Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Persembunyian


__ADS_3

...💖💖💖💖...


Pram langsung bangkit dari tempat duduknya dengan tangan mengepal ia meninggalkan Dev.


"Bapak mau kemana?" Tanya pak Dev.


"Aku mau ngeceknya dulu, kau tinggal lah di sini!"


"Apa yang mau di lakukan pak Pram?" Gumam Dev menatap punggung Pram yang semakin menjauh dari pandangannya.


Pram meninggalkan tempat acara dan pergi ke kamar hotel yang menjadi tempat persinggahan sekaligus kantornya kelak selama di hotel Pelangi cabang Jakarta.


Pram mendudukkan dirinya di kursi kerjanya, membuka laptop yang ada di atas meja lalu menghubungkan hapenya ke laptop.


Dengan tatapannya yang tajam, tampangnya yang serius lihainya jemari Pram menari nari di atas keyboard.


Beberapa menit kemudian muncul Naira di layar laptop mulai dari pulang sekolah sampai ia berada di kedei. Pram memuter di bagian mana yang salah pada diri istri kecilnya yang masih labil.


Seperti sedang memutar video, Pram dapat melihat dan mendengar apa saja yang terjadi pada Naira.


Ada gunanya juga alat itu di saat seperti ini. Tanpa sepengetahuan Naira, Pram menyimpan benda kecil di dalam cincin dan kalung yang di jadikan mas kawin dalam pernikahannya.


Hati Pram sudah di landa rasa rindu yang semakin tidak bisa di bendung saat melihat reaksi Naira saat mendengar dan melihat dirinya bersama dengan wanita lain.


Apa bocah itu menyukai ku? Ah tidak, aku yakin bocah itu mencintai ku!


Pram langsung menghubungi Dev lewat sambungan teleponnya.


"Siapkan helikopter sekarang juga!Aku ingin kita kembali malam ini juga ke kediaman Pramana."


Pram menyimpan kembali hapenya ke saku celana yang ia kenakan.


Ia melangkah menuju dinding kaca yang menjorok langsung ke pantai, dari sana Pram dapat melihat dengan jelas deburan ombak yang saling bersusulan, saling mengejar meski pada akhirnya tidak bisa bersama antara ombak yang satu dengan omvak yang lainnya.


Jemari Pram menyentuh dinding kaca, tunggu aku Nai, aku akan pulang untuk mu... aku tidak akan membuat mu terluka, harusnya kau bisa mengerti aku melakukan semua ini hanya untuk mu, untuk ke amanan mu, untuk menghindari mu dari orang orang yang berniat mencelakai ku lewat orang terdekat ku.


Pram melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, sudah waktunya.


Pram berjalan ke luar dari kamarnya dengan langkah yang pasti dan hati yang berbunga bunga, senyum tidak pernah lepas dari bibirnya meski hanya sedikit yang terlihat.


"Apa bapak serius ingin kembali saat ini juga?" Tanya pak Dev yang berjalan mengikuti Pram untuk menuju atap Hotel Pelangi.


"Apa kau pikir aku sedang bercanda?" Tanya pram dingin, rasanya tubuh ini begitu dingin saat aku memikirkan dirinya, apa ada yang salah dengan aliran darah ku?


"Apa ini ada hubungannya dengan Nona Naira, pak?"

__ADS_1


"Iya, kau benar semua ini ada hubungannya dengan bocah nakal itu."


Dev mengerutkan keningnya, "Apa Nona Naira sudah melihat berita online hari ini pak?"


"Yang jelas, semua yang kau katakan itu ada benarnya, Naira kesal melihat ku dengan wanita lain, entah apa yang ada dalam pikiran yang pasti sebelum aku mengantarkannya ke sekolah tadi pagi aku sudah dengan jelas mengingatkannya." Terang Pram.


Dev mengerutkan alisnya, apa telinga ku tidak salah mendengar? Pak Pram banyak bicara hanya untuk Nona Naira? Wah selain banyak bicara pak Pram juga jadi lebih pengertian ya, tapi sayangnya bapak terlambat menyadarinya, selamat ya pak... tunggu amukan dari istri kecil mu itu pak. Hahahha.


"Semua yang ada di sini, aku serahkan pada mu!" Seru Pram sebelum menaiki helikopter.


"Itu kan sudah hal biasa, pak!" Seru Dev dengan nada meledek.


Sorot mata tajam mengarah pada Dev, "Kau meledek ku?"


"Mana berani saya meledek bapak, itu kan kenyataan... bapak membatalkan acara, meninggalkan meeting, hanya untuk istri bapak." Terang Dev mengingatkan kembali apa yang sudah di lakukan bosnya.


Prak.


Pram menggeprak lengan Dev.


"Kau urus semuanya dengan baik! Bulan ini ku beri kau bonus!" Terang Pram yang lantas meninggalkan Dev.


Pak Dev dan Pram sudah berada di atap Hotel Pelangi, terdapat helikopter yang sudah memutar baling-balingnya, pilot yang selalu berjaga 24 jam yang akan siap kapan saja jika di butuhkan jika cuaca mendukung untuk terbang itu juga.


Pram menaiki helikopter dan kembali ke Bintaro, sedangkan Dev mengurus sisa acara yang masih berlangsung di Hotel Pelangi.


Pram duduk di tempatnya lalu mengenakan pengaman.


"Bagaimana?" Pram bertanya pada pilot yang sudah standby di tempatnya.


"Semuanya sudah siap, pak." Ucap sang pilot.


"Ya sudah, cepat... masih mau menunggu apa la?"


"Baik pak, ini juga mau saya terbangkan!" Hah bos besar kalo sudah ada maunya, tidak bisa di tunda.


Selama dalam penerbangan pikiran Pram selalu mengarah pada Naira, menghawatirkan istri kecilnya yang belum makan apa apa, bayangannya sudah melalang buana.


🍂 Di kediaman Pramana 🍂


Pak Dedi menepati janjinya, setelah Nona Mudanya selesai makan, ia memberikan kunci yang menjadi kamarnya saat ini.


"Kunci serepnya mana pak?" Tanya ku yang kini sudah berdiri di depan pintu kamar setelah tadi mengisi perut yang keroncongan di dapur.


Pak Dedi tercengang, "Apa Nona? Kunci serep?"

__ADS_1


"Iya lah kunci serep! Mana pak! Aku juga butuh kunci serepnya!" Seru ku.


"Nona tunggu, biar saya ambilkan dulu." Ucap pak Dedi.


"Jangan lama, pak!" Seru ku.


Mata ku menatap kamar yang luas yang kini di hiasi foto pernikahan ku dan ka Pram, tapi untuk sementara ini... aku tidak akan tidur di kamar ini, aku harap ka Pram mengerti maksud ku.


"Ini kuncinya, Nona." Pak adedi menyerahkan kunci serep pada ku.


Aku mengambilnya, ide di kepala ku muncul lagi, aku butuh kamar untuk persembunyian ku, "Sepertinya aku masih butuh bantuan satu lagi dari pak Dedi!" Seru ku dengan senyum licik.


"Bantuan apa Nona?"


Aku berbicara sepelan mungkin pada pak Dedi dan akhirnya oak Dedi setuju untuk membantu ku.


Kini aku berada di kamar bawah, kamar yang cukup besar namun tidak sebesar kamar atas yang biasanya aku tempati bersama dengan ka Pram, tapi ini cukup lah untuk ku.


"Pak, awas ya kalo bapak sampai kasih tau ka Pram saya pindah kamar!"


Pak Dedi tampak berfikir sebelum menjawab, sebenarnya saya takut jika Tuan Pram akan marah, saya tidak berani menghadapi kemarahan Tuan.


Telinga Naira dan pak Dedi mendengar suara helikopter yang terbang begitu dekat dari mereka.


"Pak, itu suara apa?" Tanya ku polos yang tidak tahu jika rumah sebesar ini ternyata di lengkapi dengan helipad.


"Sepertinya Tuan sudah kembali, Nona!" Seru pak Dedi.


"Hah? Bapak inget jangan kasih tahu ka Pram kalo aku ada di kamar ini!" Ancam ku pada pak Dedi.


Saking takutnya ketahuan ka Pram, aku lantas menutup pintu dan menguncinya.


Mudah mudahan aja ka Pram gak tahu, hihihi untung aja aku sudah menutupinya dengan plester, jadi ka Pram tidak akan mudah untuk menemukan ku. Kali ini kau itu harus di beri pelajaran ka Pram, jangan aku terus yang di beri pelajaran, emang enak, hahah pasti nanti ka Pram kebakaran jenggot.


Aku pun langsung mengistirahatkan tubuh ku yang lelah di atas kasur.


Pram turun dari helikopter, ia langsung berlari menuju kamarnya.


"Naira, aku pulang!" Serunya saat langkah kakinya hampir sampai di kamarnya.


Bersambung....


...💖💖💖💖💖...


Salam manis author gabut

__ADS_1


Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen 😁


__ADS_2