
...💖💖💖...
Senyum Dev mengembang mendengar perkataan Pram. Itu artinya pak Pram tidak mau jika Nona Karin datang ke kantor tanpa perintah dari pak Pram itu sendiri.
"Ta- tapi, sayang..." Karin hendak melangkah maju mendekat pada pram.
"Enyah kau dari hadapan ku!" Pram mengusir Karin dengan tegas.
Karin menghentakkan kakinya ke lantai, "Ya sudah, aku pergi." Karin melenggak bak sedang berjalan di cetwolk.
Ia pun menutup pintu ruang meeting dengan kasar.
Dua orang bodyguard yang berjaga di pintu masuk hanya diam menatap Karin dengan tatapan tajam meski pun matanya tertutup dengan kaca mata hitam yang mereka kenakan.
"Apa kalian lihat lihat!" Ketus Karin sebelum meninggalkan ruangan.
Awas saja kau Pram, aku tidak terima di perlakukan seperti ini. Biasanya kau itu selalu menerima setiap sentuhan yang aku berikan, tapi tidak untuk kali ini, tapi untuk lain kali, kau lah yang akan membutuhkan ku.
Ting.
Pintu lift terbuka, terdapat 2 orang wanita hendak ke luar dari dalam lift, orang itu adalah Harumi Aina seorang wanita yang sedang di tunggu Pram dan Emi Bashira adalah asistennya.
Meski ke duanya lahir di Jepang, bahasa yang sering mereka gunakan adalah bahasa Inggris.
Karin menatap sinis ke dua wanita yang berjalan ke luar dari lift, sok kecantikan, cantikan juga gw kemana mana. Paling juga mereka hanya sales yang bermodalkan tampang.
Ke dua wanita berdarah Jepang itu ke luar dari lift dengan langkah yang pasti, dengan senyum ramah.
Pintu lift tertutup, membawa Karin di dalamnya.
Wanita berdarah Jepang dengan rambut panjang yang tergerai, bertanya pada asistennya yang berjalan di belakangnya.
"Do you know that woman?" (Apa kau mengenal wanita itu?) Tanya Harumi Aina, seorang investor muda yang berparas cantik.
"That woman is a model, Miss Harumi." (Wanita itu adalah seorang model, Nona Harumi.) Jawab sang asisten.
__ADS_1
"Is that woman the wife of Mr. Pram?" (Apa wanita itu istri dari Tuan Pram?) Tanya Harumi lagi yang semakin di buat penasaran dengan sosok Pramana Sudiro yang di kenal tampan dan berdarah dingin dalam urusan bisnis.
"No Miss, as far as i know... Mr. Pram is not merried yet." (Tidak nona, setahu saya... Tuan Pram belum menikah.) Ujar sang asisten yang membuat Harumi Aina menghentikan langkahnya.
Harumi menatap Emi, "Are you serious about what you say, Emi?" (Apa kau serius dengan perkataan mu, Emi?)
Emi menarik sudut bibirnya ke atas, mendapati pertanyaan dari atasannya, "Of course, or you can ask Mr. Pram directly, does he already have a companion?" (Tentu saja, atau Nona bisa bertanya langsung pada Tuan Pram, apakah beliau sudah punya pendamping?)
Harumi melanjutkan langkahnya sambil berkata, "Never mind, forget it!" (Sudah lupakan saja!) Namun pipinya bersemu merah.
Batin Harumi, berharap pada Pram, i hope what Emi says is true, Mr. Pram is not married yet. (Aku harap benar apa yang di katakan Emi, tuan pram belum menikah.)
Harumi dan Emi menghentikan langkahnya saat salah seorang pria berbadan tegap yang berdiri di depan pintu menyapanya.
"Miss Harumi!"
"Yes, i'am miss Harumi." Seru Harumi.
Salah seorang pria berbadan tegap membukakan pintu untuk Harumi dan Emi lalu mempersilahkan mereka berdua untuk masuk.
"Please come in Miss, you are already waiting for Mr. Pram inside." (Silahkan masuk Nona, anda sudah di tunggu Tuan Pram di dalam.)
Pram berdiri dan menyambut tamunya dengan berjabat tangan dengan Harumi sambil berkata, "Good afternoon Miss, sorry in advance... if i advance our meeting schedule." (Selamat siang Nona, maaf sebelumnya... jika jadwal pertemuan kita ini saya majukan.)
Lalu di balas dengan Harumi,
"It doesn't matter, Mr. Pram. I'm just glad to be able to meet you quickly." (Tidak masalah, Tuan Pram. Justru saya senang bisa cepat bertemu dengan anda.)
Setelah saling berjabat tangan, Pram mempersilahkan tamu pentingnya untuk duduk dan tanpa menunggu waktu lama, tanpa berbasa basi, mereka langsung berbicara soal bisnis dan kerjasama.
Meeting berjalan dengan lancar, hingga mencapai kesepakatan yang menguntungkan bagi ke dua belah pihak. Harumi akan menanamkan modalnya pada perusahaan Pram untuk di pergunakan dalam mengembangkan perhotelannya dan memperluas lagi usahanya yang akan di rintisnya perusahaan Pramana Company di bawah pimpinan Pram.
Setelah berkas di tanda tangani, pram dan Dev mengantar tamunya sampai lobby hingga ke duanya menaiki mobil.
Harumi dan Emi akan langsung berangkat ke bandara dan menunggu penerbangan yang akan membawa ke duanya ke Jepang, negeri matahari terbit.
__ADS_1
"Jam berapa sekarang?" Tanya Pram pada Dev.
Astaga pak Pram, anda kan sudah mengenakan jam tangan, kenapa masih bertanya pada ku? "Jam 1 siang, pak!" Serunya.
"Tidak ada meeting lagi kan?" Tanya Pram lagi dengan datar tanpa ekspresi.
"Tidak ada pak, tugas anda hari ini hanya menandatangani berkas saja pak!"
Pram berjalan memasuki lobby hotel di ikuti Dev di belakangnya, bisa ku kerjakan di dalam mobil.
Pram mendudukan dirinya di sofa, "Suruh orang untuk siapkan mobil. Kau!" Pram menatap Dev, "Persiapkan berkas yang perlu saya tanda tangani lalu bawa kesini!" Perintah Pram.
"Tidak salah, pak? Untuk apa anda mengerjakannya di sini pak? Anda kan punya ruang kerja tersendiri." Ujar Dev panjang lebar yang belum mengerti maksud pembicaraan Pram.
Pram menatap tajam Dev, "Bodohhh, siapa juga yang mau mengerjakannya di sini! Sudah sana perintahkan orang untuk menyiapkan mobil, kau ambil berkasnya... waktu mu hanya 7 menit dari sekarang!" Seru Pram dengan melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
Dev tercengang, bos gila... yang benar saja 7 menit? Tapi jika aku membantah, yang ada waktunya di percepat, iya kan saja lah! "Baik, pak!" Dev langsung melesat berlari ke arah lift dan menaikinya menekan angka yang akan membawanya pada ruang kerja Pram, tidak lupa menghubungi petugas valet untuk menyiapkan mobil dengan segera di depan pintu utama hotel.
Dalam waktu 6 menit, Dev sudah kembali di hadapan pram dengan setumpuk berkas di tangannya yang perlu di tanda tangani pram.
"Kerja bagus!" Seru Pram yang lantas berdiri dan berjalan ke arah pintu utama hotel dengan di ikuti Dev.
Petugas valet ke luar dari dalam kemudi mobil dan menyerahkan kunci pada Dev, ia juga membukakan pintu mobil untuk Pram di kursi belakang.
Dev membuka pintu mobil untuk dirinya sendiri lalu menaruh berkas yang ia bawa di kursi penumpang yang ada di sebelahnya.
"Kita kemana, pak?" Tanya Dev saat mesin mobil sudah di nyalakan.
"SMA Pelita Jaya!" Seru Pram dengan bersandar pada sandaran mobil.
"Apa, pak?" Dev tercengan dengan menoleh ke arah Pram yang ada di kursi belakang.
Bersambung....
...💖💖💖💖...
__ADS_1
Salam manis, jangan lupa dukung author dengan jempol dan komen ya 😊
No komen julid nyelekit