
...💖💖💖...
"Itu bang Haikal dateng! Kita bisa lanjut kan acara piknik dadakan nya?"
Haikal kembali dengan membawa apa yang di minta Naira, dan menaruhnya di antara mereka.
Haikal berdiri tidak jauh dari Pram, menjalankan tugasnya sebagai mana seorang bodyguard.
"Bang Haikal ngapain di situ? Mending naek ke sini! Masih muat ko." Naira mengajak Haikal untuk naik ke atas gazebo.
"Tidak perlu Nona, biar saya di sini saja! Kalian nikmati lah." ucap Haikal dengan dingin.
Naira meletakkan potongan bolu dan berbagi macan kue kering, yang di bawa ibunya di atas piring, lalu menyerahkan nya pada Pram, meminta Pram untuk memberikan nya pada Haikal lewat kode matanya.
Dito, Atmaja dan Heni yang melihat tingkah ke duanya, mengerutkan keningnya, mencoba memahami apa yang sedang di bicarakan Naira dan Pram.
"Ayo ka! Pasti gak akan menolak kalo kaka yang berikan!" seru Naira dengan meletakkan piringnya di tangan Pram.
Pram membuang nafasnya dengan kasarrr.
"Jangan bilang jika aku kejammm, membiarkan mu berdiri. Sedang kan kami menikmati hidangan yang di buat ibu mertua ku!" Pram menyodorkan piring itu ke Haikal dengan tangan kanannya.
"Terima kasih, bos!" Haikal mengambil alih piring itu dari tangan Pram, dasarrrr bos gila. Mau nawarin aja pake bawa bawa kejammm, emang bos kejammm.
__ADS_1
Naira mengelusss lengan Pram, "Mau ngasih aja pake ngoceh gitu ka! Kaya ga ikhlas gitu!" sungut Naira.
Pram menatap Naira dengan mata teduhnya, "Biar saja! Aku sudah melakukan apa yang kau mau, tapi Haikal masih menggerutu di dalam hatinya!" terang Pram.
Pagi menjelang siang, Pram menikmati waktu pertama kalinya bersama dengan Naira, Heni dan Dito dengan bahagia, dengan mendengar kan Dito yang sesekali bercerita.
Hal yang sering kali di lakukan Naira, saat berkumpul bersama dengan keluarganya, dan kini di rasakan oleh Pram. Pram di sambut hangat di tengah tengah Heni dan Dito tapi tidak dengan Atmaja, yang hanya menatap Pram dingin.
Hingga tanpa terasa, siang pun tiba.
Dreet dreet dreet.
Haikal merogoh saku celananya, lalu menjawab panggilan telepon nya.
[ "Makan siang sudah siap, bos!" ] ucap koki yang berada di dalam villa, lewat sambungan teleponnya.
Pram menoleh ke arah Haikal, mendengarkan apa yang akan Haikal sampaikan padanya.
"Makan siang sudah di siapkan, Tuan!" seru Haikal.
Pram mengecup kening Naira, tangan kirinya menggenggammm jemari Naira, lalu berkata pada semuanya.
"Sudah waktunya kita masuk ke dalam, untuk makan siang!" ucap Pram yang terdengar kaku sambil mengajak Naira untuk beranjak dari duduknya.
__ADS_1
"Kau mau mengusir kami pulang, atau memberi perintah kami untuk makan? Bicara yang jelas!" gerutu Atmaja dengan ketus.
"Saya tidak menyuruh anda untuk pulang, tapi jika anda ke beratan untuk masuk ke dalam bersama dengan kami, saya tidak masalah. Pintu itu selalu terbuka untuk anda meninggalkan villa ini!" ucap Pram dengan dingin, tangan kanan menunjuk ke arah gerbang tinggi berwarna hitam.
"Kaaaa." Naira menggelayut manja pada lengan Pram, "Bukan begitu maksud papa."
Atmaja semakin geram mendengar perkataan Pram, berdiri dengan ke dua kakanya, menatap nyalang bak ingin menghabisiii musuh yang kini berdiri di hadapannya, tangannya mengepalll.
Dito dan Heni beringsut, beranjak dari gazebo. Melihat api ke marahan muncul di ke dua bola mata Atmaja.
Heni mengelusss punggung Atmaja dengan lembut, "Pah! Jangan begitu... mungkin maksud nak Pram itu, ingin kita masuk ke dalam untuk makan siang bersama. Bukan begitu nak Pram?" tanya Heni dengan menoleh pada Pram, memintanya untuk membenarkan apa yang menjadi ke simpulannya.
"Iya nih, papa kaya gak pernah aja belibet kalo lagi ngomong!" sungut Dito yang membenarkan perkataan ibunya tanpa di suruh.
"Jadiiii?" Naira menatap Pram dan ayahnya secara bergantian.
Kruuk kruk kruk.
...💮💮💮💮💮...
......................
...💖 Bersambung 💖...
__ADS_1
Terima kasih sebelumnya, yuk komen yuk, tambah tambah masukan buat author.
Jangan lupa tinggalin jejak like oke! 😊