Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Banyak bicara


__ADS_3

...💖💖💖...


"Memang ada ka, di tempat seperti ini? Bagai mana caranya?" tanya Naira dengan mencondongkan tubuhnya ke depan.


"Sudah pasti ada, sayang! Kau mau es krim, kue kering, cake juga ada." terang Pram.


"Waah lengkap sekali ya ka!" Naira menegakkan tubuhnya, saat seorang pramugari kembali dengan membawa yang di pesan Pram.


Pramugari meletakkan minuman kemasan hangat dan ice di meja Naira dan Pram.


"Silahkan, Nona, Tuan! Apa ada lagi yang Nona inginkan?" tanya pramugari lagi.


"Siapkan sandwich tuna untuk istri ku." terang Pram.


"Di tunggu Nona, saya akan siapkan." ucap pramugari.


Di saat pramugari hendak membalikkan tubuhnya, mengayun kan langkah kakinya, Naira berseru yang membuat pramugari menghentikan langkah kakinya.


"Maaf ka pramugari, boleh aku ikut dengan mu?" Naira beranjak dari duduknya, setelah melepas sabuk pengaman yang melilittt tubuhnya.


Pramugari tampak berfikir dengan menoleh ke arah Pram, seakan bertanya, 'Apa saya harus membiar kan Nona ikut dengan saya, Tuan?'


Pram meraih minumannya yang ada di atas meja, "Biarkan istri ku ikut dengan, mu!" seru Pram, yang membuat Naira langsung menyunggingkan senyum manisnya.


"Ayo Nona!" Pramugari pun mempersilahkan Naira untuk ikut dengannya.


Naira kembali di buat tercengang, melihat dapur yang tampak mewah dan minimalis.


Pramugari membuka lemari yang ada di dapur, dan mengeluarkan sandwich tuna yang di minta Pram, membuka plastik klip nya dan menyajikannya di piring.


"Ayo Nona, kita kembali ke depan." ucap pramugari.


"Ah iya." Naira mengekori pramugari itu.


"Boleh aku bertanya pada mu, apa semua hidangan yang ada di dapur itu sudah jadi semua ya? Lalu kapan kalian memasaknya? Apa kaka pramugari sudah lama bekerja dengan ka Pram?" cecar Naira yang tiba tiba menjadi banyak bicara.


"Saya harus menjawab pertanyaan Nona yang mana dulu ya?" tanya pramugari.


Pram yang melihat Naira sudah kembali, langsung mengajukan pertanyaan pada istri kecilnya.

__ADS_1


"Sudah kau melihat dapurnya, sayang?" kini Pram merebahkan tubuhnya di sofa panjang, dengan kaki yang menyilang.


Naira mendudukan dirinya di kursi yang tadi ia duduki. Pramugari juga meletakkan piring yang ia bawa di atas meja, hadapan Naira. Setelah itu baru ia kembali ke tempatnya.


"Ehem, sudah... apa ini semua kaka yang disein juga? Sampai ke setiap sudut pesawat jet ini?" Naira menatap Pram.


"Bukan aku yang mendisein nya, melainkan arsiteknya yang memilih kan segala furniture yang ada di dalam pesawat ini. Sesuai dengan permintaan ku." terang Pram, Pram menoleh ke arah Naira yang belum juga memakan sandwich tuna yang ada di hadapannya.


"Kau tunggu apa lagi? Cepat lah habiskan makanan mu itu! Ada yang harus kau kerjakan untuk ku saat ini!" seru Pram dengan ke dua mata yang terpejam, ia menutupi ke dua matanya dengan lengannya.


"Apa ka Pram tidak ingin mencoba nya walau sedikit? ini sangat enak ka!" Naira menikmatiii sandwich tuna miliknya dengan memejam kan ke dua matanya sejenak, menikmatiii lezatnya sandwich tuna.


Sambil mengunyah, Naira membatin, emmmmm ini enak banget, aku baru kali ini menikmati sandwich tuna seenak dan selezat ini, astaga aku seperti melayang.


Pram mengerutkan keningnya, melihat tingkah Naira lalu menggeleng kan kepalanya, apa seenak itu rasanya? Sampai membuatnya seolah melayang, yang benar saja!


Waktu 7 jam seakan terasa lama bagi Naira, ia tidak sabar ingin cepat menginjakkan kaki di negara sakura, negara yang selama ini ia lihat dari layar kaca, buku, dan media lainnya.


Tanpa sadar Naira memejamkan ke dua matanya, saat ia sedang menonton drama korea lewat layar yang terpasang di layar yang cukup besar. Layar yang terpasang menghadap kursi panjang.


Pram menyelimuti tubuh Naira. Membiarkan nya tertidur dengan nyenyaknya.


"Apa Tuan tidak membangunkan Nona?" tanya pramugari yang melihat Pram hanya memperhati kan Naira.


"Tidak perlu, aku akan menggendong nya saja. Kalian keluar lah lebih dulu!" Pram mengenakan tas selempang yang Naira bawa di lehernya.


"Kalo begitu, kami duluan Tuan!" ucap pramugari satunya.


Pram menggendong Naira dengan tangan besarnya, bersamaan dengan pilot dan copilot yang ke luar dari kabin, tempatnya mengoprasikan pesawat.


"Kau benar benar suami ideal, Pram!" seru pria dewasa berparas tanpan, yang umurnya sama dengan Pram, tapi dia mengenakan seragam pilot.


"Diam kau, tidak usah banyak bicara!" gerutu Pram.


"Apa kau benar benar akan berada di Jepang, selama satu minggu? Tidak akan berubah pikiran lagi kan, Pram?" tanya pria yang mengenakan seragam pilot, sedangkan pria berseragam copilot, hanya diam saja dengan telinga yang mendengarkan obrolan ke duanya.


"Berubah pikiran atau tidak, kau lihat saja ke depannya akan bagai mana." terang Pram.


Pram menuruni anak tangga, ke luar dari pesawat jet miliknya. Dengan di ikuti pilot dan copilot yang berjalan di belakang Pram.

__ADS_1


Pram di sambut dengan mobil bandara, Pram menaiki mobil bandara itu. Meninggalkan pilot dan copilot nya.


"Siapa wanita itu, pak? Sepertinya sangat istimewa untuk Tuan Pram!" seru copilot yang baru angkat suara, saat Pram sudah tidak pada jangkauan pandangan nya.


"Istri kecil Pramana Sudiro." ucap sang pilot.


Beberapa menit kemudian.


Pram berbaring di atas ranjang, memiringkan tubuhnya menghadap wajah Naira yang tampak pulas, jemari Pram mengelusss pipi Naira.


"Hai sayang, apa kau tidak lelah terus tertidur hem? Apa kau tidak ingin menikmati indahnya suasana Jepang?" tanya Pram dengan suara bariton nya.


Dengan ke dua mata yang masih mengerjap, Naira berseru, "Emmm kaka, apa kita sudah sampai di Jepang?" tanya Naira dengan menarik ke dua tangannya ke atas, mengendurkan otot otot tangannya yang terasa kaku.


"Ehem... kita sudah sampai sejak beberapa menit yang lalu." ucap Pram dengan santainya.


Naira langsung membola, dengan tubuh yang langsung duduk.


"Kaka kenapa gak bangunin aku?" Naira mengerucutkan bibirnya pada Pram.


"Aku tidak tega untuk membangun kan mu, sayang... kau tampak pulas." kilah Pram.


"Uuuuh jahat!" Naira langsung menubruk tubuh Pram dan menindihnya Pram.


Bukannya marah, Pram justru terkekeh melihat tingkah Naira, "Bilang saja kau merindukan belayan ku, sayang hehehe!" tangan Pram bergerak liar.


"Enak aja kalo ngomong!" Naira menggunakan lengannya untuk menopang tubuhnya dan beranjak dari atas tubuh Pram.


Pram membiarkan Naira mengedar kan pandangannya, Naira mulai beranjak, menapaki kakinya pada lantai.


"Kita di mana, ka? Itu pantai ka?" tanya Naira setelah membuka gorden yang menutupi dinding kaca.


...💮💮💮💮💮...


......................


...💖 Bersambung 💖...


Terima kasih sebelumnya, yuk komen apah biar tambah tambah masukan buat author nya 🤭🤭

__ADS_1


__ADS_2