Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Kalo belajar di sana!


__ADS_3

...💖💖💖...


Pram menjawab telponnya.


[ "Maaf Tuan, jika saya mengganggu!" ] Ucap Dega dengan suaranya yang terdengar panik.


"Ada apa lagi Dega?"


[ "Tawanan menyakiti dirinya sendiri bos, dengan menggigit lidahnya." ]


"Bagai mana kau ini Dega, menjaga satu orang saja tidak becussss!"


[ "Maaf bos, ini di luar dugaan." ]


Pram memutuskan sambungan teleponnya, dengan wajah yang kesal.


Aku tidak bisa membiar kan pria itu mati dengan mudah, enak saja setelah membuat istri kecil ku menjadi trauma. Kau tidak akan aku biarkan dengan mudah mendekati ajal mu!


"Kau pulang lah!" Pram beranjak dari duduknya dengan mengurut pangkalll hidungnya.


"Apa ada yang bisa saya bantu, Tuan?" Dev ikut beranjak dari duduknya, mengikuti langkah Pram yang ke luar meninggalkan ruang kerja nya.


"Kau urus saja permasalahan kantor, jangan biarkan anak buah mu lengah, dalam mengawasi pria tua itu! Sudah tua masih saja menyusahkan!" Ucap Pram dengan tegas.


Pram melangkah menuju lift sedang kan Dev hendak berjalan menuju anak tangga.


"Dev, lewat lift saja!" Titah Pram.


"Baik, Tuan." Dev memutar langkah nya menyusul Pram.


Di dalam lift, Pram menanyakan soal program hamil pada Dev.


"Ehem, Dev. Apa kalian melakukan program hamil, untuk mendapat kan si kecil?" Tanya Pram dengan pandangan nya yang lurus ke depan.


Eh, kenapa Tuan Pram menanyakan hal itu? Apa ini artinya Tuan ingin Nona segera hamil?


"Kau hanya perlu menjawa Dev, aku tidak menyuruh mu untuk bertanya!" Gerutu Pram.


"Maaf Tuan, aku dan Sesil tidak melakukan program ke hamilan." Oceh Dev.


Ting.


Pintu lift terbuka, "Apa kau ingin makan malam dulu, bersama dengan ku dan Naira?" Pram menawari Dev.


"Tidak Tuan, terima kasih. Sesil pasti sudah menunggu ke pulangan saya!"


"Sok sibuk kau ya!" Dumel Pram.


"Pasti Nona sedang menunggu Tuan, saya permisi Tuan! Selamat menikmati makan malam yang terlewat Tuan!" Ledek Dev yang langsung melangkah tanpa menunggu jawaban dari Tuan nya.


"Sialannn kau Dev! Beraninya meledek ku!" Dengus Pram.


Pram mengerutkan keningnya, saat mendapati Naira yang belum menyentuh makanan nya.


Cup.

__ADS_1


Pram mengecup kening Naira, "Kenapa kau belum makan? Apa makanan nya tidak enak?" Pram menatap tajam ke arah koki.


Naira menatap sebel Pram, "Enak aja kalo ngomong! Aku tuh nunggu ka Pram buat makan bareng!" Naira mencubit gemesss perut Pram.


"Apa kau tidak mendengar apa yang aku katakan pada mu, Dedi? Beraninya kau memmbuat istri ku ini menunggu!" Pram mendudukan dirinya di kursi yang sudah di tarik ke belakang oleh Dedi.


"Maaf Tuan, tapi Nona menolak. Nona kekeh ingin menunggu Tuan." Kilah Dedi.


"Iiiihhhhhh, gak usah nyalain pak Dedi ka! Aku yang ingin menunggu ka Pram, ka Pram tuh yang lama turunnya!" Gerutu Naira.


"Ihs kau ini, selalu saja membela yang lain. Bukannya membela ku!" Pram menyuapkan makanan, yang sudah terhidang di piringnya ke mulut Naira.


"Biarin, emang mereka pantes ko buat di bela."


"Makan yang banyak!" Omel Pram.


Dengan mulutnya yang mengunyah makanan, Naira ngedumel dalam hatinya.


Udah di tungguin, bukannya makasih kek, malah ngomel. Dasarrr rubahhh egois. Gak tau apa aku tuh nungguin.


"Terima kasih ya, sudah mau menunggu ku untuk makan malam!" Ucap Pram.


"Ah gak tulus." Celetuk Naira.


Pram mengerutkan keningnya, "Aku tidak tulus?"


Dedi membatin, aiiiih Nona Naira, mulai isengnya. Tadi saja Nona baik baik saja.


Pram menyeringai, pasti ada yang sedang di inginkan anak ini, dasarrr anak kecil.


Naira menyuapkan makanan nya dengan malas, sesekali melirik Pram, ko gak bujukin gw sih! Biasanya ka Pram bakal ngebujuk, nanya ini itu, ini gak? Uuuh gak sayang ini mah.


"Malam malam gini, enaknya naek motor nih, beli es krim." Gumam Naira sambil menyebutkan apa yang di inginkan nya.


"Tadi bukannya kau sudah makan es krim?"


"Aku ingin lagi!" Naira mengelus perutnya yang rata.


"Besok saja, bisa sakit perut mu itu karena terlalu banyak makan es krim." Pram membawa Naira kembali ke kamar.


"Gak akan sakit ka, kan iseng. Pengen ngemil!" Kilah Naira.


Pram menatap tajam Dedi yang berdiri di depan pintu lift.


"Kau dengar itu kan Dedi! Suruh koki buatkan cemilan untuk istri ku, dan kau bawa kan ke kamar! Tidak boleh lama!" Titah Pram.


"Baik, Tuan."


"Ka! Tadi apa yang di bahas sama pak Dev? Ko lama?" Naira mengadahkan wajahnya ke atas, menatap wajah Pram.


"Hanya urusan kantor."


Pram meraih hapenya yang ada di saku celananya, mengetikkan pesan yang akan ia kirim pada Dedi.


"Tambahkan obat tidur ke dalam cemilannya nanti!"

__ADS_1


"Ka Pram mau telpon siapa lagi?" Tanya Naira dengan tatapan mata yang menyelidiki.


"Tidak menelpon, aku hanya memberi perintah pada Dedi." Pram kembali menyimpan hapenya ke dalam saku celananya.


"Perintah apa lagi ka?"


"Nanti kau juga akan tahu." Aku harus membuat mu tidur lebih awal, sayang!


"Ka Pram aneh!" Celetuk Naira.


Naira meraih tasnya yang ada di meja belajar, membawanya menaiki kasur. Sedangkan Pram, mendudukan dirinya di kasur, dengan punggung yang bersandar pada kepala ranjang.


Pram mengerutkan keningnya, memperhatikan apa yang di lakukan Naira.


"Ada meja belajar, kenapa mengerjakan tugas di kasur?"


Dengan posisi tengkurap, satu kakinya di angkat ke atas, tangan dan matanya kini fokus pada buku pelajaran nya, Naira menjawab pertanyaan Pram dengan senyum yang merekah.


"Kalo belajar di sana!" Naira menunjuk di mana meja belajarnya berada, "Aku gak bisa godainnn kaka hehehe!" Naira sengaja mengangkat ke dua kakinya ke atas dengan posisi menyilang.


Pram membuang nafasnya dengan kasar, anak ini terus menggoda ku!


Bugh.


Pram menindih punggung Naira, dengan bibirnya yang mendusel di tengkuk leher Naira.


"Apa kau menginginkannya lagi? Ayo katakan!" Tanya Pram dengan tangannya yang menelusuppp di balik piyama Naira, menyusuri punggung Naira dan berusaha membuka pengaitnya.


Naira tergelak karena kegelian, "Ahahaha ka, jangan, itu membuat ku geli!" Tangan Naira berusaha menyingkirkan tangan Pram, yang berada di balik piyama nya.


"Tapi tadi kau yang menggoda ku, sayang!" Kilah Pram. Yang kini membuat Naira menghadap ke arahnya.


Tangan Pram terulur menyingkir kan rambut Naira yang menutupi wajahnya.


Dada Naira naik turun, begitu pun dengan Pram.


"Jadi tugas mu saat ini adalah menggoda ku?" Tanya Pram dengan mentap dalam ke dua mata Naira.


Naira menganggukkan kepalanya, dengan matanya yang menggoda.


"Beberapa hari lagi, aku ujian ka." Naira mengingatkan Pram saat Pram menikmatiii gundukan kembar yang sedang ia remasss.


"Lalu!"


"Tepati perkataan mu, ka!" Naira menaik turunkan alisnya.


"Perkataan yang mana?"


Tok tok tok tok.


...💮💮💮💮💮...


......................


...💖 Bersambung 💖...

__ADS_1


Terima kasih sebelumnya, yuk komen yuk, tambah tambah masukan buat author.


Jangan lupa tinggalin jejak like oke! 😊


__ADS_2