
...πππ...
"Kalian, ikut bapak ke ruang bk!" Seru pak Asep dengan suara yang menggelegar.
"Saya mah gak kan, pak?" Tanya Novi dengan wajah tanpa dosa.
Pak Asep menatap tajam pada Novi, "Novi! Apa perlu bapak panggil orang tua mu ke sekolah?"
"Ihs si bapak mah, ngancem mulu bisanya!" Sungut Novi.
Pak Asep meninggalkan kelas dengan hati yang gondok, anak anak jaman sekarang! Bisanya cari ributtt mulu!" Sungut pak Asep.
"Hayo lah kalo gitu, siapa takut... gw bukan pengecut kaya lo, biang onar!" Novi meledek Ratna dengan tatapan yang tajam.
Ratna menatap tajam Naira, "Urusan kita belom selesai?" Saat ini lo bisa aja lolos dari gw, tapi setelah ini, gak akan ada kata lolos lagi buat lo!
Ratna melangkah pergi meninggalkan kelas menuju ruang bk di susul Novi dan juga Naira.
Baru beberapa langkah Naira berjalan, ada rasa nyeri di bagian pinggang belakangnya tangannya pun dengan spontan memegangi pinggang belakangnya yang terasa nyeri.
"Awwwh." Rintih Naira.
Novi, Serli dan Elsa yang melihat serta mendengarnya pun langsung menghampiri Naira.
"Lo gak apa, Nai?" Tanya Serli dengan khawatir.
"Gak apa ko, beneran." Naira menarik sudut bibirnya ke atas, masa cuma kaya gini aja gw ngeringis sih.
Novi ikut mengoceh, "Tapi tadi lo ---"
Naira menggandeng lengan Novi dan membawanya berjalan, "Kita udah di tunggu di ruang bk." Oceh Naira.
"Ihs lo Nai, bikin khawatir aja!" Sungut Serli.
Elsa menepuk punggung Serli, "Naira pasti gak apa apa ko, baru segitu mah kecil... ngadepin pak Pram yang kaya singa aja bisa si Naira jinakin!" Oceh Elsa yang membuat Serli jadi terkekeh.
"Lo kata pawang sohib gw itu?" Ledek Serli yang kini duduk di kursinya.
"Gw masih gak habis fikir lo sama Ratna... kenapa lagi coba sama itu anak!" Seru Elsa dengan mendudukan dirinya di kursi milik Naira dengan menghadap ke arah Serli.
Sopur menghampiri ke duanya dengan berdiri di antara ke duanya, "Kalo tebakan gw, Ratna di putusin sama Daren."
Elsa dan Serli menatap Sopur.
"Serius lo?" Tanya Elsa.
"Kata siapa lo?" Tanya Serli.
"Tadi sebelum kalian balik ke kelas, gw liet Daren ngambil tasnya terus pergi gitu aja... ada Juni juga liet ko!" Oceh Sopur.
"Lo tau, Jun?" Tanya Serli dengan menatapa Juni.
"Gw gak tau kapan Daren ngambil tasnya, yang gw tau... gw balik kelas itu tas Daren udah gak ada." Juni menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Novi menatap Serli, "Kalo udah kaya gini, pak Pram bakal tau gak? Secara ini Naira lo yang di ganggu lagi bae ama uler keket!" Oceh Novi.
Serli mengerdikkan bahunya, "Entah lah."
__ADS_1
"Pak Pram siapa maksud lo, Nov? Apa hubungannya sama Naira?" Tanya Sopur dengan bingung.
Serli menggeprak lengan Novi.
Prak.
"Congor lo, e'ge! Minta di beri!" Sungut Serli.
"Ihs sorry rem blong!" Celetuk Novi.
Novi, Ratna dan Naira kena hukum dari pak Asep. Tidak jauh dari kata toilet, hanya bedanya hukuman Ratna lebih berat satu minggu membersihkan toilet putri karena sudah berkali kali berbuat onar. Sedangkan Novi hanya membela Naira. Novi dan Naira di hukum 3 hari untuk membersihkan toilet guru.
πDi markasπ
Pram melangkah menuruni anak tangga.
"Haikal, Dega!" Pram menyerukan nama Haikal dan Dega.
"Saya, bos!" Seru Dega yang sudah bersiap di bawah tangga dengan Haikal.
"Kita kembali ke Hotel Start." Seru Pram dengan tegas.
"Beres bos!" Seru Dega.
Selama Dev tidak ada di Indonesia, Haikal yang menjadi kanan tangan Pram, termasuk menjadi supir sekaligus asistennya.
Di dalam mobil Pram tengah menunggu kabar dari Rafa dan juga Maid yang di tugaskan untuk menjalankan tugas besarnya.
Dreeet dreeet dreeet.
Pram menyandarkan punggungnya pada sandaran mobil dengan pandangan menoleh ke luar jalan.
Sudut bibirnya menarik ke atas, sebentar lagi kabar kematian Widia akan sampai di telinga pria tua bangka itu. Di saat itu pula saham mu sudah berada dalam genggaan ku!
"Ada apa?" Tanya Haikal pada seseorang yang menghubunginya.
[ "Nona Naira terkena masalah di sekolah, bos!" ] Suara seseorang yang ada di sebrang sana.
"Apa ia terluka?" Tanya Haikal dengan melirik bos besarnya lewat kaca spion.
[ "Jika di lihat dengan kasat mata, tidak bos... mungkin bos besar Pram yang akan tau terluka atau tidaknya." ]
"Siapa yang melakukannya?" Tanya Haikal.
[ "Teman satu kelasnya, bos." ]
"Awasi terus, beri pelajaran jika orang itu bertindak jauh pada Nona." Ujar Haikal yang membuat Pram langsung menatap tajam pada Haikal.
"Baik, bos."
Haikal memutuskan sambungan teleponnya sadar akan dirinya yang tengah di tatap tajam oleh bosnya Pram, Haikal pun langsung angkat bicara.
"Ada yang ingin mencelakai Nona Muda, bos!" Seru Haikal yang sesekali melirik Pram yang duduk di kursi belakang.
"Apa Naira terluka?" Tanya Pram dengan suara yang dingin.
Belum sempat di jawab Haikal, hape Pram lebih dulu berdering.
__ADS_1
Dreeet dreeet dreeet dreeet.
πΆ πΆ πΆ
Pram melihat nama kontak yang menghubunginya, lalu mengangkatnya.
"Ada kabar apa lagi?" Tanya Pram dingin dengan hati yang berkecamukkk memikirkan keadaan Naira di sekolah.
[ "Misi berhasil, bos." ]
"Bagus... apa ada yang curiga pada mu?" Tanya Pram dengan menyeringai.
[ "Tidak ada yang curiga bos, bos tenang saja... ada yang menjadi kambing hitamnya." ] Ujar maid orang kepercayaan Pram yang bertugas di rumah besar Aji.
"Siapa?"
[ "Nona Jessica, kebetulan tadi Nyonya besar sedang berbicara dengan Nona Jessica di ruang tamu." ]
Pram mengerutkan keningnya, "Mau apa wanita itu bertemu dengan wanita ular?" Tanya Pram.
[ "Dari yang saya dengar, Nyonya Widia menanyakan hubungan Tuan Muda dengan Nona Jessica." ]
Rupanya wanita ular itu termakan dengan pengalihan ku, "Lanjutkan tugas mu, jangan sampai ada yang curiga pada mu!" Ujar Pram.
[ "Baik, bos!" ]
Pram mengakhiri panggilan teleponnya.
Kini Pram fokus menatap tajam pada Haikal, "Siapa yang berani menyakiti, Naira?" Tanya Pram dengan suara yang di tekan.
"Teman sekelasnya bos." Jawab Haikal.
"Bagai mana pun caranya, kau cari bocah itu... singkirkan bocah itu dari pandangan Naira." Ujar Pram.
"Tapi bagai mana bos, ujian tinggal satu bulan lagi."
"Terserah cara mu, aku tidak ingin keberadaan bocah itu membahayakan nyawa istri nakalll ku!" Oceh Pram yang tidak ingin di bantah Haikal.
Haikal geleng geleng kepala, ah Nona ada saja musuhnya, tidak dari bos, sekarang dari temannya sendiri yang ingin mencelakainya.
πDi gedung pencakar langitπ
Aji tengah ke luar dari ruangannya hendak melanjutkan agenda selanjutnya.
"Hai kau!" Aji memanggil anak buahnya yang baru saja ke luar dari ruang accounting.
"Saya, Tuan?" Tanya pria berkaca mata, ada apa pak Aji memanggil saya? Tidak mungkin ia curiga kan?
"Apa kata investor?" Tanya Aji.
Dreeet dreeet dreeet dreeet.
...πππππ...
Salam manis author gabut
Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen π
__ADS_1