
...ππππ...
Pram bangkit dari duduknya dan menyelimuti tubuh Naira dengan selimut, "Beristirahat lah!" ucap nya ketus.
"Dasar pak Pram, rubah tua!" Naira melempar bantal yang ada di sebelah nya ke arah Pram namun tidak mengenai nya.
Brakk. Pram menutup pintu depan kasar.
Tidak lama setelah Pram meninggal kan Naira di kamar, ponsel Naira yang ada di saku celana jins nya berdering.
πΆπΆπΆπΆ
Naira buru buru merogoh hape yang ada di saku celana jins nya.
Calling Serli.
"Assalamualaikum, Naira... lu dimana? lu baik baik aja kan?" cecar Serli saat sambungan telepon nya di jawab Naira.
"Waalaikum salam, gw di rumah, gw baik kok."
Batin Naira, gak mungkin kan kalo gw bilang gw ini lagi ada di rumah Pram, orang yang udah bawa papa gw.
"Lu di rumah? terus lu gak berangkat sekolah gitu, Nai? bokap lu gimana, Nai? udah balik ke rumah apa belom?" cecar serli lagi yang mendengar kabar bapak nya Naira dari Novi, Elisa dan Juni.
Srek.
Naira membuang selimut yang tadi di selimuti Pram ke tubuh nya.
"Lu nanya apa introgasi si, Ser? nanya nya satu satu napa! gw udah bilang ijin buat beberapa hari gak ke sekolah, kaki gw lagi di gips, perlu istirahat total kalo gw pengen kaki gw ini cepet pulih." Naira menatap kaki nya yang di gips, ia menyandarkan punggung dan kepalanya di kepala ranjang tempat tidur.
"Apa? kaki lu di gips? lu kenapa?" tanya Serli.
Tidak lama terdengar suara bisik, seperti orang yang sedang rebutan untuk bicara.
Sedangkan Naira berusaha mendekati balkon yang ada di kamar dengan cara melompat dengan satu kaki nya yang tidak di gips, tongkat penyanggah yang tadi ia gunakan tertinggal di ruang kerja Pram.
"Naira kenapa?" suara Novi.
"Gw juga mao denger." suara Juni.
"Kepala lu geser dikit dong!" suara Elisa.
"Ah lu juga, lu bau... ora mandi lu ya?" suara Novi.
__ADS_1
"Eet dah, berisik banget si lu pada!" bentak Serli.
Naira geleng geleng kepala saat mendengar kehebohan teman teman sekelasnya di telpon.
"Hayo lu, gebetan gw ngambek." ujar suara Juni.
"Kalian kenapa si? rebutan hape?" Naira terkekeh mendengar suara kekonyolan dari para temannya, kenapa juga panggilannya tidak di loss speaker, kan mereka jadi bisa mendengar obrolan apa saja yang di bicarakan Naira tanpa harus rebutan hape.
"Hehehe, iya ini Nai... anak anak pada pengen tahu, lu kenapa gak masuk sekolah." ucap Serli.
"Gw gak apa ko emmm emang kalian gak ada guru? bisa telpon gw kaya gini?"
"Bu Ade lagi ke toilet, Nai.. maka nya kita bisa telpon lu."
"Ada bu Ade, bu Ade dateng." suara Sopian.
"Yah lu Nai, orang nya dateng tuh.. gw matiin dulu ya, nanti kita sambung lagi, assalamualaikum Naira, cepet sembuh lo." oceh Serli lalu mematikan sambungan teleponnya.
"Waalaikum salam." ucap Naira lalu menggenggam hapenya.
Naira mengedarkan pandangannya ke halaman rumah yang luas itu, tampak beberapa anak buah Pram berjaga di bawah sana.
"Sebenarnya halaman rumah ini luas, lebih bagus lagi kalo di sana." Naira menunjuk jemarinya ke arah sisi kiri, "Ada taman terus ada ayunan, ada saung bisa buat di jadiin tempat nongkrong sama temen temen kan!" seru Naira.
"Maaf nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau sedang berada di luar jangkauan, silahkan hubungi beberapa saat lagi." suara mbak operator yang menjawab.
Gak biasa nya hape mama gak aktif, aku coba telpon Dito deh.
"Maaf nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan, silahkan hubungi beberapa saat lagi." suara mba lk operator lagi yang menjawab.
Apa mungkin aku coba hubungi papa aja, ya? batin Naira.
"Ehem." suara deheman pria dari arah belakang membuat Naira menoleh, untuk melihat siapa yang berdiri di belakang nya.
Naira berjingkat kaget, saat mendapati Pram sedang berdiri menyandar di dinding dekat pintu.
"Astaghfirullah, pak Pram... selain rubah tua, anda juga jurid ya! nongol gak di undang, pergi gak di anter, ngejogrok aja tau tau di situ... gak bisa apa bersuara dikit aja! spot jantung gw lama lama deket lu pak Pramana Sudiro." gerutu Naira sambil melompat lompat dengan satu kaki untuk sampai ke tempat tidur.
Anak ini, belum jera rupa nya sudah di beri hukuman. batin Pram melihat tingkah Naira yang tidak bisa diam dan banyak bicara, Pram melangkah mendekati Naira.
Grep.
"Akh."
__ADS_1
Dengan mudah nya Pram menggendong tubuh Naira dengan ke dua tangan kekar nya.
"Bisa tidak sih! tidak usah menggendong ku? satu kaki pun aku masih bisa berjalan, aku tidak butuh bantuan mu, pak Pram." ucap Naira ketus.
Bisa habis stok kesabaran ku menghadapi mu, Naira... gadis pembangkang. batin Pram tanpa mengindahkan perkataan Naira yang minta di turunkan dari gendongan nya.
Pram menidurkan tubuh Naira di atas kasur, lalu ia mencondongkan kepala nya hingga mendekat wajah Naira hingga beberapa senti, mengunci lengan Naira dengan ke dua tangan nya.
"Tadi aku sudah bilang kan pada mu untuk beristirahat? kenapa tidak patuh hem?" tanya Pram dengan suara dingin nya tanpa senyum terlukis di bibirnya.
Sialll kenapa harus dekat seperti ini, Naira membuang pandangannya ke arah lain tidak berani menatap mata Pram yang seakan ingin menerkam mangsa, begitu serem, kalah serem nya kalo ngeliet bu Ade lagi di ruang BK.
"Tatap mata ku, Naira!"
"Apa kau bisa menjauh dulu, baru aku akan menjawab nya, pak Pram!" Naira risih dengan apa yang di lakukan Pram pada nya.
"Jawab aku! atau mau aku patahkan satu kaki mu lagi biar kau menurut dengan perkataan ku!"
"Itu karena kamu tidak mau menjawab pertanyaan ku! dimana papa ku!" bentak Naira dengan debaran jantung yang cepat, ada rasa takut Pram akan menyakiti nya, ada rasa bangga karena ia sudah berani membentak Pram sekali lagi, rasa takut dan bangga datang di saat yang bersamaan.
"Emmmmm."
Pram menjawab pertanyaan Naira dengan bungkaman di bibir, Pram melahappp bibir Naira yang tadi membentak nya dengan kasar, menyesappp bibir bawah Naira, menerobos masuk ke dalam mulut nya, ia juga membelittt lidah nya menyesappp lidah Naira hingga gadis itu terus berontak dengan berusaha melepas kan diri dari Pram.
Kenapa aku harus seperti ini lagi, Pram bodoh, rubah tua sialannn. gerutu Naira.
"Aku hanya minta, kau patuh dan menurut dengan apa yang aku katakan!" Pram merebahkan diri nya di samping tubuh Naira, melingkarkan satu tanganya di perut Naira lalu ia menejam kan ke dua mata nya.
"Dasarrr pria tua, rubah tua, tidak punya hati." dumel Naira.
"Jika ingin bertemu dengan papa mu, cepat tidur!" ucap Pram dengan mata terpejam.
"Bawel." entah kenapa mata Naira kini jadi mengantuk dan terpejam.
Pram membuka ke dua mata nya di saat ia tidak lagi mendengar dumelan Naira, yang ada hanya dengkuran halus, Ternyata berhasil juga, batin Pram.
Niat nya Pram kembali ke kamar Naira untuk memastikan Naira sudah tidur apa belum, tapi saat mendengar Naira tengah berbicara di ponsel dengan seseorang, Pram langsung mengaktifkan tombol aromaterapi yang tersambung dengan ponsel nya dengan kamar yang saat ini Naira tempati, aroma yang bisa membuat siapa saja yang menghirup nya akan merasa mengantuk.
Bersambung....
...ππππ...
Salam manis, jangan lupa dukung author dengan jempol dan komen ya π
__ADS_1
No komen julid nyelekit