
...💖💖💖...
Jika pak Pram sampai tahu Daren mengganggu dan menyentuh tangan gw, pasti akan tidak baik untuk Daren.
Aku menggelengkan kepala ku.
Pak Dev melirik dari kaca spion mobil, sepertinya Nona Naira sedang melindungi temannya itu, apa Nona Naira menyukai anak itu ya? Anak itu kan yang tadi ketemu di gerbang sekolah dengan ku, anak itu juga yang sudah menarik tangan Nona Naira.
Pak Pram menatap tajam wajah ku dan tangannya mencengkram pipi ku, anak ini minta di beri pelajarn lagi rupanya, berani dia menutupi segalanya dari ku, apa dia pikir aku ini bodoh dan tidak tau apa apa?
Kenapa pak Pram mencengkram pipi ku dengan erat, apa aku salah bicara lagi? Tapi salah di mana?"
Pak Dev yang merasakan hawa dingin mencekam memilih dia, habis lah kau nona, membangunkan macan yang sedang tidur.
"Pak lepas pak, bapak menyakiti ku?" Ucap ku dengan susah karena pipi ku yang di cengkram pak Pram.
Bukannya meleoaskan cengkraman tangannya dei pipi ku, pak Pram malah menyumpal bibir ku dengan bibirnya.
"Emmmm, pak emmm." Pak Pram menyesapppp bibir ku dengan rakusnya, tidak ada kelembutan dalam ciumannn yang ia lakukan, entah apa lagi kesalahan ku.
Pak Pram menerobos masuk lidahnya ke dalam mulut ku dan menyesappp lidah ku, ku pukul punggung pak Pram dengan tangan ku, rasanya hampir kehabisan nafas.
"Hous hous hous." Ku hirup banyak banyak oksigen saat pak Pram melepaskan pagutannya.
__ADS_1
Pak Pram menjambak rambut belakang ku hingga aku mendongak padanya, "Jangan pernah sekali pun berkata bohong pada ku, Naira Putri Wiguna!" Pak Pram mengusap bibir ku yang bengkak dengan jempolnya.
Ku tatap nanar pak Pram, kenapa pak Pram jadi sekasar ini? "Apa aku kurang jujur pada bapak?" Tanya ku dengan satu tangan mencoba melepaskan jambakan tangan pak Pram dari rambut ku.
Pak Pram mendecih lalu melepaskan tangannya dari rambut ku.
Pak Pram mendudukan ku di pangkuannya dengan punggung ku yang menempel pada dadanya yang bidang, ke dua tangannya melingkar di pinggang ku dengan erat.
Pak Pram menempelkan bibirnya pada tekinga ku, "Aku bisa saja mematahkan ke dua kaki mu! Atau kau mau aku melarang mu untuk pergi ke sekolah?" Pak Pram menggigit telinga ku.
"A- aku..."
"Tidak ada kebohongan, Naira sayang." Pram mendaratkan bibirnya di leher ku dan menggigitnya lalu menyesapppnya.
"Ayo katakan!" Pak Pram meminta ku untuk berkata.
"A- apa pak?"
"Katakan yang sejujurnya, kau di apakan saja oleh teman baru mu itu?" Tanya pak Pram yang kini dengan erat menggenggam pergelangan tangan ku yang tadi di sekolah di genggam Daren.
"A- aku, di- dia ti---"
Pak Pram menarik tangan ku yang di genggamnya ke belakang punggung ku.
__ADS_1
"A- ah, sakit pak!" Rintih ku, gila pak Pram cepat sekali berubah.
"Ayo katakan dengan jujur!" Seru pak Pram yang kini melepas kan tangan ku.
"Dia menggenggam pergelangan tangan ku, hanya itu saja." Ucap ku dengan menatap pak Pram dari balik kaca spion mobil.
"Apa yang dia minta dari mu?" Tanya pak Pram.
Aku menoleh menatap pak Pram, bagaimana bisa pak Pram tahu ada yang di minta Daren dari ku.
"Jawab Naira!" Pak Pram berteriak di telinga ku saat mengatakannya.
"No telepon, tapi aku tidak memberikannya, aku sumoah, aku. Tidak memberikan nomor telepon ku padanya." Ucap ku dengan mata terpejam, saking takutnya melihat pak Pram yang membentak ku barusan.
Jantung ku berdegup kencang, begitu sesak di saat orang yang tidak pernah aku dengar membentak kali ini membentak ku, berkata dengan nada tinggi di telinga ku.
Bersambung....
...💖💖💖💖💖...
Salam manis author gabut.
Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen 😁
__ADS_1
Makasih banyak udah mau baca.