
...💖💖💖💖...
Ke dua tangan ku terulur ingin memberikan pijatan pada kepala ka Pram, baru saja jemari ku akan memijatnya.
Sreeek.
Bruk.
Dengan gerakan refleks, Pram menarik tangan Naira dan membantingnya ke atas sofa.
"Awwwwwh, ka Pram gilaaaaa!" Teriak ku sambil merintih, gila ini pinggang udah rentek, sekarang pake di banting pula, ancur tulang ku hiks ka Pram tega banget.
Mata Pram terbuka lebar, saat tahu tubuh siapa yang baru saja ia banting, untung aja ke atas sofa, coba kalo ke lantai, makin remuk tulang Naira 🤣🤣🤣
Pram mencondongkan tubuhnya mendekati Naira, memeriksa bagian tubuh istri kecilnya yang nakal yang selalu bertingkah di luar dugaannya.
"Apa yang kau rasakan, Nai?" Tanya ka Pram dengan raut wajah cemas.
Bibir ku mengerucut menatap ka Pram dengan tajam, awas lu ka, gw gak mau tidur seranjang ama lu! Tar gw di banting lagi! Hiks sakit. Untung aja di sofa, coba kalo ka Pram tadi banting gw ke lantai, ancur minaaa, udah jadi perkedel kali ini badan gw.
Ku dorong dada bidang ka Pram hingga ia mundur beberapa langkah dari ku, "Ka Pram waras gak sih! Masih di tanya sakit apa gak?"
Kening Pram mengkerut, ia juga ya, rasanya pasti sakit... kenapa aku masih berani bertanya pada Naira? Bodohnya aku.
Pram membenarkan posisinya, berdiri di depan Naira dengan mencondongkan tubuhnya lalu tangannya memberikan usapan pada pinggang belakang Naira, "Biar aku yang usapkan pinggang mu!"
Para maid dan pak Dedi ikut panik ketika mendengar suara teriakan Nona Muda nya.
Maid tidak berani bertanya hanya menatap kasihan pada Nona Muda nya yang ada dalam pikiran mereka, Tuan Pram jahara sekali... Nona sampai di buat nangis seperti itu.
Pak Dedi bertanya tanya apa yang membuat Nona Muda nya sampai berteriak, sedangkan sekarang yang ia lihat Naira tengah duduk di sofa dengan tangan Pram yang mengusap usap pinggang belakang Naira.
"Ada apa, Tuan? Kenapa Nona sampai berteriak? Apa perlu saya panggilkan suster Amarta atau dokter Samuel?" Tanya pak Dedi yang ikut cemas, namun bingung juga dengan apa yang terjadi.
__ADS_1
Bodoh, kenapa tidak langsung aku bawa saja Naira ke rumah sakit, biar dokter bisa mengecek pinggang belakangnya apa terjadi masalah atau tidak!
"Siapkan mobil, kita ke rumah sakit sekarang juga!" Seru Pram, kalau sampai terjadi apa apa padanya, aku tidak bisa memaafkan diri ku.
"Aku gak apa! Cuma mau tidur aja sekarang!" Jawab ku ketus pada pak Dedi tanpa mau melihat wajah ka Pram, hati ku kesal dan dongkol... mau niet baik malah di banting ke sofa, di kata aku samsak tinju apa yang di lempar sana lempar sini!
Ka Pram hendak menggendong tubuh ku, namun dengan cepat ku tepis tangan ka Pram.
"Aku tidak mau di sentuh kaka! Aku bisa jalan sendiri!" Seru ku yang lantas bangun dan berdiri, berjalan perlahan dengan tangan memegangi bagian pinggang belakang ku, aiiiih sakit sekali... mimpi apa aku semalam!
Pram menatap Naira dengan bingung, apa dia sedang marah pada ku?
Pak Dedi melirik Naira dan Pram bergantian, ada apa dengan ke dua Tuan ku ini? Tadi perasaan baik baik aja, Nona Naira sedang marah ini seperti nya mah.
"Apa kalian lihat lihat! Pergi!" Pram membentak maid dan mengusirnya dari ruang tamu.
Bodohnya aku, Nai. Pram meratapi apa kesalahannya, kakinya kini melangkah menyusul Naira, ke dua tangan Pram mengepal, ia menyusul Naira yang hendak memasuki lift.
Hap.
Ku biarkan tangan ka Pram menggendong tubuh ku, dengan tangan ku yang aku lipat di depan dada.
"Untuk apa kaka gendong aku? Apa mau kaka banting lagi tubuh ku ini? Apa tadi masih belum puas?" Tanya ku dengan sebal.
"Aku tidak sengaja, Nai! Maaf ya! Aku tidak tahu jika itu tadi kau!" Pram memberikan alasan atas sikapnya.
"Hem." Bibir ku mengerucut, aku malas menatap rubah mesumm, rubah tua dan sekarang rubah kejam!
"Maaf ya sayang, maaf atas kesalahan ku yang salah mengenali orang, tolong Nai! Mau kan kau memberikan maaf untuk suami mu yang gagah, keren dan tampan ini!" Seru ka Pram yang di akhir kalimat kata untuk memuji dirinya sendiri.
Bibir ku ini untuk sementara aku puasakan dulu hingga waktunya tiba.
Ka Pram membawa ku memasuki kamar yang selama ini menjadi kamar ku dan ka Pram, di kamar ini pula yang menjadi saksi bisu saat ka Pram mengambil sesuatu yang paling berharga dalam hidup ku, yaaah gadis ku udah jebol ama ka Pram, terus sekarang aku di sebut apa dong? Bukan gadis lagi kan yang pastinya! Emmm aku udah jadi wanita yang hilang perawannyaaa ama laki sendiri hihihi. Dasarr ka Pram gak bisa apa nunggu aku sampe selesai ujian!
__ADS_1
Pram mendudukkan ku di atas tempat tidur. Mengecek lagi bagian tubuh ku yang kali aja ada bagian yang luka.
Aku merebahkan tubuh ku di atas tempat tidur dengan memunggungi ka Pram yang berdiri di samping kasur.
Tangan ka Pram terulur mengusap lengan ku, "Maaf ya Nai, aku benar benar tidak tahu jika tadi itu diri mu!"
"Au ah gelap!" Seru ku dengan acuh.
Kini Pram memicingkan mata sambil menatap punggung Naira. dirinya baru ingat jika tadi ia sudah mengunci Naira di ruang rawat, kenapa bisa bocah ini ke luar dari dalam ruang rawat?
Pram merogoh saku celananya tempat ia menyimpan kunci kamar rawat.
Pram mendudukkan dirinya di pinggiran kasur, tangan kanannya terulur membenarkan posisi tidur Naira dengan membuat posisi tubuh Naira jadi terlentang.
"Mau apa lagi, hem?" Tanya ku pada ka Pram.
"Bagaimana cara mu bisa ke luar dari ruang rawat mu Nai? Sedangkan kunci kamar masih bersama ku!" Seru Pram.
Ku perlihatkan jepit rambut yang masih menempel di rambut ku, lalu ku tunjukkan padanya.
"Jepit rambut? Untuk apa jepit rambut? Aku kan menanyakan mu bagai mana bisa kau ke luar dari dalam kamar rawat!"
"Iya kuncinya ada di jepit rambut ini ka!"
"Jadi?" Tanya Pram.
"Jadi intinya berkat jepit rambut ini... aku bisa ke luar dari dalam ruang rawat mu itu, ka Pram yang kejam, weeek." Ledek ku dengan menjulurkan lidah ke arah ka Pram.
Pram memicingkan matanya dengan bibir yang meremehkan, masak ia... bocah ini bisa ke luar dari dalam ruang rawat hanya dengan bantuan kunci? Tidak mungkin, ini pasti ada seseorang yang membantunya!
Bersambung....
...💖💖💖💖💖...
__ADS_1
Salam manis author gabut
Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen 😁