Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Baru nyadar gw


__ADS_3

...๐Ÿ’–๐Ÿ’–๐Ÿ’–...


Daren mencoba menghubungi nomor telepon Naira. Berkali kali mencoba menghubunginya kembali, namun hasilnya tetap sama. Naira tidak menjawab telponnya.


Kini Daren beralih menghubungi Pram, hasilnya pun sama, "Sedang apa sih mereka ini! Susah banget buat di hubungin. Kalo lagi kerja ya gak mungkin lah, masa seorang Pram jam segini masih kerja!" Gerutu Daren.


Daren memilih beranjak dari tempat tidur nya, lantas berjalan ke arah kamar mandi. Tidak berselang lama ia ke luar dengan handuk yang membelit di pinggang.


Tok tok tok tok.


Pintu kamar Daren di ketuk dari luar.


"Tunggu sebentar." Daren melangkah ke arah pintu dengan tangannya yang mengeringkan rambut, menggunakan handuk di kepalanya.


Ceklek.


"Selamat malam Tuan kecil. Anda sudah di tunggu Tuan besar untuk makan malam." Ujar Alex.


"Iya, aku sudah tahu. Kau pergi lah! Nanti aku menyusul." Ujar Daren dengan menutup pintu kamarnya.


Alex menatap sebal pintu kamar yang kini tertutup rapat, "Sialannn anak kurang ajarrr, lihat sejauh mana kau bisa bersikap angkuh pada ku. Setelah ini, kau akan tahu siapa aku!" Gumam Alex, kepala pelayan yang lantas meninggalkan kamar Daren.


Daren mencoba menghubungi Juni. Tidak berselang kama Juni menjawab panggilan teleponnya.


[ "Ada apa bro? Gak tau lo gw lagi gawe!" ] Ujar Juni dari sebrang sana.


"Justru karena gw tahu lo lagi gawe, tar telpon gw lo ya, yaaaah kira kira 10 menit dari sekarang." Daren melirik jam dinding yang ada di kamarnya.


[ "Gila, mau ngalain lo?" ]


"Pokonya lo kerjain aja apa yang gw minta, tenang itu gak gratis ko."


[ "Bilang dong dari tadi, ya udah gw lanjut gawe dulu dah." ]


"Jangan sampe lupa lo! Ihsss sialannn nih anak, langsung telpon gw di matiin, kampretttt lo Juni!"


Tidak buang buang waktu lagi, Daren langsung mengenakan celana jins pendek warna hitam dengan kaos putih lengan pendek.


Di meja makan Daren di sambut dengan wajah masam Aji.


"Dasarrr anak tidak sopan, bukannya yang muda menunggu, ini aku yang harus menunggu mu turun untuk makan malam!" Gerutu Aji dengan seorang pelayan yang menghidangkan nasi dan lauk ke piring nya.

__ADS_1


"Aku tidak melarang papa untuk makan lebih dulu dari ku, aku bisa makan di luar jika aku ingin." Ucap Daren dengan santainya.


"Jangan jadi anak pembangkang Daren! Kau lupa, dari mana asal mu? Benar benar anak jalanan yang tidak tau di untung!" Ucap Aji dengan sinis.


"Aku tidak lupa asal usul ku, justru aku ingin kau sadar akan hubungan mu dengan ka Pram. Bagai mana pun juga, Pramana Sudiro itu putra kandung mu! Berbeda dengan dia!" Daren menunjuk jari telunjuk kanannya pada Alex yang berdiri tidak jauh dari Aji, tatapannya begitu tajam pada Alex.


"Dia hanya pelayan mu yang tidak tahu diri! Pria yang menghasut mu untuk terus memusuhi Pram, putra kandung mu! Atau jangan jangan ada hal lain yang kau incar dari papa ku! Jawab pertanyaan ku, Alex!" Dengan lantang Daren berujar.


Brak.


Aji memukul tangannya dengan kerasss ke meja, membuat benda yang ada di atasnya terangkat sejenak dan kembali ke tempatnya kembali dengan bunyi berdenting.


Ting trang trang.


"Di mana sopan santun mu, Daren!"


Dreeet dreeet dreeet dreeet.


"Auughhhh, jantung ku!" Aji menyentuh dadanya dengan tangan kanannya, wajahnya meringis menahan sakit.


Daren beranjak untuk menghampiri Aji, sedangkan Alex yang berada lebih dekat dari Aji langsung menyanggah tubuh Tuan nya.


"Tuan besar tidak apa apa? Mau aku panggil kan dokter?" Tanya Alex dengan wajahnya yang pura pura cemas, ke dua tangannya menahan bahu Aji yang duduk di kursi dengan oleng.


"Bukan begitu maksud ku, pah! Aku hanya ---"


Daren melangkah ingin membantu Aji berdiri, namun Aji melarang nya untuk mendekatinya dengan tangan nya yang berada di depan.


Aji di antar kembali ke kamar dengan di bantu Alex.


[ "Aku sudah menjalankan tugas dari mu kan! Jangan lupa tepati perkataan mu!" ] Ucap Juni saat telponnya di jawab Daren.


"Tenang saja, aku bukan tipe orang yang ingkar janji."


Daren langsung menutup telpon nya, rasanya tidak ada gunanya aku menyuruh Juni menelpon ku! Papa tidak mau mendengarkan ku!


Daren memilih meninggalkan meja makan, ia memilih ke luar melesat dengan motor sport nya.


...๐Ÿ‚Ke esokannya๐Ÿ‚...


Naira mengerjapkan matanya, wajah tampan yang pertama kali ia lihat saat ke dua matanya terbuka.

__ADS_1


"Aiiihhh ganteng amat si lo ka!"


Naira menyingkirkan tangan Pram yang mendarat di atas perutnya, merubah posisinya dengan tengkurap, ke dua tangannya menahan dirinya dengan kepala yang menegak. Menikmatiii pahatan sempurna sang pencipta, wajah Pram yang tampan tanpa celah.


"Ajiii gileee, baru nyadar gw. Susah juga ya punya laki model muka cakep, harus tahan bantinggg apa lagi kalo ada cewek yang bertingkah nyeselin. Lo si ka, pake muka cakep, dompet tebel lagi, siapa coba cewek yang bisa nolak pesona lo itu, ka!" Jemari Naira bermain main di wajah Pram dengan bibirnya yang terus mengoceh.


Dengan mata yang terpejam Pram membatin, astaga sayang ku ini... sudah pandai sekali memuji ke tampanan ku, apa otak Naira koslet hingga saat terbangun, ke dua matanya baru menyadari jika aku ini pria yang sempurna untuk dirinya? Aku tidak akan tergoda lagi dengan wanita mana pun, sayang, karena aku sudah memiliki mu, Naira putri, kau lah obat untuk hasrattt ku.


Jemari Naira turun ke dada Pram, membuka kancing piyama yang melekat pada tubuh Pram yang kekar.


Pram membatin, dengan matanya yang ia buka satu, mengintip apa yang Naira lakukan pada kancing piyamanya.


Mau apa lagi bocahhh nakal ini! Memintanya lebih baik dari pada kau diam diam seperti ini, sayang!


Tanpa sadar jemarinya merayap di dada Pram yang bidang, "Ini ko dadanya ka Pram bersih ya! Gak kaya yang di novel online gambarin, tokoh utama cowoknya dadanya itu punya buluuu buluuu gimana gitu, hahahah upppssss." Naira menutup mulutnya karena tanpa sadar ia terkekeh dengan pikiran liarnya.


Pram tersenyum mendengar celotehan Naira, jadi kau ingin dada ku yang bidang ini memiliki bulu halus?


Sebelum Naira menoleh, Pram lebih dulu kembali menutup matanya, pura pura tidur.


Naira menoleh ke wajah Pram, memperhatikan ke dua mata Pram, "Alhamdulillah ka Pram masih tidur, kaga bangun dia hehehehe aman." Celoteh Naira dengan membuang nafasnya dengan lega.


Grap.


Tangan Pram mencengkrammm pergelangan tangan Naira, yang bergerak liar di atas dadanya.


"Eh!" Naira tersentak kaget, mampus dah gw, ke pergok kan tuh tapi kan matanya ka Pram ngerem itu.


"Awas sayang, nanti kau bisa membangunkan pemiliknya, kau harus menidurkan nya kembali. Bagai mana, hem!" Pram berucap dengan ke dua matanya yang terpejam.


"Ka Pram ngigo ya?" Tanya Naira dengan polosnya, berfikir jika Pram hanya mengigau.


Bugh.


...๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ...


......................


...๐Ÿ’– Bersambung ๐Ÿ’–...


Terima kasih sebelumnya, yuk komen yuk, tambah tambah masukan buat author.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalin jejak like oke! ๐Ÿ˜Š


__ADS_2