Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Berubah haluan


__ADS_3

...💔💔💔💔...


"Ruko ya?" Tanya Naira.


"Emang bajet lo ada berapa, Nai?" Tanya Angga.


"300 juta cukup gak buat sekalian modal?" Tanya Naira.


Ayu membulatkan matanya, "Itu duit, Nai" Gila banyak banget apa itu ke untungan dari kedei selama 2 tahun?


Novi menyapu wajah Ayu dengan tangannya, "Daun kering, ya duit lah. Begooo di pelihara lo mah!" Sungut Novi.


Ayu berdecak, "Ihs lo, gw serius."


"Kalo buat kedei sih cukup perhitungan gw, tapi karena kita berubah haluan dari rencana awal. Gimana dong? Masih kurang banyak ya?" Tanya Naira dengan bibir yang mengerucut. Pasti kurang, jauh dari kata cukup. Secara buat tempat permainan anak aja harus aman, belum beli beberapa fasilitas permainan buat ngedukung, belum lagi bajet buat beli pakaian wanita, pria dan anak, aiiih. Ternyata modal kudu gede juga ya kalo mau buka usaha kaya gitu.


"Itu jauh dari kata cukup, Nona!" Seru Haikal.


"Ya udah kita banting setir aja lah, buka restoran aja lagi. Hitung hitung kita buka cabang kedei start. Gimana menurut kalian?" Naira menatap Ayu, Mega dan Angga. Meminta pendapatnya.


"Gw mah oke aja. Modal dari lo semua, Nai?" Tanya Mega.


Naira menganggukkan kepalanya.


"Lo gak minta di bantuin gitu sama pak Pram biar nambahin modal usaha lo? Lumayan kan kalo pak Pram terlibat, pasti bakal ngucurin duit yang gak sedikit jumlahnya Nai! Hehehe." Ayu terkekeh.


"Ihs gw pengen mandiri, usaha serba sendiri." Ucap Naira.


"Kalo tempat, lo udah punya pilihan belum buat tempatnya? Apa ada lahan yang udah lo targetin?" Tanya Angga.


Naira tampak berfikir dengan menopang dagunya.


"Gimana, lo udah ketemu belom sama tempatnya?" Tanya Ayu dengan penasaran.


Naira menggelengkan kepalanya, "Belum sih, belum sempet hilling buat cari tempat. Cuma baru dapet gambaran aja konsep tempatnya nanti hehehe." Ujar Naira dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Aiiih Naira, kirain lo udah punya tempat yang strategis gitu buat buka usaha baru lo itu." Ayu mengetuk ngetukkan jarinya pada meja, geregetan dengan Naira.


"Ehem, setahu saya ada lokasi yang cocok untuk usaha Nona itu, tidak jauh dari sekolah Nona ada rumah yang di sewakan, saya rasa cocok di tambah dengan tempatnya yang memang ada di pinggir jalan utama, sudah tersedia lahan parkir, hanya perlu sedikit sentuhan untuk bagian indoor." Ujar Haikal yang memberikan masukan pada Nona Muda-nya perihal tempat.

__ADS_1


"Mahal gak sewanya? Tingkat gak bang?" Tanya Naira dengan ambisi yang berapi api.


"Tingat, balkonnya juga cukup besar, cocok lah buat Nona dan Tuan Muda diner romantis." Ledek Haikal.


"Ihs di tanya serius malah ngajakin bercanda!" Gerutu Naira dengan menatap sebal Haikal.


Novi yang ke betulan lewat di antara meja Naira dan Haikal ikut menimpali dengan tangan yang membawa nampan menuju dapur.


"Ehem ehem, kita kapan paman Haikal diner romantis?" Celetuk Novi dengan kerlingan mata ke arah Haikal.


Haikal tersendak ludahnya sendiri saat di sindir oleh Novi.


"Uhuk uhuk." Dasarrr bocah plangton, gak tau apa di sini lagi banyak teman temannya!


Ayu menatap ke arah Novi dengan kening yang mengkerut, sedangkan tangannya langsung mengarahkan botol minum mineral yang ada di hadapannya pada Haikal "Eh bocah masih kecil udah bisa godain pria dewasa." Celetuk Ayu.


Haikal menolak botol minuman yang di berikan padanya. Dan tangannya lebih memilih meminum secangkir kopi yang ada di hadapannya.


"Yeeee, kan belajar godain paman Haikal dari ka Ayu, wahahaha." Novi tergelak di balik pintu dapur melihat wajah Haikal yang merona dan Ayu yang tampak marah.


"Sialannn itu bocah, kecil kecil ya, masa iya gw di duluin sama bocah ingusan." Ejek Ayu.


Prak.


Ayu menggeprak tangannya pada lengan Naira, "Ahahaha sorry, gw ora ngerasa nyindir lo?" Seru Ayu.


Hasil keputusan pun di ambil. Mereka sepakat untuk menanyakan harga sewa rumah tersebut dan jika cocok dengan harga sewanya maka rumah tersebut akan di sewa untuk beberapa bulan ke depan dan akan di alih fungsi kan menjadi resto.


Naira yang memang tidak bisa diam meski sedang datang bulan bukan menjadi halangan.


Dirinya turut serta membantu kadang di depan sebagai pramusaji dan kasir, kadang di belakang membuatkan minum.


Sambil memperhatikan Mega yang tengah merekap pengeluaran kedei, Naira berdiri menatap lukisan yang baru sore ini ia beli dari seorang pedagang lukisan keliling dan ia pajang tepat di belakang kasir.


"Ini yang gw suka dari lo, Nai! Bos rasa temen, gw kerja tapi berasa nemu keluarga baru." Terang Mega yang sesekali melirik Naira yang berdiri di depannya dengan natanya yang fokus pada lukisan.


"Salut gw sama cara lo, Nai!" Seru Ayu sambil berjalan dengan tangan membawa minuman untuk di antarnya ke meja pengunjung.


"Biasanya bos galak ya! Hahaha, ini mah jauh dari kata bos galak." Ledek Novi

__ADS_1


Naira bertulak pinggang, "Kamprettt lo, jadi lo mau gw jadi galak hah! Hayo kerja kerja! Ngoceh bae lo pada kerjanya! Gw potong gaji baru tau rasa lo!" Seru Naira dengan nada suara yang di buat naik satu oktaf dengan wajah serius seolah menggambarkan dirinya bos yang galak.


Haikal hanya geleng geleng kepala melihat tingkah Nona Mudanya yang sedang berperan menjadi bos yang galak di mata karyawannya.


"Diri mu tidak pantas menjadi bos galak!" Seru Pram yang kini berdiri di ambang pintu kedei dengan tatapan yang sulit di artikan tengah mengarah pada Naira.


"Akhirnya bos datang juga!" Haikal berseru, pasti ada Dega di luar.


Naira menoleh ke arah suara yang sangat ia kenal, keningnya mengkerut dengan bibir yang mengerucut, mau apa sih ka Pram pake dateng! Gak tau apa kan dia yang jadi pusat perhatian itu cewe!


Mata Naira melirik pengunjung wanita yang saat itu langsung mengalihkan perhatiannya mereka pada sosok Pram yang baru saja datang.


Pengunjung wanita tengah menatap Pram, sosok pria dengan wajah tampan berjas abu, tampak menggoda di mata mereka.


"Aiihs gila, itu cowok keren banget sih." Pengunjung wanita yang tampak memperhatikan Pram dengan mata berbinar.


"Bisa kali kenalan." Seorang pengunjung wanita yang tanpa sadar mengelusss elusss tangannya sendiri.


"Ya ampun itu kan pengusaha perhotelan, mau apa dia ke sini, mimpi apa gw bisa ke temu sama orang kaya dia." Pengunjung wanita yang mengenali jati diri Pram.


Naira mengepalkan tangannya saat Pram melangkah maju ke arah Naira.


"Selamat datang, bos!" Seru Haikal yang berjalan melewati Naira dan menyapa Pram.


Haikal ke luar dari kedei dan menghampiri Dega yang berada di luar.


"Apa begini cara mu menyambut ku?" Pram mengatakannya dengan suara yang menggoda di telinga Naira tepat saat Pram berdiri di depan Naira.


Bugh.


......................


...💖 Bersambung 💖...


...💖💖💖💖💖...


Salam manis author gabut 😊


Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen 😉😉

__ADS_1


__ADS_2