
...💖💖💖...
"Apa tidak apa Tuan, membiarkan Nona Muda bersama dengan dokter Embun?" Tanya pak Dedi dengan perasaan yang cemas, dengan keningnya yang mengkerut.
"Tidak usah cemas begitu, pak! Kau lupa siapa Nona Muda mu itu?" Ucap Pram dengan santai tangannya meraih gelas berisi air putih yang ada di depannya dan meminumnya hingga tandas.
Naira melangkah dengan wajah cerah secerah matahari sedang kan dokter Embun nampak menahan marahnya.
Naira menatap ke arah Pram dengan senyum yang mengembang, emang kau pikir kau itu siapa dokter Embun, hehehe. Aku gitu, istri Pramana Sudiro.
Dokter Embun melangkah di belakang Naira, sialannn ini bocah pake ngatain gw kaya tante tante, lo gak tau aja Pram dulu kaya gimana ke gw! Lo liet nih, Pram pasti akan berpaling ke gw dan ninggalin lo, bocah bau kencur!
Pram berdiri dan merentangkan ke dua tangannya, bibirnya tersenyum meski hampir tidak terlihat, ini baru istri kecil ku yang nakalll!
Dokter Embun yang melihat Pram, langsung berjalan cepat mendahului langkah kaki Naira dengan tangannya yang siap memeluk erat tubuh Pram, senyum terlukis di bibir dokter Embun.
Dokter Embun membatin, apa gw bilang, Pram pasti berpaling ke gw! Bukan lagi pada lo bocah kecil! Dokter Embun lo lawan!
Naira menghentikan langkah kakinya menatap punggung dokter Embun yang hanya tinggal beberapa langkah lagi sampai pada Pram.
Kening Naira mengekerut dengan ke dua mata yang menatap tajam, "Apa apaan ini?" Gumam Naira dengan suara yang pelan.
Dokter Embun memejamkan matanya saat ia selangkah dengan Pram lalu tangannya membalas rentangan Pram untuk memeluk tubuh Pram yang atletis itu.
"Aku merindukan mu, Pram!" Gumam dokter Embun.
Grap.
Dokter Embun memeluk tubuhnya sendiri dengan ke dua mata yang terpejam.
Pram melangkah mundur dan menggeser tubuhnya sebelum ke dua tangan dokter Embun menggapai tubuhnya untuk di peluk.
Tap tap tap.
Pram melangkahkan ke dua kakinya dengan lebar menghampiri Naira yang masih terpaku di tempatnya.
Grap.
"Sayang ku! Kau lama sekali sih!" Seru Pram dengan memeluk erat tubuh mungil Naira.
"Aku tidak menyangka loh, ini kok bisa melenceng ceritanya dari sinetron ikan terbang yang pernah di ceritakan Serli pada ku ya!" Gumam Naira dengan membalas pelukan Pram dengan tangannya.
__ADS_1
Hap.
Pram menggendong tubuh Naira dengan ke dua tangannya yang kekar, "Jangan menjadi korban sinetron, sayang! Kenyataannya aku hanya lah milik mu!"
"Ihs ka Pram gak pantes ngomong gitu! Alayyy!" Ledek Naira.
"Terserah apa kata mu!" Pram membawa Naira ke luar dari ruang makan menuju ruang keluarga.
Dokter Embun membuka ke dua matanya dan tidak mendapati Pram dalam pelukannya, di mana Pram? Harusnya ia kan ada ---
Dokter Embun menoleh kiri dan kanan, ia hanya mendapati pak Dedi dan beberapa maid yang sedang berada di ruang makan dengan menahan tawanya melihat ke bodohan dokter Embun.
Dokter Embun mengepalkan ke dua tangannya, sialannn ke mana mereka berdua! Harusnya Pram meninggalkan bocah itu, ini kenapa Pram malah meninggalkan gw!
"Tuan Muda sudah membawa Nona Muda dari sini dokter, apa dokter masih ingin melanjutkan makan malam yang tertunda?" Ledek pak Dedi dengan tatapan yang meledek.
"Nafsu makan ku hilang!" Gerutu dokter Embun dan memilih untuk meninggalkan meja makan.
Dokter Embun bertanya pada salah seorang pengawal yang sedang berjaga di ruang tengah.
"Heh kau, penjaga! Apa kau melihat ke mana Pram dan Naira pergi?" Tanya dokter Embun dengan ketus.
Pengawal mengernyitkan dahinya menatap tajam pada dokter Embun, Nona ini tidak sopan sekali, pada hal dirinya hanya seorang tamu di kediaman Pramana ini!
"Ruang keluarga, Nona!" Ucap penjaga suaranya yang dingim dan wajah datar tanpa ekspresi.
Dokter Embun menghentakkan kakinya, "Jawab gitu aja susah banget!" Dokter Embun melangkah menuju ruang keluarga.
Tidak sulit bagi dokter Embun untuk tahu di mana letak ruang keluarga itu berada.
Dokter Embun mengepalkan tangannya saat melihat Naira yang sedang duduk menempel dengan Pram apa lagi posisi kepala Naira yang menyandar pada lengan Pram.
Dokter Embun melangkah menghampiri ke duanya yang sedang menonton acara kartun, kalian tidak bisa seperti ini pada ku, kau harus kembali pada ku Pram!
Tangan Pram memainkan ujung rambut Naira dan melilitkannya pada jarinya, mau apa lagi wanita itu sekarang!
Dokter Embun berdiri di depan Pram dan Naira yang sedang duduk di sofa.
Dokter Embun membuang nafasnya dengan kasarrr, "Apa aku mengganggu acara kalian jika aku bergabung bersama kalian di sini?"
"Duduk aja dok, masih banyak sofa yang kosong kan!" Seru Naira dengan tangannya yang sengaja ia lingkarkan pada tubuh Pram.
__ADS_1
Dokter Embun mendudukan dirinya di salah satu sofa tidak jauh dari Pram, apa apaan bocah itu? Berainnya kau bermanja manja pada Pram ku!
Pram menatap layar televisi yang menampilkan kartun kesukaan Naira, Naira tertawa terkekeh sedangkan dokter Embun menatap malas pada Naira. Pram bersikap acuh pada dokter Embun.
Ke dua mata Pram tertuju pada layar televisi, "Apa kau mau minum?" Tanya Pram pada Naira dengan suaranya yang lembut.
"Aku tahu kau masih perhatian pada ku, Pram!" Ucap dokter Embun yang mengira jika Pram sedang bertanya padanya.
"Aku sedang bertanya pada istri ku! Bukan denganmu!" Ucap Pram dengan ketus dan suranya yang meninggi.
"Ihs ka, jangan gitu ngomongnya, dokter Embun kan tamu di rumah ini. Selayaknya Tuan rumah sama tamunya napa ka!" Omel Naira.
"Tamu seperti apa yang tidak kenal kata malu? Bertingkah seolah dia adalah Tuan rumah di rumah ini? Jangan mimpi!" Ucap Pram dengan ketus.
Jeder.
Perkataan Pram sanagt menusukkk hati dokter Embun, sialannn kau Naira, beraninya membuat Pram sampai berkata sekasarrr itu pada ku!
Pram menatap tajam pada dokter Embun, "Apa kau lupa jalan masuk dan ke luar rumah ini?" Tanya Pram dengan nada yang dingin.
Naira berseru dengan tatapan matanya yang lembut, "Kaka!"
Dokter Embun beranjak dari duduknya dan menatap tajam Pram, "Apa seperti ini sikap mu pada ku, Pram? Apa kau lupa bagai mana dulu kau memperlakukan ku? Aku ----"
Pram memotong perkataan dokter Embun, "Itu hanya masa lalu, saat ini Naira lah yang menjadi masa kini dan masa depan ku!"
Seru dokter Embun dengan suaranya yang meninggi, "Pram!!!"
"Sudah cukup bicara mu, Embun! Pergi lah dari hadapan ku!" Seru Pram dengan tangannya yang menggenggammm jemari Naira dan mengecuppp nya.
"Pram! Tinggalkan dia Pram! Dia hanya ingin harta mu Pram! Dia tidak tulus mencintai mu!" Ujar dokter Embun dengan air mata yang menetes di pipinya, aku yakin kau tidak akan tega melihat ku menangis Pram.
Naira mengerutkan keningnya dengan tatapan mata yang tajam pada dokter Embun, "Dokter berkata apa barusan?"
Pram menggeser tubuh Naira yang menempel padanya, Pram beranjak dari duduknya.
......................
...💖 Bersambung 💖...
...💖💖💖💖💖...
__ADS_1
Salam manis author gabut 😊
Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen 😉😉