
...💖💖💖...
Kini tinggal aku dan pak Pram saja di dalam lift.
"Pak?" Aku memanggilnya.
"Ada apa?"
"Apa bapak tidak berangkat ke kantor hari ini?" Tanya ku.
"Tidak, aku ingin beristirahat."
Kalo pun aku paksakan kerja, aku tidak tahu apa yang akan kau lakukan di rumah, yang ada hanya membuat pikiran ku kacau jika tidak melihat mu.
"Lantas kalo bapak tidak kerja, bapak mau apa di rumah?" Tanya ku ingin tahu.
Aku mau membalas semua perbuatan mu pada ku, Naira, teriakan mu di saat kita oertama kali bertemu, "Aku kan bisa mengejakan pekerjaan kantor dari rumah."
"Owh."
"Cuma owh?"
"Terus bapak mau aku jawab apa?"
Pak Pram membawa ku ke lantai 2 dan memasuki kamar yang super duper luas dengan warna silver yang mendominasi, warna cowok banget.
Aiiiiih keren, selera pak Pram tinggi banget, ampe kamar aja segini detailnya pake warna silver ada ukiran yang terdapat batu berwarna (batu alam) itu pasti kalo di jual mahal, tapi ko di kamar ada banyak pintu ya? Biasanya kan cuma ada kamar mandi, tapi ko kamar segede ini gak ada lemari pakaiannya? Gak mungkin lah kalo pak Pram gak punya lemari baju.
"Kau, istirahat lah!" Pak Pram menidurkan ku di ranjang yang king size untuk ukuran kami berdua mah ya.
"Terus bapak mau kemana?" Tanya ku yang melihat pak Pram menghilang di balik salah satu pintu yang ada di dalam kamar.
Tidak ada jawaban dari pak Pram, untuk sejauh ini aku aman dekat dengannya, dari pada bosen karena mata yang tidak kunjung mengantuk aku memilih duduk menyandar di kepala ranjang sambil bermain game di hape.
__ADS_1
"Mati kau ya, wiiiiih makin cepet gede kan tuh, enak aja mao kabur lu, gw jadiin santapan dulu sini lu, tadi aja lu berlaga mau ngejer gw lu! Rasain lu, mati juga kan lu...yah, awas lu jangan ngalangin gw awas ya kena gw makan lu idup idup."
Hebohnya suara ku saat bermain game hingga terdengar di telinga Pram yang sedang berada di dalam walk in closed.
"Anak itu, biar pun hanya seorang diri tapi kenapa ribut sekali sih!" Decah Pram.
Pram ke luar dengan tampilan yang berbeda, mengenakan celana jins hitam pendek selutut dengan kaos lengan pendek dengan warna yang senada. Makin keren di pandang mata.
"Aaaakh siallll." Aku menghentakkan kaki kanan ku di atas kasur karena kesel ular yang aku mainkan di makan lawan.
Entah sejak kapan pak Pram sudah berdiri di samping ku dengan menatap layar hape yang sedang aku mainkan.
Sepertinya seru juga jika aku menjahilinya.
Hap.
Tangan kanan pak Pram merebut hape yang tengah aku pegang.
"Aku hanya ingin melihatnya sebentar."
"Ihs, aneh." Aku berdecih.
Pak Pram membulatkan matanya, "Hanya permainan seperti ini?" Pak Pram menunjukkan layar hape ke arah ku, "Bisa membuat mu berisik seperti tadi?" Tanya pak Pram tidak habis fikir dengan ku.
Aku hanya menganggukkan kepala dengam cepat.
Pak Pram langsung menggelengkan kepalanya, entah lah apa yang ada dalam pikiran cowok matang yang sedang berdiri di hadapan ku ini, rubah tua, tapi dia suami ku.
Kalo ngeliet pak Pram kaya gini, ngapa jadi keren amat ya? Lakinya siapa si ini ya ampuuuun , ngecas dah ini iler mana bae lagi, cuma di awal doang dia kasar tapi selama ini dia gak main tangan, beladiri gw aman.
Prang.
Hape ku terlepas dari genggaman pak Pram dan membentur ubin marmer yang sedang pak Pram pijak.
__ADS_1
"Pak Pram! Apa yang bapak lakukan pada hape saya?" Aku turun dari kasur dan meluruskan kaki kiri ku yang di gips ke samping dan kaki kanan aku tekuk lalu aku punguti hape ku yang hancur terpisah jadi 3.
Astaga hape ku, aku berusaha memasangkannya kembali lalu menyalakannya, berharap hape ku ini masih bisa di hidupkan kembali.
Tes.
Bulir bening keluar dari sudut mata ku.
Hancurnya hati ku, hape ku gak mau menyala juga, gimana dengan semua data yang ada di dalamnya? Yang lebih sedih lagi bagaimana dengan janji ku untuk menjaga hape ini? Hape yang aku jaga dari saat aku masuk bangku sekolah menengah pertama dan kini dalam sekejap rusak gak tau apa masih bisa di perbaiki atau tidak.
"Hanya sebuah hape saja." Ujar pak Pram meremehkan tanpa berniat meminta maaf, membantu ku pun tidak pada hal ini semua karena ulahnya.
Kenapa hanya karena sebuah hape bisa membuatnya menangis seperti itu?
Aku berdiri dan menyeka air mata ku yang tersisa di pipi, aku mendongakkan kepala ku untuk dapat melihat wajahnya yang tampak acuh, nyesel gw bilang dia keren tadi.
"Bagi bapak ini hanya lah sebuah hape, tapi tidak bagi ku!" Ucap ku dengan penuh emosi, "Benda ini pemberian dari orang yang paling aku sayangi, wajar jika aku menganggap ini penting dalam hidup ku, aku benci kamu pak Pramana Sudiro, rubah tua! Gak punya hati." Aku membentaknya lalu berjalan menjauh darinya.
Anak ini berani membentak ku!
"Berhenti Naira!"
Aku tetap berjalan menjauh dari nya dengan menyeret kaki kiri ku, kenapa itu pintu rasanya jauh banget dari pandangan, kapan aku sampai di pintu?
"Naira!"
Bersambung....
...💖💖💖💖...
Salam manis, jangan lupa dukung author dengan jempol dan komen ya 😊
No komen julid nyelekit
__ADS_1