Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Cari mati


__ADS_3

...💖💖💖...


"Om?"


Pak Pram menggelengkan kepalanya lagi.


"Sayang jika kita di rumah, kaka jika kita di luaran! Setidaknya panggilan itu bertahan selama kau masih sekolah." Ujar pak Pram, "Tapi saat kau sudah lulus, panggilan untuk ku pasti akan berubah lagi!"


Pram tersenyum simpul membayangkan Naira memanggilnya dengan my hubby. Pasti akan berubah, jadi my hubby and my wife,


Naira mengangguk setuju, "Huuuh, baik lah." Sebenarnya berat juga sih panggil pak Pram dengan sebutan sayang, tapi apa boleh buat, kan hanya panggilan saja, masalah hati bisa kali ya di kompromiin nanti, yang penting sekarang bisa lah ke luar dari mobil.


Pak Pram membuka pintu mobilnya, lalu hendak membawa ku serta ke luar dalam gendongannya.


"Pak, saya pake tongkat aja!" Seru ku yang langsung mendapat tatapan tajam dari pak Pram.


"Upsss, kaka iya kaka maksudnya hihihi." Aku menggaruk kepala ku yang tidak gatal, cuma salah sebut manggil aja, pake di pelototin gitu sih. Hiks hiks serem. Aku mengerucutkan bibir.


Pak Pram tetap membawa ku dalam gendongannya ke luar dari dalam mobil.


Pak Pram berbisik di telinga ku, "Jika sampai kau salah memanggil ku, ku ambil mahkota mu, ingat itu!"


Mata ku menatap tajam wajah yang baru saja mengancam ku, apa itu bisa di bilang ancaman ya? Sadis amat, tapi maksudnya mahkota, apaan ya? Aku kan bukan putri kerajaan yang punya mahkota di kepalanya. Tangan ku terulur menyentuh kepala ku dan meraba rabanya.


Pram berusaha menahan tawanya saat melihat tingkah Naira yang mengira mahkota itu adalah hiasan rambut bagi seorang putri kerajaan, "Dasarrr bodohhhh, mahkota itu sama saja keperawanan mu! Sekarang kau mengerti kan!"


Aku langsung menganggukkan kepala tanda mengerti, gila kalo keperawanan ku di ambil itu sama saja dengan aku tidak perawan lagi kan? Aaaaa kenapa nasib ku seperti ini sih! Hiks hiks.


Semua mata tertuju pada ku dan Pram.


Juni melihat Naira dan Pram dari jendela penghubung kitchen dan ruang depan.


"Ciyeeee ada pasangan romantis!" Celetuk Juni saat melihat ku dan Pram.


Plak.


"Awh."


Jitakan di layangkan Angga di kepala Juni, "Untung hanya aku yang mendengarnya!"


Juni mengusap kepalanya yang di jitak Angga dengan keras, "Sorry, gw keceplosan."


"Gw temuin mereka dulu!" Angga menyerahkan cangkir kopi dan susu cair kemasan pada Juni.


Pram mendudukan Naira di kursi yang ada di sudut ruang, Mega langsung menyambut mereka.

__ADS_1


"Siang Nai, pak!" Seru Mega.


"Siang, Mega."


Pram hanya mengangguk kecil.


"Mau di siapin minum, Nai?" Tanya Mega.


"Boleh deh." Aku celingukan mencari sosok Ayu, "Mega, ka Ayu kemana ya?" Tanya ku.


"Ayu, emmm anaknya lagi sakit Nai, jadi hari ini izin gak masuk kerja dulu." Ujar Mega, "Biar aku mintaain ya buat bikinin minum." Ucapnya lagi.


Mega meninggalkan Naira dan Pram, lalu Angga yang kini menghampiri ke duanya.


Ku lihat Elsa dan Novi tengah melayani pengunjung kedei, aku pun tersenyum pada mereka dengan lambaian tangan.


Novi membatin, itu kan Naira, cowok itu yang semalam juga kan!


Elsa membatin, apa mungkin cowok itu yang udah buat tanda merah pada leher Nai? Kalo di perhatiin itu cowok kayanya deket banget sama Nai.


"Nai, pak!" Angga menyapa saat sudah berdiri di depan meja yang kami duduki.


"Gak usah formal gitu, bang!" Seru ku menepak udara, saking jauh kalo dekat mungkin sudah mendarat di bahu Angga.


"Jaga sikap mu, Nai!" Seru Pram dengan penekanan.


"Berani kau mengusir ku!" Pram menatap ku tajam.


"Berani lagi! Ngapain takut! Kaka sama aku itu sama sama makan nasi, cuma bedanya aku ini cewe tangguh, ba--" Ucapan ku terhenti saat melihat Pram menyeringai pada ku.


Pram langsung menyeringai, ayo lanjutkan kata kata mu!


Mampusss gw, hampir keceplosan, "Ba- ba- baru mau bilang apa ya, lupa dah."


"Sudah sudah urusan berdebatnya di kesampingkan aja dulu, ada yang jauh lebih penting yang ingin saya sampaikan sama kalian berdua." Angga menengahi ku dan Pram.


"Apa?" Tanya Pram singkat dengan kode tangan menyuruh angga untuk duduk di kursi yang ada di depannya.


"Sampein apa, bang?" Tanya ku dengan wajah serius.


"Semalam saat kalian meninggalkan kedei, aku melihat ada seseorang yang mencurigakan tidak jauh dari kedei ini." Ujar Angga dengan serius.


"Apa orang itu bisa di lihat dari CCTV?" Tanya pak Pram.


"Sayangnya tidak, pak!"

__ADS_1


"Mungkin cuma orang lewat aja kali, bang... gak usah di ambil pusing lah, toh selama ini kedei kita aman aman aja kan!" Seru ku dengan yakin dari pada di ambil pusing bikin stres aja.


"Ada benarnya apa yang di katakan Naira, mungkin itu hanya kebetulan orang lewat." Ujar Pram, aku harus menyuruh Dev untuk menyiapkan orangnya berjaga di kedei.


Elsa membawakan minuman dan cemilan ke meja ku.


"Hai, Nai... pak!" Elsa menyapa ku dan Pram dengan tangan menaruh minuman dan cemilan di meja ku.


"Makasih ya, Sa!" Seru ku.


"Sama sama, Nai!" Elsa kembali lagi pada kesibukannya di kedei.


"Ya udah kalo gitu, saya permisi dulu!" Angga bangkit dari duduknya.


"Tunggu dulu, bang! Aku mencegahnya pergi, "Ada yang mau gw omongin sama lu!" Seru ku.


Pram menatap ku tajam, lalu menatap Angga tidak suka, apa yang sebernya ingin Naira bicarakan dengan orang ini? Apa itu menyangkut dengan ku? Atau pria lain?


Seperti tahu apa yang ada dalam pikiran Pram, "Ku genggam tangan Pram yang ada di atas pahanya, "Gak usah mikir jelek gitu!" Seru ku.


Apa dia bilang? Mikir jelek? Aku berfikir jelek? "Apa maksud mu?"


Ku kibaskan tangan kanan ku, "Ah udah lah gak usah di bahas, gak penting!" Kini aku fokus pada Angga, "Kalo kita buka cabang, udah bisa belum ya bang?" Tanya ku.


"Buka cabang?" Angga mengulang perkataan ku.


"Ia nietnya pengen buka cabang dengan konsep ada lemari buku, jadi pengunjung bisa makan minum sambil baca buku, ngerjain tugas atau ngerjain pekerjaannya gitu." Aku menjeda perkataan ku, "Terus aku maunya itu tempat nantinya tingkat... yang atas bisa buat outdoor gitu, bang.." Ujar ku yang tanpa sadar mata ku terus menatap Angga.


"Gak usah cari mati, Nai!"Seru Pram yang membuat ku dan angga menoleh ke arahnya.


"Apa sih, gak jelas!" Seru ku ketus.


Pram memutar kepala ku dengan tangannya hingga aku pun menatap Pram, "Tatapan mu tidak perlu selama itu saat bicara dengannya!" Seru Pram, "Aku tidak suka!"


Dalam diam, Angga memperhatikan sikap Pram pada Naira, apa pak Pram cemburu pada ku ya?



Pram kalo lagi natap orang.


Bersambung....


...💖💖💖💖...


Salam manis, jangan lupa dukung author dengan jempol dan komen ya 😊

__ADS_1


No komen julid nyelekit


__ADS_2