
...💖💖💖...
Grap.
"Aku belum menyuruh mu untuk meninggalkan tempat ini!" seru Takeshi dengan tatapan dinginnya.
Takeshi mencekal pergelangan tangan Keiko Hana dengan erat.
Keiko Hana mencoba melepaskan tangannya dari cengkraman Takeshi, apa apaan sih Tuan mafia ini! Di kira ia pikir aku akan dengan mudah menuruti kemauannya! Enak saja!
Sreek.
Takeshi menarik pergelangan tangan Keiko, dan membuat tubuh wanita itu jatuh menindih tubuh Takeshi.
Bugh.
"Akhhhh." pekik Keiko Hana dengan ke dua tangan mendarat di bahu Takeshi, ke duanya saling menatap.
"Enak kan kau bisa mendarat di tubuh ku yang atletis ini? Aku juga tidak akan sungkan untuk memuas kan mu, memenuhi segala ke butuhan mu!" ucap Takeshi dengan menyeringai.
Naira berbisik pada Pram, "Apa tebakan ku sama dengan kaka, aku pikir Takeshi menyukai Nona Keiko."
Pram menyentuh dagu Naira dan membuatnya mendongak, melumattt bibir mungil yang selalu menjadi candu untuk Pram.
"Emmmppphhh!" Naira memukul dada bidang Pram! Pria mesum, aku bertanya tapi kau malah melumattt bibir ku! Ka Pram tidak tahu malu!
Pram menyapu bibir Naira yang basah karena ulahnya, "Itu hadiah untuk mu!" ucap Pram dengan lembut.
"Ihsss itu bukan hadiah! Tapi membuat ku malu menghadapi mu! Gak liet apa ini ada mereka." Naira menunjuk ke arah Takeshi dan Keiko Hana lewat matanya, "Dan itu ada mereka juga!" kini Naira menunjuk ke arah bartender dan pelayan wanita yang ada di belakang meja bar.
Sementara Takeshi menatap Naira dengan pandangan yang sulit di artikan lalu menatap Keiko, seolah sedang membandingkan Naira dengan Keiko.
Enak sekali menjadi ka Pram, kaka ipar begitu menggemaskan, wajar saja jika ka Pram sangat menyayanginya. Berbeda dengan Keiko, keras kepala, di kasih hidup enak tapi gak mau, kurang apa coba tawaran ku padanya! Dasar wanita malam tidak tahu malu!
Keiko Hana menatap sinis Naira, wanita itu tidak ada bedanya dengan ku! Murahan!
Pram beranjak dengan menggenggammm jemari Naira, menatap dingin Keiko.
"Kau itu memang memiliki wajah yang sama dengan istri ku! Tapi istri ku... tidak pernah mengguna kan bibirnya untuk menghina wanita lain!" ucap Pram dengan tegas.
"Kaka! Sudah biarkan apa yang ingin ia katakan, toh kata kata hinanya tidak menempel di tubuh ku kan?" Naira mengelus lengan Pram, membuat suaminya itu untuk lebih tenang.
__ADS_1
"Maaf Takeshi, lain kali kita bertemu lagi ya! Aku dan ka Pram harus kembali!" pamit Naira, dan Pram langsung menuntun Naira pergi meninggalkan Takeshi dan Keiko Hana.
Takeshi langsung di buat geram dengan tingkah Keiko Hana, dengan gerakan yang cepat dan sulut di baca Keiko.
Bugh.
Keiko berada di bawah kungkungan Takeshi di atas sofa, sepasang mata elang Takeshi menyorot tajam mata bulat Keiko Hana.
"Jadi... selain berani membantah ku, menolak tawaran ku! Kau juga berani menghina kaka ipar ku? Wah wah wah, Nona! Nyali mu besar juga ya! Kau tidak juga takut dengan ancaman ku!" Takeshi menyeringai.
"Untuk apa aku takut dengan mu? Harga diri ku tidak bisa kau beli dengan apa pun Tuan mafia yang sok berkuasa!" sungut Keiko Hana.
Takeshi memberikan pelajaran yang berharga, dengan melumattt bibir ranum Keiko dengan rakusnya, dengan tangannya yang memerasss dengan kasar si kembar yang membusung, membuat Keiko memberontak dan tidak di perdulikan Takeshi.
Hal berbeda terjadi di antara Pram dan Naira.
Zang mengerut kan keningnya, melihat Pram dan Naira turun dari anak tangga, sedangkan wajah Pram tampak sedang menahan kesal, berbeda dengan Naira yang tampak biasa saja.
"Kalian di sini?" cicit Zang.
"Seperti yang kau lihat!" ucap Pram dengan ketus.
Zang menatap ke lantai atas, "Apa kalian habis bertemu dengan Takeshi?"
Pram mengerutkan keningnya, "Apa maksud mu, melakukan hal aneh?"
"Lah ya itu, anu ka, begini!" dengan canggung Naira mendekat kan jari telunjuk kanan dan kirinya, membenturkan ke duanya dan melilit ke duanya.
Pram terkekeh, dengan mengacak pucuk rambut Naira dan mendekatkan kepala naira paa dadanya yang bidang.
"Dasar! Kau ini! Aku menginginkan nya! Kau juga pasti menginginkan nya kan?" Pram memainkan alisnya naik turun, menatap Naira dengan penuh nafsuuu.
"Ihs! Kita sedang membasah Takeshi dan Nona Keiko!" sungut Naira dengan meraih tangan Pram yang ada di kepalanya, dan merekatkan nya di pinggang Naira sendiri.
"Apa Takeshi bersama dengan, wanita yang mirip dengan kaka ipar?" tebak Zang.
"Kau lihat sendiri saja lah!" Pram melangkah melewati Zang dengan membawa serta Naira.
Zang menatap heran pada Pram, "Cepat sekali moodnya berubah!"
Di dalam mobil menuju risort, tempat Pram dan Naira selama ini tinggal di Jepang.
__ADS_1
"Aku pikir orang aneh, hanya ka Pram yang ada di dunia ini. Tapi ternyata aku salah ya! Ada juga orang aneh seperti kaka yang aku temui!" Naira tergelak, mengingat bagai mana tadi Takeshi berubah ubah sikapnya pada Keiko Hana.
Pram menoleh sesaat dengan menggelengkan kepalanya, "Apa ada yang lucu dengan hal itu?"
Naira berusaha tenang kembali, menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, menatap Pram yang sedang mengemudi.
"Yang aneh itu cara kalian bersikap pada wanita yang kalian suka. Sebentar sebentar marah, sebentar sebentar cuek, terus hangat, kan bikin cewe jadi bimbang dan ragu buat tetap bertahan... jangankan bertahan. Untuk bisa menyelami hati kalian aja sulit!" ujar Naira panjang lebar.
"Tapi sekarang tidak sulit untuk mu menyelamai hati ku kan?" tanya Pram.
Naira menggelengkan kepalanya, "Tidak juga, malah aku merasa semakin ke sini... aku semakin dekat dengan mu ka! Apa mungkin karena setiap saat aku bersama dengan mu ya, ka?" ucap Naira dari dalam hatinya.
Pram menoleh, ada rasa bahagia saat mendengar pengakuan Naira, "Benarkan seperti itu? Apa sekarang, aku sudah menjadi orang terpenting dalam hidup mu?"
"Bukan penting lagi, tapi ka Pram... sebagian dari nafas ku! Sungguh!" Naira menyunggingkan senyumnya saat Pram menoleh ke arahnya.
Pram membatin, perkataan nya sungguh menenangkan hati ku, rasanya aku tidak akan pernah bisa melepaskan mu seumur hidup ku, aku pun merasakan hal yang sama, kau sebagian dari nafas ku!
Naira mengerucutkan bibirnya, saat bibir Pram tidak berkata, hanya senyum tipis yang nampak di sudut bibirnya. Membuat Naira berfikir, jika Pram meragukan perkataan nya.
Naira mendekatkan dirinya dengan Pram, menarik lengan bajunya, "Apa ka Pram meragukan ku?"
Pram menggelengkan kepalanya, "Aku percaya dengan apa yang kau katakan. Aku tidak melihat ke bohongan dari mata mu!"
"Lalu, apa yang membuat mu diam ka? Kenapa tidak bertanya, berkata, atau memarahi ku!" gerutu Naira.
Pram bertanya dengan serius, "Bagai mana jika hal buruk menimpa ku, apa yang akan kau lakukan untuk ku? Apa kau akan meninggalkan ku? Memilih menghilang dan menjauh dari pandangan ku? Seperti dulu ya selalu ingin kau lakukan? Meminta ku untuk melepaskan mu!" tanya Pram tiba tiba.
Naira mengerutkan keningnya, mendengar pertanyaan Pram, "Yang pasti aku tidak akan pernah meninggalkan mu ka. Jika ka Pram terluka, aku akan merawat mu, sama seperti apa yang kau lakukan pada ku... apa pun yang terjadi, kita akan tetap bersama! Aku tidak akan meninggalkan kaka!"
"Aku harap kau bisa menepati perkataan mu, Nai!" gumam Pram.
Naira melirikkan matanya pada Pram, "Sebenarnya ada apa dengan mu, ka? Kaka ini kan hebat, banyak bodyguard yang selalu bersama dengan kaka, pasti nyawa kaka akan aman kan! Melihat kaka juga bukan tandingan dari musuh musuh kaka selama ini. Kaka hebat dalam melumpuhkan seseorang!" cicit Naira.
Pram membuang nafasnya dengan kasar, "Besok pagi kita akan kembali ke Indonesia. Kau senang kan mendengarnya!"
"Alhamdulillah, aku seneng banget ka. Makasih my hubby!" Naira memeluk Pram saking senengnya, mendengar akan kembali besok ke Indonesia.
......................
...💖 Bersambung 💖...
__ADS_1
Terima kasih sebelumnya, yuk komen apah biar tambah tambah masukan buat author nya ðŸ¤ðŸ¤
Makasih yang sudah dengan setia membaca sampe sekarang 😊😊