnya!" Pram mengusir Aji.
"Kau yang akan menyesal, Pram!" Aji meninggalkan rumah Pram dengan hati yang gondok, belum sempat ia mengutarakan niatnya datang bertamu ke rumah Pram, Pram lagi dan lagi menyambutnya dengan dingin dan berakhir dengan dirinya yang di usir.
Pram menyandarkan dirinya di sofa, dengan ke dua tangan yang ia rentangkan di sandaran sofa, kepalanya menatap langit langit ruang tamu, melihat lampu kristal yang harganya ratusan juta, semahal apa pun diri mu, tidak akan mampu membuat ibu ku kembali, jika saja waktu dapat berputar kembali, tidak akan ku biarkan wanira ular itu mendekati dan menyakiti mu, bu!
Pram memejamkan ke dua matanya, terlihat kembali dengan jelas bagai mana Widia dengan santainya menyuntikkan cairan yang Pram pikir itu adalah suntikkan vitamin, dan bagai mana teganya Widia meminumkan racun sedikit demi sedikit pada ibu kandung hingga meregang nyawa.
Setelah Aji menghilang dari pandangan, Naira ke luar dari persembunyiannya, ia berdiri di balik dinding mendengarkan apa yang di bicarakan pria yang di panggil Pram dengan kata Aji.
Dengan menyeret kaki kiri ku, aku melangkah dengan pasti menghampiri ka Pram dengan perlahan, berdiri di belakang ka Pram.
Ku tatap wajah tegang ka Pram setelah bicara dengan pria paruh baya itu, kedua tangan ka Pram mengepal kencang hingga urat pada buku buku jarinya terlihat, sampai sedalam itu kah rasa benci mu pada pria itu ka? Aku tidak tahu jika di balik sikap mu yang kejam ada seonggok batu keras yang menutupi hati mu ka, ada luka yang kau simpan seorang diri!
Ke dua tangan ku terulur ingin memberikan pijatan pada kepala ka Pram, baru saja jemari ku akan memijatnya.
Bruk.
Bersambung....
...💖💖💖💖💖...
Salam manis author gabut
Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen 😁
__ADS_1