Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Sudah lama ia incar


__ADS_3

...πŸ’–πŸ’–πŸ’–...


Pram menatap tajam Dev, "Tidak usah banyak bicara kau Dev!"


"Ka Pram! Ayo kita ke Bandung!" Seru Naira dengan sorot mata yang berbinar, bibirnya melengkung lebar.


"Tidak, jika kita ke Bandung sekarang bagai mana dengan sekolah mu? Dev ke Bandung untuk menyelesaikan pekerjaan bukan untuk bersenang senang?" Seru Pram dengan tegas menolak ajakan istri kecilnya.


"Kan hanya bolos sehari ka, ini aja aku bolos kan sekolah? Ulah siap? Ulah ka Pram kan semalam tuh!" Naira menutup mulutnya dengan ke dua tangannya, mampusss gw pake ke lepasan ngomong malah ada pak Dev, aiiiih malu.


Dev hanya menatap lantai tempat kakinya berpijak, terus Nona, rayu pak Pram untuk pergi ke Bandung.


Dengan jahilnya tangan Pram terulur menyingkirkan tangan Naira dari depan mulutnya, jari Pram menowel bibir merah muda Naira yang berbalut lip goss.


"Bibir mu ini memberikan ku peringatan untuk menyentuhhh mu lagi ya? Hem?" Pram memainkan alisnya naik turun, menggoda Naira.


"Apa sih! Ngaco aja kalo ngomong!" Naira beranjak dari pangkuan Pram dan berdiri di depan dinding kaca, matanya menatap indahnya pemandangan luar yang terlihat kecil di matanya.


Pram menatap tajam Dev yang masih berdiri di depannya, "Apa lagi yang kau tunggu, Dev?" Tanya Pram dengan suaranyanya yang berat dan tegas.


Dev meyakinkan lagi atas izin yang di mintanya dari Pram, "Jadi, saya di perbolehkan pak untuk pulang lebih awal hari ini?"


Pram mengibaskan tangan kanannya menyuruh Dev untuk pergi, "Permasalahan di Bandung harus selesai dalam waktu 1 kali 24 jam!" Seru Pram yang tidak ingin mendengar ada kata penolakan dari Dev.


"Bilang saja anda tidak ingin saya terlalu lama meninggalkan hotel pusat, pak!" Gerutu Dev mendengar ke putusan Pram.


"Cepat pergi! Kau tunggu apa lagi?"


"Iya iya, kalo begitu saya permisi pak!" Dev ke luar meninggalkan ruang kerja Pram.


Dev bergegas ke tempat di mana Sesil sekarang bekerja.


Dev meninggalkan hotel pusat dengan mengemudikan honda jazz putih dengan bibirnya yang terus menggerutu saat nomor yang ia hubungi tidak juga menjawab panggilan teleponnya.


"Ke mana sih wanita itu! Beraninya dia mengabaikan panggilan ku!" Gerutu Dev dengan berkali kali menekan tombol pada hendset yang ia kenakan di telinganya.


πŸ‚Kembali pada DarenπŸ‚


Daren sampai di villa tempat Aji berada saat ini.


Pak Mamad langsung membukakan gerbang yang menjulang tinggi saat tahu siapa yang baru saja menghentikan laju motor sport yang di tungganginya.


Daren membuka kaca helm yang menutupi wajahnya, "Mang, tolong buka gerbangnya!" Seru Daren.


"Baik Tuan Muda Kecil." Mang Mamad mendorong gerbang hingga motor sport yang di tunggangi Daren bisa melewatinya.


Pintu gerbang di tutup kembali oleh mang Mamad dan tidak lupa untuk mengunci gerbangnya.


Daren melangkah ke arah pintu utama dan memencet bel yang ada di dekat pintu.

__ADS_1


Ting nong. Ting nong.


Ceklek.


"Akhirnya Tuan Muda Kecil sampai juga!" Seru Nami saat melihat siapa yang datang, seseorang yang sudah ia dan pak Azka tunggu.


"Bagai mana dengan papah, bi?" Daren melangkah masuk ke dalam rumah dengan tas ransel yang masih di punggungnya.


"Tuang besar ada di kamarnya, Tuan Muda Kecil."


Nami mengantarkan Daren menuju kamar pribadi Aji.


Daren melihat pintu kamar yang terbuka sedikit pintunya, nampak di sana Aji yang tengah duduk bersandar pada kepala ranjang tengah berdebat dengan Azka yang sedang berdiri di sampingnya.


"Pokonya aku tidak perduli Azka, kau harus berhasil merebut kembali perusahaan ku dari tangan Pram! Itu perusahaan ku! Sampai mati pun aku tidak akan menyerahkan perusahaan itu padanya! Bocah sialannn!" Aji menghempasss kan benda yang berada di atas nakas kecil dekat ranjangnya.


Sreeek.


Prang.


Gelas dan buku tersapu dari atas nakas.


"Maaf Tuan, bukti bukti yang di miliki Tuan Pram, berkas persetujuan atas akuisisi perusahaan sudah Tuan sepakati, terlebih Tuan Muda Pram sudah mengadakan rapat umum, semuanya sudah legal di mata hukum." Terang Azka.


"Mereka melakukan dengan cara curang, Azka!"


"Mereka tidak curang, pah! Ka Pram melakukan apa yang seharusnya sudah ia lakukan sejak lama." Daren mendudukkan dirinya di tepian kasur dengan mencium punggung tangan kanan Aji.


"Tau apa kau dengan perusahaan!" Sungut Aji dengan sinis.


"Maaf pah, tapi di perusahaan yang papa pimpin itu ada hak ka Pram, hak yang sudah lama tidak ia dapat kan!" Daren menatap nanar Aji, aku tidak habis fikir dengan papah angkat ku ini, bagai mana bisa ia sejahat itu pada darah dagingnya sendiri!


Aji mengerutkan keningnya, matanya menatap tajam pada Daren, putra angkatnya yang ia besarkan dan ia didik bersama Widia.


Namun sifat tamak yang di miliki Aji dan Widia tidak turun pada Daren.


"Aku melakukan ini semua untuk mu, anak bodohhhh! Tidak ada gunanya aku memungut mu dari jalanan jika hasil didikan ku tidak kau terapkan!" Seru Aji dengan suaranya yang tampak kecewa dengan Daren.


Jeder.


Bak tersambar petir, hati Daren di hantam dengan perkataan yang menyayat hatinya.


Tidak seorang pun anak yang ingin hidup di jalan dengan kerasnya hidup, sulit dan kejamnya bertahan hidup di jalanan, berkat Aji dan Widia. Daren kecil meninggalkan kerasnya hidup di pinggir jalan.


Daren menepuk punggung tangan keriput Aji, "Sadar lah pah, harta tahta tidak akan kita bawa mati!" Seru Daren yang langsung di tepis tangannya oleh Aji.


πŸ‚Hotel pusatπŸ‚


Pram menghubungi Haikal, "Siapkan mobil! Kita pulang sekarang!"

__ADS_1


[ "Siap bos!" ] Seru Haikal yang langsung memarkir mobil sedan putih di depan pintu utama hotel.


Dari ke jauhan tampak Nusi yang mengenakan hoodie memajukan penutup kepalanya, "Itu pasti dia!" Nusi menyeringai dengan matanya yang menatap tajam pada saat Haikal ke luar dari mobil sedan putih yang terparkir di depan pintu utama hotel.


Kakinya melangkah berjalan mendekati pintu utama hotel, tangan kanannya yang bersembunyi di balik saku hoodie menggenggam erat belatiii siap menghunuskan pada sasarannya yang sudah lama ia incar dan ia intai.


Nusi menyamar dengan beberapa orang orang yang hendak masuk ke dalam hotel dengan segala keperluan tersendiri.


Pak satpam yang melihatnya menaruh curiga pada seseorang yang mengenakan hoodie di sore yang lumayan cerah dengan masker di mulutnya.


"Ah paling orang itu hanya masuk angin hingga memakai pakaian yang rapat seperti itu!" Menepis rasa curiga seorang satpam pada sosok yang tidak ia kenal.


Sementara beberapa pengawal bayangan masih tetap berjaga pada tempat yang tidak terduga oleh seseorang yang berniat jahat sekali pun.


Pengawal yang sudah terlatih untuk menghadapi bahaya sekali pun.


Reina menatap sinis pada sosok wanita muda yang kini jalan berdampingan dengan Pram.


Tangan Pram terus menggenggam jemari Naira, mengabaikan pasang mata yang sesekali menatap ke arahnya.


"Sore, pak!" Seru seseorang yang berjalan di depan Pram.


Ada yang membungkuk hormat pada Pram saat melihat sosok Pram.


Naira menatap wajah Pram, meledeknya meski dalam hati, ya ampun laki gw segitunya di hormatin sama orang, tapi yang di hormatin malah acuh gitu! Sok jual mahal lo ya, hehehe.


Pram menghembuskan nafasnya dengan kasar, dasar istri nakal, masih berani meledek ku!


"Jika aku balas menyapa orang orang yang tengah menyapa ku, bibir ku bisa kering membalas setiap sapaan mereka!" Gumam Pram.


"Tapi tidak seperti itu juga kan? Tampang mu itu ka, seperti tampang suami yang sudah lama tidak di beri jatah oleh istrinya!" Ledek Naira.


Pram mengerutkan keningnya, "Punya nyali juga hem! Untuk meledek ku?"


Di saat Pram dan Naira melangkah semakin dekat dengan mobil, Haikal langsung membukakan pintu mobil untuk Tuan-nya di kursi belakang.


Berbarengan dengan seseorang yang berdiri tidak jauh dari mobil sedan putih mewah berlari ke arah Pram dengan tangannya yang mengeluarkan belatiii dari saku hoodie yang ia kenakan, kali ini lo gak akan bisa lolos dari malaikat ke matian lo, pak Pramana Sudiro!


Kening Pram mengerut, ada yang ingin bermain main dengan ku rupanya.


Bugh.


Jlep.


......................


...πŸ’– Bersambung πŸ’–...


...πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–...

__ADS_1


Salam manis author gabut 😊


Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen πŸ˜‰πŸ˜‰


__ADS_2