
...💖💖💖...
"Haikal!" Pram berseru memanggil nama Haikal.
"Siap, bos." Haikal melangkah ke arah monitor, mengganti isi flashdisk yang ada, dengan flashdisk yang ia ke luar kan dari saku kemejanya.
"Maaf ya pak kepala sekolah dan guru guru di sini. Kalian jadi tidak nyaman, atas ke kacauan yang terjadi." Pram mendudukan Naira di kursi yang tadi di duduki Naira.
"Astaga ka, mau duduk atau pun berdiri. Sama sama teganggg ka! Gak ada bedanya!" gerutu Naira.
"Stttttt! Kau mau tau tidak, siapa pelakunya!" Pram meletakkan jari telunjuk kanannya di depan bibirnya.
"Au ah gelap! Tinggal sebut nama aja, di bawa ribet kaka mah!" cicit Naira.
Sopur menatap layar monitor dengan keningnya yang mengkerut, apa isi flashdisk itu ya?
"Kalian semua, duduk lah kembali. Lihat apa yang akan kalian tonton. Ini lebih seru di bandingkan apa yang sudah kalian lihat!" ujar Pram yang mantap tajam Sopur saat ke duanya bersitatap.
Pram meletakkan tangannya di bahu Naira, lalu berbisik di telinga Naira, "Siapkan hati mu ya, sayang! Jangan sampai kau tidak melihat nya sampai akhir."
Naira mencubit punggung tangan Pram, "Gak usah banyak bacot deh ka!"
Semua mata yang ada di ruangan itu langsung membola, terkecuali Pram, Haikal dan pengawal bayangan yang bersiaga di luar villa, namun tidak terlihat karena mereka bersembunyi.
"Wuuuuuh! Gak nyangka gw! Bener benar bisa manfaatin celah!" sungut Irfan.
Melalui layar monitor, semua pasang mata baik itu siswa dan guru, bisa melihat bagai mana Sopur, mengendap endap mengambil hape Naira yang tersimpan di dalam tas, sementara Naira berada di dalam kamar mandi, Novi dan Serli berada di luar kamar.
Entah apa yang sopur lakukan pada hape Naira, dan tidak berapa lama. Sopur mengembalikan hape Naira, seperti semula sebelum dirinya ke tahuan oleh teman kamar lainnya.
Sopur geleng geleng kepala, "I- itu gak bener, gw bi- bisa jelasin. I- itu pasti hasil editan, i- iya itu editan. Itu palsu." terang Sopur dengan tergagap, ke dua bola matanya memanas, seakan akan ada yang akan mengalir deras.
"Lo gak bisa berkilah lafi Sopur! Itu udah jelas banget lo!" sungut Irfan.
__ADS_1
"Astaga kalian ini dari kelas yang sama, kelakuan pun hampir sama buruknya!" ejek Bayu.
Pram langsung menatap tajam pada Bayu, "Hai kau, Bayu! Sudah berapa siswi yang sudah berhasil kau renggut ke suciannya hem?" ucap Pram dengan suaranya yang dingin.
"Jangan asal bicara kau, pak tua!" sungut Bayu pada Pram dengan tangan yang mengepalll.
"Jadi sudah jelas kan di sini bapak kepala sekolah yang terhormat, teman teman istri ku yang tersayang! Jadi apa ada yang kalian ingin tanyakan? Aku akan menjawabnya dengan senang hati!" Pram memasukkan satu tangan nya ke dalam saku celananya.
"Apa alasan mu ada di sini, ka?" tanya Daren.
"Pertanyaan bagus, aku ada urusan. Jadi aku harus berada di sini!"
"Ngibul, urusan untuk mengawasi ku!" gumam Naira kecil.
Pram mengelusss kepala Naira, "Salah satunya adalah itu, sayang!"
"Atas ke jadian ini, hukuman apa yang pantas untuk seorang pencuri, pak guru?" tanya Pram dengan menyeringai.
"Gak perlu ka, lagi pula aku hanya tinggal menunggu ijazah ku ke luar kan!" Naira menyela Pram, sebelum Pram menjatuhkan hukuman pada Sopur.
"Acara untuk perpisahan sekolah sudah selesai kan, pak?" tanya Pram pada pak kepala sekolah, setelah dirinya sudah berdiri di samping pak kepala sekolah.
"Acaranya memang sudah selesai, pak. Ada apa pak Pram menanyakan hal itu? Apa pak Pram sudah memiliki rencana lain untuk Naira?" tanya pak kepala sekolah, yang sudah tau arah pembicaraan Pram.
"Kalo begitu, saya akan mengajak Naira pergi, ada keluarganya yang sudah merindukan nya. Bisa kan saya membawa istri saya, untuk pergi meninggalkan acara ini lebih awal?" tanya Pram dengan suara dan wajahnya yang datar.
Hingga beberapa saat ke mudian, di sini lah Naira saat ini berada. Naira berada di dalam mobil bersama dengan Pram, menuju Bandung.
"Bagai mana bisa kaka melakukan itu pada ku?" Naira tengah mengintrogasi Pram, bak seorang tersangka yang tertangkap tangan.
"Bisa dong, apa pun bisa ku lakukan hanya untuk mu!" Pram berkata dengan memeluk Naira yang berada di dalam pelukannya, di dalam pangkuannya.
"Terus sejak kapan kaka berada di villa itu?" Naira mengusappp lembut lengan Pram, lengan kokoh yang ia rindukan, lengan yang mampu memberinya ke hangatan.
__ADS_1
"Sejak kapan ya, aku lupa." Pram menduselkan bibirnya pada tengkuk Naira.
"Ihs mana ada lupa! Jangan jangan alasan yang di katakan pak Dev itu, ngibul juga?" tuduh Naira dengan merubah posisi duduknya, dengan berada di pangkuan Pram, namun wajahnya saling berhadapan.
"Tadinya hanya alasan, tapi setelah itu aku beneran ada klien baru dari Singapura. Aku sampai meninggal kan mu untuk beberapa waktu lamanya, kau tau... rasanya seperti setahun, lama sekali." Pram menatap mata bulat Naira dengan penuh damba.
Jemari Pram meraba mata dan bibir ranum Naira, sepasang mata yang sangat ia rindukan, bibir ranum yang menjadi candu baginya, bibir yang sudah 3 hari ia tidak jamahhh.
Pram mengecup sekilas bibir Naira.
Naira mengerucutkan bibirnya saat Pram menjauhkan bibirnya dari bibir Naira. Katanya udah kaya setahun gak ketemu, masa cuma ngecup sekilas doang, apanya itu mah. Biasa aja!
Pram menyeringi, berkata di telinga Naira dengan hembusan nafas yang membuat Naira bergidik, berdiri bulu bulu halunya.
"Jadi apa yang kau inginkan dari ku? Hem? Apa kau ingin aku melumattt bibir mu? Melakukan lebih dari itu? Katakan? Apa kau menginginkan ku?"
Naira memainkan jemarinya di dada Pram yang sispeck, di balik kemeja dan jas yang Pram kenakan.
Berkata dengan suaranya yang mendayu dayu, "Ka Pram, sayang! Masa masih perlu untuk aku katakan? Kan ka Pram pinter, cerdas, bisa baca pikiran dan hati ku, masa gak tau sih... apa yang menjadi ke ingin strinya sendiri, payah amat! Rubahhh mesummm ku berubah menjadi rubah payahhhh gitu? Hem?" ledek Naira.
Tangan Pram menahan kepala belakang Naira, "Beberapa saat tidak bersama, ada ke majuan juga dengan sikap mu, kau semakin pandai untuk menggoda ku, sayang!"
Pram mendaratkan bibirnya pada bibir Naira, melumattt bibir yang sudah lama ia rindukan. Menerobos kan lidahnya, di saat Naira membuka mulutnya.
Memilinnn, menyesappp lidah yang manis bagi Pram, mengalahkan manisnya madu. Kini bibir Pram turun ke leher jenjang Naira, menyusuri leher jenjang itu dengan bibirnya, memberikan esapannn dan gigitan kecil serta memberikan tanda ke pemilikan.
Naira menikmatiii setiap sentuhan yang di berikan Pram padanya, karena tidak ia pungkiri. Jika Naira sendiri, merindukan setiap sentuhan Pram yang sering kali menjamahhh nya. Memanjakan nya dengan setuhan hangat.
...💮💮💮💮💮...
......................
...💖 Bersambung 💖...
__ADS_1
Terima kasih sebelumnya, yuk komen yuk, tambah tambah masukan buat author.
Jangan lupa tinggalin jejak like oke! 😊