
...πππ...
Daren mengepalkan tangannya, menatap tajam pada Aji, "Mama ku belum kau kubur, kau sudah mengatakan soal harta? Harta, tahta, apa lagi yang kau cari di dunia ini, ayah? Apa nyawa mama ku tidak berarti di mata mu?"
"Tau apa kau soal itu? Tau apa kau soal kehilangan?" Aji mendorong bahu Daren dengan tangan kanannya yang membuat Daren semakin melangkah mundur di buatnya..
"Sudahh cukup, yah! Yang ada di pikiran mu hanya uang dan kedudukan, tidak ada yang lain selain itu!" Dengus Daren kesal.
Rafa yang sedari tadi di sana hanya diam menyimak perdebatan antara ayah dan anak dengan bibir yang menyeringai, sebelum pak Aji menghancurkan Tuan Pram... kalian lah yang lebih dulu di hancurkan hidupnya.
"Tidak ada gunanya aku di sini!" Aji ke luar dari ruang IGD meninggal kan Daren dengen kedukaan mendalam karena ke matian Widia.
"Pak, siapa yang akan mengurus kepulangan Nyonya besar?" Rafa mengikuti langkah Aji di belakangnya.
Sedangkan di depan ruang rawat kini berdiri kepala pelayan rumah Aji yang menatap pria berkaca mata yang berdiri tidak jauh dari majikannya dengan tatapan curiga.
Aji menoleh pada Rafa, pria muda berkaca mata yang sedari tadi mengintilinya, "Kau kembali lah ke kantor, urus masalah investor itu." Aku bisa saja gagal dalam menjaga mu Widia, tapi aku tidak ingin gagal dalam karir ku kali ini, aku harus lebih unggul dari bocah itu, bocah yang selalu menyalahkan mu atas ke matian Prita.
Rafa membungkukkan badannya dan menyerahkan kunci mobil Aji, "Ini konci mobil anda, pak." Ujar Rafa.
"Gunakan mobil ku untuk kau kembali ke kantor."
"Baik pak, anda pengertian sekali." Gumam Rafa yang lantas meninggalkan bosnya dan juga kepala pelayan.
Rafa menyeringai saat melewati kepala pelayan rumah Aji.
"Kau urus kepulangan Widia, mana konci mobil mu?" Tanya Aji dengan menepuk lengan kepala pelayan rumahnya.
"Saya ke sini naik ambulans, pak." Ocehnya.
"Ya sudah, kau urus saja kepulangan dan pemakaman Widia sampai tuntas." Ujar Aji yang hendak melangkah pergi.
"Maaf pak, boleh saya bertanya!" Oceh kepala pelayan yang di buat penasaran dengan Rafa, pria yang tidak di kenalnya tapi bisa sedekat itu pada Tuannya. Aji juga tidak ragu untuk menyerahkan mobilnya untuk di bawa Rafa.
"Apa yang ingin kau tanyakan?" Tanya Aji dengan menghentikan langkah kakinya.
Kepala pelayan berdiri di samping Aji, "Jika saya boleh tau, pria muda berkaca mata tadi itu siapa ya, pak?" Tanyanya dengan curiga.
Aji mengerutkan keningnya, "Ada apa kau tanyakan itu? Sudah lah, aku lelah... kau urus semuanya!" Buang buang waktu ku saja, hanya kepala pelayan mau coba coba ikut campur lebih jauh urusan keluarga ku!
Kini Aji benar benar pergi dari rumah sakit, menuju tempat yang akan membuatnya merasa tenang dari hiruk pikuk masalah yang ada dengan menggunakan taksi. Tidak ada yang tau ke mana perginya Aji.
Kepala pelayan membatin, aku merasa ada yang ganjal dengan pria berkaca mata itu, siapa ya dia?
πDi tempat lainπ
Bugh.
Tubuh Haikal mentok di dinding toilet putra sedangkan Novi menyeringai melihat Haikal yang terdesak.
"Mau apa kau bocah plangton?" Tanya Haikal dengan menoleh ke belakang yang hanya ada dinding, siallll gw terpojok.
__ADS_1
Novi mengerlingkan matanya, "Kenapa? Tadi paman galak banget, udah nyeret aku ikut serta ke sini, masa aku di anggurin sih paman? Tanggunggg jawabbb dong paman!" Celoteh Novi dengan menaik turunkan alisnya.
"Hah? Tanggunggg jawabbb apa maksud mu?" Gila ini bocah plangton salah makan atau apa sih?
Dengan centilnya Novi mendaratkan tangan kanannya menyentuh pipi Haikal yang halus, dengan berkata mendayu dayu, "Masa kaya gini aja gak ngerti sih, paman!" Seru Novi, gila ini cowo apa cewek sih, kulit pipinya alusss banget.
Haikal membuang nafasnya dengan kasar, membuat Novi memejamkan ke dua matanya terkena hembusan nafas Haikal yang segar menyapu wajahnya.
Grap.
Tangan kekar Haikal merengkuh pinggang ramping Novi, "Jangan menyesal karena kau yang sudah lebih dulu menggoda ku?" Tatapan mata Haikal tajam pada Novi seakan ingin menerkam buruannya.
Novi mengerjapkan matanya berkali kali, gila kayanya gw beneran udah bangunin macan tidur, mampusss gw niet mau ngerjain malah gw yang bakal di kerjain ini mah, harus kambur ini. Dengan wajah pias Novi berusaha untuk melarikan diri dari Haikal.
Haikal mendekatkan wajahnya pada wajah Novi hendak membenamkan bibirnya pada bibir Novi.
Bugh.
Novi menginjak kaki Haikal dengan kakinya dan hendak melarika diri dari Haikal.
Grap.
Tangan Haikal lebih lincah menangkap pergelangan tangan Novi, hingga Novi menubruk dada bidang Haikal yang keras, "Lo sendiri yang meminta, sekarang mau kabur begitu saja?"
Haikal menyeringai dengan matanya semakin tajam menatap bibir pink Novi yang bergerak tampak menggodaaa mata Haikal, sudah lama aku tidak merasakan manisnya bibir wanita, gw rasa bibir bocah plangton ini lumayan juga.
Novi terkekeh garing, "Hehehe tadi cuma bercanda ko paman, seriusan deh, cuma bercanda." Ujar Novi.
Dengan nafas yang tersengal sengal saat Haikal memberi jeda untuk membiarkan Novi mengambil nafas, dasar bocah plangton... buruk sekali ciumannnnya tapi rasanya manis juga, mengalahkan manisnya madu.
"Emmmmmmh."
Haikal membungkammm lagi bibir pink novi yang tampak menggoda, lidah Haikal bermanufer manja dalam rongga mulut Novi dengan kelembutan tidak ada lagi pukulan yang di lakukan Novi, Novi mencengkrammm kukunya pada dada bidang Haikal.
Dengan mata yang terpejam Novi membatin, begini enaknya ciuman, kenapa beda sama yang pertama paman Haikal lakuin, membuat gw seakan terbuai terbang.
Haikal menarik dirinya dan menjauhkan wajahnya dari wajah Novi, jempolnya terulur mengelap bibir basahhh Novi karena ulah Haikal sendiri, "Maaf sudah membuat bibir mu seperti ini!" Oceh haikal yang lantas menarik tangan Novi ke luar dari toilet putra.
Novi menatap tangannya yang di genggam Haikal menyusuri selaras gedung sekolah membawanya pada kantin.
"Lama amat lo?" Decak Serli.
Dengan kikuk Novi duduk di tempat yang tadi Haikal duduki dan Haikal berdiri dengan kakunya di belakang Nona Muda nya Naira.
"Makan tuh es lo, udah mau cair itu es batunya!" Oceh Sopur.
Novi menyantap es tellernya dengan perasaan yang berkecamuk tanpa berani menoleh pada Haikal namun sesekali matanya melirik pria kaku yang sudah mencuri ciuman pertamanya, gila ciuman pertama gw sama si paman kulkas, akhirnya kesampean juga eh kalo gitu gw ini sekarang pacarnya bukan sih?
Mata Naira menatap tajam pada bibir Novi yang membengkakkk, belum lagi dengan tingkah Novi yang mendadak jadi kalem. Sesekali Naira menatap Haikal dan Novi secara bergantian.
"Huuuuuuh." Naira membuang nafasnya dengan kasar.
__ADS_1
"Kenapa lo, Nai?" Tanya Serli.
"Gak ada, gw cabut duluan ya!" Naira beranjak dari duduknya.
"Lo gak ke kedei, Nai?" Novi angkat bicara dari diamnya.
"Gak, gw langsung balik aja... ka Pram pasti lagi di jalan pulang, gw duluan ya gays!" Naira melambaikan tangannya pada teman temannya dan berlalu di ikuti Haikal yang berjalan mengikuti langkah Naira.
"Terus gw?" Tanya Novi yang bingung akan ke kedei.
"Tenang ada gw yang nganter lo." Oceh Serli yang dapat di dengar oleh Haikal.
Haikal membatin dengan rasa tenang saat Serli mengatakan akan mengantar Novi ke kedei, syukur lah.
Novi mencari keberadaan Elsa, "Elsa ke mana, Ser?" Tanya Novi.
"Udah balik duluan dia ke kedei bareng Juni. Lo sih kelamaan nganter bang Haikal ke toilet, ngapain bae lo?" Tanya Serli yang membuat Novi tersendak.
"Uhuk uhuk uhuk."
Saat hampir sampai gerbang sekolah, Naira menghentikan langkah kakinya dan berbalik badan dengan menatap tajam pada Haikal yang ikut menghentikan langkah kakinya.
"Ada apa, Nona?" Tanya Haikal yang bingung karena Naira menghentikan langkah kakinya.
Naira berkacak pinggang di depan Haikal, "Cuma mau pesen aja sama, bang Haikal."
Haikal mengerutkan keningnya bingung, "Pesan?"
Sesekali Naira menepuk nepukkan satu tangannya pada lengan kekar Haikal saat bicara, "Jangan sakitin, Novi! Biar kata mulutnya suka nyablak, tapi kalo soal cowok dia belom punya pengalaman... dan kalo sampe bang Haikal nyakitin Novi, maininnn perasaannya, sama aja bang Haikal ngajakin ribut sama Nai!" Naira menceramahi Haikal seolah sedang menggurui adiknya sendiri.
Haikal membuang nafasnya lega, "Maaf Nona, jika ingin bicara... bicara saja tanpa harus menepuk nepuk lengan saya, itu akan menjadi ancaman untuk Nona Muda sendiri." Ujar Haikal dengan menepiskan tangan Naira dari lengannya.
"Ihs songong banget nih bang Haikal sekarang!" Naira tersontak kaget dengan ocehan Haikal.
"Nona tidak percaya dengan perkataan, saya?" Haikal menyeringai, di belakang ada singa anda Nona yang siap menerkammm Nona kapan saja dan di mana saja.
Naira menggeleng, ancaman terbesar ya paling ka Pram kalo lagi ngamukkk, tapi mana mungkin secara ka Pram kan pasti lagi di jalan pulang dari kantor, kecuali. Naira terperengah dengan tangan yang menutupi mulutnya.
Haikal menganggukkan kepalanya saat melihat reaksi wajah Nona Muda nya Naira, sepertinya Nona Naira sudah mengerti dengan perkataan gw.
"Mampusss gw, bang!" Dengan ragu Naira membalikkan tubuhnya.
Semakin lemas kaki Naira untuk melangkahkan ke dua kakinya untuk sampai pada mobil sedan putih mewah yang terparkir di depan gerbang, berdiri seorang pria gagah nan tampan rupawan dengan setelan jas hitam yang melekat pada tubuhnya hingga wajah masam Pram tidak lagi bisa terhindar dari pandangan Naira.
Pram bersandar pada pintu mobil yang tertutup dengan tangan kirinya berada dalam saku celana yang ia kenakan, sedangakn kakinya menyilang.
"Lama sekali bocah nakalll itu!" Pram mendengus kesal.
...πππππ...
Salam manis author gabut
__ADS_1
Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen