
...💖💖💖...
"Kau tunggu lah di sini, biar ku ambilkan handuk untuk mu!" Ujar Pram yang lantas ke luar dari kamar mandi dengan tubuh yang oplasss.
Bugh.
Baru saja dua langkah kaki Pram meninggalkan Naira di dalam kamar mandi, dirinya sudah di kejutkan dengan suara yang membuat jantung nya berdegup dengan kencang.
"Ada apa, Nai?" Tanya Pram, yang kembali masuk ke dalam kamar mandi dengan wajah cemas.
Naira menggelengkan kepalanya, "Tidak ada apa apa." Jawab Naira dengan santainya menahan tawa melihat ekspresi wajah Pram.
"Lalu tadi bunyi apa yang aku dengar? Aku pikir kau jatuh?" Tebak Pram.
"Mau tau tadi bunyi apa?" Tanya Naira, dengan Pram yang mengangguk angguk kan kepala nya dengan pasti.
"Mau tau banget? Apa mau tau aja?" Ledek Naira.
Pram menahannn rasa sabarnya, dengan membuang nafasnya dengan kasar.
"Katakan pada ku, tadi bunyi apa, kalo kau sendiri tidak terjatuh, sayang ku, hidup ku, cinta ku!" Pram melangkah mendekati Naira, berniat ingin mengecek langsung tubuh istri nakalll nya itu, dengan tatapan mata yang nakal.
Naira terkekeh, "Hehehe... bunyi ini ka!" Naira mencontohkan bunyi yang ia hasilkan tadi dengan telapak tangannya yang menepuk dinding.
Bugh bugh bugh.
Naira tergelak kembali, saat mendapati mata Pram yang melotot ke arahnya.
Pram menyudutkan Naira, lantas menyeranggg Naira dengan menggelitik kan pinggang Naira dengan jemarinya.
"Kaaaa, sudah ka! Hahaha geli ka, ka... ahahaha." Naira tertawa lepasss, karena rasa geli dari tangan Pram yang menggelitik nya.
Pram menggendong tubuh Naira, membawanya ke luar dari dalam kamar mandi.
"Dasarrr anak nakalll, beraninya kau mengerjai suami mu sendiri!" Omel Pram yang mengecup bibir Naira.
"Aku hanya jail ka, gak nakal!" Naira menowelll putinggg Pram yang menggoda matanya.
"Astaga Nai, ingin rasanya ku telannn diri mu kembali." Pram menggeleng kan kepalanya menurunkan Naira dari gendongan nya.
Pram mengambilkan handuk dari dalam lemari, lalu menyerahkan handuk itu pada Naira. Pram juga mengambil handuk untuk dirinya sendiri.
"Telen aja kalo berani! Emang ka Pram gak lelah apa, begituan mulu!" Cicit Naira.
"Aku tidak akan ada kata lelah untuk menjamahhh mu, tubuh mu itu ibarat candu untuk ku. Sekali aku mengenainya, maka aku akan terus melakukan nya."
Pram mengambilkan dress dari dalam lemari untuk Naira kenakan. Sedangkan dirinya mengeluarkan satu stel pakaian kantor nya.
__ADS_1
"Ihss apa itu candu? Candu candu'an eey wew wew wew." Ledek Naira dengan kepalanya yang condong ke tubuh Pram seakan dirinya akan menyeruduk perut Pram.
"Sudah Nai, kenakan sana dress mu itu!" Oceh Pram,
Pram mengancing jasnya, dengan ke dua matanya yang menarap Naira, yang tengah mengenakan dress pilihan Pram.
Tingkah mu... langsung aneh Nai, setelah kena senjataaa pamungkas ku! Hari ku jadi lebih berwarna dengan hadirnya diri mu. Entah apa yang terjadi jika aku hidup tanpa mu, rasanya sulit untuk aku membayangi hari ku tanpa mu.
Kruuuk kruuuk kruuuk.
Naira terkekeh di depan Pram, dengan mengeringkan rambutnya menggunakan hair dryer.
"Hehehe, aku laper ka!" Seru Naira dengan matanya yang berharap di beri makan, setelah dirinya di jadikan santapan Pram.
"Apa yang ingin kau makan? Heh!" Pram mengambil alih hair dryer dari tangan Naira, dan Pram sendiri yang mengeringkan rambut Naira menggunakan hair dryer itu.
"Emmmm makanan nya di antar lagi ya ka, ke ruang kerja kaka?" Tebak Naira.
"Lalu kalo bukan di antar, kau mau makan di mana?"
"Boleh kan kalo aku makan di restoran yang ada di hotel ini ka? Sekalian buat referensi aku buat kedei baru ku nanti."
"Baik lah, biar ku minta Haikal untuk menemani mu!" Pram menyimpan hair dryer itu di tempatnya.
"Ka Pram masih sibuk?" Naira mengambil sendiri, sepatu flat yang akan ia kenakan dari rak sepatu, yang sudah tersedia di ruang pribadi Pram itu.
Naira mengambil jepittt rambut, dari salah satu laci nakas kecil, yang ada di samping tempat tidur.
"Aku yang meminta Dev untuk menyiapkan ini semua. Tapi aku tidak meminta Dev untuk menyiap kan tetekkk bengek, biar aku singkir kan itu. Kau cukup beri tahu aku, di mana tetekkkk bengek itu di simpan Dev!" Ujar Pram yang sebenarnya tidak mengerti dengan istilah Naira kali ini, tetekkkk bengek.
"Hahahahha, kaya tau aja itu tetekkkk bengek apaan. Tapi bagus kan ka, kalo aku yang kenakan? Cantik gak ka?" Naira memperlihat kan rambutnya yang kini di hias dengan jepittt rambut.
Pram mengangguk angguk kan kepala nya, aku mengerti sekarang. Tetekkk bengek itu artinya jepit rambut.
Grap.
Pram memeluk Naira dari depan, "Aku tau sekarang, tetekkkk bengek itu apa!"
Naira mengadahkan wajahnya, "Apa coba?" Beneran nih, ka Pram udah tau, tetekkkk bengek itu apaan? Hebat banget dong kalo ka Pram bisa sampe tau, secara itu hal yang sangat mudah untuk di tebak, payahhh lah kalo ka Pram kaga tau mah.
Pram mencuwil hidung Naira, berkata dengan bangga. Karena Pram merasa betul dengan jawaban yang akan ia berikan.
"Tentu saja tetekkkk bengek itu ya jepittt rambu, memang ada benda lain selain jepittt rambut? Tidak ada kan!" Tanya Pram dengan merenggangkan pelukannya.
Naira bersorak dengan menepuk tangannya, karena Pram benar benar payahhhh, tidak mengerti bahasanya Naira.
"Yeeee, jawaban kaka biar aku kasih nilai 10." Ujar Naira dengan riang, siap meledek Pram kembali.
__ADS_1
"Tuh kan, apa aku bilang, aku ini hebat kan! Hal sekecil itu saja masa aku bisa tidak tahu sih!" Ujar Pram dengan percaya dirinya.
Naira langsung melompat ke punggung Pram, dengan ke dua tangan yang berpegangan pada bahu kekar Pram.
"Tapi nilai sepuluh dari seratus ka, wahahahha." Naira tergelak, "Karena jawaban kaka itu masih kurang tepat! Yeeeeee, aku menang." Naira mengayun ayunkan kakinya yang di sanggar ke dua lengan Pram.
"Jadi jawaban ku salah?" Pram menoleh ke samping, melihat wajah cantik Naira, yang kini tampak senang karena berhasil mengerjai diri nya.
Naira menganggukkan kepalanya, "Ayo jalan ka!" Naira menepak bokonggg Pram dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya kini melingkar di leher Pram.
Saat Pram dan Naira ke luar dari ruang pribadi Pram. Naira di kejutkan dengan seorang wanita yang tidak ia kenal, tengah duduk di kursi yang ada di hadapannya meja kerja Pram.
Pram mengerutkan keningnya, "Kau? Apa yang sedang kau lakukan di sini?"
"Maaf, Tuan dari tadi saya menunggu anda, saya juga sudah di persilahkan untuk menunggu anda di ruang kerja anda." Ujar wanita muda dengan paras yang cantik.
Naira menatap tajam Pram, Naira langsung meminta Pram untuk menuruni nya dari punggung Pram.
"Hai!" Sapa Naira pada wanita yang tidak ia kenal, usianya pasti berkisar 25 tahun, dewasa, cantik, siapanya ka Pram ya?
Wanita yang tidak Naira kenal membalas sapaan Naira.
Anak ini mungkin adik perempuan nya Tuan Pram, "Hai juga!" Ia tersenyum tipis dengan tatapan matanya yang sinis.
Pram menggenggammm tangan Naira, membawanya melangkah mendekati kursi ke besarannya. Dasarrr wanita sok tau.
Naira menatap wajah Pram, siapa sih wanita itu? Kenapa ka Pram tidak menjelaskan nya pada ku!
Pram mendudukan dirinya di kursi, "Apa lagi yang ingin anda bicara kan, Nona?" Tanya Pram datar, pada wanita yang duduk di hadapannya.
"Ka- kalian bicara lah, biar aku ke luar!" Seru Naira, biar aku tanyakan aja lah sama, pak Dev! Kalo aku marah sekarang, takutnya wanita ini malah salah satu rekan bisnis nya ka Pram. Bukan hama yang perlu di basmi, bisa aku yang di basmi sama ka Pram nantinya.
Naira melangkahkan kakinya, hendak ke luar dari ruang kerja Pram.
Sreeek.
Bugh.
...💮💮💮💮💮...
......................
...💖 Bersambung 💖...
Terima kasih sebelumnya, yuk komen yuk, tambah tambah masukan buat author.
Jangan lupa tinggalin jejak like oke! 😊
__ADS_1