
Dokter Embun berdiri di samping dokter Samuel.
Aku meraih bantal yang di jadikan bantalan kepala ku dan menariknya lalu ku lempar ke wajah Pram.
Bugh.
"Awh."
Pram merintih saat bantal yang ku lempar berhasil mengenai tepat di wajahnya.
"Sukurin! Weeek!" Ejek ku dengan melipat ke dua tangan di depan dada.
Dokter Embun menutup mulutnya dengan tangannya, astaga anak ini bar bar sekali, tidak tahu malu, tidak tahu apa dengan sikapnya bisa membuat Pram marah besar padanya.
Dokter Samuel terpukau dengan aksi ku, "Wow, brafo Nai... kau sungguh wanita yang luar biasa, 2 jempol untuk mu." Dokter Samuel berjalan mendekati ranjang dan melayangkan tangan kanannya ke udara ke arah ku.
Dokter Samuel mengajak ku tos, aku pun menyambutnya dengan mengangkat tangan kanan ku ke udara dan menyatukan telapak tangan ku dengan telapak tangan kanannya dokter Samuel.
"Kau itu wanita tangguh dan hebat, Nai!" Seru dokter Samuel, "Aku kagum dengan istri mu ini, Pram!" Dokter Samuel menatap Pram.
Pram berdiri dan membawa serta bantal yang tadi mendarat di wajahnya, "Aku tidak salah kan menjadikannya istri!" Seru Pram sembari tangannya menyerahkan bantal pada dokter Samuel.
Dokter Samuel memangku bantal yang di berikan Pram padanya.
Dokter Embun menatap Pram, kenapa dia memberikan bantal itu pada Samuel?
Pram mengangkat ke pala ku dan ia pun mendudukkan dirinya di ranjang dan kembiarkan pahanya di jadikan bantalan untuk kepala ku.
Dengan tangannya Pram membelai sayang kepala ku, tanpa ada rasa marah atas sikap ku yang sudah menimpuk wajahnya dengan bantal.
"Wah Nai, sepertinya singa liar ini sudah menjadi kucing anggora yang jinak sekarang ya!" Seru dokter Samuel menyindir sikap Pram yang di ibaratkan dengan singa galak dan kucing anggora.
"Sialannn kau! Gaji mu bulan ku potong 30%" Ucap Pram.
Dokter Samuel melemparkan bantal yang ada di pangkuannya ke arah Pram namun bantal itu berhasil di tangkap Pram dengan tangannya, ia menyerahkan bantal itu oada Naira.
Aku pun memeluk bantal itu.
"Jadi istri ku sakit apa?" Pram bertanya pada dokter Samuel.
__ADS_1
Sedangkan dokter Embun yang memeriksakannya sendiri justru tidak di tanya dan keberadaannya tidak di acuhkan.
Dokter Samuel membatin, rupanya Pram belum bisa menerima kehadiran dokter Embun di sini.
Sedangkan dokter Samuel juga menangkap wajah kecewa dokter Embun, "Apa hasilnya, dokter Embun?" Dokter Samuel yang bertanya pada dokter Embun mewakili Pram.
"Hasilnya baik, dokter... tidak ada yang salah dengan jantungnya." Ujar dokter Embun.
Kini dokter Samuel menatap ku, "Sepertinya aku tahu kau itu sakit apa Nai!" Seru dokter Samuel.
Kening ku mengkerut, mana mungkin aku sakit! Kan udah jelas dokter Embun bilang tidak ada yang salah dengan tubuh ku.
Pram membatin menatap cemas wajah Naira, tuh kan benar apa kata ku, Naira itu sakit, jangan sampai Naira ku ini sakit parah.
Dokter Embun membatin menatap dokter Samuel, apa dokter Samuel salah mendengar perkataan ku? Kan aku bilang tidak ada yang salah dengan kondisinya, kenapa sekarang dokter Samuel bilang dia itu sakit?
"Kan tadi dokter Embun bilang tidak ada yang salah dengan jantung ku, aku baik baik aja loh dok." Sanggah ku, "Nafas ku juga sudah lancar
"Kita dengarkan dulu penjelasan dokter Samuel." Pram mencubit hidung ku.
"Nona Naira, berdasarkan kesimpulan ku setelah mendengar penuturan dari Tuan Pram, sudah dapat aku pastikan." Dokter Samuel bicara dengan serius dan menjeda perkataannya, "Kau mengidap penyakit bala cinta." Seru dokter Samuel menahan tawa saat aku menatapnya dengan wajah yang serius dan mata membola.
Pram menarik sudut bibirnya ke atas, Pram memajukan duduknya dan ke dua tangannya melingkar di pinggang ku, ia menyandarkan dagunya pada bahu ku.
"Rupanya sakit mu serius, sayang! Ini tidak bisa di biarkan begitu saja!" Seru Pram yang kini mengecup leher ku.
"Iiiiihhh ka Pram mah ga tau tempat! Gak tahu malu! Da lusarrr rubah tua! " Umpat ku pada Pram yang asik menempel pada tubuh ku.
Dokter Samuel menatap Naira, rupanya anak ini menganggap ucaoan ku itu serius, tidak apa lah asal Pram senang, sepertinya mereka berdua memang di takdir kan berjodoh.
Ku singkirkan kepala Pram dari pundak ku dengan mendorong wajahnya menggunakan telapak tangan kiri ku.
Tangan kiri Pram meraih tangan kiri ku dan membawanya ke bibirnya, ia menghujani punggung tangan ku dengan kecupan.
Dokter Embun yang merasa tidak nyaman dan di abaikan kehadirannya pun berdehem, "Ehem."
Bukannya mendapat pembelaan dari Pram atau pun dokter Samuel, kini dokter Embun di usir secara halus oleh dokter Samuel.
"Kau tunggu lah aku di depan, dokter Embun!" Perintah dokter Samuel.
__ADS_1
Dokter Embun menghentakkan kakinya ke lantai dengan kasar lalu ke luar meninggalkan ruang rawat
Di saat dokter Embun sudah tidak lagi berada di dalam ruang rawat, tinggal lah aku bersama dengan ke dua cowok keren ini.
"Dokter ih, keterlaluan!" Seru ku yang tidak tega melihat dokter Embun meninggal kan ruang rawat.
"Tidak apa, jangan perdulikan dia!" Pram memegangi dagu ku dan menghujani bibir ku dengan ciuman dan berakhir dengan ciuman panjang nsn panas.
"Ah sialll kau ini! Dasar tidak tahu malu kau Pram!" Dokter Samuel meninggalkan ruang rawat dan membiarkan Pram melakukan aksinya menciumi ku.
"Emmm kaka mah kebiasaan! Emm gak punya malu!" Ucap ku di sela sela ciuman yang di lakukan Pram pada ku.
🍂 Di luar ruang rawat,🍂
Dokter Embun menunggu dokter Samuel di ruang tamu sambil berdiri menatap bingkai besar yang terdapat di salah satu dinding, foto saat pernikahan Pram dan Naira.
Dokter Embun membatin, Pram terlihat gagah dalam foto ini, andai saja dulu aku tidak memutuskan hubungan dengannya dan tetap menjalin hubungan meski long distance relationship LDR, mungkin saat ini aku lah wanita yang mendampingi Pram, bukan bocah ingusan itu!
3 tahun yang lalu dokter Embun memilih mengakhiri hubungannya dengan Pram, ia memilih fokus dengan kuliahnya dan Embun tidak sanggup dengan menjalani hubungan yang long distance relationship. Pada hal saat itu Pram mengajaknya untuk menikah, namun di tolak oleh Embun, ia ingin mengejar cita citanya menjadi seorang dokter spesialis jantung.
Penyesalan pun tidak ada lagi gunanya, toh waktu terus berputar tanpa mau berhenti dan tanpa mau kompromi.
Sedangkan di atas meja telah terhidang berbagai jenis snack dan makanan ringan serta 2 gelas orange jus.
Dokter Samuel duduk di sofa lalu menyeruput minuman yang di sediakan maid.
Dokter Embun ikut mendudukkan dirinya di sofa bersama dengan dokter Samuel.
"Kapan kita akan kembali ke rumah sakit, dokter?" Tanya dokter Embun.
Bersambung....
...💖💖💖💖💖...
Salam manis author gabut.
Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen 😁
Makasih banyak udah mau baca.
__ADS_1