Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Pemikiran posesif Pram


__ADS_3

...💖💖💖...


"Aku akan mengenakan perhiasan mana pun yang kaka pilih untuk ku, jika kaka suka, aku akan menyukai nya." tutur Naira.


"Dasar kau ini! Apa sesulit itu untuk memilih perhiasan? Atau kau tidak suka, dengan pilihan yang mereka tunjukkan ini?" tuduh Pram dengan penuh penekanan.


Pram menatap tajam pria yang kini menyeka keringatnya di kening, dinginnya suhu ruang, tidak membuatnya berasa nyaman dengan tatapan yang Pram berikan padanya.


Naira membuang nafasnya dengan rasa sesal, "Aku menyukai ini ka! Mewakili dengan pemikiran mu yang selalu jauh ke depan." Naira merain satu set kotak perhiasan, dengan bertahtakan batu berlian yang berwarna biru.


"Kau tidak terpaksa kan untuk memilihnya?" tanya Pram dengan penuh selidik.


Naira mengerucutkan bibirnya, "Serba salah sama kaka tuh, maunya apa sih!" sungut Naira.


"Mau ku ya pilihan mu sesuai dengan selera mu, bukan karena ingin melindungi pria bodohhh ini!" Pram melirik tajam pemilik toko.


"Tidak ka! Aku suka ini, udah ayo bayar! Inget, kita di kejer date line lo ini!" Naira mengingatkan Pram, untuk jadwal selanjutnya.


Setelah urusan selesai dengan toko perhiasan, ke duanya pergi menuju wedding organizer, melakukan feeting gaun pengantin.


Tanpa berdebat lagi, mereka langsung meluncur ke tempat wedding organizer. Di sana ke duanya di sambut hangat oleh Dini dan perancangan gaun pengantin serta jas untuk Naira dan Pram. Sedangkan untuk orang tua Naira di Bandung. Pram sudah mengutus diseiner lain untuk menuju ke Bandung. Mereka di tugaskan untuk mengukur ukuran yang pas untuk orang tua Naira dan adiknya Doni.


Pram tampak gusar, saat seorang pria lemah gemulai mengukur tubuhnya dengan meteran.


"Uuuhhh lalah ya ampun... tubuh Tuan bagus sekali, pasti Nona yang di dalam sana sangat puasa saat Tuan mengajaknya bergelut!" ujarnya dengan suara pria yang mendayu dayu.


Pram menatap jengah pria itu, "Cepat kerjakan tugas mu! Jika tidak, akan ku pastikan jika kau harus di sunat lagi." cicit Pram dengan kesal.


"Ulalah, galak bingit booo!"


"Menyebalkan!" dengus Pram, tau begini biar Dev saja yang mengerjakannya!


Pram menolak untuk mencoba beberapa stel jas untuk ia kenakan saat pesta pernikahannya nanti. Dengan berjalan mondar mandir, Pram menunggu Naira yang masih mencoba gaun pengantin yang sudah di jahit untuknya.


Dari balik tirai, Naira ke luar dengan gaun yang melekat indah pada tubuhnya. Membuat Pram yang melihat, seolah terhipnotis memandangnya tanpa bergedip, di tambah lagi dengan susah payah ia menelan salivanya yang seakan sulit untuk tertelan.



"Gimana ka? Aku cantik gak?" cicit Naira di depan Pram.

__ADS_1


Dalam diam Pram terkesan dengan penampilan Naira, membuatnya larut dalam pemikiran posesif Pram.


Apa aku tidak salah, Naira tampak cantik dan menggoda, apa aku akan membiarkan pria lain menatap tubuh mulusnya? Astaga bisa gila aku! Apa harus aku mengurungnya saja di dalam rumah? Atau aku batalkan saja untuk mengadakan resepsi, ah tidak... menggelar resepsi bagi ku sama saja memberi pengakuan pada publik akan hubungan ku dengan Naira. Aku harus lebih ketat lagi mempersiapkan penjagaan untuknya!


Naira mengerutkan keningnya saat melihat Pram yang tidak kunjung juga menjawab pertanyaannya, membuat Naira memainkan bibir nya yang berakhir dengan mengerucutkan bibir, berfikir jika Pram tidak suka dengan gaun yang tengah membalut tubuhnya.


"Ya sudah kalo tidak suka! Aku ganti aja!" dengus Naira dengan kesal hendak berbalik.


"Estogeee Tuaaan, itu cantik loh Nona!" teriak dengan nyaring pria bertulang lunak yang berdiri tidak jauh dari Pram.


Pram melototkan matanya, dengan kesal memarahi pria bertulang lunak. Dengan telapak tangan yang mengucek telinganya.


"Astaga kau pikir aku tuli! Pake berteriak di dekat ku! Sudah bosan hidup kau rupanya heh!"


Pria bertulang lunak bukannya takut malah memanyunkan bibir nya, memainkan tangannya dengan gemulai, "Siapa suruh Tuan melamun, jadinya yey sadarin deh!"


"Jadi ka Pram dari tadi tidak memperhatikan ku?" Naira menggelembungkan pipinya.


"Tuan itu terpana dengan ke cantikan Nona, Nona bak princess dari negeri dongeng nyasar ke bumi." ucap Dini.


"Ah bu Dini bisa aja deh!" Naira merona malu dengan kepala yang menunduk.


"Ehem ehem, jadi kau sudah suka dengan gaun yang kau kenakan?" ucap Pram dengan suaranya yang kembali dingin.


"Sudah, aku suka ini ka! Apa kaka mau lihat yang lainnya juga?" tanya Naira.


"Tidak perlu." Pram berdiri di belakang Naira, melingkarkan ke dua tangannya di perut Naira lalu, berkata pada Dini, "Cepat kau ambil gambar ku sekarang juga! Yang bagus, kalo hasilnya tidak bagus... tidak ada bonus untuk hasil kerja keras kalian!" ancam Pram dengan tatapan tajam pada Dini.


"Pasti bagus hasil jepretan hape saya, Tuan." ucap Dini dengan mengambil beberapa gambar Pram dan Naira.


Plak.


Naira menggeprak punggung tangan Pram, menahan malu saat di lihat pria bertulang lunak dan Dini. Pada hal ia sendiri juga sebenarnya ingin melakukan hal yang sama dengan Pram.


"Apa sih ka! Nora banget dah! Melebihi anak seusia ku!"


"Sudah diam saja! Ikuti saja apa yang aku inginkan!" ucap Pram dengan lembut.


🌷🌷🌷

__ADS_1


Beberapa hari pun berlalu, hingga tiba akhirnya apa yang di nanti semua orang tidak terkecuali Pram dan Naira.


Pesta pernikahan yang di gelar besar besaran di buat Pram, untuk Naira semegah mungkin namun tidak terbuka untuk umum. Hanya kalangan tertentu yang bisa menghadiri acara tersebut.


Pram benar benar melakukan penjagaan yang ketat untuk tamu yang dapat menghadiri, dengan membawa serta kartu undangan yang sudah di beri kode barkot.


Acara tersebut juga di liput beberapa media, dengan kartu akses yang hanya di milik oleh beberapa orang saja yang bisa memasuki tempat acara berlangsung.


Beberapa teman dekat Naira, mulai dari karyawan kedai, beberapa relasi orang tua Naira. Dan lebih banyak lagi dari kalangan relasi Pram dan karyawan Pram.


Tapi tetap saja, mau seberapa besar usaha Pram untuk mengamankan jalannya pesta resepsi pernikahannya. Ada saja celah dari orang yang ingin membalas dendam pada Pram. Hingga membuat suasana pesta yang berjalan lancar, kini terjadi kekacauan.


"Terima kasih sudah menyempat kan hadir di pesta putri ku!" ucap Atmaja pada seorang relasi kerjanya.


"Tidak ku sangka, seberuntung itu kau memiliki menantu seperti Pramana!" ucapnya dengan tatapan sinis pada Pram.


Pram tidak membiarkan Naira jauh dari pelupuk matanya. Pram juga sudah menugaskan Haikal, untuk selalu mengawasi pergerakan Naira. Sementara Dega di tugaskan untuk mengawasi siapa saja yang tampak mencurigakan di matanya. Apa lagi saat akan ada yang mendekat pada Naira.


"Selamat Pram! Akhirnya kau mengakhiri masa lajang mu! Apa kau sudah lupa dengan salah satu wanita mainan mu? Bagai mana kabar Jessica? Wanita yang kau jadikan kambing hitam atas tewasnya Widia?" ucapnya dengan seringai licik di bibirnya.


Pram menyeringai, berkata dengan dingin, "Jessica hanya segelintir wanita yang tidak penting bagi hidup ku! Jika kau ingin membahas hal yang tidak penting, alangkah baiknya... jika kau angkat kaki dari tempat ini!" enak saja kau mau merusak pesta ku!


Dengan santai Jasen berkata pada Pram, dengan melangkah dan berbisik di telinga Pram.


"Tenang lah Tuan Pramana Sudiro, aku belum memberikan hadiah atas pernikahan kalian! Apa kau tidak ingin melihat apa yang akan aku berikan?" Jasen mengibaskan jemarinya di bahu Pram, seakan dirinya sedang membersihkan debu yang hinggap di bahu Pram.


Jasen menatap Pram dengan tatapan yang sulit di artikan, dengan melangkah mundur, aku akan membuat hari ini sebagai hari bersejarah untuk mu Pramana! Hari yang tidak akan mungkin bisa kau lupakan!


"Aku tidak butuh hadiah dari mu, kau bawa lah hadiah mu itu!" kurang ajar, kau sama saja dengan Jessica, kalian kaka beradik... manusia licik! Apa yang sedang ia rencanakan!


"Aakkkkhhhh."


Dor dor dor.


......................


...💖 Bersambung 💖...


Terima kasih sebelumnya, yuk komen apah biar tambah tambah masukan buat author nya 🤭🤭

__ADS_1


Makasih yang sudah dengan setia 😉


__ADS_2