Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Pelukan seorang kaka


__ADS_3

...💖💖💖...


Dreeet dreeet dreeet.


Hape Naira bergetar, pesan dari Juni yang mengirim share lok rumah Daren.


Pram mengerutkan keningnya, "Ini kan!"


Pram menghubungi orang kepercayaan nya yang berada di rumah besar Aji.


"Cepat angkat, dasarrr bodohhh!" Pram mendengus karena telponnya belum juga di jawab.


"Maaf Tuan, ini silahkan di minum!" Raisa menaruh secangkir kopi di atas meja Pram duduk.


Dengan tangannya Pram menyuruh Raisa untuk menyingkir dari hadapannya.


"Ihs susah sekali sih untuk di dekati." Raisa menyinkir dari Pram beralih menghampiri Naira yang sedang memilih milih pakaian di lantai 2.


[ "Maaf pak, di sini sedang ramai para pelayat dan juga beberapa kolega Tuan besar." ] Ujar pria yang baru saja menjawab panggilan telpon Pram.


"Siapa nama anak pungut itu?" Tanya Pram langsung pada tujuannya.


[ "Daren Sudiro Ajidana, ada apa Tuan? Tumben Tuan menanyakan nama Tuan Muda Kecil!" ]


Pram membatin, apa mereka orang yang sama? Daren anak angkat dengan Daren temannya Naira?


"Tidak ada! Sudah, kau lanjutkan saja tugas mu itu jangan banyak bertanya!" Pram langsung mematikan sambungan teleponnya.


Pram menatap tajam benda pipih Naira yang kini ada di genggamannya dengan senyum yang sulit di artikan, aku harus melakukan sesuatu pada hape istri kecil ku ini!


Jemari Pram dengan lihai menari nari di atas layar hape Naira dan sesekali pada hape miliknya, "Beres!" Pram menyimpan kembali hape miliknya dan hape Naira ke dalam saku jasnya.


Dengan sabarnya Pram menunggu Naira yang tengah memilih pakaian yang akan di kenakannya.


Naira memilih dress sebatas lutut berwarna hitam dengan lengan panjang.


Saat Naira hendak masuk ke dalam ruang ganti, "Perlu saya bantu Nona?" Tanya Meli dengan ramah.


"Tidak perlu, kau tunggu saja aku di sini." Ujar Naira dengan ramah.


Naira masuk ke dalam ruang ganti, lalu mengenakan dress yang sangat pas di badannya ia menguncir tinggi rambut panjangnya.


"Wahh Nona sangat cantik, pakaian yang Nona pilih juga sangat pas di tubuh Nona." Ujar Meli memuji kecantikan Naira.


Sedangkan Raisa menatapnya dengan sinis, jika aku tidak salah dengar tadi anak ini memanggil pak Pram itu ka, apa jangan jangan anak ini adik perempuan pak Pram? Masa sih! Kok aku tidak tahu ya jika pak Pram memiliki adik perempuan.


"Terima kasih atas pujiannya, ka.. ayo kita kembali!" Naira mengajak pelayan butik untuk kembali menemui Pram.


"Maaf Nona, apa Nona ingin pergi dengan sepatu itu?" Meli menatap sepatu yang di kenakan Naira.


"Oh iya, apa aku perlu menggantinya ka?" Naira meminta pendapat Meli.


"Saya rasa harus, Nona... biar saya tunjukkan Nona tempat aneka sepatu yang pas untuk Nona." Meli menarik sudut bibirnya, baru kali ini pak Pram membawa gadis remaja ke butik ini, biasanya kan pak Pram membawa model yang cantik namun tidak bersahabat.


"Baik lah, aku ikut dengan mu saja ka. Cepat ya ka!" Seru Naira.


Meli melangkah kan kakinya ke arah ruang yang banyak terdapat aneka sepatu dan sandal.


"Biar saya bawakan Nona pakaian seragam sekolah anda!" Meli meminta pakaian yang di pegang Naira untuk Meli yang membawakannya.


"Biar aku saja, nanti merepotkan kaka!" Naira menolak tawaran Meli.


"Tidak apa Nona, kalo Nona yang membawa sendiri pakaian Nona, saya yang jadi tidak enak hati sama pak Pram."


Naira menyerahkan pakai seragam sekolahnya pada Meli.


"Apa Nona mau pakai sepatu yang ini?" Tanya Meli dengan sepatu yang berhak pendek.


"Yang flatshoes aja ka." Naira menunjuk sepasang sepatu flatshoes yang berwarna senada dengan dress yang di kenakannya.

__ADS_1


Raisa menghampiri ke duanya yang sedang menuju lantai bawah tempat di mana Pram menunggu Naira.


"Ehem, Meli kau urus ke kasir untuk mengurus masalah pembayarannya. Biar saya yang mengantar Nona ini pada pak Pram!" Seru Raisa.


Meli berjalan ke arah kasir dan menyiapkan berapa jumlah yang harus di bayar Pram dan paper bag untuk menaruh pakaian seragam Naira.


Raisa dan Naira melangkah beriringan menuruni anak tangga.


"Maaf Nona, ada yang ingin saya tanyakan pada Nona, Nona ini siapanya pak Pram ya?" Tanya Raisa dengan mimik wajah yang meremehkan.


Naira menoleh ke arah wanita yang mengajaknya bicara, kayanya ada niet jelek nih dari Raisa ini, apa mungkin dia suka sama ka Pram ya? Naira melihat name tag yang di kenakan Raisa.


"Jika aku kata kan, aku ini istrinya ka Pram... apa anda akan percaya?" Naira memberikan pertanyaan pada Raisa dengan menarik sudut bibirnya ke atas.


"Hah? Maaf ya bocah, saya rasa situ cuma sedang bermimpi menjadi istri pak Pram. Jangan terlalu tinggi menghayal bocah ingusan, anak baru gede aja udah menghayal tinggi mau jadi istrinya pak Pram, jangan mimpi!" Sungut Raisa dengan kesal.


"Yah terserah apa kata mbak Raisa aja lah kalo gitu, siapa saya ini... bisa kan mbak Raisa tanyakan sendiri pada ka Pram." Naira menantang balik Raisa untuk bertanya langsung pada Pram.


"Ihs, dasar bocah abg, baru di ajak ke butik sekali aja udah mangkak!" Raisa dingkol bukan main mendengar perkataan Naira.


Tak tak tak.


Pram melihat ke arah Naira yang berdiri di bawah anak tangga dengan mata yang berbinar, istri kecil ku dalam sekejap menjadi wanita dewasa is very good.


Pram berjalan melangkah menghampiri Naira, istri kecilnya, "Apa kau sudah siap?" Tanya Pram dengan senyum merekah.


Raisa menatap heran pada Pram, kenapa mata pak Pram berbinar seakan senang melihat penampilan ini bocah ya?


Naira tersenyum pada pria yang berdiri di depannya, lalu menggangguk kan kepalanya.


"Ayo kita berangkat!" Pram merengkuh pinggang Naira dengan tangannya.


Sedangakn Raisa di buat tercengang dengan sikap Pram terhadap gadis remaja yang di pandangnya sebelah mata.


"Bayar dulu, ka!" Seru Naira mengingatkan Pram dengan manja.


Cup.


Pram mengecup pipi Naira.


"Hah? Gw gak salah liet kan ini?" Raisa mengucek ucek ke dua matanya dengan tangannya.


Pram membawa Naira ke arah meja kasir dengan tangan pram yang terus merengkuh pinggang Naira.


"Ihs ka, malu... bisa gak nyingkir dulu ini tangan!" Bisik Naira di telinga Pram dengan tangannya yang berusaha menyingkirkan jemari Pram dari pinggangnya.


Pram menoleh ke arah Naira, "Sayangnya tidak bisa!" Seru Pram dengan seutas senyum.


"Ihs, sok manis banget sih itu bibir, dasarrr rubahhh mesummm!"" Celoteh Naira.


Meli yang berada di kasir pun tersenyum menyambut pelanggannya, "Wah kalian berdua tampak serasi yah! Yang satu cantik, manis pula dan yang satunya idola para wanita." Seronok Meli.


"Ihs si kaka bisa aja!" Oceh Naira.


"Ini Nona seragam sekolah anda!" Meli menyerahkan paper bag pada Naira.


"Makasih, ka." Ucap Naira.


"Berapa semuanya?" Tanya Pram.


Meli menyodorkan kertas harga yang harus di bayar Pram, Pram memberikan kartu pipih dari dalam dompetnya yang berada di saku celana belakangnya.


Pembayaran di lakukan dengan kartu pipih, "Silahkan pak, masukkan kode PIN nya!"


"Kau yang masukkan." Pram menyuruh Naira yang memasukkan tombol PINnya.


Kening Naira mengkerut, "Mana aku tahu kode PIN nya ka!"


"Tanggal pernikahan kita!" Seru Pram.

__ADS_1


Meli terkejut dengan pengakuan Pram, "Hah? Jadi Nona ini istrinya pak Pram?"


Pram malah memberikan pertanyaan pada Meli, "Kau pikir dia ini siapa ku?" Tanya Pram dengan sorot mata yang tajam.


"Saya pikir pak Pram masih pacaran dengan Nona ini!" Meli tersenyum kikuk.


🍂Di kediaman Aji🍂


Para pelayat silih berganti memberikan penghormatan pada Widia.


Nampak Daren yang sangat terpukul dengan kepergian ibunya yang secara tiba tiba.


Di sana juga sudah nampak Juni, Elsa, Novi dan Serli yang datang bersama sama, belum lagi teman sekelas yang lain.


Ratna datang bersama dengan Sopur, di setiap kesempatan Ratna selalu menempel pada Daren meski berkali kali mendapat penolakan dari Daren.


Di saat Daren hendak ke kamar kecil, Ratna membuntutinya.


"Apa perlu kau ikut ke dalam bersama ku!" Dengan geram Daren berkata pada Ratna, tangannya mengepal kesal.


Kepala pelayan datang menghampiri Daren, "Ada yang bisa saya bantu Tuan Muda Kecil?" Tanyanya setelah membungkukkan badannya.


"Tolong singkirkan gadis ini dari hadapan ku, pak!" Seru Daren, meminta kepala pelayan menjauhkan Ratna darinya.


"Maaf Nona, jangan membuat keributan!" Kepala pelayan menghadang Ratna yang ingin mengikuti langkah Daren menuju kamar mandi yang berada di lantai bawah, tidak jauh dari jenazah Widia di semayamkan.


Ratna mengepalkan ke dua tangannya, awas kau ya Daren, aku tidak akan pernah melepaskan mu!


Ratna kembali bergabung dengan Sopur dan yang lain.


"Tuan Muda, datang!" Seru salah seorang pelayan pada rekannya yang lain.


"Baik, aku akan sampaikan pada Tuan Muda Kecil."


"Kau sampaikan saja dulu pada kepala pelayan!" Oceh pria itu.


"Pak, di depan ada Tuan Muda!" Seru pelayan saat berada di depan kepala pelayan rumah.


Ceklek.


"Ada apa?" Tanya Daren pada kepala pelayan.


"Di depan ada Tuan Muda Pram, Tuan Muda Kecil." Ucap kepala pelayan.


Daren berjalan di ikuti kepala pelayan dan pelayan yang tadi menyampaikan pesan.


Pram bersama dengan Naira berdiri di depan Daren.


Pram memeluk tubuh Daren dengan tangan kanannya yang menepuk nepuk punggung bidang Daren, "Aku turut berduka!"


"Terima kasih kaka sudah mau datang!" Gumam Daren dengan suara yang pelan namun masih bisa di dengar oleh Pram, begini rasanya pelukan seorang kaka meski aku tidak pernah ada di mata mu!


"Haah?" Kenapa ka Pram terlihat begitu akrab dengan Daren? Sampai sampai ka Pram memberikan pelukan?


Pram melerai pelukannya dengan Daren, Daren menatap Naira yang tampak mempesona dengan rambut yang di gerai.


"Apa ada yang ingin kau ucapkan pada ku?" Tanya Daren pada Naira yang diam mematung menatap heran intraksi Daren dengan Pram.


Naira menoleh pada Pram dan Daren secara bergantian, kenapa pertemuan mereka terasa aneh ya? Pertama bertemu ka Pram sangat memusuhi Daren, tapi kali ini?


Sreeeet.


...💖 Bersambung 💖...


...💖💖💖💖💖...


Salam manis author gabut 😊


Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen 😉😉

__ADS_1


__ADS_2