Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Rubah tua


__ADS_3

...πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Naira meraih pulpen yang ada di atas meja dengan kasar, matanya nyalang menatap Pram yang tersenyum rubah.


Batin Naira, lihat saja nanti, aku akan membuat mu menyesal karena sudah membuat pernyataan seperti ini untuk ku, akan ku buat hari mu di neraka Pramana Sudiro orang sok kaya, sok memiliki kekuasaan, sumpah... aku sangat membenci mu.


Naira menandatangani surat pernyataan itu di depan Pram dan Dev dengan perasaan dongkol, kesal karena ia tidak memiliki pilihan lain.


Pram mengambil surat pernyataan dari atas meja dengan tangan kanannya, "Gadis pintar." oceh Pram saat melihat kertas yang kini sudah di bubuhi tandatangan Naira.


Lalu ia menyerahkan nya pada Dev.


"Atur semua nya, Dev." ucap Pram dengan menatap lekat wajah Naira yang pucat dan dengan sekali tarikan tubuh Naira sudah berada dalam gendongan nya membawanya pergi dari ruang kerja nya.


Ternyata benar dia sakit, ku pikir dia sengaja menggunakan riasan wajah yang di buat pucat untuk berpura pura sakit, tapi ternyata aku salah... hawa panas di tubuhnya bisa aku rasakan. Pram membatin.


"Haiii, turunkan aku!" ucap Naira dengan sangat kesel dengan kedua tangan nya memukul mukul dada bidang Pram.


"Kau itu memukul atau memijat ku?" tanya Pram dengan sinis.


"Turun kan aku pak Pramana Sudiro!"


"Mau diam, atau ku lempar kau ke kandang buaya, hem?" ucap Pram tanpa menoleh ke wajah Naira dan bukan Naira namanya jika ia langsung diam.


Mau apa sih sebenarnya dia ini? batin Naira.


"Tapi aku bisa jalan sendiri, pak! aku bukan anak kecil yang tidak bisa berjalan." gerutu Naira.


Dev yang melihatnya geleng geleng kepala tanpa sadar ia tersenyum melihat sikap Pram pada Naira, tadi bersikap galak dan kasar dan sekarang menggendong nya tapi juga memarahi nya.


Pram melangkah kan kaki nya menaiki anak tangga menuju lantai dua dengan tangan yang menggendong Naira.

__ADS_1


Perasaan Naira mendadak tegang, saat Pram menaiki anak tangga, pikirannya langsung terarah pada satu pintu.


Mati gw, mau apa rubah tua ini bawa gw ke kamar, jangan sampe dia perkosaaa gw. teriak Naira meski dalam hati.


Naira menarik kerah kemeja yang di kenakan Pram, "Pak, anda tidak mungkin macam macam kan dengan saya?"


Pram menatap Naira dengan mata meruncing dan kedua alis yang mengkerut, seolah sadar dengan perbuatannya Naira langsung melepaskan tangannya dari kerah kemeja Pram.


"Apa perlu aku macam macam dengan orang yang sebentar lagi akan menjadi istri ku?" ucap Pram dingin.


"Bisa kan kita menunda nya? beberapa bulan lagi saya akan ada ujian akhir, setidaknya biar kan saya ujian dengan tenang!" seru Naira.


Pram diam tidak menjawab.


Enak saja mau menunda, yang ada kau itu mau lari dari ku, semakin cepat aku menikahi mu, semakin cepat pula aku bisa menyiksa mu. batin Pram.


"Saya mau pulang pak dan satu lagi di mana papa saya? saya harus membawa papa saya pulang... saya sudah melalukan apa yang bapak mau, sekarang gantian bapak yang tepati perkataan bapak." cicit Naira lagi yang bicara tanpa kenal rem, tiba tiba jadi berani banyak bertanya pada Pram.


Pram membuka pintu yang tidak terkunci itu dengan menggunakan satu kakinya.


Pram menidurkan Naira di atas tempat tidur dan meluruskan kaki Naira yang di gips.


Dasar rubah tua, tuli, bisu, di tanya tidak menjawab, mau pura pura baik ya sama gw? apa cuma akal buluss dia aja... gw harus waspada ini. batin Naira.


Naira langsung menduduk kan diri nya menatap Pram yang hanya diam, "Pak, jawab pertanyaan saya? anda tidak menyakiti papa saya kan?"


Pram ikut mendudukkan dirinya di pinggir kasur menatap bibir pucat Naira, mata sayup Naira, "Ternyata selain pintar, kamu juga bawel ya? seperti nenek tua yang banyak bicara!" Pram menyentil dahi Naira.


"Awh, sakit... itu tangan apa besi sih?" tanya Naira.


Pram mengangkat dagu Naira dengan jari telunjuk nya, "Kenapa sudah tau sakit, masih memaksakan diri untuk datang ke sini? hem!" tanya Pram tanpa berniat untuk menjawab pertanyaan Naira.

__ADS_1


Naira menepis tangan Pram dengan kasar.


"Anda jangan kurang ajarrr ya pak! sentuh sana sentuh sini, saya ini bukan barang, saya manusia! punya rasa punya hati, tidak seperti pak Pram yang tidak punya hati, bapak sendiri kan yang memberikan saya waktu 1 hari, ya saya datang untuk menepati nya, tidak ada waktu untuk beristirahat bagi saya jika papa saya masih terus bersama dengan anda, sekarang kata kan... dimana papa saya?"


Pram menyeringai, "Jangan salah kan saya, jika saya tidak bisa menahan nya." Pram menelan saliva nya dengan susah payah saat kedua matanya tidak mau lepas dari bibir Naira yang terus mengoceh.


Seketika Naira di buat bingung dengan perkataan Pram, "Menahan apa?"


Tanpa meminta persetujuan dari Naira, Pram menyambar bibir mungil Naira, melu mat nya dengan lahap, membuat Naira semakin terperengah atas sikap tidak terduga dari seorang Pram yang sedari tadi terus mengabaikan setiap pertanyaan nya.


Ciuman pertama gw, hiks masa gini si? batin Naira.


Pram menahan kedua tangan Naira dengan tangan kekarnya saat ia ingin mendorong tubuh Pram untuk menjauh, saat di rasa Naira hampir kehabisan nafas, Pram baru melepas kan pagutan nya.


"Kau gila, pak Pram." ucap Naira terengah engah dengan tangan menyapu bibir nya yang basah karena ulah Pram.


"Itu hukuman untuk mu karena banyak bertanya." ucap Pram tegas dengan mendorong bahu Naira untuk menidurkannya.


Pram bangkit dari duduknya dan menyelimuti Naira dengan selimut, "Beristirahat lah!" ucap nya ketus.


"Dasar pak Pram, rubah tua!" Naira melempar bantal yang ada di sebelah nya ke arah Pram namun tidak mengenai nya.


Brakk. Pram menutup pintu depan kasar.


Ponsel Naira yang ada di saku celana jins nya berdering.


🎢🎢🎢🎢


Bersambung....


...πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–...

__ADS_1


Salam manis, jangan lupa dukung author dengan jempol dan komen ya 😊


No komen julid nyelekit


__ADS_2