Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Di tunggu selama ini


__ADS_3

...πŸ’–πŸ’–πŸ’–...


"Ka Pram lagi ngapain ya di tempat kerjanya, apa ka Pram beneran nekat mau habisinnn itu orang? Siapa yang mau di habisinnn sih?"


Jemari Naira mulai mengetikkan pesan pada layar hapenya.


"Hai suami rubahhh mesummm ku, lagi apa kau ka di sana? Gak aneh aneh kan? πŸ₯΄"


Naira mengirimkan isi pesannya ke nomor Pram, lama ia menunggu namun tidak kunjung di balas.


Hingga akhirnya jam pelajaran usai, Naira baru beranjak dari ranjang rawat yang ada di ruang UKS.


Langkah kakinya terhenti saat ada seseorang yang tengah berjalan ke arahnya dan membenturkan lengannya pada lengan Naira.


Bugh.


"Awh." Tubuh Naira oleng namun masih bisa menahan bobot tubuhnya hingga ia tidak jatuh ke lantai dan berpegangan pada dinding kelas.


"Jalan pake mata, dong!" Sungut Naira dengan kesal.


Suara seorang pria dengan nada yang cool tangannya terulur dengan berkata, "Sorry gw gak sengaja." Awal yang bagus kan! Ia menyeringai.


Naira mengerutkan keningnya menatap tangan yang kini terulur di depannya, mau ngapain lagi coba?


Naira tidak menghiraukan uluran tangannya dan melanjutkan langkah kakinya menuju kelasnya.


Laki laki itu menatap tangannya sendiri yang di abaikan oleh Naira, gila cowok secool dan sekeren gw di cuwekin sama itu anak? Siapa sih itu anak, sombong amat!


Laki laki berusia 21 tahun dengan tubuh tinggi atletis menatap punggung Naira dengan menyeringai.


Sampai di depan kelas Naira melihat tasnya yang di bawa oleh Novi.


"Widih rajin banget lo bawain tas gw!" Seru Naira yang mengambil alih tasnya dan menyampirkannya ke bahunya.


"Gw gitu paling pengertian. Btw Nai, lo di jemput paman Haikal atau pak Dev?" Tanya Novi dengan penuh selidik.


"Antara bang Haikal kalo gak bang Dega. Kenapa emangnya?" Naira melangkah bersama dengan Novi dan Serli melewati selaras kelas.


Ke dua mata Novi berbinar menatap Naira, "Gw nebeng dong, btw lo ke kedei gak nih?" Mudah mudahan aja lo ke kedei, jadi kan enak gw jadi ada alesan kuat buat nebeng terus ngelietin muka gantengnya paman Haikal, ahahhah.


"Tumben lo mau nebeng. Itu si Elsa sama Juni kemana? Apa udah balik duluan?" Tanya Naira.


"Udah duluan dia mah." Ujar Novi.


"Kalian ngerasa gak sih kalo Juni sama Elsa makin deket?" Tanya Serli dengan menatap bergantian Naira dan Novi.


Naira mengerdikkan bahunya, "Gw gak tau malah."

__ADS_1


"Bagus dong kalo Juni makin deket sama Elsa, bearti itu anak normal suka sama cewek wahahaha." Novi terkekeh.


Serli tampak diam dengan bibir yang mengerucut, terus gimana dengan perasaan gw kalo bener Juni makin dekat sama Elsa?


Naira melihat perubahan pada raut wajah Serli, kenapa sama itu anak? Jadi cemberut gitu?


Naira menyenggol lengan Novi dengan sikunya dan memberi kode pada Novi untuk melihat ke arah Serli dengan lirikan matanya.


Novi mengerutkan keningnya dengan tatapan mata yang memicing tajam ke arah Serli, ada yang gak beres nih sama Serli, apa jangan jangan ini bocah naksir sama Juni? Masa sih cewe kaya Serli naksir sama Juni?


Naira mengangkat dagunya sedikit seolah bertanya pada Novi, 'Gimana menurut lo?'


Novi mengerdikkan bahunya, dengan gerakan bibirnya tanpa bersuara, 'Serli naksir kali sama Juni.'


Naura menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Sama dong kaya dugaan gw barusan!" Naira bergumam pelan.


Serli mengerutkan keningnya, "Lo ngomong apaan, Nai? Dugaan apa?" Tanya Serli yang hanya mendengar sebagian gumaman Naira.


Naira mengalihkan perhatian Serli, dengan tangannya yang menunjuk ke arah mobil sedan mewah berwarna putih.


"Eh itu mobil jemputan gw udah dateng, gw cabut duluan ya gays. Lo jadi gak nebeng sama gw?" Naira mengalihkan pandangannya ke Novi dengan mengerlingkan matanya.


"Iya gw jadi nebeng bareng lo!" Seru Novi.


"Gw duluan ya, Ser!" Naira menarik lengan Novi untuk segera masuk ke dalam mobil saat Haikal membukakan pintu mobil untuk Naira.


Haikal melihat Novi yang tampak sumringah dengan gelengan kepala, dasarrr bocah plangton anehhh. Bukannya ilfil tapi gw malah suka sama tingkah anehhh ini anak.


"Pucuk di cinta, ulam pun tiba. Hahaha." Novi berujar saat matanya beradu pandang dengan Haikal.


"Cepet masuk!" Seru Haikal dengan suaranya yang dingin, alis yang menukik tajam.


"Busettt dah galak amat si paman Haikal, tapi eneng suka haha." Novi tergelak lagi sambil mendudukan dirinya di kursi yang berada di sebelah setir kemudi.


Haikal melajukan mobilnya meninggalkan sekolah Naira.


"Apa kita langsung kembali ke kediaman Pramana, Nona?" Tanya Haikal pada Naira dengan meliriknya dari kaca spion mobil.


"Mampir dulu deh ke kedei. Oh iya bang, ka Pram lagi sibuk banget ya?" Tanya Naira dengan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi mobil.


"Jadwal bos hari ini padat, Nona." Terang Haikal.


"Kalo paman, jadwalnya padat gak? Bisa kali tar jemput Novi pulang kerja dari kedei, hehehe." Ujar Novi dengan terus menatap dalam wajah Haikal yang bagaikan angin segar untuk dirinya pandang.


"Mulai deh lo caper, tapi gak apa sih kalo caper sama bang Haikal, secara bang Haikal kan jomblo sejati hehehe." Naira terkekeh mendukung ke dekatan antara Novi dengan Haikal.


Haikal tidak mengiyakan atau pun membantah perkataan Naira, ia hanya menggeleng gelengkan kepalanya, astaga 2 mahluk ciptaan mu ini benar benar membuat hati ku harus sabar ekstra.

__ADS_1


πŸ‚Gedung pencakar langitπŸ‚


Tok tok tok.


Pintu ruang kerja Pram di ketuk dari luar, tanpa menunggu persetujuan dari pemilik ruangan, pintu di buka.


Ceklek.


Tak tak tak tak.


Suara high heels yang di kenakan oleh wanita cantik yang tampak anggun dengan pakaian yang ia kenakan bersuaranya nyaring saat ujung high heels membentur lantai keramik yang putih bersih.


Membuat mata sang pemilik ruangan menatap ke arahnya.


Pram mengerutkan keningnya, merubah posisi duduknya yang menegak menjadi menyandarkan punggungnya dengan sandaran kursi, ke dua matanya menatap tajam pada seseorang yang baru saja melangkah kan kakinya ke dalam ruang kerjanya.


"Maaf aku mengganggu waktu mu, Pram!" Seru Embun dengan mendudukan dirinya di kursi yang berada di depan Pram yang hanya terhalang meja kerja Pram.


"Mau apa kau ke sini?" Tanya Pram dengan suaranya yang dingin.


"Tentu aku ingin bertemu dengan mu, Pram. Bagai mana dengan istri kecil mu, apa kakinya sudah membaik?" Tanya dokter Embun pada Pram yang tampak acuh atas ke hadirannya.


"Katakan apa tujuan mu datang ke sini! Aku tidak butuh basa basi mu!" Sarkas Pram tanpa mau menyebutkan nama wanita yang sedang menatapnya dengan lekat.


"Baik lah aku akan terus terang pada mu, Pram. Aku siap menikah dengan mu Pram, asal kau tinggalkan istri kecil mu itu!" Pram pasti senang mendengar perkataan ku ini, ini kan jawaban yang di tunggu selama ini.


Pram membuang pandangannya dari dokter Embun, jadi itu alasan mu datang ke sini, salah besar langkah mu itu jika datang ke sini hanya untuk mengatakan itu.


Pram mengabaikan perkataan dokter Embun, pandangan Pram lebih tertarik pada pesan masuk di layar hape-nya.


Pram menarik sudut bibirnya ke atas, dasarrr bocah nakalll, aku rubahhh mesummm, karena kau lah yang membuat aku mesummm.


Dokter Embun menajamkan matanya pada hape yang di tatap oleh Pram, kurang ajarrr Pram, berani dia mengabaikan ku hanya untuk hape-nya itu, siapa sih yang sedang ia pandangi itu!


Pram menyeringai mendengar ocehan batin dokter Embun, "Yang pasti wanita ini bukan lah diri mu! Pergi kau dari ruangan ku! Aku tidak ingin melihat mu!" Seru Pram yang mengusir dokter Embun dari ruang kerjanya.


Dokter Embun beranjak dari duduknya dengan ke dua telapak tangannya yang bertumpu pada meja, "Pram! Lihat aku, aku wanita yang selama ini kau tunggu, bukan istri kecil mu itu, aku jauh lebih dari segala galanya dari bocah itu Pram!"


Brak.


......................


...πŸ’– Bersambung πŸ’–...


...πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–...


Salam manis author gabut 😊

__ADS_1


Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen πŸ˜‰πŸ˜‰


__ADS_2