Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Menjelajahi alam mimpi


__ADS_3

...💖💖💖...


"Apa gak sebaiknya mandi dulu, ka? Aku bau keringat lo!" Ucap Naira di saat Pram menanggalkan pakaiannya.


"Jangan mengulur waktu, sayang! Kurang puasss kah kau bersama dengan ku di luar seharian? Sekarang gantian kau yang harus menyenangkan ku!" Pram merangkak naik di atas tubuh Naira, menyusuri bibirnya di setiap inci tubuh mulus sang istri.


Di saat yang bersamaan, Naira membola namun merasa geli dengan apa yang di lakukan Pram, "Astaga ka, peritungan banget si jadi orang!" Sungut Naira dengan suaranya yang mendesahhh, saat bibir Pram menyesappp kulitnya.


"Kalo begitu, tidak ada pilihan lain ka! Kau nikmatiii saja permainan ku ini!" Pram mulai bermain dengan si kembar yang membusung padat.


Dengan satu tangannya, ia meremasss salah satu gundukan daging kembar Naira, sedangkan yang satunya, bibir Pram yang bermain dengan menggoyangkan lidahnya, memilinnn si puncak kembar, menyesappp nya bak bayi yang ke hausan.


Sedangkan Naira terus menggeliat, erangannn serta desahannn, silih berganti meluncur bebas dari bibir mungilnya.


Pram mulai melakukan penyatuannn nya, menggoyangkan pinggulnya saat miliknya sudah menyatu dengan Naira, perlahan tapi pasti. Membuat si kembar ikut bergoyang mana kala Pram menyayunkan pinggulnya maju mundur, dengan lenguhannn yang ke luar dari bibir Naira.


Semakin membakar semangatnya, untuk memberikan ritme cepat pada adik kembarnya, hingga berkali kali Pram memuntahkan cairan larva hangatnya di dalam milik Naira. Membiarkan sang istri untuk beberapa saat terpejam karena kelelahan.


Cup.


Pram mengecup bibir Naira, yang awalnya kecupan menjadi lumatannn, ciumannn yang panjang karena Pram tidak membiarkannya begitu saja. Pram menyesappp bibir bawah Naira, membuat Naira membuak sedikit mulutnya, Pram mendorong masuk lidahnya, memilinnn lidah Naira, dan menyesappp nya.


Naira yang sempat terpejam pun membuka ke dua matanya, saat mendapati kepala Pram yang berada di bawah sana, Naira menggelenjinggg merasakan hangatnya lidah Pram, bagai mana Pram menyesap benda kecil miliknya.


"Kaaa aaahhhh uuughhhhh."


Pram menatap tajam mata bulat Naira, berganti dengan menengkurapkan tubuh Naira, berdiri dengan menekuk ke dua kakinya, berada di atas tubuh sang istri, melakukan penyatuannn kembali.


Dalam batinnya Naira berkata, astaga sudah jam berapa ini? Apa ka Pram gak merasa lelah ya, tubuh ku rasanya rentak, tulang ku seakan remuk. Ka Pram yang sedari tadi bergerak, apa gak ngerasa cape? Kenapa aku yang hanya menikmatiii nya saja seakan remuk.


Pram ingin tertawa begitu mendengar suara batin Naira, siapa suruh kau tidak mengizinkan ku, untuk ikut bersama mu di acara perpisahan nanti. Tanpa kau tahu, aku akan mengikuti ke mana pun kau pergi, sayang!


Tengah malam Pram baru menghentikan olahraga malamnya, dengan membawa serta Naira yang polos, ke dalam kamar mandi dengan ke dua tangan kekarnya.

__ADS_1


Pram mendirikan Naira di bawah guyuran air shower, melakukan ritual mandi bersama.


"Aduh ka! Lututnya kaya gak ada tulang!" Naira membungkuk dengan ke dua tangannya, yang bertumpu pada ke dua pahanya.


"Itu wajar sayang, setelah kau makan yang banyak, tenaga mu pasti akan pulih kembali." Pram menyunggingkan senyumnya.


Setelah selesai dengan mandi, ke duanya ke luar dengan handuk yang menutupi ke dua tubuh polos Pram dan Naira.


Dengan ke dua tangan yang melingkar di leher Pram, Naira berseru, "Masih berantakan ka!" Naira melihat ke arah tempat tidur, yang masih berantakan.


"Tidak apa, biar aku sudah maid yang membereskan nya."


"Nanti ke tahuan kalo kita habis itu ka!" Naira menundukkan kepala nya dengan bibir yang mengerucut.


"Biar aku saja yang bereskan, kau tunggu di sini." Pram mendudukan Naira di sofa, yang ada di ruang walk in closed.


Pram mengambilkan piyama, yang akan di kenakan Naira dari dalam lemari.


"Kau pakai lah dulu, jangan ke luar jika sudah selesai dengan piyama mu ini! Ingat! Tunggu aku yang menghampiri mu!" Ucap Pram tegas dengan tangannya mengusappp usappp, pucuk kepala Naira sebelum ia ke luar dari walk in closed.


"Ingat, kau harus tunggu di dalam. Tidak perlu ke luar apa lagi berjalan!" Omel Pram dengan suara nya yang tampak tinggi. Lalu hilang kembali setelah pintu walk in closed tertutup rapat.


Naira yang sedang mengenakan celananya, di buat geleng geleng kepala, "Ya ampun, bawel sekali. Ngingetin aja udah kaya lagi ngebentak." Gerutu Naira.


Sementara Pram kini menggulung sprei yang kini kotor. Menyimpan nya di dalam kamar mandi, menaruhnya pada tempat kotor.


Pram kembali ke dalam walk in closed, mendapati Naira yang tengah tertidur pulas di sofa, dengan tubuhnya yang meringkuk.


"Apa selelah itu ya? Sampai membuat mu cepat tertidur." Pram membawa tubuh Naira, yang tertidur pulas dengan ke dua tangan kekarnya.


Membaringkan tubuh istri kecilnya di atas kasur, lalu menutupi tubuhnya dengan selimut. Pram beranjak lagi ke dalam walk in closed, mengganti handuk yang menutupi tubuh atletisnya, dengan piyama yang serupa dengan Naira.


"Aku rasa besok kau harus bolos lagi ke sekolah, sayang!" Pram mengecup kening Naira, membaringkan tubuhnya di samping Naira, mendekap tubuh mungil Naira ke dalam pelukannya, menjelajahi alam mimpi saat ke dua matanya terpejam.

__ADS_1


Dari jam 6 pagi, pak Dedi sudah berdiri di depan pintu lift. Sesekali ia melirikkan matanya, pada jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Aku rasa Nona dan Tuan tidak akan turun dengan tepat waktu." Gumam pak Dedi.


"Apa yang sedang kau lakukan, pak Dedi?" Tanya Dega yang melihat pak Dedi saat akan melewatinya.


"Tentu saja menunggu Nona dan Tuan Muda ku turun dari lantai atas." Gerutu pak Dedi.


"Tunggu lah sampai kau menua pak Dedi! Hahahaha." Ledek Dega melangkah ke arah dapur.


"Dasar pengawal sinting!" Gerutu pak Dedi.


Hingga Dega kembali melewati pak Dedi, dengan tangannya yang membawa nampan, berisikan 5 cangkir kopi yang berbeda.


"Ahahaha pak Dedi, asal kau tahu saja. Nona dan Tuan pasti tidak akan turun untuk hari ini. Bersiap lah untuk mengantarkan sarapan ke lantai atas, hehehe." Lagi lagi Dega meledek pak Dedi.


Hingga jam menunjukkan pukul 7 pagi, masih belum ada tanda tanda seseorang akan ke luar dari lift.


"Pagi, pak Dedi." Sapa Daren dengan seragam sekolahnya, dan ransel di punggung.


"Pagi Tuan ke 2." Ucap pak Dedi dingin.


"Apa ka Pram belum turun, pak?" Tanya Daren.


"Kalo Tuan dan Nona sudah turun, Tuan ke 2 tidak akan melihat saya di sini!" Ucap pak Dedi dingin.


...💮💮💮💮💮...


......................


...💖 Bersambung 💖...


Terima kasih sebelumnya, yuk komen yuk, tambah tambah masukan buat author.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalin jejak like oke! 😊


__ADS_2