Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Di tinggal tidur


__ADS_3

...💖💖💖...


"Bukan kejutan jika aku mengatakan nya saat ini juga, sayang!" tangan Pram menarikkk tubuh Naira, membuat wajah ke duanya saling berhadapan.


Naira menatap dalam sepasang bola mata Pram yang kini terlihat teduh, membawanya semakin damai dan tenang saat sepasang mata Pram, ia pandang.


Ka Pram kalo di lihat kaya gini, kenapa makin cakep aja ya? Kalo kata Novi mah ya, semakin meleleh hati neng, abang! Naira menelan salivanya dengan sulit.


Sementara Pram, semakin terhipnotis dengan gerakan bibir yang Naira lakukan, membuat jiwa Pram merontaaa semakin ingin menyelamai bibir yang ramun dan merekah.


Tangan Pram menyelusuppp di balik pakaian yang Naira kenakan, tangannya berusaha melepas kait yang masih terpasang.


Bugh.


Pram membalik posisi Naira yang kini berada di bawah kungkungan nya.


Naira membola, "Ti- tidur ka, katanya ngantuk!" ucap Naira dengan tergagap.


"Tapi sekarang mata ku sudah tidak mengantuk, jika tidak melakukan olahraga malam terlebih dulu!" Pram menyeringi.


Bugh.

__ADS_1


Naira memukulll dada bidang Pram.


"Ka Pram nakal!" Naira mendorong Pram dengan sekuat tenaga, menjauhkan tubuh Pram darinya.


Pram mengerutkan keningnya, "Aku nakal? Ini baru bisa di bilang nakal, sayang!" Pram mendekatkan wajah nya di leher Naira, menyesappp leher Naira, membuat Naira kegelian dengan bulu halus yang meremanggg.


Berkali kali Naira menguap, di saat Pram melabuhkan bibirnya pada leher jenjang Naira, memberikan tanda tanda kepemilikan dirinya.


"Hooouuumm kaaa ahhhh ngantuk!" ucap Naira dengan mata yang mulai terpejam.


"Tunggu sebentar sayang, baru juga pemanasan!" bibir Pram menyusuri hampir ke dada Naira.


Pram mengerutkan keningnya, seharusnya Naira ku melenguhhh kan? Dan tumben tubuhnya tidak lagi merespon sentuhan ku! Apa jangan jangan ---


Bugh.


Pram menjatuhkan tubuhnya di samping Naira, dengan wajah kecewa, menatap wajah pulas Naira dengan tatapan yang nanar.


Sialll... aku di tinggal tidur! tau begitu, tadi langsung saja ku tanam benih ku padanya, kalo begini kasian kau junior! Kau lihat itu, Nona mu sudah terlelap ke alam mimpi.


🌸🌸🌸

__ADS_1


Sementara di kamar orang tua Naira, Atmaja dan Heni. Tengah terjadi perdebatan yang cukup alot, dengan urat rahang yang sama sama mengencang, alias wajah kesal, ke dua mata yang saling melotot.


"Pokonya mama gak mau tau, besok papah harus bilang terima kasih pada menantu kita, pah!" seru Heni.


"Buat apa papa bilang terima kasih, jika orangnya sendiri sudah mengakui... apa yang ia lakukan atas dasar ke keluargaan! Harus nya mama mengerti itu!" sungut Atmaja dengan memunggungi tubuh Heni, dengan berkacak pinggang.


Sreek.


Heni menarik bahu Atmaja, hingga ke duanya saling berhadapan kembali.


"Asal papa tau ya! Kalo bukan karena Pram, mungkin saat ini papa sudah di jadikan tersangka atas kecelakaan yang terjadi. Apa lagi sudah memakan korban meninggal, pah! Nak Pram menutup mulut keluarga korban, agar tidak membawa masalah ini ke jalur hukum... dengan sejumlah uang yang tidak mungkin sedikit pah! Coba papa pikir itu!"


"Iya tapi papa tidak tau apa apa, mah. Ini pasti ada orang yang berusaha untuk menjebak papa." Atmaja mendudukan dirinya di tepian kasur.


"Entah itu ada yang menjebak papa, atau ini kecelakaan... tetap saja, mama mau Papa berterima kasih pada Pram!" kekeh Heni dengan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.


...💮💮💮💮💮...


......................


...💖 Bersambung 💖...

__ADS_1


Terima kasih sebelumnya, yuk komen apah biar tambah tambah masukan buat author nya 🤭🤭


__ADS_2