
...πππ...
Ting.
Pram melangkah ke luar dari lift dan menuju kamarnya.
"Astaga, kapan aku buat salah sih ka!"
"Sudah aku katakan jangan pernah sebut nama bocah tengik itu lagi di hadapan ku, tapi kau terus saja berulah dengan terus menyebut nama bocah itu berkali kali!" Sungit Pram dengan tangannya menyuruh pengawal yang berada di depan kamarnya untuk pergi.
Pengawal yang berada di depan pintu langsung membungkuk patuh dan pergi meninggalkan kamar bosnya.
Dalam langkahnya pengawal itu membatin, pasti Nona Muda melakukan kesalahan lagi, sampai sampai Tuan Muda tidak mau ada pengawal yang berjaga di depan kamarnya, hahay Nona bakal dapet hukuman ini mah.
Pram membawa masuk Naira ke dalam kamar dan mengunci pintu kamarnya.
"Ihs ka, orang aku cuma bertanya juga. Emang salah apa menyebut nama adik ka Pram sendiri! Daren itu adiknya ka Pram kan? Aku juga kan baru tahu ka! Makanya aku penasaran dengan hubungan ka Pram dan Daren itu!" Sungut Naira saat Pram membaringkan tubuh mungilnya di atas kasur.
Pram melepas jas hitam yang melekat pada tubuhnya dengan tatapan tajam pada Naira yang mengerucutkan bibirnya.
"Apa lihat lihat!" Sungut Naira dengan melepaskan flatshoes yang menjadi alas untuk ke dua kakinya.
Pram mengendurkan dasi yang melilit di lehernya dan melemparkannya ke sembarang arah. Pram juga melepasss kemeja yang ia kenakan hingga bertelanjang dada.
Bruk.
Pram melompat di atas tubuh Naira dan merangkak.
Naira menutup hidungnya dengan tangannya, "Ihs ka, bau keringet tau... mandi dulu sana!" Gak bau keringet sih, bau wangi aroma tubuh ka Pram malah.
Pram menegakkan tubuhnya dengan bertumpu pada ke dua kakinya yang di tekuk dengan mengenduskan hidungnya pada tubuhnya sendiri, "Tidak bau! Aroma tubuh ku masih wangi!"
Naira terkekeh dengan tingkah Pram, apa ka Pram percaya dengan bualan ku ya?
Pram menajamkan sorot matanya dengan kening yang mengkerut saat mendapati Naira yang terkekeh ke arahnya, owh jadi bocah nakalll ini sudah berani mengerjai ku ya! Awas kau ya! Istri nakalll, beraninya kau mengerjai suami mu ini!
Pram menyeringai, "Bagus ya! Apa yang kau tertawakan! Hem!" Tangan kanan Pram terulur mengangkat dagu Naira hingga mata mereka saling tatap.
"Tidak ada, hanya ingin tertawa aja ka!" Tangan Naira menyingkirkan tangan besar Pram yang memegangi dagunya.
"Yakin tidak ada?"
Naira mengangguk.
Ke dua tangan besar Pram terulur di bahu Naira yang mulus terhalang pakaian yang ia kenakan dengan tatapan mata yang siap menerkammm mangsanya, rasanya benar benar ingin aku menerkammm mu Nai.
"Apa yang kaka lihat?" Tanya Naira.
Sreeek.
Tangan besar Pram menarik dress pada bahu Naira hingga terlihat bahu mulusss dan tali berenda Naira.
__ADS_1
"Ka!" Pekik Naira yang lantas menutupi bahunya.
"Kenapa? Mau marah?" Pram membuka dress yang melekat pada tubuh Naira dengan paksaaa.
Dengan bibir mungilnya Naira, meluapkan kemarahannya pada Pram, "Ihs bukan gitu caranya ka! Kan ada resletinyaaa! Bisa di buka baik baik kan!"
"Sayangnya aku tidak mau!" Pram melepas ikat pinggangnya dan celananya hingga polosss.
Pram menarik kain segitiga pengaman Naira hingga robekkk.
"Aahkk." Astaga laki gw lagi ke sambet apa kali, maen tarik, robek bae, sayang belinya pake duit hiks hiks hiks.
Naira menghentakkan ke dua kakinya di atas kasur saking gemesnya dengan tingkah Pram, "Iiiihhhs kaka!"
"Hem!"
"Ihs ka, sayang tau dress, dalamennn aku kan di beli mahal mahal cuma di pake sekali langsung di robekkk gitu aja! Buang buang duit aja!" Sungut Naira.
Pram mendudukan Naira di atas tubuhnya, "Kali ini kau yang bermain sebagai tanda maaf ku!" Seru Pram dengan alisnya yang naik turun.
"Apa?" Kaga salah nih? Naira merasakan ada yang mengganjal pada saat ia menduduki Pram.
Ke dua tangan besar Pram menopang tubuh Naira dengan tangannya yang membenarkan posisi duduk Naira hingga si otong yang sudah berdiri dengan tegak bisa masuk ke dalam goa Naira, merasakan sempitnya kenikmatannn milik istrinya yang selalu di nantikan Pram.
Naira melenguhhh saat si otong menembusss masuk goa sempitnyaaa yang sudah beberapa hari tidak di kunjunginya.
"Eemmmhh, kaaaa sakit!" Naira melingkarkan ke dua tangannya pada leher Pram.
Pram menarik sudut bibirnya ke atas melihat tingkah istri nakalllnya.
"Emmmmhhh aaaahh." Kuku Naira mencengkram punggung Pram di saat dirinya mencapai klimaksss dengan permainan Pram.
Si kembar yang ada di depan Pram pun tidak luput dari bibirnya yang menjadi kan si kembar candu saat bermain, bibir Pram melumatttt, menyesappp, menggigittt kecil sumber kehidupan untuk si calon penerusnya.
"Kaaa, aaaah a- aku le- lah!" Seru Naira di saat Pram baru memasuki ronde ke 3.
Pram menidurkan Naira di atas tempat tidur dan mengukungnya.
"Aku lelah!" Seru Naira yang sudah merasa lelah dengan permainan Pram.
"Belum sayang, kau harus temani aku bermain."
"Tapi besok aku emmmm." Naira tidak bisa lagi melanjutkan perkataannya saat Pram membekappp bibir mungil Naira dengan bibirnya.
Pram menggigittt bibir bawah Naira dan lidahnya bermain di dalam rongga mulut Naira di saat yang bersamaan si otong mulai lagi bermain dalam goa yang kini basahhh karna cairan vanila Pram dan Naira.
Pram menatap dalam mata Naira yang sesekali merem melek di saat senjata Pram menghunus tubuhnya, aku harap kau cepat hamil dan memberi ku keturunan! Tidak ada lagi pria lain yang bisa mendekati mu, Nai! Tunggu sampai kau lulus ujian, di saat itu orang akan tau jika kau hanya lah milik ku!
"Aaaahhh." Naira mengeranggg.
"Eeennggh." Pram melenguh.
__ADS_1
Bugh.
Pram membaringkan tubuhnya di samping Naira yang sudah terpejam karena kelelahan.
Pram menoleh pada wajah lelah istri kecilnya yang mendadak jadi dewasa hanya karena dress hitam yang tadi di kenakannya, "Aku harap kau besok tidak lagi bisa berjalan, Nai! Dengan begitu akan ada alasan untuk mu tidak ke sekolah!" Gumam Pram pelan dan menyapu wajah Naira dengan kecupan sayang.
Pram beranjak membersihkan badannya di kamar mandi dan ke luar dengan mengenakan bathrob dan tangannya membawa handuk kecil dan tissue untuk mengelap tubuh Naira.
Dengan telantennya Pram membersihkan area sensitifff Naira dan mengelap tubuh istri nakalllnya dengan handuk basahhh.
Setelah nengganti kain sprei, baru lah Pram bisa tidur dengan tenang dengan tangannya yang memeluk istrinya.
Tangan Pram mengelus perut Naira yang rata, "Cepat lah tumbuh di dalam sana!" Gumam Pram.
...π»Esok paginyaπ»...
"Nai, bangun! Kau tidak mau sholat?" Pram membangunkan Naira dengan mengelus eluskan jari telunjuk kanannya pada pipi Naira yang halus.
"Emmmh, mau... ini jam.
berapa ka? Perasaan aku baru juga tidur ka;" Naira mengulet dengan mata yang mengejap.
Pram mencondongkan tubuhnya dan mengelus hidung Naira dengan hidungnya, "Bayi besar ku, ayo bangun ini sudah subuh!"
"Eeeeermmmh!" Ke dua tangan Naira di tarik ke atas mengendurkan urat pada tangannya.
"Ganteng banget, laki siapa si lu?" Gumam Naira saat ke dua matanya melihat Pram yang tengah menatapnya dengan sepasang mata yang teduh dan wajahnya tampak segar.
Bugh.
Ke dua tangan kekar Pram membalikkan posisinya dengan tubuh Naira yang kini berada di atas tubuhnya.
"Tentu saja, suami mu!"
Bugh bugh bugh bugh.
Ke dua tangan Naira memukul mukul dada bidang Pram.
"Kaka nakal ih! Masih subuh juga!"
"Ayo kita berjama'ah!" Seru Pram.
Naira membola, "Kaka serius?"
Pram menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Naira hendak beranjak dari tubuh Pram, "Awwwwhhh."
...π Bersambung π...
...πππππ...
__ADS_1
Salam manis author gabut π
Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen ππ