
...💖💖💖...
"Yang pasti gw bersenang senang dengan anak itu! Dan saat ini, pasti tubuhnya akan lebih membuat gw melayang dari saat itu!" Ucapnya langtang.
Dor.
Pram memuntahkan pelurunya ke samping kaki Deri.
"Akh!" Ke dua tangan Deri langsung menutupi ke dua telinganya.
"Apa rencana mu sebenar nya?" Tanya Pram dingin.
"Kasih tau gw, di mana bocah itu sekarang! Baru gw akan kasih tau lo!" Deri tersenyum sinis, menutupi rasa takutnya dengan berjalan ke samping di mana ada sebuah kursi yang tadi di duduki Dega.
Deri melirikkan matanya pada kursi, kali ini gw harus bisa kabur dari tempat ini, gw gak mau mati konyol, sialannn itu anak, gw akan habisinnn bocah sialannn.
Sebelum tangan Deri menggapai kursi, Pram lebih dulu memuntah kan pelurunya ke arah kepala Deri.
Dor.
"Kau sendiri yang mengambil keputusan." Pram menyeringai, puasss menghabisiii pria yang dulu pernah menculik Naira, namun dirinya tidak berhasil menguak alasan di balik penculikan itu sendiri.
Pram melangkah ke luar dengan menyimpan kembali senjataaa apiii nya di balik saku jaketnya.
"Kau bereskan sisanya!" Seru Pram saat melewati Dega yang berdiri di depannya.
"Beres bos." Apa bos Pram sudah mendapat jawabannya ya? Kenapa pria itu malah tidak mau mengaku sama gw ya?
...🍂 Beberapa hari kemudian 🍂...
Waktu yang di tunggu pun tiba. Anak kelas 3 mengikuti ujian kelulusan mereka. Tanpa adanya Elisa yang hilang di telan bumi, Ratna yang masih kritis.
Pram semakin di sibukkan dengan pekerjaan, ia harus cepat menyelesaikan pekerjaan nya yang tidak bisa di serahkan pada Dev.
Intensitas bertemu dengan Naira pun kini berkurang, ia sudah menugaskan Haikal dan Dega untuk menjemput serta menemani Naira jika akan ke kedei.
Pram kembali ke kediaman Pramana di saat larut. Namun di sela sela kesibukan nya Pram tidak pernah absen untuk mengingatkan Naira makan di saat jam istirahat sekolah.
Apa pagi Pram sudah hafal dengan jawdwal istri kecilnya kini. Sebelum Naira menunjukkan rasa protesnya akan kesibukan Pram. Pram lebih dulu memberikan perhatian kecil pada Naira.
Senyum Naira terukir indah saat mendapat pesan dari Pram.
"Jaga makan mu! Jangan makan sambal terlalu banyak!"
"Iya suami ku!" Balas Naira.
"Kenapa lo, Nai?" Tanya Novi saat mendapati Naira menatap layar hapenya dengan mata berbinar dan senyum yang tersungging di bibirnya.
"Ah lo, masih telmi aja Nov!" Ejek Serli dengan menyantap mie ayam yang ada di hadapannya.
__ADS_1
"Emang lo tau, Nai kenapa?" Novi meraih hapenya yang ada di saku seragamnya, saat merasakan benda itu bergetar.
Matanya membulat saat membaca pesan dari Haikal.
"Kalo makan jangan banyak bicara! Habiskan saja dulu makanan mu!"
"Ko paman Haikal tau sih kalo gw lagi makan sambil ngoceh?" Novi bertanya pada dirinya sendiri.
"Lo lupa kalo paman Haikal lo itu, seorang bodyguard?" Nyinyir Serli.
"Astaga iya, gw lupa. Pasti dia lagi ngawasin lo Nai?" Novi menepuk keningnya sendiri.
"Udah cepat abisin makan lo! Dikit lagi bel istirahat berakhir nih!" Naira mengingatkan ke duanya.
"Gw perhatiin nih ya Nai! Pak Pram udah gak pernah jemput lo lagi ya sekarang?" Tanya Serli.
Naira mengangguk kan kepalanya, "Ka Pram lagi sibuk sama pekerjaan nya."
"Kalian gak lagi bertengkar kan?" Serli menatap Naira dengan penuh selidik.
"Ya gak lah."
"Apa pak Pram lagi deket lagi Nai, sama cewek di luaran sana?" Tebak Novi.
"Ya gak lah Nov. Mana ada yang berani sekarang deketin ka Pram." Ujar Naira dengan santai.
"Lo gak takut pak Pram di deketin apa di goda ama cewek di luaran sana, Nai?" Kini Serli ikut ikutan mengimpori.
"Wiiiih yakin amat lo, Nai? Kayanya percaya dirinya pak Pram udah nular nih ke lo, Nai!" Serli beranjak dari duduknya mengikuti Naira yang di ikuti Novi.
"Hahahha, iya kali gw udah ke tularan percaya dirinya ka Pram." Naira tergelak.
Ke tiga kembali ke kelas mereka.
"Lo yakin gak kalo paman Haikal setia sama, lo?" Kini Serli menguji Novi.
Novi mengerdikkan bahunya, "Entah lah, gw aja masih bingung sama ibu. Sampe sekarang ibu belum juga kasih restu buat gw jadian sama paman Haikal."
"Lah terus hubungan lo sama paman Haikal, udah sejauh mana?" Tanya Serli.
"Sejauh mana ya! Jalan di tempat kali mah!" Novi mendudukan dirinya di kursi nya.
Daren memperhatikan wajah Naira yang kian hari kian bersinar di matanya, coba aja lo bukan istrinya ka Pram, mungkin udah gw rebut lo buat jadi milik gw, sayangnya lagi gw harus sadar diri buat rebut lo dari tangan ka Pram!
Plak.
Juni menepuk bahu Daren.
"Sadar bro! Dia kaka ipar lo!" Celetuk Juni dengan suaranya yang pelan.
__ADS_1
"Ihs lo pikir gw kesambet?" Daren membuang pandangannya dari Naira.
"Kali aja otak lo ke geser... terus buat lo jadi cowok perebut bini orang." Ledek Juni.
"Sialannn lo, congor lo abis makan cabe rawit apa cabe setan?"
"Cabe setan ama cabe rawit, sama bae bege lo! Gak ada bedanya!" Ujar Juni dengan memainkan pulpen yang ada di tangannya.
"Ya abisnya lo, kalo ngomong gak di saring lagi, ngerocos bae lo udah kaya mobil gak ada rem!" Ujar Daren.
Juni diam terpaku di tempatnya, tidak mendengarkan apa yang di katakan Daren. Membuat Daren kini menatap Juni dengan keningnya yang mengkerut.
Daren membatin, ini anak mikirin apa sih? Gw ngomong gak di sautin.
Juni melalang buana dengan pemikirannya sendiri. Elisa ke mana ya? Masa iya itu anak pergi gitu aja, atau ada orang yang nyulikkk Elisa? Terus Elisa di bawa ke luar negeri, di jadiin wanita penghiburrr? Ah gila, mikir apa sih gw! Masa iya pemikiran gw sejahat itu ke Elisa.
Prak.
Daren menepuk bahu Juni, "Jangan gila lo! Ngelamun gak ngajak ngajak gw!"
"Sialannn lo, siapa juga yang ngelamun!" Ujar Juni.
🍂Di kediaman Aji🍂
Aji sudah kembali ke kediamannya, namum kini tubuhnya tidak lagi seperti dulu. Saat ini ia harus berjalan dengan menggunakan tongkat untuk membantunya berjalan.
Aji berdiri di hadapan ke dua pria berbadan tegap, namun tampang ke dua pria itu kini hanya menatap Aji dengan wajah pias.
Prak prak bugh.
Tongkat Aji ia pukulkannn 2 kali ke arah lengan pria berbadan tegap yang ada di hadapannya. Dengan terakhir ia mengarahkan ujung tongkat pada perut pria lain yang ada di sampingnya.
"Uuuhhhkk sakit bos!" Rintih pria yang perutnya di pukulll dengan ujung tongkat.
"Kalian bodoh! Begitu saja tidak becussss." Omel Aji.
"Maaf bos, kami tidak tahu jika kami di ikuti."
"Alasan saja kalian!" Aji geram di buatnya.
Prang.
...💮💮💮💮💮...
......................
...💖 Bersambung 💖...
Terima kasih sebelumnya, yuk komen yuk, tambah tambah masukan buat author.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalin jejak like oke! 😊