
...💖💖💖...
Ceklek.
"Eh maaf Tuan, sa- saya tidak lihat apa apa, nanti saya akan masuk lagi!" Ucap pak Dedi dengan wajah pias, satu tangannya menopang nampan yang ia bawa.
Bugh.
Dengan sisa tenaga yang Naira miliki, ia mendorong tubuh Pram hingga jatuh ke lantai.
"Uhhhh." Rintih Pram, "Apa apaan sih? Kau! Bocah nakal, berani mendorong ku?" Ucap Pram dengan kesal, tangannya mengusappp bokongggnya yang mencium lantai.
"Hihihi, maaf ka. Gak sengaja, malu juga kan di liet pak Dedi." Naira terkekeh melihat Pram yang kesal, makanya mesummm nya di tahan dulu ka! Gak inget apa bininya lagi sakit!
Naira beranjak, mengulurkan tangannya pada Pram, "Ayo ka bangun!" Naira menunjukkan senyum termanisnya pada Pram.
"Berhubung kau sudah nakal, di saat kau sudah sembuh, akan aku hukum kau, Naira Putri!" Ancam Pram dengan menggapai tangan Naira.
"Yakin mau hukum? Tar nyesel, lo ka!" Naira menatap nakal Pram.
Pram menyeringai, saat tangannya menggenggammm tangan Naira.
"Waduh, akal bulusss nih!" Gumam Naira, dengan berusaha melepas tangan Pram.
Sreek.
"Aaahhh."
Bugh.
Pram menarikkk tangan Naira dan membuatnya jatuh di atas tubuhnya.
"Kena kan kau sekarang!" Pram memainkan alisnya naik turun.
Bugh.
Naira memukul dada bidang Pram.
"Kaka curang! Bisa bangun sendiri juga, tau gitu ngak aku bantuin buat bangun!" Sungut Naira, dengan berusaha beranjak dari atas tubuh Pram.
Pram menahan Naira dengan tangannya yang berada di perutnya, "Ayo lanjutkan yang tadi tertunda! Kau pasti sudah sangat menginginkan nya bukan!" Pram menyusuri leher Naira kembali dengan hembusan nafasnya. Membuat bulu bulu halus Naira meremanggg.
"Tapi ka mmmpppph." Bodohnya jadi kan rubahhh mesummm, perut ku laper juga! Bibir mu gak bikin perut ku kenyang ka!
__ADS_1
Pram membungkam bibir Naira dengan bibirnya, membuat Naira tidak bisa melanjutkan perkataan nya. Tapi membuat hati Pram merasa terkitik, mendengar rutukan hati Naira yang mengumpatnya.
Pram menikmatiii permainan lidahnya di dalam mulut Naira, dengan menatap bola mata Naira yang menatapnya dengan memelas.
Siapa suruh kau sudah mendorong ku sampai membuat ku jatuh.
Krukkk krukkk krukkk.
Cacing di dalam perut Naira sudah mulai berdemo, menyuarakan jika dirinya minta jatah asupan.
Pram melepaskannn pagutannn nya, membiarkan Naira beranjak dari tubuhnya. Mendudukan bobot tubuhnya di tepian kasur, bibirnya mengerucut, menatap tajam Pram.
Pram ikut beranjak, "Tidak usah menatap ku seperti itu! Anggap saja, tadi itu cicilan mu untuk membayar hukuman yang akan aku berikan pada mu!" Pram menjawil hidung Naira dan berlalu ke arah pintu.
"Dasarrr ka Pram rubahhh mesummm, rubahhh payah!" Sungut Naira, tangannya terulur menyentuh keningnya, aku udah mendingan nih, gak kaya kemaren panasnya. Bisa lah berangkat sekolah.
"Kau masih sakit, tidak ada sekolah untuk hari ini!" Ucap Pram dengan tegas tanpa menoleh, tangannya terulur menyentuh handle pintu.
Ceklek.
Pram mendapati pak Dedi yang berdiri di depan pintu, dengan tangannya membawa nampan. Wajahnya tampak pucat pasi, takut akan di beri hukuman oleh Tuannya.
"Maaf Tuan, saya tidak sengaja!" Ucap pak Dedi.
Pram mengambil alih nampan itu dari pak Dedi.
"Baik Tuan."
Pram melihat ke arah tangga, "Kasihan tangga itu jarang di gunakan."
Pak Dedi menelan salivanya dengan sulit.
"Cepat naik turun tangga 10 kali!" Pram kembali menghilang di balik pintu, dengan mengunci pintu kamarnya.
Pram kembali menghampiri Naira, dengan membawa serta sarapan Naira.
"Tapi aku udah gak apa apa ka! Pokonya aku ingin berangkat sekolah." Kekeh Naira, melipat ke dua tangannya di depan dada.
"Istirahat lah dulu di rumah, besok baru masuk sekolah." Pram menaruh nampan di atas nakas, tangannya memegang mangkok, menyuapkan Naira saat dirinya sudah mendaratkan bobot tubuhnya di tepian kasur.
"Ihs nyebelin banget sih!" Naira memakan bubur yang di suapkan ke dalam mulutnya. Ke dua matanya langsung membola. Enak banget nih, beda sama yang kemaren.
Pram menarikkk sudut bibirnya ke atas, "Jelas enak, jelas berbeda dengan yang kemarin, ini buatan ku! Khusus aku masak untuk mu! Makanya rasanya sangat enak, terbuat dari bahan bahan pilihan dan bahan yang terbaik." Terang Pram membanggakan dirinya.
__ADS_1
"Ihs gak percaya aku... ini ka Pram yang buat, masa iya ka Pram, CEO hotel bintang 5 cuma bisa masak bubur seenak ini, ngaur nih ka Pram." Ejek Naira.
Pram mengerutkan keningnya, "Siapa bilang aku hanya bisa membuat bubur? Aku bisa masak menu lainnya, hanya saja kan ada koki di rumah ini, buat apa aku membayarnya mahal, jika untuk makan saja harus aku sendiri yang memasaknya." Jangan sampai Naira tahu, kalo aku hanya bisa masak bubur, bisa puasss dia mentertawakan ku!
"Ah aku masih gak percaya, coba nanti buatin aku makanan yang paling enak, tapi aku liet juga proses ka Pram memasaknya." Tanpa di sadari Naira menantang Pram untuk masak.
"Baik, siapa takut! Aku tidak takut dengan tantangan mu itu, sayang!" Pram menyeringai, "Jika aku berhasil membuat makanan yang enak, kau harus mau... jika setiap kali aku memintanya! Setuju?"
"Oke, siapa takut. Tapi kalo kaka kalah, aku dapat apa?"
"Izin ikut perpisahan." Pram menyerahkan beberapa obat yang harus di minum Naira, dan menaruh mangkuk di atas nampan.
Naira meminum obatnya.
"Gak bisa itu mah, enak aja. Tanpa izin dari kaka, aku akan tetap pergi. Aku minta motor metik, harus warna biru." Naira beranjak ke arah kamar mandi.
"Jangankan motor metik, mobil pun akan aku berikan untuk mu! Mobil aja ya, biar lebih aman, tidak perlu ke panasan saat jalan macet." Pram menyusul Naira, ingin ikut serta masuk ke dalam kamar mandi.
"Gak mau, aku maunya motor!" Naira yang tau maksud Pram, langsung menutup pintu kamar mandi dan menguncinya dari dalam.
Brak.
Pram menggedor pintu kamar mandi, dengan kepalan tangannya, sambil berseru.
Bug bug bug bug.
"Nai, buka pintunya! Hai! Kau tidak bisa seperti itu! Ayo, biarkan aku masuk Nai!" Teriak Pram dengan wajah merah padam, ia ingin melepasss hasratttnya pada Naira.
Sedangkan di dalam kamar mandi, Naira terkekeh.
"Gak bisa ka, nanti aja. Kan kaka sendiri yang bilang, aku masih sakit. Weeek." Ucapnya dengan senyum kemenangan.
Naira menggosok giginya, membasuh wajahnya dengan air hangat, menyeka tubuhnya dengan air hangat.
Hingga beberapa saat kemudian, suara Pram dari luar kamar mandi tidak lagi terdengar, suara gedoran pintu pun tidak lagi terdengar.
Naira membuang nafasnya dengan lega, "Akhirnya aman juga."
...💮💮💮💮💮...
......................
...💖 Bersambung 💖...
__ADS_1
Terima kasih sebelumnya, yuk komen yuk, tambah tambah masukan buat author.
Jangan lupa tinggalin jejak like oke! 😊