Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Gak kaya biasanya


__ADS_3

...๐Ÿ’–๐Ÿ’–๐Ÿ’–...


[ "Aku di puncak, sayang! Menunggu mu membuka jendela kamar mu! Kemaren aku mengawasi mu, apa pun yang kau lakukan, aku tau itu!" ]


Naira membola, "Apa? Kaka di puncak? Kaka serius dengan apa yang kaka katakan?"


Naira langsung turun menuruni anak tangga, hingga ke dua kakinya kini menepaki lantai.


Ia bergegas ke arah jendela, membuka gorden, tampak langit masih gelap, dengan semilir angin malam, menusuk tulang. Menoleh kiri dan kanan, menatap jauh ke depan mencari sosok yang mengatakan ia sedang di puncak, sosok yang tanpa sadar tengah ia rindukan. Karena Naira sudah terbiasa dengan ke hadiran Pram di sisinya.


"Ka Pram! Jawab ih... kaka ada di sini? Lalu di mana ka Pram saat ini?" Naira bertanya dengan intonasi agak tinggi, dengan matanya yang menatap tajam sekitar luar villa.


Dengan gugup, Pram berkelit dan berkilah.


[ "A- aku ha- hanya bergurau sayang. Iya aku a- aku bergurau, membayang kan mu dalam mimpi ku, hahaha. Kau ini terlalu menganggap serius perkataan ku rupanya!" ]


"Apa? Aku yakin pasti ada yang ka Pram sembunyiin dari ku, apa itu ka?" desak Naira yang mulai mencium aroma kebohongan dari Pram.


Novi yang merasa terusik tidurnya mengerjapkan matanya, "Nairaaa? Astaga udah dingin ac, di tambah dinginnya jendela? Tutup Nai jendelanya! Tambah dingin ih, bisa mati ke dinginan ini gw!" sungut Novi dengan memeluk erat bantal gulingnya.


"Ihs kamprettt lo!" gw kirain jurik.


[ "Aku masih mengantuk. sayang, ku tutup dulu ya! Nanti ku hubungi diri mu!" ]


"Tapi ka, halo ka! Ka Pram!"


Novi yang mendengar suara Naira yang gusar, langsung menyeringai.


Naira menatap sebel layar hape nya, saat Pram memutuskan sambungan teleponnya begitu saja, di saat Naira masih penasaran dengan perkataan Pram.


Naira menyembulkan kepalanya ke luar jendela, menatap gelapnya langit, pohon yang bergoyang dengan tiupan angin, bangunan yang nampak gelap dengan cahaya penerang dari lampu, jalan raya yang masih tampak sepi dengan penerang lampu.


"Ini puncak gak kalah jauh beda sama kampung yang ga ada penghuninya, sepi amat ya! Gak ada yang lewat apa satu orang gitu!" gumam Naira dengan mengusappp usappp lengannya dengan telapak tanganya.


Wusss.


Naira menyentuh tengkuk lehernya, "Merinding gw! Kaya ada yang niup." Naira menoleh ke belakang tubuhnya.


Novi yang sudah bersiap di belakang tubuh Naira, untuk mengerjai Naira, dengan menutupi wajahnya mengunakan ke dua tangannya.

__ADS_1


"Baaaa!" seru Novi saat Naira dan dirinya sudah saling bertatapan wajah.


Naira yang tidak siap, di buat terkejut dengan berteriak, "Waaaaa!"


"Ahahaha kena lo, gw kerjain! Makanya tutup jendelanya! Masih malam kan!" sungut Novi dengan menutup jendela dan gordennya.


Naira melayangkan geprakan di lengan Novi, "Kampretttt lo, gw kata hantu! Jantung gw copot, gimana? Amsyong gw punya temen kaya lo, Novi Novi!" Naira mengurut dadanya dengan melangkah ke ranjang Novi, mendaratkan bobot tubuhnya di tepian rajang. Di susul dengan Novi.


Serli dan Sopur pun jadi terbangun dengan suara teriakan Naira.


"Ada apaan sih? Maling? Hantu? Mata gw masih ngantu ini!" oceh Serli dengan mengucek ke dua matanya dengan posisi duduk.


"Duh malah tar jadwal kita di puncak padat lo!" Sopur mereganggakan ke dua tangannya ke atas dengan tubuh yang masih berbaring.


"Sorry gays, kaget gw. Nih di kerjain si plangton!" Naira mengerucutkan bibirnya ke arah Novi.


Karena masih larut, ke 4 nya pun memilih melanjutkan untuk tidur nya kembali. Sementara Naira di buat gusar, mengirim Pram pesan dan berkali kali mencoba untuk menghubunginya namun tidak ada tanggapan.


Naira menggaruk kepalanya dengan frustasi, ka Pram kenapa lagi sih! Apa mungkin ya, ka Pram lagi sama cewe? Deket lagi gitu sama model? Atau beneran lagi ngurusin kerjaan? Tapi ka Pram ini gak kaya biasanya lo! Astaga, gw harus gimana coba! Buang jauh jauh pikiran jelek lo Naira, bagen gitu itu laki lo!


...โ˜˜๏ธDi villa lainnyaโ˜˜๏ธ...


Hanya menatap panggilan yang di lakukan Naira, tanpa berani menjawab panggilannya kembali.


"Maaf sayang, tapi kali ini aku rasa aku perlu melakukannya pada mu. Aku ingin tau seberapa gusarnya diri mu, jika aku mengabaikan mu! Sejauh mana rasa mu untuk ku." gumam Pram dengan menarik sudut bibirnya ke atas.


Pram yang tidak bisa lagi tidur, memutuskan untuk bangun dan mengganggu Haikal yang berada di kamar lain.


Dengan celana jins, kaos lengan pendek berbalut dengan jaket yang sama dengan milik Naira, hijau lumut. Ia melihat pantulan dirinya di depan cermin.


Pram menolehkan pipinya ke kanan dan ke kiri, sambil berujar dengan percaya dirinya yang tinggi, "Wajah ku masih muda, masih pantas lah jika aku jalan bersama dengan Naira!"


Setelah puas memandang wajah nya, ia langsung meninggal kan kamar yang ia tempati.


Tok tok tok tok.


Dengan suara tinggi, Pram mengoceh di depan pintu kamar yang di tempati Haikal.


"Haikal, bangun! Ku tunggu kau di bawah dalam waktu lima menit, jika terlambat, ku lemparrr kau dari jurang!"

__ADS_1


Pram melangkah menuruni anak tangga, villa yang berlantai 2 dengan ornamen dari kayu, terkesan menyatu dengan alam, jauh dari kata selera Pram. Namun tidak ada pilihan baginya, tidak ada kata menawar lagi, jika sudah berhubungan dengan sang istri, untuk tetap dekat dengan Naira. Ia menyampingkan rasa ketidak sukaannya itu.


Haikal langsung beranjak dari tidurnya, begitu mendengar ancaman dari bos-nya.


"Astaga, bos sialannn... kali ini apa lagi yang di inginkan nya!" Haikal langsung melangkah.


Namun matanya yang belum sepenuhnya terbuka, malah membuat kaki kanannya membentur pinggiran ranjang.


Bugh.


"Awhhh uuuhhhh!" Haikal mengaduh ke sakitan dengan membungkuk kan tubuhnya, tangannya terulur menyentuh kaki nya yang membentur ranjang.


Sementara di lantai bawah, Pram terus menatap jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, kemana anak itu? Kurang 63 detik lagi, benar benar minta di buang ke jurang Haikal ini!


Tap tap tap tap tap.


Langkah kaki seseorang, yang menuruni anak tangga dengan cepat menggema di telinga Pram. Membuat Pram, menyeringai tanpa berniat untuk melihat ke arah belakang.


"Saya sudah siap, bos! Kita mau ke mana bos?" tanya Haikal dengan berdiri di belakang Pram, astaga bos benar benar sudah rapih? Memang bos mau ke mana lagi? Matahari aja masih terbenam, masih enak tidur di peraduannya.


"Tidak usah banyak berfikir kau Haikal! Nanti cepat tua, kalah dengan ku yang tampak muda. Ayo jalan, kita kembali ke Bintaro." Pram melangkah dengan langkah kakinya yang pasti.


"Apa bos? Kembali ke Bintaro? Tapi Nona Muda, bagai mana bos?" tanya Haikal yang kali ini memikir kan keselamatan Nona Muda-nya.


"Untuk apa kau bertanya pada ku, Haikal? Kau masih menugaskan pengawal bayangan untuk melindungi Naira kan?"


"Mati gw!" gumam Haikal kecil namun masih bisa di dengar oleh Pram.


"Haikal!"


...๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ...


......................


...๐Ÿ’– Bersambung ๐Ÿ’–...


Terima kasih sebelumnya, yuk komen yuk, tambah tambah masukan buat author.


Jangan lupa tinggalin jejak like oke! ๐Ÿ˜Š

__ADS_1


__ADS_2