
...💖💖💖...
Pram bersandar pada pintu mobil yang tertutup dengan tangan kirinya berada dalam saku celana yang ia kenakan, sedangkan kakinya menyilang.
"Lama sekali bocah nakalll itu!" Pram mendengus kesal menatap Naira yang berdiri mematung tidak jauh dari tempatnya berada.
Haikal berjalan mendahului Naira, "Sepertinya bos sudah tidak sabar ingin anda cepat sampai, Nona!" Ledek Haikal.
Naira mengepalkan tangannya, "Ihs kampreeet lo, bang!" Kenapa gak bilang sih kalo ka Pram juga ikut jemput.
"Maaf menunggu lama, bos!" Haikal masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang kemudi.
"Kenapa kalian bisa datang berbarangan?" Tanya Pram dengan dingin, matanya menatap tajam pada Naira yang kini berdiri di depannya.
"Ka Pram sedang apa di sini?" Tanya Naira dengan meragu dengan tangannya yang meraih tangan kanan besar Pram dan mencium punggung tangan kanan Pram.
"Tentu saja untuk menjemput mu, sayang!" Pram berseru dengan penekanan pada saat memanggilnya sayang.
Naira bergidik ngeri mendengar Pram memanggilnya sayang, ada maksud terselubung nih, mode was pada lah kalo kaya gini.
Pram membukakan pintu mobil untuk Naira, "Ayo masuk! Kau mau membuat ku menunggu berapa lama lagi? Hem!" Ujar Pram dengan tegas.
Naira menatap wajah Pram yang sedang menahan marah, alis tebalnya menambah seram dengan sorot mata Pram yang tajam, "Kaka menunggu?"
Bugh.
Pram mendorong Naira masuk ke dalam mobil di ikuti dengan dirinya yang juga langsung masuk ke dalam mobil.
Tenang Naira, tenang, "Kaka sejak kapan menunggu ku?" Tanya Naira dengan melepas tas ranselnya dan menaruhnya bersandar di jok mobil.
Sreek.
Pram membawa Naira dalam pangkuannya dengan punggung Naira yang berada di depan wajahnya Pram, ke dua tangan besar Pram merengkuh tubuh Naira dengan erat jemarinya bermain pada buah kembarrr Naira.
Bibir Pram menyusuri leher belakang Naira dengan gigitannn kecil dan menyesapppnya, meninggalkan jejak ke unguan.
Naira mengeranggg ke gelian dengan serangannn yang Pram lakukan, "Emmmmh aaaah, ka geli eeeemmmmh"
Haikal melajukan mobilnya meninggalkan area sekolah Nona Muda nya dengan tatapan mata yang fokus pada jalan dan pastinya ke dua telinga Haikal mendengar suara erangannn yang ke luar dari bibir Naira, anggap saja kau tidak mendengar suara menyeramkannn itu Haikal, kalo sudah begini, nikmati saja Nona. Anggap itu hukuman yang terindah wahahaha.
Ke dua tangan Pram bergerak liar pada buah kembar Naira, "Ka iiiiih, jangan... malu ada orang!" Seru Naira dengan desahannn jemarinya mencoba menghentikan gerakan tangan liar Pram.
"Apa yang kau lihat, Haikal?" Tanya Pram dengan hembusan nafas di cuping Naira, dengan matanya yang terfokus pada kulit putih mulusss Naira.
"Jalan bos." Ucap Haikal dengan acuh, mana mungkin saya berani bilang melihat anda yang sedang bermesraan bos, Nona jangan mempersulit ku.
Dengan tangan kekarnya Pram membalikkan tubuh Naira hingga menghadapnya, sorot mata Pram tajam pada dada Naira yang tersembunyi di balik seragam sekolahnya. Bayangannya pada si kembar yang menyembul memabukkannn sudah membuat Pram kalang kabut ingin mengecapnyaaa.
Bibir Pram menelusuri leher jenjang Naira dan semakin naik hingga ke bibir dan membungkam bibir mungil Naira, menyesappp bibir bawah Naira dan menggigitnya kecil, di saat mulut Naira terbuka Pram mengabsen deretan gigi Naira dengan lidahnya, memilinnn lidah Naira dengan lidahnya, menyesappp dengan gemas lidah Naira.
Naira memutar bola matanya dengan mencari ide, jemari Naira berkeliarannn manja pada dada bidang Pram, gw harus bisa alihin perhatian ka Pram nih, biar ka Pram mau berenti, bisa abis gw di telennn ama ka Pram kalo kaya gini caranya.
Di saat Pram melepaskan pagutannya pada bibir, Naira terengah engah.
"Maaf ya ka, aku tadi hanya memberi pelajaran kok buat bang Haikal." Celoteh Naira dengan suara mendayu dayu.
Jempol Pram menyapu bibir Naira yang basahhh karena ulahnya.
"Uhuk uhuk uhuk." Haikal yang namanya di sebut langsung terbatuk batuk di buatnya, kenapa masih membawa bawa nama saya Nona!
Haikal geleng geleng kepalanya tidak habis fikir dengan rencana nona Muda nya.
"Apa harus memberi pelajaran pada Haikal dengan tangan mu? Kau itu hanya milik ku, tidak boleh ada pria lain yang berani menyentuh mu! Hem, kau mengerti itu?" Seru Pram dengan suara dinginnya.
Dalam diamnya Haikal membatin, sepertinya bos masih marah apa cemburu?
Naira mengangguk kecil dan tangan mungilnya memeluk tubuh Pram, Naira berbisik di telinga Pram, "Aku tidak akan mengulanginya lagi suami ku!" Seru Naira dengan suara yang mendayu dayu.
__ADS_1
Ke dua tangan Pram melingkar di pinggang Naira dengan bibirnya yang mendekat di telinga Naira, "Bocah nakalll, sudah pandai merayu ku ya? Belajar dari mana kau?"
"Tentu dari suami ku, emang dari mana lagi?" Dari mbah gugel lah hahaha.
Dreet dreet dreet dreet.
🎶 🎶 🎶
Hape Pram berdering.
Di saat Naira ingin beranjak dari pangkuan Pram, Pram mencegahnya.
[ "Bos, Nyonya Widia meninggal dunia. Sekarang sedang di semayamkan di rumah duka." ] Terang seseorang di sebrang sana.
"Bagai mana dengan tua bangka itu?" Tanya Pram dingin dengan tatapan mata tajam ke depan, sedangkan Naira menyandarkan kepalanya pada dada bidang Pram mendengarkan apa yang di bicarakan Pram pada lawan bicaranya di telpon.
[ "Tidak terlihat, bos. Yang ada hanya Tuan Muda Kecil yang tampak terpuruk." ]
Kening Pram mengkerut, setahunya anak angkat Aji dan Widia berada di luar negri, sedangkan Pram sendiri tidak tau siapa yang di angkat menjadi anak angkatnya Aji dan Widia, baginya itu tidak lah penting.
"Bukannya dia di luar negri?"
[ "Tuan Muda Kecil sudah beberapa bulan ini pindah ke Indonesia, bos." ]
"Apa ada polisi?"
Naira mengangkat kepalanya dan kenatap Pram, saat Pram menyebut kata polisi. Ada apa dengan ka Pram? Kenapa ka Pram bertanya seperti itu? Ka Pram tidak sedang terlibat dalam masalah kan?
[ "Tidak bos, tapi Nona Jessica di tahan pihak ke polisian untuk di mintai keterangan dan ada beberapa para maid juga yang di mintai keterangan terkait meniggalnya Nyonya Widia. Apa bos akan datang untuk melayat?" ]
"Pasti aku akan datang, memberikannya penghormatan terakhir padanya." Pram mematikan sambungan teleponnya.
Haikal melirik Pram lewat kaca spion mobil, siapa lagi yang jadi korban kekejamannn bos Pram? Apa mungkin Nyonya Widia?
Pram beradu pandang pada Naira.
Tangan Pram terulur mengangkat dagu Naira sedikit, "Apa kau menghawatirkan ku?" Pram menarik sudut bibirnya ke atas.
"Tentu saja, kau ini kan suami ku, pasti aku akan khawatir kan!" Naira mengerucutkan bibirnya.
"Haikal, kita mampir dulu ke butik terdekat." Pram memberi perintah dengan suara yang tegas tidak ingin di bantah.
"Baik, bos."
Naira mengerutkan keningnya, "Kaka ada urusan di butik?" Tanya Naira lagi.
"Hemm." Pram memeluk Naira tanpa berkata kata dengan mata yang terpejam dagunya menyandar pada pundak Naira, ku harap kau selalu bahagia di sana bu, karena aku sudah mengirim wanita ular itu ke neraka.
Naira di buat bingung dengan perubahan sikap Pram, ada apa dengan ka Pram? Jadi diam setelah menerima telpon.
Dreeet dreeet dreeet.
Hape Naira bergetar, Pram melonggarkan pelukannya agar Naira bisa merogoh hape Naira yang ada di saku roknya.
Di lihatnya Juni yang menghubunginya.
...Calling...
...Juni...
Naira menjawab telpon dari Juni dengan menempelkan benda pipih itu pada telinganya.
"Assalamualaikum, Jun." Sapa Naira saat telepon sudah tersambung.
Pram mengerutkan keningnya saat tahu siapa yang menghubungi istri nakalll nya, jadi yang menelpon Naira, bocah tulang lunak itu? Mau apa dia menghunbungi Naira?
Haikal melirik Pram dari kaca spion mobil, wah bos dalam mode was pada nih sama Nona, awas Nona jangan sampai membuat bos cemburu lagi hahaha, bisa bisa besok anda tidak bisa berangkat sekolah karena hukuman dari bos.
__ADS_1
[ "Waalaikum salam, Nai... gw baru aja dapet kabar nih dari Daren." ] Ucap Juni dari sebrang sana.
"Kabar apa?"
[ "Nyokapnya Daren meninggal, ini gw sama anak anak mau ke sana, lo nyusul ya? Alamatnya biar gw share lok ke lo tar ya!" ]
"Oke, tar gw nyusul ke sana." Naira menyudahi panggilannya, menunggu Juni mengirim lokasi alamat rumah Daren.
"Untuk apa teman mu menelpon?" Tanya Pram dingin.
"Salah satu orang tua teman ku ada yang meninggal ka, boleh kan aku datang untuk melayat ke sana?" Naira meminta izin pada Pram.
Pram mengerutkan keningnya, "Bukannya kau sudah bilang akan datang menyusul? Apa masih perlu izin ku lagi?' Tanya Pram dengan sinis.
"Ihs kaka, boleh kan?" Naira melingkarkan ke dua tangannya di leher Pram dengan manja.
Pram menghembuskan nafasnya dengan kasar di saat itu Haikal memarkirkan mobilnya di depan sebuah butik ternama.
Haikal membukakan pintu mobil untuk Tuan-nya Pram.
Pram dan Naira turun dari mobil.
Naira menatap Pram bingung, "Kita mau apa ka ke butik?" Tanya Naira.
"Apa kau mau melayat dengan seragam sekolah mu itu?" Tanya Pram.
"Iya, juga ya... tapi kan kita bisa pulang dulu ka, kita ganti baju gitu!" Seru Naira yang tangannya kini di genggam Pram memasuki butik.
Sampai di dalam, manajer butik langsung menyambut Pram.
"Selamat datang, Tuan. Suatu kehormatan Tuan berkunjung ke butik kami ini!" Sapa seorang wanita muda cantik dengan rok di atas lutut dengan kancing kemeja yang sengaja di buka sampai rendah, menampilkan buah dadanya yang membusung padat.
Pram menatap Naira dengan hangat, "Cari kan baju yang pas untuknya!"
Wanita muda itu menatap sinis Naira, "Mau pakaian dengan tema apa, Tuan!" Siapa sih anak sekolahan ini?
"Berduka." Ucap Pram tegas.
"Baik lah, Meli tolong layani Nona ini. Pilihkan pakain untuk berduka ya!" Seru Raisa si manajer butik dengan name tag di dadanya.
Meli menghampirinya, "Mari Nona ikut dengan saya." Meli mengarahkan Naira untuk mengikutinya.
Grap.
Pram menahan Naira dengan menggenggam salah satu pergelangan tangan Naira lalu dengan tangan satunya Pram mengadahkan tangannya pada Naira.
Naira mengerutkan keningnya, "Apa ka?"
"Hape mu, berikan pada ku!" Seru Pram yang meminta Naira untuk menyerahkan hapenya pada Pram.
"Ikut lah dengannya, aku menunggu mu di sini!" Seru Pram yang mendudukan dirinya di sofa tempat menunggu.
Naira ikut dengan Meli, sedangkan Raisa menempel pada Pram dengan berdiri di samping Pram. Mencoba mencari perhatian Pram. Dengan mengajaknya ngobrol.
Dreeet dreeet dreeet.
Hape Naira bergetar, pesan dari Juni yang mengirim share lok rumah Daren.
Pram mengerutkan keningnya, "Ini kan!"
...💖 Bersambung 💖...
...💖💖💖💖💖...
Salam manis author gabut 😊
Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen 😉😉
__ADS_1