
...πππ...
Tik.
Dev menjentikkan jari telunjuk dengan jari jempolnya di depan wajah Meli.
"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Dev.
"Tidak, pak." Ujar Meli.
"Lanjutkan pekerjaan mu! Satu hal lagi, selama aku dan Tuan Pram tidak ada di tempat, kau yang bertanggung jawab atas hotel ini... kau mengerti!" Seru Dev yang melangkah pergi menuju lift.
Meli tercengang, apa maksud pak Dev? Aku yang bertanggung jawab atas hotel ini? Bagai mana bisa?
"Pak, tunggu pak!" Meli mengejar Dev yang sudah berdiri di depan pintu lift.
Kini Dev membalikkan tubuhnya dan berhadapan dengan Meli, "Apa lagi?"
"Maksud bapak tadi apa ya? Kan saya hanya Kepala devisi pemasaran di hotel Surabaya, lalu saya di sini bukan kah hanya sebagai tenaga bantuan, pak?" Tanya Meli panjang lebar.
"Ikut saja keruangan ku!" Dev malas menjelaskannya pada Meli di ruang yang menurutnya terbuka, Dev pun mengajak Meli untuk ke ruangannya yang berada di lantai atas.
Meli menatap waspada pada dev, apa benar pak Dev akan menjelaskannya pada ku? Pak Dev tidak akan macam macam kan?
Selama di dalam lift, Meli menerka nerka dengan hatinya yang terus mengoceh, apa yang akan pak Dev katakan nanti ya?
Sama seperti hotel Pram lainnya, lantai paling atas di tempati khusus hanya untuk Pram dan ruang kerjanya, sedangkan atapnya untuk helipad dan kebun kecil.
Dev dan Meli duduk di meja kerja yang ada di ruangan Dev, mereka hanya terhalang meja.
Dev mengambil berkas dari dalam laci yang terdapat di meja kerjanya.
Lantas Dev mendorong map berwarna biru ke depan Meli, "Kau bisa pelajari itu!" Seru Dev.
Meli membuka map itu, "Ini apa, pak?" Tanya Meli dengan polosnya.
"Kan tadi sudah aku katakan, pelajari itu! Masih bertanya saja!" Gerutu Dev.
Ketus banget si jadi orang, "Iya, maaf... jadi atasan galak banget sih!" Meli menggerutu dan membuka map biru yang ada di tangannya kini.
__ADS_1
"Kenapa memang jika aku galak? Ada masalah dengan mu?" Tanya Dev dingin, anak ini banyak bertanya!
Mata Meli berbinar, ada rona kebahagiaan yang tarpancar jelas dari wajahnya, apa aku tidak salah, apa ini benar untuk ku? Ini benar benar nama ku yang ada dalam kertas ini?
Meli nampak tidak percaya, ia pun bertanya pad Dev untuk memastikan jika apa yang di lihat oleh matanya itu tidak lah salah.
Meli menatap Dev meminta penjelasan, "Pak, ini benar untuk saya?" Tanya Meli dengan penasaran.
"Iya itu untuk mu, jadi setelah kau menandatangani surat kontrak itu, kau resmi menjadi general manager hotel ini, aku harap kau bisa menjalankan tugas mu dengan baik!" Seru Dev dingin.
"Anda serius, pak?"
"Apa kau lihat aku bergurau?" Dev menyandarkan dirinya di kursi.
"Pak, i- ini bukan mimpi kan pak?" Bulir bening menerobos ke dua mata Meli, tidak menyangka ke putusannya untuk menerima di pindah tugaskan justru membawanya dengan jabatan baru yang tidak pernah dia sangka, bahkan dalam hayalan pun dia tidak berani menghayalkannya.
Dev menyodorkan beberapa lembar tisu ke arah Meli, "Ini! Hapus air mata mu! Jangan sampai karyawan lain mengira aku melakukan hal yang tidak tidak pada mu!" Serunya dengan ketus.
Astaga pak Dev bener bener peka memberikan aku tisu, tapi kalo di novel yang aku baca pak Dev akan memeluk ku, memberi ku belaian hangat, jangan kan belaian, mulutnya aja tajem kaya gitu, Meli menyambar tisu dari tangan Dev, "Ini bagai mimpi bagi ku, pak! Dalam sekejap aku menjadi gandral manajer." Ujar Meli.
"Anggap saja itu buah dari kerja keras mu selama ini!" Seru Dev menatap jengah Meli, di mana mana cewe senang jika naik jabatan, kenapa dia malah menangis? Kan aneh, dasarrr wanita aneh.
"Iya, pak... mulai saat ini, saya akan bekerja dengan lebih keras lagi! Saya janji pak!"
Astaga, benar benar gak peka, Meli bangkit dari duduknya, "Kalo begitu saya permisi pak!"
"Hem."
Di saat Meli hampir akan menyentuh handle pintu, Dev memanggil namanya dengan dingin.
"Meli!"
Meli pun memutar badannya menatap Dev, "Ada apa lagi pak?"
"Ingat lantai paling atas khusus untuk pak Pram dan jangan pernah kau lupa untuk menyuruh orang merawat taman yang ada di atap gedung, sesekali perintahkan orang untuk mengecek helipad." Ujar Dev bicara panjang lebar.
Meli tercengang, gw kira manggil ada apaan kali, yaaah ujung ujungnya urusan kerjaan, saking bae lu tampan, kalo gak hem, gw gibeng lu pak Dev, kaga pak Dev kaga pak Pram, sama aja sebelas dua belas galaknya, dinginnya, aiiih apa ada cewek yang mau sama mereka berdua ya?
"Mengerti tidak!" Seru Dev dengan nada tinggi.
__ADS_1
"I- iya pak, saya mengerti!" Oceh Meli yang lantas menunduk patuh dan meninggalkan ruangan kerja Dev.
πDi tempat lainπ
Pagi hari yang cerah kini berganti siang di saat matahari semakin naik ke awan.
Dari pantulan cermin yang ada di meja rias, Pram menatap tajam wajah Naira yang tertidur pulas di atas kasur dengan selimut yang menyelimuti tubuhnya.
Pram menarik sudut bibirnya ke atas, "Anak ini kalo lagi tidur, tenang sekali.... seperti bayi mungil yang tanpa dosa sudah membuat lukisan di punggung ku seperti ini." Oceh Pram yang menatap pantulan punggungnya yang terdapat beberapa luka cakaran dari cermin.
Bayi mungil? Tidak tidak, biarkan ini berjalan sebagai mana mestinya.
Bagai mana tidak selama bermain, Naira terus mencakar punggung Pram dengan kukunya yang panjang, seperti sudah di rencanakan Naira yang tidak ingin memotong kukunya yang panjang, ia merawatnya hingga jadi lah kuku kuku Naira yang panjang seperti macan.
Setelah mandi dan kini wajah Pram nampak segar, ia pun meminta pak Dedi untuk menyiapkan makan siang untuknya dan untuk Naira serta memintanya untuk di antar ke kamar.
Pram mendudukkan dirinya di pinggiran ranjang, membelai wajah Naira.
"Sepertinya aku tidak bisa membiarkan ini terus seperti ini!" Gumam Pram saat menggenggam jemari Naira.
Ia pun bangkit kembali dan mengambil gunting kuku dari laci yang terdapat di meja kecil yang terdapat di samping kepala ranjang.
Dengan telatennya Pram memotong kuku Naira yang panjang, hingga kuku macan yang selama ini Naira rawat, hilang lenyap dari jemarinya.
"Aku harap kau tidak marah dengan apa yang aku lakukan ini, Nai!" Pram mengecup kening Naira.
Pram membungkukkan badannya dan berbicara di telinga Naira, "Bangun sayang, hai.. ini sudah siang!"
Naira pun menggerakkan matanya dan membukanya perlahan.
Pram menggendong tubuh Naira yang polos ke dalam bathroom dan menurunkan Naira di bathtub, membiarkan tubuh mungil Naira terendam air hangat dengan busa sabun.
Di saat Pram mengambil bathrobe, Naira berteriak kencang.
"Aaaaakh!"
Bersambung....
...πππππ...
__ADS_1
Salam manis author gabut
Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen π