
...πππ...
Kening Pram mengkerut, "Ada apa dengan ini, Dev?"
"Ada sedikit masalah, pak pada hotel cabang Bandung." Ujar Dev yang kini mendudukan dirinya di kursi yang ada di depan Pram.
"Habisiii saja siapa pun yang mengacau!" Seru Pram.
"Siap pak, apa perlu kita ganti kepala devisi pak?"
Pram menatap tajam pada Dev, "Masih berani kau bertanya? Sudah bosannn hidup?"
Dev beranjak dari duduknya saat Pram sudah membubuhi tanda tangannya pada berkas yang di bawa Dev, "Tidak pak, saya hanya sedang menguji bapak!"
Pram menyerahkan berkas yang ada di tangannya pada Dev, "Kau urus semuanya! Jika perlu kau berangkat lah ke Bandung!" Seru Pram dengan suaranya yang berat namun tegas.
"Apa tidak sebaiknya bapak saja pak? Pergi dengan Nona, sekalian mengunjungi rumah mertua gitu pak!" Dev memberikan sarannya tanpa di minta oleh Pram, apa pak bos lupa. Bandung kan tempat kelahiran Nona, kali saja Nona ingin bertemu dengan orang tuanya.
Tangan Pram menggeser layar laptop kembali ke arahnya, "Aku tidak butuh saran dari mu, Dev?" Gerutu Pram yang mulai sibuk kembali pada layar laptopnya.
"Kalo begitu saya permisi, pak!" Dasarrr bos sangklek, belum lama jadi mantu sudah lulia dengan mertua, aiiiih malangnya nasib orang tua Nona yang memiliki menantu seperti pak Pram.
Pram melemparrr pulpen yang ada di atas mejanya ke arah Dev saat mendengar perdebatan hati Dev.
Huuusss.
Pluk.
"Awhhhh." Dev meringis dan mengusappp kepalanya saat pulpen yang di lemparrr Pram mengenai kepalanya.
"Dasarrr bodoh!" Oceh Pram.
Dev memungut pulpen yang tergeletak di lantai, "Sayang kalo di buang." Dev memasukkan pulpen itu ke saku kemeja yang ia kenakan.
Di dekat gerbang hotel yang menjulang tinggi, nampak sepasang mata tengah mengintai ke arah hotel, dengan jaket hoodie yang ia kenakan di tambah dengan masker mulut, tidak akan ada yang mengenalinya.
Pria itu mengeluarkan belatiii yang ada di saku hoodie nya, menatap tajam belatiii yang ada di tangannya, "Awas kau Pram, kau harus merasakan apa yang aku rasakan!" Pria itu memasukkan kembali belatiii kecil itu.
Lama ia menunggu, bersabar dengan dendammm yang ada di hatinya.
"Karena bos seperti mu, aku bisa memiliki segalanya, tapi karena bos seperti mu juga... hidup ku jadi hancurrr, keluarga yang aku sayangi terpecahhh belah dan meninggalkan aku! Kau harus mersakan sakitnya seorang diri pak Pramana Sudiro!" Gumam Nusi, yang menunggu Pram ke luar dari gedung pencakar langit.
π Sekolah Nairaπ
Daren meminta izin pada guru piket untuk pulang lebih cepat setelah mendapat kabar dari Azka.
__ADS_1
"Jadi lo bro pulang lebih awal?" Tanya Juni yang sudah tau alasan Daren pulang lebih awal dan karena idenya itu lah Daren tidak perlu lagi harus menunggu jam pelajaran sampai usai.
"Jadi, gw udah dapet izin dari guru piket." Ujar Daren dengan tangannya yang fokus memasukkan buku dan alat tulisnya ke dalam tas ranselnya.
Juni menepuk bahu Daren memberinya dukungan, "Gw do'ain biar bokap lo cepet sehat ya bro, gak terjadi apa apa gitu sama bokap lo!" Kesian kan kalo sampe bokapnya Daren sampe ke napa napa. Baru kemaren lo di tinggal nyokap lo.
"Thanks bro!" Seru Daren dengan menarik sudut bibirnya saat menoleh sejenak pada Juni.
Ratna menghampiri Daren yang sedang mengenakan jaketnya.
"Lo mau ke mana, Daren?" Tanya Ratna dengan tatapan mata yang menyelidik dan keningnya yang mengkerut.
"Gw mau ke mana itu bukan urusan lo!" Daren beranjak dari tempatnya.
"Gw duluan bro!" Daren pamit pada Juni.
"Hati hati bro! Tenang aja sama catetan, tar gw kirimin ke lo bro!" Seru Juni dengan menatap tidak suka pada Ratna yang mengikuti langkah Daren ke luar kelas.
Juni membatin, dasarrr Ratna, si uler keket sekolah ini.
"Daren, lo mau ke mana?" Ratna terus mengikuti langkah Daren yang sudah beberapa langkah ke luar dari dalam kelas.
Daren menghentikan langkah kakinya, menatap tajam pada Ratna, "Bukan urusan lo, gw mau ke mana pun juga!" Daren mengangkat jari telunjuk kanannya ke depan wajah Ratna, "Gw gak suka orang lain ikut campur dengan urusan gw! Ngerti lo!" Daren melangkah meninggalkan Ratna yang termangu di tempatnya.
Ratna mengepalkan tagannya, sialannn si Daren bener benar acuh sekarang sama gw! Ini semua karena Naira, awas lo Nai!
Bu Rita mengerutkan keningnya, membenarkan posisi kaca matanya yang menengger di batang hidungnya.
"Ratna, sedang apa kamu di sini?" Tanya bu Rita dengan tangannya yang membawa buku pelajaran akuntansi.
"Gak ada bu, a- anu mau ke toilet." Ratna langsung ngacir ke arah toilet tanpa menunggu jawaban dari bu Rita.
Bu Rita geleng geleng kepala melihatnya, "Dasarrr anak didik sekarang, gak ada sopan sopannya sama guru!" Gerutu bu Rita.
Kelas di isi oleh pelajaran bu Rita, dengan 2 anak yang tidak mengikuti pelajaran, Naira dan Daren.
Ratna masuk ke dalam kelas, dia mengurungkan nietnya untuk ke toilet.
"Apa ada yang tahu dengan Daren? Ke mana anak itu?" Tanya bu Rita dengan mendudukan dirinya di kursi yang di peruntukan untuk guru.
Juni yang menjawab, "Saya tau bu, Daren udah izin sama guru piket bu. Tadi dapet kabar kalo bapaknya sakit, bu!" Seru Juni dengan tangannya yang membuka lembaran buku pelajaran.
"Naira gak di tanyain, bu?" Tanya Ratna dengan tatapan yang sinis.
"Naira sedang ada urusan keluarga, tadi tunangannya yang memberikan kabar pada pihak sekolah." Jelas bu Rita yang membuat isi kelas menjadi gaduh.
__ADS_1
Ratna membola saat mendengar perkataan bu Rita, "Serius bu? Jadi Naira udah punya tunangan bu?" Tunangan apa sugar dady? Perlu gw selidikin nih, ternyata di sekolah ini bukan cuma gw aja ya yang jadi simpenannn om om. Naira juga ternyata diem diam cewe simpenannn juga.
Serli dan Novi saling tatap.
Serli bertanya pada Novi dengan suara yang pelan, "Jadi pak Pram udah ngaku kalo mereka itu udah tunangan sama pihak sekolah?"
Novi mengerdikkan bahunya, "Mana gw tau bege. Kan yang bener itu mereka udah laki bini!" Seru Novi dengan suara yang pelan juga.
Serli menyenggol lengan Novi dengan sikunya, "Bego lo piara, gak usah bahas laki bini keles, kalo pak Pram udah ngaku tunangan ya udah kita percaya aja!" Sungut Serli.
Elisa yang berada di kursi belakang pun angkat bicara, "Loh kalo pak Pram udah ngaku tunangannya Naira, gimana sama pihak sekolah? Apa masih ngebolehin Naira buat ikut ujian ke lulusan sekolah?" Tanya Elsa dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Serli dan Novi mengerdikkan bahunya.
"Mana gw tau!" Seru Serli.
"Gw juga gak tau!" Seru Novi.
Juni membatin, apa mungkin ya Daren udah tau ke dekatan pak Pram sama Naira? Tapi kemaren di rumah duka, pak Pram deket banget sama Daren, sampe kasih pelukan gitu? Orang kaya hubungannya ribet juga ya!
πHotel pusatπ
Naira mengerjapkan ke dua matanya, dengan merengganggkan ototnya yang lelah setelah tidur.
"Eh ko udah ada di sini aja? Perasaan tadi lagi duduk di sofa lietin ka Pram lagi kerja, apa aku ke tiduran ya?" Naira melihat jam pada layar hapenya.
Dreeet dreeet dreeet.
Berbarengan dengan notifikasi pesan masuk.
Naira membola saat membaca pesan dari sahabatnya.
"Naira, lo gak masuk kelas ke mana lagi dah?" Tanya Serli.
"Lo tau nai, pak Pram ngaku lo tunangannya buat izin lo gak masuk hari ini!" Tanya Novi.
"Ka Prammmmmm!" Naira berteriak menyerukan nama suaminya.
......................
...π Bersambung π...
...πππππ...
Salam manis author gabut π
__ADS_1
Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen ππ