Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Memutar otak


__ADS_3

...💖💖💖...


"Bisa saja sih kita lebih lama di Jepang. Tapi ada syaratnya." ucap Pram dengan menyeringai, serta menatap Naira dengan nakal.


Pasti ka Pram sudah sangat menginginkan nya, tapi kan bagai mana kami bisa melakukannya... jika punggung ku saja masih terasa nyeri saat di bawa berbaring.


Naira menggelengkan kepalanya, menepis otak jernihnya yang kini tercemar dengan otak mesummm Pram, "Jangan aneh aneh ka! Tidak lihat apa masih sakit!" ucap Naira dengan melirikkan punggungnya.


Pram menyeringi, otak bocah ini.... sudah mulai mesummm!


Pram berkata dengan lembut, "Katakan pada ku, kau juga sudah merindukan itu kan! Hem!" Pram mengarahkan tatapannya pada sesuatu yang ada di bawah sana, lalu mengerlingkan matanya pada Naira, "Otak dan ekspresi wajah mu sudah mengatakan nya, jika kau menginginkan nya sayang!" tambahnya lagi.


Naira tersipu malu, dengan pipi merona, memalingkan wajahnya dari Pram.


Pram menyentuh dagu Naira, membawanya hingga wajah mereka saling tatap. Pram dapat melihat tatapan Naira yang malu malu kucing tapi mahu.


Pram mendekatkan wajahnya dengan wajah Naira, semakin dekat membuat ke duanya tanpa berjarak. Pram berbisik di telinga Naira.


"Aku merindukan mu!" ucap Pram yang membuat bulu bulu halus Naira meremanggg, hatinya bergetar, ada nyala kembang api yang meledak di hatinya.


Ke dua tangan Pram memegangi lengan Naira. Ia menenggelamkan bibirnya dengan dalam pada bibir Naira, menyesappp bibir bawah Naira, menyelusuppp kan lidahnya ke dalam mulut Naira, membuat Naira memejamkan ke dua matanya. Menikmati permainan ciuman yang Pram lajukan padanya, hingga ciuman yang Pram lakukan semakin menuntut.


Lidah Pram yang berhasil masuk ke dalam mulut sang istri. Mengabsen sederet gigi putih yang setiap senyumnya, membawa ke hangatan dan ke damain tersendiri untuk Pram.


Naira membuka ke dua matanya dengan ke dua tangan yang mendorong dada bidang Pram, saat mengingat jika mereka sedang berada di rumah sakit.


"Emmmm." ka udah, tar kalo ada yang masuk ke dalam sini, bisa malu aku ka!


Tanpa memperdulikan ucapan batin Naira, Pram tetap menyesappp lidah wanita yang sudah lama ia rindukan permainan nya. Menari narikan lidahnya di dalam sana.


Kini Pram menyusuri leher Naira dengan bibirnya, yang memberikan gigitan kecil dan esapannn, satu tangan Pram bergerak ke salah satu gundukan kembar, meremasss nya dengan perlahan membuat Naira mendesahhh dan mengeranggg. Seakan dirinya mendapat sengatan cinta dari Pram.


"Emmmmhh aaahhhh."


Zang yang terlelap merasa terusik dengan suara suara aneh, yang belum menyadari jika Pram tengah mencumbu Naira yang sedang berada di atas ranjang rawat.


"Ayo sayang, ke luarkan suara mu! Jangan kau tahan!" ucap Pram dengan tangan besarnya, yang mulai menyelusuppp di balik baju pasien yang di kenakan Naira, merangkak naik meraih gundukan kembar dan memilinnn puncaknya.

__ADS_1


Naira menggigittt bibir bawahnya, merasakan sensasi yang ia rindukan. "Eeemmmmmmmh uuuuh pelan pelan ka!"


Zang yang berfikir jika ia sedang berada di atas tempat tidurnya yang besar, membalikkan badan nya ke kiri, namun terasa sempit untuk bergerak. Zang membalik kan badannya ke kanan dan ia terjatuh ke lantai.


Bruk.


"Aduuuhhh." pekik Zang saat tubuhnya menyentuh lantai rumah sakit yang dingin.


Membuat Pram dan Naira menyudahi aktivitas setengah panasnya.


Naira menatap ke arah Zang yang tergeletak di atas lantai rumah sakit, dekat dengan sofa, "Itu pasti sakit kan ka!" cicit Naira melihat Zang yang mengelusss lengannya.


Zang melanjutkan tidurnya, dengan mata yang terpejam. Merasa tidak masalah dengan posis ia saat ini tidur meski hanya di lantai, bukan di sofa.


Pram menggaruk kepalanya dengan frustasi, menatap Naira dengan tatapan mengiba, karena senjatanya tidak jadi merasakan ke hangatan milik intiii Naira.


"Itu tidak seberapa rasa sakitnya! Punya ku lebih sakit lagi sayang!" Pram merasakan miliknya yang berdenyut, mengerasss dan meneganggg.


"Ya udah, kaka tuntaskan aja sana sendiri!" celetuk Naira dengan polosnya, memejamkan ke dua matanya di atas tempat tidur, dengan memiringkan sedikit tubuhnya.


"Sayang! Tiba tiba aku merasa takut untuk ke kamar mandi, kau temani aku!" ucap Pram dengan berbisik manja di telinga Naira. Lengan besarnya menggendong Naira, membawanya serta ke dalam kamar mandi.


"Astaga kaka!" pekik Naira dengan tangan yang memukulll mukulll dada Pram yang bidang.


"Suuuut kecil kan suara mu, jika tidak... kau akan membangunkan sslsh satu mafia bodoh!" celetuk Pram dengan mendudukan Naira di atas pinggiran westafel.



"Kaaa, tapi ini rumah sakit! A- aku bagai mana dengan punggung ku? Apa sudah boleh kena air?" tanya Naira yang merasa gelisah, jika Pram melakukan nya saat ini juga.


"Aku sudah bertanya pada dokter Akira, luka mu sudah bisa kena air meski hanya dengan perlahan, jangan langsung mengguyurnya, nanti akan ku bantu kau untuk mandi!" ucap Pram dengan tegas, setelah mengunci pintu kamar mandi yang ada di ruang rawat Naira.


Tangan besarnya menyingkap baju pasien yang tengah Naira kenakan. Baju yang berbentuk dress polos, berwarna biru langit dengan pwnjwng yang sebatas lutut. Memudahkan Pram untuk melancarkan aksinya.


"Untung saja, kau sudah tidak menggunakan selang infus dan kantung darah, kateter juga sudah di lepas dari beberapa hari yang lalu. Jadi mudah kan untuk kita melakukan penyatuannn." gumam Pram, dengan tangannya yang menurunkan sleting celana yang ia pakai.


"Kaka yang menginginkan ini!" ucap Naira dengan mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


"Tapi kau juga kan!" ucap Pram dengan menatap Naira dengan damba.


"Ihsss. Harusnya aku sudah bisa ke luar dari rumah sakit kan, ka? Semua alat medis sudah terbebas dari tubuh ku, dokter menunggu apa lagi untuk aku bisa ke luar dari rumah sakit, ka?" cicit Naira.


Pram tidak menghiraukan lagi pertanyaan Naira, ia menenggelam kan wajahnya di belahan dada Naira, memberikan tanda tanda ke pemilikan di sana dengan warna ke unguan.


Naira meremasss kepala Pram, menggeliattt dengan bibir yang melenguhhh.


Tangan Pram bergerak di bawah sana, menyentuh bagian inti Naira, menerobosss masuk, mengobrak abrik bagian yang sempit itu dengan satu jarinya.


"Aaahhh kaaaa geliiii eeeeehhhh." cicit Naira dengan kepala yang mendongak, merasakan sensasi yang Pram berikan padanya.


Pram menyeringai, mengeluarkan jarinya dari dalam sana, saat merasakan milik Naira yang menghangat, dengan cairan yang membasahi miliknya.


Pram melabuhkan bibirnya pada bibir Naira, membelittt lidah sang istri. Dengan perlahan Pram mengarahkan miliknya memasuki goa sempit milik Naira.


Menusukkan senjatanya semakin dalam dan dalam hingga mentoggg, lalu mengayunkannya dengan pelan dan perlahan.


"Lagi ka, terus aaahhh eeeehhh uuuhhh lebih dalam lagi!!! Aaahhh." racau Naira saat Pram semakin mempercepat ritme permainannya, dengan menatap Naira secara intens. Sesekali Naira menggigittt bibirnya, merasakan nikmatnya permainan Pram.


Kamar mandi ruang rawat Naira, menjadi saksi bisu penyatuan Pram dan Naira. Beberapa kali Pram memuntahkan cairan hangatnya di dalam milik Naira. Begitu pun Naira yang merasakan hangatnya milik Pram, saat ke luar. di dalam miliknya.


"Aku mencintai mu! Selamanya kau adalah milik ku!" Pram menghujani Naira dengan kecupan, sebenarnya kau sudah bisa meninggalkan rumah sakit, tapi aku hanya ingin kau ke luar dari rumah sakit... dalam ke adaan yang baik. Aku ingin kau benar benar pulih kembali.


"Aku juga mencintai mu ka! Aku hanya milik mu! Siapa bilang aku milik orang lain? Aku hanya akan menjadi milik mu! Dan kau akan tetap menjadi milik ku! Pramana Sudiro hanya milik Naira putri!" ucap Naira dengan memeluk Pram.


"Biarkan aku membantu mu bersih bersih!" Pram mengurai tangan Naira dari tubuhnya.


"Aku beruntung memiliki mu, ka!" cicit Naira.


"Jelas kau harus beruntung! Hanya aku satu satunya pria yang tampan, berani, berkarisma, kaya raya, berkuasa, akan melakukan apa pun demi mu!" ucap Pram dengan bangga.


......................


...💖 Bersambung 💖...


Terima kasih sebelumnya, yuk komen apah biar tambah tambah masukan buat author nya 🤭🤭

__ADS_1


__ADS_2